Memperlemah Bangsa Dengan Menganggap Remeh Warisan Budaya Dan Keberagaman

Indonesia terdiri atas 17.504 pulau, di dalamnya termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni. Di Indonesia juga terdapat tiga dari enam pulau terbesar di dunia. Yaitu, Pulau Kalimantan Sumatra dan Papua. Dengan  perairan seluas 93.000 km2 dan panjang pantai sekitar 81.000 km2, Indonesia diakui sebagai negara maritim terbesar di dunia. Di dalamnya terdapat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, yaitu 2.500 spesies ikan laut, 590 jenis karang batu, 2.500 spesies moluska, 1.500 jenis udang-udangan, dan sebagainya. Luas hutan tropis Indonesia diperkirakan mencapai 120 juta hektar dan merupakan terluas ketiga setelah hutan tropis di Brasil dan Kongo. Sayang, laju kerusakan hutan di Indonesia juga sangat tinggi. Dunia mengakui kekayaan alam Indonesia yang sangat melimpah. Di zaman kerajaan, negeri kita pun memiliki masa-masa keemasan. Mulai dari Kerajaan Kutai, Majapahit, Sriwijaya, hingga Mataram. Di masa itu, Indonesia yang masih dikenal dengan sebutan Nusantara begitu melegenda. Nusantara menjadi salah satu pusat seni budaya dan perdagangan yang besar, seperti halnya Cina dan India kala itu. Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan berbagai prasasti kuno lainnya menjadi bukti kemegahan sejarah Nusantara di masa lampau. Apalagi bila nantinya terbukti memang banyak piramida yang ada di negara kita (http://sejarah.kompasiana.com/2011/12/05/paparan-sunda-dan-temuan-piramida-di-garut-jawa-barat/). Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya sendiri yang menarik dan dianggap eksotis oleh para wisatawan asing. Misalnya, Pulau Bali yang begitu terkenal di mata dunia. Begitu juga adat istiadat daerah lain seperti Suku Dayak di Kalimantan, Suku Toraja di Sulawesi Selatan, dan sebagainya. Di Indonesia, terdapat sebanyak 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa. Dengan keragaman itu, kita memiliki bahasa pemersatu, yaitu Bahasa Indonesia.

Keberagaman di Indonesia adalah sebuah berkah, tetapi juga bisa menjadi sebuah musibah. Menjadi berkah kalau keberagaman diakui sebagai ekspresi kebebasan, penghormatan, dan pengakuan. Menjadi musibah apabila disikapi sebagai kebencian karena berbeda dengan dirinya. Pengetahuan tentang keberagaman Indonesia memang dipelajari oleh pemerintah kolonial, namun tujuannya bukan untuk menyatukan Indonesia, tetapi untuk menguasai dan mengeksploitasi kekayaan negeri kita.  Politik adu domba atau divide et impera adalah kunci sukses mengusai bangsa kita.

Di bawah ini adalah terjemahan dari artikel tulisan Bapak Anand Krishna di The Jakarta Globe yang mengingatkan kita bahwa pihak asing yang ingin memecah-belah kita memulainya dengan merusak warisan spiritual dan budaya kita.

(Sumber: http://www.thejakartaglobe.com/opinion/article/12192.html).

……. “Saya telah berpergian keliling India dan tak pernah melihat satu pun pengemis atau pencuri. Kekayaan semacam itu saya saksikan di seantero negara ini. Dengan nilai moral, orang sekaliber tersebut, saya tak pernah berpikir bahwa kami dapat menjajah negara ini, kalau kami tidak mematahkan tulang punggung bangsa ini, yakni warisan spiritual dan budayanya. Oleh sebab itu, saya mengusulkan bahwa kita musti mengganti sistem pendidikan lama dan budaya mereka. Karena jika orang India berpikir bahwa budaya asing dan Inggris lebih baik dan lebih hebat dari budaya mereka sendiri, maka mereka akan kehilangan harga diri dan budaya lokal yang asli. Mereka pasti menjadi apa yang kita inginkan, bangsa yang sungguh terjajah……….”

…….Itulah kata-kata Tuan Thomas Babington Macaulay (1800-1859), anggota dewan pemerintahan dari Perusahaan India Timur pada tahun 1834-1838, dikutip dari pidatonya yang diberikan pada tanggal 2 Februari 1835. Membaca kata-kata yang diucapkan hampir dua abad silam, saya menyadari bahwa Tuan Macaulay belum mati. Oleh karena itu, saya memakai istilah “sekarang” dan bukan “dulu”. Idenya tetap hidup. Dia masih mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia……..

……..Berapa dari kita di Indonesia menyadari bahwa hal yang sama tengah terjadi pada kita di zaman modern ini? Kita tak hanya dikepung oleh satu atau dua, tapi begitu banyak Macaulay. Satu perbedaannya: Macaulay tersebut berkebangsaan Inggris, putih, sehingga begitu mudah dikenali. Sekarang, genre Macaulay datang dalam pelbagai warna dan bentuk, putih, coklat, merah dan bahkan hitam. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut. Salah satu dari mereka, kaum Wahabi, telah secara intensif menyusupi masyarakat dan sistem sosial kita, sampai-sampai saat ini kita bingung dan tak bisa membedakan mana nilai spiritualitas agama dan mana yang radikalisme agama……….. Baca lebih lanjut

Iklan

Pengaruh Trauma Aksara Jawa, Introspeksi Esoteris Perpecahan Kerajaan Mataram Di Zaman VOC

Perpecahan dalam satu kerajaan sering terjadi karena adanya persaingan antar kerabat dalam memperebutkan sebuah takhta. Di balik konflik tersebut selalu ada ego dalam diri seorang calon pemimpin yang merasa benar dan merasa mampu menjalankan pemerintahan dan menganggap calon pemimpin lainnya kurang tepat sebagai pewaris takhta. Konflik juga terjadi kala seorang tokoh mempunyai dendam kepada seorang raja, karena sang raja telah berbuat hal yang tidak pantas terhadap diri dan keluarganya. Musyawarah jarang dilakukan karena sang penguasa merasa dirinya benar dan tidak pantas seorang bawahan menyalahkan atasannya. Dalam sebuah kerajaan yang nampaknya tenang, sering muncul konflik kala terjadi pergantian takhta. Mengapa hal demikian sering terjadi? Bahkan dalam zaman setelah kemerdekaan? Sampai saat ini? Walau setting panggungnya tentu saja berbeda…….

Tertulis bahwa Raden Patah, Raja Demak digantikan oleh Trenggono, salah satu putranya. Setelah Trenggono meninggal, terjadilah kemelut di Demak dan Kerajaan pindah ke Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menantu Sultan Trenggono. Kemudian terjadi perang saudara antara Sultan Hadiwijaya melawan Arya Penangsang yang merasa lebih berhak menduduki tahta Demak, karena dia merupakan cucu langsung dari Raden Patah. Ki Gede Pemanahan beserta putranya Sutawijaya membantu Sultan Hadiwijaya mengatasi perang saudara di Demak dan karena kesuksesannya, kemudian diberi hadiah tanah di daerah Mataram, Jogjakarta. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo, putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan Trenggono. Pangeran Benowo kemudian meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram.

Sutawijaya adalah Raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senopati (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Panembahan Senopati digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan Anyakrawati (1601 – 1613). Ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati. Akan tetapi sebelum usahanya selesai, sang raja meninggal dan dikenal dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak. Selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung (1613 – 1645). Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan Mataram. Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. Sultan Agung berusaha mengusir VOC Belanda dan melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan.

Setelah wafatnya Sultan Agung, pengganti selanjutnya adalah putranya, Amangkurat I dan kemudian cucunya Amangkurat II, dan selanjutnya anak-keturunan Sultan Agung yaitu Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, Paku Buwono II, Paku Buwono II. Sepeninggal Sultan Agung terjadi beberapa pemberontakan antara lain Trunojoyo 1674-1679, Untung Suropati 1683-1706, pemberontakan Cina 1740-1748.

Tercatat VOC berhasil menaklukan Mataram melalui politik “devide et impera”, kerajaan Mataram dibagi dua melalui perjanjian Gianti pada tahun 1755. Sehingga Mataram yang luasnya  hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I dan Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III. Selanjutnya, VOC Belanda kembali melalukan politik adu-domba sehingga di tahun 1757 terjadi perjanjian Salatiga. Mataram terbagi 4 wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada Mangkunegara, dan sebagian Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati tahun 1813.

Sah-sah saja bila kita beralasan VOC Belanda melakukan politik “devide et impera”. Kita selalu bisa mencari kambing hitam pihak lain yang memang berupaya sekuat tenaga untuk memecah-belah kita, akan tetapi tanpa kesediaan diri kita memenuhi upaya pemecah-belahan tersebut, pemecahbelahan tidak akan terjadi. Bila putra-putri bangsa kita tidak mau dipecah-belah, maka kita tidak bisa terpecah belah. Sebelum VOC Belanda datang di Nusantara, perpecahan kerajaan pun sering terjadi.

Filosuf George Santayana menyampaikan, “Mereka yang tidak dapat belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya.” Dan nampaknya bangsa kita sering melupakan pelajaran sejarah, sehingga harus mengulangi pelajaran tersebut beberapa kali. Pada tahun 1977 Mochtar Lubis menyampaikan ciri-ciri manusia Indonesia. Penyakit terbanyak orang Indonesia adalah sifat ngambekan, dendam, mudah sakit hati. Nampaknya sampai kini ciri-ciri tersebut tidak mengalami perubahan yang berarti. Dan bila kita tengok sejarah masa lalu, nampaknya sifat demikian sudah ada pada diri para leluhur kita. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh geografis Indonesia yang kurang menunjang. Iklim tropis membuat lembab, terlalu banyak kandungan air dalam tubuh, sehingga orang-orangnya mudah bergejolak. Akan tetapi bila bangsa Indonesia sadar dan mulai mengubah karakternya, maka karakter tersebut bisa diperbaiki juga. Tidak benar juga bila dikatakan bahwa konflik terjadi karena perbedaan agama. Sejak zaman Kerajaan Demak berdiri, mayoritas masyarakat Kerajaan Mataram pun mempunyai agama yang sama, akan tetapi konflik tetap terjadi juga. Bahwa perbedaan agama bisa menjadi pemicu itu memang harus diwaspadai. Baca lebih lanjut

Dari Keangkuhan Menuju Kerendahan Hati, Dari Personal Menuju Transpersonal

Dikisahkan bahwa makhluk yang pertama kali mengucapkan kata “aku” dengan penuh keangkuhan adalah iblis.Tatkala Tuhan memerintahkan iblis bersujud kepada Nabi Adam, dia menolaknya dengan congkak, “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.” (QS Al-A`raf 7: 12). Kata “aku” dari mulut iblis adalah ungkapan makhluk yang angkuh. Meskipun dia mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, tetapi dia membangkang, menyanjung dirinya dan melupakan karunia Penciptanya. Karena sikap iblis ini, maka manusia yang angkuh sering dikatakan mempunyai karakter iblis di dalam dirinya. Dalam QS Al-Najm 53:32 disampaikan, “… maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.”

Pengetahuan dan teknologi yang hebat tidak dapat mengatasi kejahatan, keserakahan, dan kebohongan. Karena sifat-sifat seperti yang dimiliki iblis tersebut sudah berada dalam diri manusia. Dalam Yohanes 2:16 disampaikan, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Dunia ini memiliki keinginan daging, “aku butuh itu”, keinginan mata, “aku ingin itu”, dan keangkuhan hidup, “aku pantas untuk itu”……..

Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator – itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Menguasai kelima-limanya tidak berarti tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-”Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna……

Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 disampaikan…….. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kau menganggap dirimu beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan dan kebebasan macam itu, maka ibadahmu masih dangkal. Bila kau masih menciptakan “class” antar manusia, maka jiwamu belum beragama, belum beribadah. “Class” atau derajat rendah-tinggi (ketidaksetaraan) itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Syaitan, Raksasa karena kepala mereka masih tegak. Mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi itu! Sekali bersujud di hadapan-Nya, dirimu menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah (setara) dari dirimu. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhanmu tidak ikut menunduk? Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa  Bali “Banjar” tidak dapat dipaksakan. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri. Kesadaran manusia. Kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab. Kemanusiaan yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya (yang setara). Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan. Sehingga ia tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua……..

Kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, “manas” dan “isa”. “Manas”, pikiran. “Isa”, esa, satu. Pikiran membangun ego yang membuat keterpisahan dengan yang lain. Sedangkan isa, esa membuat kita merasa satu dengan yang lain. Bila manusia angkuh dan merasa terpisah dengan yang lain maka dia dekat dengan sifat iblis dan bila manusia rendah hati dan merasa setara dengan yang lain dia sedang menuju keilahian. Angkuh bersifat personal sedangkan rendah hati dan merasa setara sudah tidak bersifat personal, sudah menuju transpersonal. Baca lebih lanjut

Dari Egois Menuju Pengasih, Dari Melayani Diri Menuju Melayani Sesama, Dari Personal Ke Transpersonal

Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri, kikir terhadap pihak lain. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita berubah dari sifat tamak memikirkan kepentingan diri sendiri, menuju sifat rahim, pengasih, memikirkan kepentingan orang lain. Setelah berkembang menjadi Manusia-Plus, dia akan berkata, “Wahai Gusti, kebutuhan pribadi kami telah Gusti cukupi, sudah cukup Gusti……. biarlah waktu, napas dan apa pun yang telah Gusti karuniakan kepada kami, kami persembahkan bagi pelayanan kepada sesama……… Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana………

Ada perkembangan perasaan manusia dari kesadaran personal, ego-based ke kesadaran transpersonal, intelegensia-based. Pertama Antipati, “pokoknya mereka yang berbeda dengan pendapatku perlu dimusuhi.” Yang kedua adalah Apati, cuek, acuh tak acuh terhadap sesama, “pokoknya urusan itu tak ada kaitannya dengan diriku”. Ketiga Simpati, sudah menaruh belas kasihan terhadap sesama yang sedang menderita, tetapi pada pokoknya, “aku kasihan kepadamu, aku akan membantu sesuai mood hatiku, tetapi aku sendiri beruntung tidak mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh kamu.” Dan yang keempat Empati, dapat merasakan penderitaan sesama, sehingga tergerak untuk membantu penuh kerelawanan. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Empati – yang sebelumnya hanya dirasakan mulai dipraktekannya dalam keseharian hidup. Demikian ia memasuki terminal berikutnya melayani. Melayani berarti  berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi orang lain, bagi seluruh umat manusia. Berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta………..

Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan…… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu? Baca lebih lanjut

Warga Surga Yang Bertamu Ke Dunia, Dari Serakah Menuju Ketidakterikatan, Dari Personal Ke Transpersonal

Banyak warga dunia yang hati mereka berbunga-bunga karena memperoleh pujian dan manakala tak mendapat pujian kepercayaan diri mereka pun layu. Warga dunia tersebut serakah akan pujian terhadap diri mereka. Oleh karena itu mereka selalu ingin menonjol di tengah masyarakat, mereka tinggal di rumah yang mewah, mengendarai mobil yang membawa decak kekaguman, foto diri mereka sering nongol di media. Mereka jauh dari sifat tawadhu, rendah hati. Pujian dan penghargaan dari luar ada batasnya, gelombang laut selalu mengalami pasang dan surut. Manakala mereka mulai purna tugas, ketika ketenaran mereka meredup, saat keriput mulai menyebar ke wajah, kepercayaan diri mereka pun surut. Maut sudah mengintainya, tetapi masih saja dia terikat dengan dunia. Mengapa tidak memutuskan keterikatan terhadap pujian dan penghargaan saat ini juga? Mengapa tidak belajar untuk hidup percaya diri tanpa terpengaruh pujian dan penghargaan orang luar? Orang-orang seperti demikian mungkin dari segi kehidupan fisiknya sudah mandiri, sudah dewasa dan tidak perlu dituntun orang tua dalam menjalani hidupnya. Akan tetapi dari segi kepercayaan diri, mereka masih menetek susu pujian dan penghargaan dari masyarakat. Mestinya mereka mulai melepas ketergantungan dan hidup mandiri dari kebutuhan pujian dan penghargaan luar.

Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Pujian dan pengakuan adalah koleksi mereka yang tidak percaya diri dan tidak percaya Gusti. Pujian dan pengakuan dari siapa? Dari dunia ini? Dunia yang senantiasa berubah? Untuk apa? Sifat dunia yang berubah terus dapat mengubah pujian menjadi hujatan dalam sekejap. Hati kita menjadi besar ketika dipuji orang dan menjadi ciut ketika dimaki orang. Hati seperti apakah ini? Dalam bahasa Inggris, hati seperti ini disebut chicken heart, hati seekor ayam……….

Seseorang yang bersandar pada pujian orang berarti dirinya bersandar pada pengakuan pihak luar. Dalam buku “Sehat Dalam Sekejap, Medina” disampaikan…….. Yang menyebabkan depresi adalah diri kita sendiri, berbagai macam perasaan kurang enak yang timbul dari dalam diri, misalnya: Perasaan kurang diperhatikan; Kurang percaya diri/minder; Kesepian; Dan lain sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut muncul karena kita belum menemukan jati diri. Kita tidak mengetahui potensi diri. Kita bersandar pada pengakuan dari pihak luar. Jika ada yang memuji, kita senang. Jika ada yang mencaci-maki, kita sedih. Berarti, kita membiarkan orang lain mengendalikan diri kita. Selama kita masih bersandar pada sesuatu di luar diri, depresi pun tidak bisa dihindari…….

Dalam salah satu materi program e-learning Neo Transpersonal Psychology disampaikan…….. mereka yang mengeluh “kurang diperhatikan” sebenarnya adalah sebuah pembenaran dari kegagalan mereka dalam menyesuaikan diri terhadap situasi buruk yang menimpanya. Orang sukses tidak akan mengeluh kurang mendapat perhatian!! Apakah itu berarti bahwa mereka tidak pernah diabaikan dalam kehidupan mereka? Apakah mereka tidak pernah sama sekali merasa menderita akibat perlakuan acuh tak acuh dari orang yang mereka cintai atau mereka sayangi? Tidak. Mereka juga menghadapi berbagai masalah tersebut. Cara mereka merespon permasalahan yang membuat mereka jadi berbeda. Mereka menanggapi perlakuan acuh tak acuh, ketidakpedulian dan penanganan yang keliru dengan: Tidak terperangkap dalam masalah yang dihadapi; Bekerja keras untuk menghadapi dan mengatasi permasalahan dengan mencari solusi pemecahannya; Dan,meningkatkan kesadaran mereka ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi di mana mereka bisa lebih obyektif melihat masalah yang mereka hadapi. Hal inilah yang disebut sebagai: Pendekatan Transpersonal Baca lebih lanjut

Anjuran Agama Peduli Tetangga, Dari Kesadaran Personal Menuju Kesadaran Transpersonal

Mengapa tidak ada kedamaian di dunia? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran,…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi dirinya dan bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita semua sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, harus ada perubahan sikap mental, harus ada perubahan “attitude”…… Demikian pesan YM Bhikku Sanghasena pendiri Mahabodhi International Meditation Center saat berkunjung ke Anand Krishna Center Joglosemar pada tanggal 24 Februari 2011…….

 

Dan itu semua itu dimulai dari pendidikan yang ego based. Kita tidak diajari untuk memperhatikan kepentingan orang lain. Beban kurikulum pada anak sekolah terlalu besar, sehingga anak-anak terlalu sibuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Apalagi memberikan perhatian kepada orang lain, pekerjaan rumah tangga sehari-hari saja, orang tua atau pembantu yang mengerjakan. Padahal egoisme berada di belakang kerakusan manusia. Dalam buku “The Gospel Of Michael Jackson”, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009 disampaikan……. Dimana tiada kebenaran dan cinta, pasti ada pertengkaran dan ketidakharmonisan. Kepalsuan tidak mengenal kedamaian, egoisme tidak mengenal harmoni. Nilai-nilai palsu dan motif-motif egoistik berada di belakang kerakusan manusia dan segala konflik. Kita tidak mau berbagi dan tidak mampu saling merawat, karena jauh di dalam diri kita merasa lemah. Kita tidak memiliki kekuatan untuk melayani sesama karena kita kelelahan mengurusi problem-problem sepele kita. Kita tidak ada waktu berpikir untuk yang lain karena pikiran itu penuh dengan segala pikiran yang mengganggu dan tidak penting…….

 

Vivekananda, yang pandangan-pandangan hidupnya mempengaruhi Bung Karno mengatakan bahwa Kasih adalah Hukum Kehidupan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kasih mengembang, segala sesuatu yang berkaitan dengan keegoisan diri menyempit. Sehingga hanya kasih yang menjadi hukum kehidupan. Dia yang mengasihi “hidup”, dia yang egois sedang mengalami “kematian”. Sehingga, kasih hanyalah untuk kasih semata, “love for love’s sake”, karena itu adalah hukum kehidupan, seperti halnya kita bernapas untuk hidup…….

 

Untuk itu agama memberi nasehat kita untuk mengasihi jiran, mengasihi tetangga. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu? Mampukah anda mengasihi seorang penjahat? Mampukah anda mengasihi seorang pelacur? Sadarkah anda bahwa sesungguhnya mereka lemah. Yang membuat mereka jahat adalah kelemahan diri mereka. Yang membuat seseorang melacurkan diri adalah kurangnya rasa percaya diri. Dan yang membutuhkan perhatian anda, kepedulian anda, kasih anda, justru mereka-mereka ini. Kasih menuntut agar anda “mengasihi” tetangga anda, demi “kasih” itu sendiri. Inilah Kebenaran! Kebenaran tidak pernah memecah-belah. Kebenaran selalu mempersatukan. Baca lebih lanjut

Paparan Sunda Dan Temuan Piramida Di Garut Jawa Barat

VIVAnews – Riset patahan aktif di Jawa Barat untuk mempelajari bencana di zaman purba berujung pada penemuan mengejutkan: keganjilan berupa struktur piramida di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Diperkirakan besar dan usianya melampaui Piramida Giza di Mesir — yang diyakini sebagai makam Firaun, Dinasti keempat Mesir, Khufu, yang dibangun selama lebih dari 20 tahun pada kurun waktu sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Kini, misteri piramida di Garut, Jawa Barat diharapkan akan segera terkuak. Anggota Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Iwan Sumule mengatakan, sejumlah peneliti dan arkeolog asing telah menawarkan bantuan dalam proses eskavasi. “Termasuk dari Prancis, Amerika Serikat, dan Belanda menyatakan minat untuk membantu eskavasi,” kata dia saat dihubungi VIVAnews, Selasa 29 November 2011.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil survei, didukung sejumlah data, termasuk hasil foto IFSAR — lima meter di atas permukaan tanah, nyata ditemukan adanya struktur piramida yang adalah buatan manusia. “Semua aspek sudah diteliti, termasuk carbon dating. Di Gunung Sadahurip itu menunjukkan umur batuan 10.000 tahun lebih. Artinya kalau Piramida Giza di Mesir berusia sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, kita (Garut) 10.000 tahun,” tambah dia. “Hasil tes karbon tak bisa ditipu.” Besarnya pun melampaui piramida di Mesir. Menurut Iwan, tinggi piramida Garut diperkirakan 200 meter. “Makanya kami perkirakan, lebih tinggi dan lebih tua tiga kali lipat dari Piramida Giza di Mesir.”

Pernyataan di atas dikutip dari……. http://nasional.vivanews.com/news/read/268167-asing-berniat-ungkap-misteri-piramida-garut

Dalam salah satu Materi Program “Ancient Indonesian History and Culture” (http://history.oneearthcollege.com/) dari One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) disampaikan bahwa Prof. Stephen Oppenheimer,  dan pakar lainnya menyampaikan bahwa…… “Indocina dan Pulau-pulau Indonesia sampai ke Kalimantan dan Bali, dulu terhubung daratan dengan Benua Asia dalam suatu paparan bernama Paparan Sunda, seperti juga yang di Palawan, Filipina.”…….. Hindia — yaitu, India and Indonesia — adalah lokasi sebenarnya dari dua Atlantis, yang dikenang dengan nama Atlantis dan Lemuria baik oleh Atlantologists  maupun Occultists. Walaupun sering dibesar-besarkan maupun disalahartikan, kedua Atlantis tersebut sesungguhnya sangat nyata, dan meninggalkan jejak keberadaan yang tidak terbantahkan di bekas peradabannya.

Prof. Stephen Oppenheimer (Ahli Genetika/ Peneliti DNA Inggris, 1947 – ) menyampaikan…….. “Sepertinya sayalah yang pertama berpendapat bahwa Asia Tenggara merupakan cikal bakal unsur-unsur peradaban Barat… Tumbuhnya peradaban kuno di Timur Tengah berakar dari tenggelamnya pantai-pantai Asia Tenggara… Apa yang tersisa sekarang dari Asia Tenggara hanya dapat selintas mengindikasikan Eden yang pernah ada.” Baca lebih lanjut