Seberapa Dekat Manusia Dengan Tuhan?


Banyak orang yang merasa sudah dekat dengan Tuhan, akan tetapi kedekatannya tersebut karena mereka mencintai Tuhan atau karena mencintai diri mereka sendiri dan Tuhan diminta menjadi alat penolong mereka? Pertama, ada manusia yang dekat Tuhan kala dia mendapatkan kesulitan. Kala dia memperoleh kesenangan dia tidak ingat Tuhan. Tuhan dibutuhkan hanya untuk mengeluarkan dirinya dari penderitaan. Kedua, ada manusia yang mohon pada Tuhan agar diberikan kemudahan dalam kehidupan agar dia dapat mengabdi kepada Tuhan. Ketiga, ada manusia yang berupaya sungguh-sungguh untuk mengetahui Tuhan. Dia belajar dan meningkatkan kesadarannya agar dapat mencintai Tuhan. Ketiga-tiganya, sebenarnya masih terfokus pada diri mereka, pada ego mereka dan belum terfokus pada Tuhan. Keempat, ada manusia yang mencintai Tuhan dengan sebenar-benarnya. Baginya yang penting Tuhan. Fokusnya sudah tidak kepada dirinya tetapi kepada Tuhan.

Sri Sathya Sai Baba menyampaikan bahwa ada empat tipe “bhakta”: (1) arthi, (2) arthaarthi, (3) jignasu, dan (4) jnani.

Arthi adalah pengabdi tipe pertama, pengabdi yang berdoa kepada Tuhan bila ia berada dalam kesulitan dan mengalami banyak cobaan serta kesengsaraan. Hanya pada saat itu ia ingat kepada Tuhan.

Arthaarthi adalah pengabdi tipe kedua, pengabdi yang memuja Tuhan dan memohon agar diberi kekayaan, jabatan, kekuasaan, umur panjang, keturunan, dan lain-lain yang bersifat keduniawian. Banyak orang yang mendambakan anugerah kekayaan tanpa menyadari bahwa kekayaan sejati adalah kebijaksanaan, bahwa harta sejati adalah tingkah laku yang baik, bahwa permata yang paling berharga adalah watak yang baik. Mereka bernafsu untuk memperoleh kekayaan duniawi, tetapi tidak mengerti arti dan makna dari semua simbol lahiriah benda duniawi tersebut.

Jignasu adalah pengabdi tipe ketiga, pengabdi yang tidak henti-hentinya menekuni asas kerohanian. Di manakah Tuhan? Siapakah Tuhan? Siapakah Aku? Bila sudah masuk dalam tahap jignasu, seseorang akan sibuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu untuk memperoleh pengetahuan kerohanian. Tipe ini lebih maju dibandingkan dua tipe sebelumnya.

Jnani adalah pengabdi tipe keempat, pengabdi yang sudah mengetahui kebenaran. Jnana berarti pengetahuan. Apakah pengetahuan duniawi yang dimaksudkan? Tidak! Jnana tidak menyangkut pengetahuan duniawi. Jnana adalah pengetahuan spiritual yang sejati. Jnana berarti kebijaksanaan, ia juga berarti penghayatan kesatuan, pengetahuan yang esa tiada duanya.

Selanjutnya, kita perlu introspeksi diri, kita masih berada di mana? Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi……..

Kita juga masih terobsesi dengan kepemilikan dunia. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Kita tidak dapat hidup tanpa kepemilikan. Kita bisa saja memilih hidup telanjang di tengah hutan – kita tetap punya badan. Badan ini juga kepemilikan. Kita bisa batasi barang-barang kita, tetapi kita takkan pernah ada tanpa kepemilikan. Yang bisa kita lakukan adalah “tidak posesif”. Nikmati apa yang kita punyai. Nikmati semua yang kita dapatkan secara benar, asalkan jangan terobsesi karenanya. Jangan malah kita yang menjadi milik barang-barang kita. Janganlah kita kembangkan rasa kepemilikan yang membuat kita serakah dan selalu ingin yang lain dan yang lebih……..

Kemudian kita mulai melepaskan rasa kepemilikan. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Tenang, santai, rileks – jangan tegang. Milikilah kemewahan tanpa rasa kepemilikan. Nikmatilah keberuntungan kita. Kita belum tahu seni kehidupan. Kita belum tahu cara menikmati kehidupan. Kadang kita menolak Tuhan, kadang kita menolak Setan. Kadang kita malah ingin memiliki kedua-duanya. Kadang kita berada pada ekstrim kiri, kadang pada ekstrim kanan. Kita telah kehilangan keseimbangan. Kita tidak perlu menolak apa pun. Kita tidak perlu mendambakan apa pun. Semuanya datang dengan sendiri, datang pada waktunya. Rasa kepemilikan kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Bagaimana dapat memiliki langit biru, bulan dan bintang, hawa sejuk ataupun angin panas? Apakah kita dapat menentukan kapan Sang Surya harus menampakkan dirinya, kapan Si Bulan harus menghilang dari penglihatan? Terimalah, apa yang diberikan oleh Keberadaan. Penerimaan total seperti ini dapat membuat kita lepas dari rasa kepemilikan. Kita tidak harus melepaskan apa pun. Keinginan untuk pelepasan pun hanya sekadar ilusi dan harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak memiliki sesuatu sehingga dapat melepaskannya. Keinginan untuk pelepasan timbul karena kita merasa memiliki. Jangan merasa memiliki dan kita akan menemukan kehidupan baru……

Salah satu program e-learning dari One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada satu program lagi yaitu Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang dimaksudkan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.

Selama ini kita ingin memiliki Tuhan yang senantiasa siap sedia untuk mengabulkan permohonan kita dan bukan mengabulkan permohonan orang lain. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Kita ingin “memiliki” Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita “miliki”! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! “Keinginanmu untuk ‘memiliki’ Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Orang yang sudah menjadi “milik-Nya”, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya, tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain, akan “menjalani” agama dalam hidup sehari-hari………

Dalam nasehat “Heart to Heart” pada tahun 2003, Bapak Anand Krishna menulis……… Radha dan Meera, “sama-sama” mencintai Krishna. And yet, there love was not the same. Tampak sama, namun cinta mereka berbeda. Radha hidup sejaman “dengan” Krishna. Meera tidak hidup sejaman, tidak hidup dengan Krishna – ia hidup di “dalam” Krishna. Radha ingin “memiliki” Krishna. Meera ingin menjadi “milik”-Nya. Menghadapi seorang murshid, kita pun dapat memilih: Mau bersikap seperti Radha, atau seperti Meera. aku memilih Meera…. Penyerahan Diri Meera sungguh tak tertandingi. Ia tidak peduli apakah Krishna “menerimanya” atau tidak… Bagi seorang Meera, yang penting adalah “penyerahannya”, “persembahannya”. Ia tidak kecewa bila Krishna tidak memperhatikannya: “Bolehlah kau, wahai Krishna, memutuskan tali cinta dan melupakan diriku – aku tak akan pernah memutuskannya. Aku akan selalu mencintaimu.” Lain Meera, lain Radha… Seruling bambu di tangan Krishna pun dapat menggelisahkan dirinya: “Kau lebih mencintai seruling itu….” Bagi Meera, jangankan seruling bambu, kehadiran Radha pun hanya menambah kegembiraannya. Senantiasa ia bersukacita: “Krishna, kau sungguh hebat! Kau dapat memikat hati sekian banyak Gopi.” Tapi, janganlah kau terpengaruh oleh pilihanku… Pilihanku bagiku, pilihanmu bagimu…

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak lagi terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi. Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Dia menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu, Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana…….

……..Bagi seorang Udhava, patung dan wujud seorang avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus dilampaui, dilewati. Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?  ……. “Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna….” Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu. Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lgi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih……………..

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology

http://www.oneearthcollege.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

2 Tanggapan

  1. Salam kenal pak. Sekedar bertanya, apakah Bapak Anand Krishna punya rencana utk menulis buku yg khusus membahas tentang Sri Sathya Sai Baba ?

    • Terima kasih Bro Barros Bengko. Salam kenal. Bapak Anand Krishna sudah menulis buku tentang Testimoni Baba dalam Buku Sai Anand Gita dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh penerbit India. Beliau akan nampaknya merencanakan akan menulis lagi tentang testimoni terakhir.
      Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: