Tangan Yang Melayani Lebih Suci Dari Bibir Yang Berdoa



Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi…….. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya.

Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, KABHI PYASE KO PANI PILAYA NAHIN. Ternyata makna dari bhajan tersebut sangat menyentuh hati……… Intinya tangan yang melayani lebih suci dari bibir yang berdoa………. Ada beberapa bait yang terjemahan bebasnya sangat menyentuh hati……… Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?……………. Aku pergi ke sebuah pertemuan untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?………. Aku pergi untuk mandi pada sungai Gangga di Haridwar Kasi yang suci, sementara aku sedang mandi di sungai Gangga tiba-tiba aku berpikir, aku telah mencuci tubuhku tapi aku tidak mencuci jiwaku, lalu apa gunanya mandi di sungai suci Gangga?………. Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?……….

Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan………. Bagi seorang Sri Mangkunagoro, Ngelmu atau “ilmu” atau “pengetahuan” tidak berarti sama sekali, apa bila tidak dapat dipraktekkan dalam kehidupan yang nyata. Ngelmu kang nyata berarti suatu pengetahuan yang dapat dilakoni – suatu yang dapat dijadikan pedoman hidup. Ngelmu kang nyata berarti perlaku, tindakan, perbuatan seseorang yang sadar………. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……… Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan “ton” pengetahuan. “Sekilo” yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus………

Untuk meningkatkan kesadaran kita perlu mempraktekkan pemahaman yang kita yakini kebenarannya. Pemahaman tersebut perlu dipraktekkan dan kemudian dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan. Dengan terbiasa mempraktekkan akan mengubah karakter kita, sehingga setelah itu kita akan melakukan tindakan berdasar pola pikiran dari karakter baru kita.

Pemahaman yang tidak dipraktekkan, seperti air yang tidak dibiarkan mengalir, akan menggenang dan membusuk. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Di tengah angin kencang dan badai topan orang bijak menjaga dirinya, dan membantu orang lain. Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Itulah rahasia keberhasilan! Keahlian yang anda miliki dan ilmu pengetahuan yang anda kuasai harus dimanfaatkan, digunakan, diterapkan dalam hidup sehari-hari. Banyak di antara kita yang senang mengoleksi ilmu. Lalu, mereka juga senang memamerkan koleksi mereka. Diberi kesempatan untuk berbicara, mereka memang hebat! Tetapi hidup mereka masih hampa, masih amburadul. Keahlian dan ilmu yang mereka kuasai belum berhasil mengisi hidup mereka sendiri. Belum berhasil membenahi hidup mereka sendiri. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam hidup sehari-hari, tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran diri akan membusuk. Akan mengeluarkan bau tidak sedap…………

Tindakan nyata memang lebih mulia daripada doa di bibir belaka. Berikut ini adalah kutipan dari buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011……….. “Hands that Help are Better than Lips that Pray”, “Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “…. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.” Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya. Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”………. Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapan-ungkapan yang mirip……… Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan…….. Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersama-sama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan!………

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.

Naluri hewan yang masih ada dalam diri membuat kita hanya mementingkan diri pribadi tanpa peduli pada orang lain. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, U tusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana……

Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006, Bapak Anand Krishna mengingatkan para pembaca tulisannya tersebut……… Kelahiranmu di masa ini bukanlah untuk mengurusi hal-hal kecil dan sepele yang dapat diurusi oleh siapa saja. Tidak. Kau tidak dilahirkan untuk itu. Kau dilahirkan untuk suatu tugas yang mulia. Kau dilahirkan untuk melayani saudara-saudaramu. Kau dilahirkan untuk menjadi Pembawa Obor Perdamaian dan Pencerahan, Keamanan dan Kesadaran. Kau ditakdirkan untuk menjadi Pembawa Terang … Untuk menerangi setiap hati yang berdebar dalam kegelapan. Inilah tugasmu, inilah tanggungjawab serta kewajibanmu. Kau adalah Terang Dunia, Terang Alam Semesta … cahaya jutaan matahari berada di dalam dirimu. Kau adalah Sumber Cahaya. Bila ada seorang pun yang masih mengeluh bahwa dirinya hidup dalam kegelapan, maka sapalah dia, dekatilah dia. Dengan sekedar sapaan dan pendekatan saja, kau dapat menerangi hidup. Yakinilah sapaanmu, yakinilah pendekatanmu… Dan, dengan keyakinan itu, berkaryalah untuk menunaikan tugas kewajibanmu!…………

Situs artikel terkait
http://www.oneearthmedia.net/ind/
https://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
http://www.kompasiana.com/triwidodo
http://blog.oneearthcollege.com/
http://twitter.com/#!/triwidodo3
Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: