Renungan Akhir Tahun: Menjadi Baru Di Tahun Baru


Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan siklus matahari (kalender solar) dan gerakan siklus bulan (kalender lunar). Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan putaran bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender diawali bulan Januari diakhiri bulan  Desember dan kemudian kembali ke Januari lagi. Demikian pula hari kerja, dimulai hari Senin sampai Minggu, dan kemudian kembali ke hari Senin lagi. Hari dimulai dari pagi sampai malam dan kembali pada pagi lagi. Demikianlah kehidupan ini merupakan suatu siklus……….. Akan tetapi Sang Kala tidak hanya bersifat siklus, tetapi juga bersifat maju. Kondisi bumi pada tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi akan berbeda dengan tanggal 1 Januari tahun 2012. Berapa banyak manusia yang telah didaur ulang Sang Kala? Berapa banyak peradaban yang lenyap dikubur Sang Kala? Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus peradaban lahir-tumbuh-mandeg-punah. Manusia pun mengalami siklus lahir-tumbuh-mandeg-punah. Dan, apa yang dialami manusia tercatat dalam DNA, catatan sejarah genetiknya……… Sel-sel dalam tubuh kita pun mengalami siklus. Misalnya sel-sel darah putih juga mengalami lahir dan hidup selama lebih-kurang 3 bulan dan bahkan apabila menghadapi musuh penyakit yang menyerang tubuh, mungkin dia akan mati lebih cepat. Setiap sel yang mati akan diganti sel yang baru. Dalam satu tahun sekitar 90% dari trilyunan sel tubuh kita sudah terbaharui. Perbaharuan adalah hal yang alami.

Bagaimana manusia menghadapi siklus tahunan? Seorang anak kelas 2 SD yang terpaksa tinggal kelas, maka dalam satu tahun berikutnya dia harus mengulangi semua mata pelajaran yang pernah diberikan kepadanya sampai dia naik kelas. Sudahkah kita selalu naik kelas baru setiap tahun? Atau masih mengulang di kelas yang lama? Ada seorang teman yang kecanduan merokok dan dia ingin melepaskan dari belenggu rokok tetapi tidak bisa. Bertahun-tahun dia lewati dan dia tidak lulus mata pelajaran melepaskan rokok. Dan, di tahun baru dia harus mengulangi mata pelajaran melepaskan diri dari kecanduan rokok. Demikian juga dengan kita, kita tahu kelemahan diri kita dan kita ingin berubah dan selama kita belum memperbaiki kelemahan tersebut, kita akan tinggal kelas dan harus belajar lagi cara memperbaiki kelemahan sampai lulus dan naik kelas. Sering sampai batas waktu kehidupan berakhir, kita belum juga lulus suatu mata pelajaran kehidupan. Dan bagi mereka yang mempercayai adanya kehidupan yang berupa siklus, maka dia harus belajar mata pelajaran yang sama lagi. Mereka yang percaya adanya siklus kehidupan yakin bahwa fisiklah yang mengalami kematian, akan tetapi pikiran tidak mati, dan perbaikan hanya dapat dilakukan selama seseorang hidup.

Terlalu lama mengulang pelajaran yang sama dapat menyebabkan kita terpola dengan kebiasaan tersebut dan semakin sulit melepaskan diri. Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan tentang terbentuknya synap baru akibat kebiasaan. Terbentuknya synap baru di otak, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil “conditioning” oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, dan pengalaman pribadinya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh “conditioning” tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Oleh karena itu ada nasehat untuk lebih baik “kuper” daripada salah gaul. Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika, oleh uang, atau dalam hal ini berselingkuh, mekanismenya sama : dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani semacam “sexual addict” persis sama dengan “narcotic drug addict”.

Selanjutnya kita perlu memahami adanya hukum alam. Dalam buku “Total Success Meraih Keberhasilan Sejati”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2009 disampaikan………. Alam berjalan dan bertindak sesuai dengan hukum yang sudah ditentukan. Penentunya siapa – silakan  Anda sendiri yang menentukan. Sebutlah Tuhan, Allah, Buddha, Bapa di Surga, Widhi, Tao, atau apa saja – Keberadaan atau Ketiadaan Abadi. Hukum Alam yang paling menonjol adalah:

Hukum Perubahan: Tak ada sesuatu pun yang tak berubah. Segalanya senantiasa berubah. Maka, bila kita tidak ikut berubah, sudah pasti sengsara sendiri. Hukum yang satu ini sangat erat kaitannya dengan Evolusi.

Hukum Evolusi: Kita semua sedang berkembang. Ya, kecepatan kita beda. Namun, perbedaan itu bukanlah karena pilih kasih oleh alam. Perbedaan itu disebabkan oleh kita juga.

Hukum Sebab Akibat: Ada aksi, ada reaksi. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini adalah hukum fisika. Kita tak dapat mengelakkannya. Karena itu berbuatlah baik, agar hasilnya baik pula.

Dalam hal ini hendaknya kita selalu ingat bahwa alam tidak mengenal “plus-minus”. Setiap aksi yang bersifat “plus” atau baik akan membawa akibat baik. “Minus” atau jelek berakibat jelek pula. Jadi tidak ada hukum pencucian dosa…….

Masalahnya adalah semua tindakan kita merupakan sebuah benih dan kita tidak tahu kapan panen dari hasil tanaman benih tersebut. Benih padi menunggu 3-4 bulan, benih mangga menunggu 5-6 tahun, benih pohon jati menunggu 25-50 tahun, sedangkan benih tindakan kita, kita tidak tahu kapan akan panennya. Yang jelas buah kebaikan/keburukan akan matang pada saatnya. Apa pun yang kita hadapi adalah hasil dari tindakan kita sebelumnya. Bila kita menyadari hal demikian maka kita bisa mulai hidup baru dengan penuh kesadaran tanpa mengeluh apa pun kejadian yang menimpa. Mulai saat ini kita selalu berbuat baik dan di masa depan kita akan selalu mengalami kebaikan. Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………. Kita memahami tanggung jawab kita atas setiap perbuatan, pikiran, dan ucapan kita. Kemudian, rasa tanggung jawab itu memisahkan diri kita dari masa lalu kita. Kita memulai lembaran baru. Inilah hidup baru, kehidupan baru. Yesus menyebutnya “kelahiran kembali”. Memang, sesungguhnya saat itulah : “kita” baru lahir. Saat itulah, kesadaran jiwa baru muncul, baru lahir…………

Selanjutnya kita bisa belajar dari cara memasukkan batu, kerikil dan pasir ke dalam sebuah ember. Kita harus memulai memasukan batu-batu yang paling besar sampai satu ember penuh. Baru kemudian kerikil-kerikil kita masukan di antara rongga di antara batu-batu besar. Baru setelah itu pasir kita masukkan ke ember memenuhi rongga-rongga yang masih ada. Bila kita memenuhi pasir dulu satu ember penuh, tidak ada lagi tempat untuk batu dan kerikil. Demikian pula hidup ini, kita harus mengisinya dengan hal-hal yang utama yang merupakan prioritas lebih dahulu. Bila kita mengelola hal yang remeh-temeh  setiap saat, maka kita tidak dapat memperoleh apa yang seharusnya menjadi prioritas. Ada juga hukum pareto bahwa 20% hal pokok itu akan menghasilkan 80% hasil. 20% key person akan menghasilkan 80% keberhasilan.

Leluhur kita menasehati kita untuk memulainya dengan dharma. Seseorang harus tahu apa yang tepat, dan apa yang tidak tepat dilakukan. Dengan pemahaman semacam ini, seseorang harus memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dan keahlian untuk menjalankan bidang tindakan yang dipilih. “Dahulukan yang penting,” begitulah nasehat yang dipopulerkan Stephen Covey. Tanpa kebijaksanaan untuk memilah apa yang tepat dan apa yang tak tepat, kita tak dapat berhasil dalam hidup. Dan untuk mengembangkan kebijaksananaan semacam itu, sangatlah penting bahwa kita memiliki sebuah pikiran yang tajam dan kemauan untuk belajar. Kebijaksanaan ialah buah dari pembelajaran. Kita belajar dari buku. Kita juga belajar dari mengamati orang lain dan pengalaman hidup mereka. Yang terpenting, kita belajar dari pengalaman kita sendiri.

Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa………. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda……..

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.

Seorang Guru menyuruh murid-muridnya menulis nama orang yang dibencinya pada sebutir apel. Bagi yang punya 2 orang yang dibenci, dia menulis nama mereka dalam 2 butir apel. Kemudian sang guru meminta para murid membawa butir apel tersebut kemana dia pergi, tidur pun harus di dekatnya. Dalam waktu beberapa hari semua murid mengeluh apelnya sudah busuk. Sang Guru berkata mengapa para murid membawa kebencian dalam hati, kebencian harus dibuang, karena akan membusuk di dalam diri dan tidak menyamankan diri.  Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan perihal Mukjizat Pemaafan………. Tanpa ia ketahui, seseorang yang tidak dapat mengendalikan amarah serta kebenciannya akan membahayakan dirinya sendiri. Seseorang yang dapat memaafkan akan memasuki kehidupan baru penuh dengan kedamaian. Memaafkan adalah sebuah hal yang mulia. Sebenarnya yang memaafkan justru mendapatkan imbalan. Pemaafan dapat mengatasi berbagai masalah dalam hidup kita. Amarah tidak bisa diatasi dengan amarah. Amarah hanya dapat diatasi dengan pemaafan. Keinginan untuk rukun dengan mereka yang tidak sepaham dengan kita merupakan hal yang penting. Yang perlu hanya keinginan, karena kerukunan itu sendiri merupakan suatu proses. Saya dapat memaafkan orang lain, namun saya tidak dapat memaksa orang lain untuk memaafkan saya. Pemaafan adalah suatu proses di mana kita menghapus kebencian terhadap orang lain. Seseorang yang tidak dapat memaafkan sebenarnya memusnahkan dirinya sendiri. Sebaliknya seseorang yang dapat memaafkan berada dalam kehidupan yang penuh dengan keberhasilan dan kedamaian. la memasuki kehidupan yang damai. Pemaafan bagaikan sebuah imbalan bagi yang memaafkan. Pemaafan bekerja bagaikan suatu mukjizat. Pemaafan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan kita……….

Selanjutnya kita perlu meneladani para leluhur yang bijak dan para sufi, dalam melakukan perjalanan kehidupan. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,  2001 disebutkan bahwa……….. ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya.

Selamat Tahun Baru 2012, semoga kita semua dapat memperbaharui diri, memperbaiki kelemahan kita dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran……

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology

http://www.oneearthcollege.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: