Makna Spiritual Bentuk Geometris Dari Candi-Candi Dan Tempat-Tempat Ibadah Di Indonesia

Saat kita melihat matahari atau bulan yang bulat, gunung yang berbentuk segitiga lancip di atas, bintang yang bersinar, nyala api yang menyala ke atas, kita memahami adanya bentuk geometri di alam semesta. Tanpa kita sadari kita, telah ada interaksi antara bentuk-bentuk geometri dan diri kita. Itulah sebabnya para leluhur kita membuat tempat pemujaan dengan bentuk geometri tertentu untuk membangkitkan rasa terdalam dalam diri manusia. Pada saat ini kita pun sudah terbiasa melihat bentuk geometris kubah masjid, bangunan gereja, vihara ataupun pura.

Lihat Gambar 1. Bentuk geometri di alam.

Lihat Gambar 2. Bentuk geometri Tempat-Tempat Ibadah di Indonesia.

Kita juga melihat bentuk geometri atap joglo yang mirip dengan bangunan piramida di Mesir. Bahkan kita juga melihat bentuk geometris nasi tumpeng  yang menyerupai replika dari sebuah gunung.

Lihat Gambar 3. Bentuk geometri Atap joglo.

Lihat Gambar 4. Bentuk geometri Nasi Tumpeng.

Sebuah candi adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Candi adalah alat atau yantra untuk menenangkan pikiran manusia agar terfokus pada Hyang Maha Kuasa. Dalam hal ini bentuk geometri digunakan sebagai alat yang efisien untuk kontemplasi, konsentrasi dan meditasi. Bangunan geometri sebuah candi membawa makna spiritual dan dapat membawa penggunanya ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Bentuk geometris sederhana seperti: lingkaran, garis, segitiga, bujur sangkar, segi lima, segi enam dan kelopak bunga teratai mewakili getaran-getaran energi yang halus. Dalam artikel di internet, “Sacred Geometry in Buildings” kita mendapatkan informasi antara lain: Baca lebih lanjut

Iklan

Serat Wedhatama Mempersatukan Umat Manusia Melalui Pemahaman Body, Mind And Soul

Setiap manusia mempunyai body atau raga yang berbeda satu dengan lainnya. Enam milyar manusia mempunyai wajah dan penampilan fisik yang tidak sama. Mereka yang lahir kembar pun dengan pengalaman hidup yang berbeda pada akhirnya menunjukkan perbedaan juga. Semua tumbuhan dan hewan pun walau dapat dikelompokkan dari ciri-cirinya, akan tetapi satu-persatu juga berbeda. Mengapa berbeda? Karena pengalaman hidup setiap makhluk tidak sama. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan yaitu Atman, dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Sehingga orang yang berkesadaran fisik akan menganggap bahwa setiap orang itu berbeda-beda.

Selanjutnya, body atau raga itu dikendalikan oleh mental, oleh mind, oleh pikiran. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikirannya. Bila raga atau fisik itu mengalami lahir, tumbuh, berkembang, mandeg dan mati maka tidak demikian dengan mind. Mind adalah energi. Dan, sebagai energi mind tidak mati. Katakanlah seorang pemimpin meninggal, akan tetapi pemikirannya tidak akan meninggal, mind-nya tidak akan meninggal. Mind sendiri terdiri dari conscious mind, subconscious mind dan super conscious mind.

Body dan mind saja dalam diri seseorang tidak cukup, harus ada soul, ruh. Tanpa ruh body hanya berupa jasad mati yang segera didaur-ulang kembali oleh alam menjadi elemen pokok: tanah, air, api, udara dan ruang. Tanah, air, api, udara dan ruang kesemuanya adalah energi dengan kemampatan yang berbeda. Einstein mengatakan E=MC kwadrat, Energi adalah Masa (materi) dalam fungsi kecepatan tertentu……. Selanjutnya, mind pun tanpa body dan ruh tidak bisa berkembang. Semua perbaikan mind harus dilakukan saat body masih ada, atau pada saat masih hidup. Ruh yang terperangkap oleh mind itulah jiwa. Bila mind telah mati, telah tidak punya keinginan, tidak punya keterikatan, maka yang tinggal hanyalah ruh. Istilah “mati sajroning ngaurip”, mati keinginan selagi hidup ada persamaannya dengan jivan mukta. Seorang yang telah bebas dari belenggu pikiran, maka kehendak orang tersebut adalah kehendak-Nya. Keyakinan bahwa apabila ada orang yang menjelang kematiannya mengucapkan la illa ha illallah dia akan bertemu Allah, sebenarnya orang yang akan mati tersebut telah mengalahkan semua obsesi keduniawiannya, baginya yang ada hanya Allah, la illa ha illallah, tidak ada yang lain selain Allah,  maka dia akan menuju Allah.

Bagi mereka yang percaya dengan reinkarnasi atau rebirth ataupun penitisan kembali, maka setelah kematian tubuh, subconscious mind yang penuh obsesi duniawi tidak ikut mati dan akan mencari tubuh baru untuk melanjutkan pemenuhan obsesinya. Seseorang akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”. Dan “pengolahan” tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Lapisan super conscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Mereka yang tidak ingin lahir kembali, super conscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika masih “hidup”, masih ber-“tubuh”. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas super conscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, pada saat kematian tidak ada yang dapat mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali. Baca lebih lanjut

Nyai Lara Kidul Laut Selatan, Candi Kalasan Indonesia dan Dewi Tara Tibet

Membaca artikel di internet “Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java”, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak kita masing-masing: seperti yang berkaitan dengan hal mistis; pencarian jalan pintas dalam mendapatkan kekayaan; tumbal manusia secara berkala untuk dijadikan pekerja Istana Dasar Laut Kidul; atau pun Kanjeng Ratu Kidul yang berhubungan mistis dengan para Raja Surakarta dan Jogjakarta yang merupakan anak keturunan dari Raja Mataram Pertama Panembahan Senopati……… sang penulis artikel mengambil referensi nama Nyai Lara Kidul, sebagai dewi yang dikenal masyarakat pada zaman Candi Kalasan sedang dibangun. Dewi yang berkaitan dengan Dewi Padi (Dewi Sri) dan Dewi Padi Ladang (dewi Tisnawati) dan juga Dewi yang memberikan kemakmuran kepada masyarakat (Dewi Laksmi). Menurut sang penulis, gambaran tentang ikon Nyai Lara Kidul tersebut pada saat ini telah berubah menjadi seperti yang kita pahami pada saat ini.

Mengenai panggilan Nyai, perlu dimengerti bahwa orang-orang Jawa Kuna merasa dekat bila kekuatan yang dipuja mereka dipanggil sebagai keluarga dekat. Orang Jawa Kuna merasa bahwa sebutan Allah dan Nabi itu jauh, sehingga agar dekat di hati, mereka memanggilnya dengan sebutan Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, seperti menyebut raja dan bangsawan kerajaan bagi mereka. Mereka memanggil Tuhan dengan sebutan Gusti Pangeran. Memanggil Dewa, kekuatan ilahi pun dengan sebutan Hyang (Eyang), matahari dipanggil Hyang Surya, bulan dipanggil Hyang Chandra. Memanggil para Wali dengan sebutan Kanjeng Sunan. Memanggil orang yang dihormati sebagai Kyai atau Nyai.

Baik Dewi Tara maupun Nyai Lara Kidul menyukai warna hijau yang merupakan kekuatan jiwa muda. Dewi Tara memegang bunga Utpala (teratai biru, atau teratai malam) yang mekar di waktu malam tidak seperti teratai putih yang mekar di siang hari. Demikian juga Nyai Lara Kidul memegang bunga Wijaya Kusuma yang mekar di waktu malam. Penulis menganggap ada perbedaan antara Nyai Lara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Nyai Lara Kidul adalah Dewi Kesuburan dan Pelindung di zaman dahulu kala. Sedangkan Kanjeng Ratu Kidul adalah shakti/energi para Raja Jawa setelah para Raja Jawa menganut agama Islam. Pada panggung Sangga Buana di Keraton Surakarta digantungkan lukisan yang menggambarkan seorang pria mengendarai ular terbang, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai candra-sengkala (tanda tahun) 1782 M. Akan tetapi bagi sang penulis, ular tersebut ada hubungannya dengan Ratu Kidul. Di Keraton Jogjakarta Kanjeng Ratu Kidul bertemu Sultan di Sumur Gumuling di Taman Sari yang menurut penulis juga ada hubungannya dengan ular. Kanjeng Ratu Kidul menurut penulis adalah Ratu Naga. Sesungguhnya ular ada hubungannya dengan energi kundalini atau shakti yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.

Kita paham bahwa ajaran Buddha sangat adaptatif dengan keyakinan setempat, sehingga di tengah masyarakat perbedaan antara ajaran Buddha, Shiwa dan keyakinan setempat hanya berupa perbedaan formal. Di dalam kenyataan di lapangan, keyakinan tersebut bisa berbaur di tengah masyarakat. Buddha Mahayana dan Vajrayana tidak ragu-ragu menyesuaikan ajaran asli mereka, dengan mengambil alih konsep dan bahkan  ikon dari banyak dewa-dewi dan ikon keyakinan masyarakat setempat. Dewi Tara mempunyai asosiasi dengan Dewi Durga yang merupakan Adishakti  dan juga dengan dewi kepercayaan masyarakat setempat seperti Nyai Lara kidul. Bila di Candi Kalasan terdapat patung Dewi Tara, maka dalam jarak kurang dari 2 km ada Candi Prambanan dengan patung Dewi Durga. Melihat kondisi geografis, nampaknya sungai Opak yang memisahkan Candi Prambanan dengan Candi Kalasan menjadi batas antara kekuasaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Candi-candi di jawa Tengah seperti Kalasan, Plaosan dan Prambanan, Sambisari dibangun oleh masyarakat campuran antara Shiwa dan Buddha. Bagi mereka Dewi Durga, Dewi Tara, Nyai lara Kidul adalah ikon seorang ibu yang perlu dipuja. Baca lebih lanjut

Mencermati Perubahan Karakter Legenda Dewi Feminin Durga Menjadi Bathari Maskulin Ganas Durga

Membaca artikel The Goddess Durga– in the East-Javanese Period, HARIANI SANTIKO, Universitas Indonesia, Jakarta yang membahas perubahan persepsi dari Dewi Durga di Jawa pada abad 10 ke Bathari Durga pada abad 15, kita bertanya-tanya apakah latarbelakang dari perubahan karakter Dewi Durga tersebut? Dari persepsi awal sebagai seorang dewi yang baik, pembunuh asura jahat Mahisasura (Durga Mahisasuramardini) dan pelindung kesejahteraan dan kesuburan, ke Bathari dengan wajah yang menakutkan dan kecenderungan untuk berbuat jahat yang dipuja para pengikut aliran hitam. Apakah ini sebuah pembunuhan karakter?

Sering disebutkan bahwa energi atau daya gerak itu berasal dari feminin, itulah sebabnya energi disebut Shakti. Tanpa energi, manusia hanya berupa jasad atau mayat. Dewi Durga adalah Shaktinya ShIva. Oleh karena itu “ShIva” ditulis dengan I besar, tanpa I besar (yang bermakna energi) ShIva akan menjadi Shava atau mayat. Seorang ayah bisa memberikan warisan genetik seorang yang cerdas kepada anaknya, tetapi tanpa energi sang ibu anaknya tidak akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam kisah Bharatayuda Arjuna disebut putera Kunti.

Sekarang kita memahami bahwa pada saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”. Yang menggerakkan manusia adalah Shakti yang berasal dari seorang ibu.

Tanpa energi/shakti manusia hanya merupakan jasad. Dan Dewi Durga adalah simbol dari kekuatan shakti awal mula atau adishakti. Matahari bersinar menghidupi manusia di bumi, akan tetapi shakti adalah energi yang membuat matahari bersinar. Shakti ada dalam setiap makhluk hidup.

Dewi Durga adalah kekuatan/energi feminin yang dipuja oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan 1009-1042. Kemudian Raja Kertanegara dari Kerajaan Sighasari  juga memuja Kekuatan Feminin Dewi Chamundi salah satu nama dari shakti Shiva. Akan tetapi pada abad 15 ditulislah beberapa kitab antara lain Tantu Panggelaran,  Sudamala, Kidung Sri Tanjung, Korawasrama yang menggambarkan Bathari Durga sebagai Dewi yang berpenampilan mengerikan yang merupakan istri Shiwa yang dikutuk karena berbuat salah. Bahkan Hikayat calon Arang yang menceritakan tentang pemujaan Bathari Durga sebagai kekuatan jahat juga ditulis pada abad ke 16. Pada hal kisah Calon Arang menceritakan tentang Raja Erlangga yang memerintah pada abad 11, bahkan Erlangga sendiri adalah sebagai pemuja Kekuatan feminin Dewi Durga.

Kisah yang dibuat pada abad 15 tersebut ditatahkan pada relief dinding Candi Tegawangi , Candi Sukuh dan Candi Penataran. Sejarawan Soedarmono dari Surakarta pernah menyampaikan bahwa  relief yang di dinding bangunan baru Candi Sukuh tidak sama dengan bangunan utama Candi Sukuh yang berbentuk Piramid terpotong yang usianya jauh lebih tua. Patung Dewi Durga Mahisasuramardini antara lain terdapat di Candi Prambanan, Candi Singhasari, Candi Badhut. Baca lebih lanjut

Makna Masa Kini Tentang Kisah Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Dan Kisah Masyarakat Dalam Zaman Edan

Kisah Nabi Yunus ada dalam berbagai agama. Banyak versi kisah maupun pembahasannya, akan tetapi semestinya esensinya adalah satu jua. Pedoman “Bhinneka Tunggal Ika” digunakan dalam mencari esensi dari banyak versi kisah yang berbeda-beda.  Pada masa kini, para pengguna internet telah mendapatkan kebebasan untuk membaca berbagai versi kisah tersebut dan dengan demikian telah memperkaya wawasan mereka, kala mendalami kisah tersebut. Wikipedia menyebutkan bahwa Nabi Yunus, Yunus (Arab), Jonah ( Inggris), Yonah (Ibrani), Ionas (Latin) (sekitar 750 SM) adalah salah nabi yang dikenal dalam berbagai agama. Sudah semestinya Kisah Nabi Yunus mempunyai esensi yang sama bagi berbagai agama. Dalam Al Qur’an Surah Yunus, dikisahkan tentang Nabi Yunus AS dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya. Dalam Alkitab ada Kitab Yunus, yang mengisahkan pengalaman Nabi Yunus, ketika ia mencoba menghindari perintah Tuhan. Nabi Yunus adalah Utusan Ilahi bagi orang Ninawa/Niniweh/Ninevites di daerah Irak.

 

Berulang kali Nabi Yunus memperingatkan mereka yang tengah tenggelam dalam perbuatan adharma, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Nabi Yunus bukan dari kaum mereka. Setiap kali adharma merajalela akan ada “Utusan” yang memperingatkan agar masyarakat kembali ke jalan yang benar. Kita juga mengerti bahwa banyak “Utusan” yang bukan penduduk setempat.  Konon Adi Shankara lahir di Kerala (kebanyakan masyarakat bergenetik Melayu atau Malayalam; Nabi Musa konon juga bergenetik Yahudi walau menjadi putra raja Mesir, sehingga bangsa Yahudi saat itu tidak mengetahui bahwa Musa sebangsa dengan mereka; Tokoh Hanuman adalah “Utusan” yang bergenetik “kera” bagi para raksasa yang tinggal di Alengka. Sri Krishna adalah “Utusan” bagi masyarakat adharma Korawa sebelum perang Bharatayuda.

 

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Para “Utusan” adalah pembaharu sehingga menyampaikan hal yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat. Nabi Yunus berkata: “Aku hanya mengajakmu beriman dan bertauhid (advaitha/non-dualitas) sesuai dengan amanah Allah yang wajib kusampaikan padamu. Aku hanyalah pesuruh Allah yang ditugaskan mengeluarkanmu dari kesesatan dan menuntunmu di jalan yang lurus. Aku sekali-kali tidak mengharapkan upah atas apa yang kukerjakan ini (berkarya tanpa pamrih/karma yoga). Aku tidak bisa memaksamu mengikutiku. Namun jika kamu tetap bertahan pada kebiasaanmu itu, maka Allah akan menunjukkan tanda-tanda kebenaran akan kata-kataku dengan menurunkan azab yang pedih padamu, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Masyarakat menjawab dengan menantang: “Kami tetap tidak akan mengikuti kemauanmu dan tidak takut ancamanmu. Tunjukkan ancamanmu jika kamu termasuk orang yang benar!” Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka.

 

Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa sangat gundah, karena mendung sangat pekat, binatang peliharaan sangat gelisah, dan suara angin bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar akan terjadi pada mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Nabi Yunus adalah orang yang benar. Mereka kemudian beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Nabi Yunus sambil memohon pengampunan Allah atas kesalahan mereka. Yang Maha Pemaaf-pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Nabi Yunus agar mereka bisa dituntun di jalan yang benar. Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar dan selamat dari bencana alam yang menghampiri mereka.

 

Disebutkan ada makna empat tangan Wisnu sebagai kekuatan pemelihara alam. Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Yang Maha Kuasa terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera bertaubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya. Baca lebih lanjut

Memelihara Nyala Semangat Agar Tidak Bekerja Hangat-Hangat Tahi Ayam

Belum genap seminggu tahun 2011 kita tinggalkan dan berita hingar bingar di akhir tahun masih dapat kita baca di arsip berita, akan tetapi sudah tak ada seorang pun yang membicarakannya. Kita sudah lupa masalah seminggu yang lalu, padahal dari segi keuangan pengaruhnya masih terasa ke neraca ekonomi rumah tangga beberapa bulan ke depan. Melupakan masa lalu baik, agar kita bisa terfokus pada apa yang dihadapi saat ini, akan tetapi kita harus mendapatkan pelajaran dari tindakan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan lama di masa mendatang. Bagaimana pun juga komitmen kerja keras, berbuat baik harus tetap diingat dan diimplementasikan serta tidak ikut terlupakan. Kita bisa melihat janji-janji para pemimpin sebelum pemilu yang terlupakan, seperti kita juga perlu merenungi komitmen-komitmen perbaikan kualitas diri yang juga terabaikan…….. Kita lupa bahwa bila kita tidak belajar dari  pengalaman, maka kita akan terpaksa mengulanginya di masa depan. Filsuf George Santayana berkata, “Mereka yang tidak dapat belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya.” Apakah bangsa kita mudah melupakan sejarah dan mengulangi peristiwa yang hampir sama berkali-kali? Apakah kita hanya ingat fakta-fakta tentang sejarah dan tidak belajar sejarah? Sejarawan Arnold Toynbee menegaskan tentang perlunya kita Belajar Dari Sejarah, dan tidak sekedar mempelajari fakta-fakta sejarah. Demikian pula secara individual kita perlu belajar dari sejarah pengalaman pribadi, agar kita tahu potensi yang ada dalam diri dan kita bisa memberdayakan diri sendiri……….

Di akhir tahun, kita melihat antrean mobil di pusat keramaian, penuhnya tempat parkir di hotel dan mall, ramainya penerbangan domestik dan internasional serta pesta kembang api di berbagai kota besar di Indonesia, rasanya negara kita sudah sejahtera dan tak banyak masalah yang membelit bangsanya…….. Melihat artikel di media televisi dan koran saat itu, diri kita ikut terseret kesenangan sesaat dan lupa masalah kemiskinan di berbagai daerah, lupa masalah kekerasan yang tengah melanda negeri. Kita mudah lupa walau untuk sejenak saja……….. Semangat konsumtivisme, hedonisme, materi dan duniawi, menguasai kehidupan. Televisi mengajarkan setiap hari bagaimana menikmati hidup modern ini, entah dari mana mendapatkan uangnya. Kita bersenang-senang, seolah-olah telah mencapai kesuksesan seperti China, Jepang, dan Singapura. Kita ingin segera menikmati segala sesuatu secara instan tanpa menghiraukan prosesnya. Kita tidak pernah sadar bahwa kita menikmati mobil, pakaian, peralatan rumah tangga, hp, laptop, padahal yang memproses bukan bangsa sendiri. Kita tidak sadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan dilakukan dengan cara membayar harga proses yang dilakukan bangsa lain.

Banyak para pemimpin bangsa dan tokoh masyarakat yang meneriakkan semangat baru di tahun baru, salah seorang petinggi negara berkata: “Username dan pasword kita hanya kerja, kerja dan kerja.” Seorang pengusaha kaya yang seniman memberi semangat: “Saya ingin tetap berjuang, lebih baik mati sambil teriak daripada mati menua dan pikun.” Mungkin bagi sedikit orang, mereka bisa melakukan dengan konsisten antara semangat dan praktek di kehidupan nyata….. Akan tetapi banyak dari kita yang berjanji untuk melakukan kebaikan di tahun baru…… tetapi banyak juga yang skeptis….. biasa kita itu bangsa yang hangat-hangat tahi ayam…. Demikian penilaian sebagian masyarakat terhadap karakter bangsa kita sendiri…… Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya pada permulaan.  Lama kelamaan melempem karena tidak tahan berjuang lama. Semangat hanya selagi di depan, sebentar juga adem dengan sendirinya……. hangat-hangat tahi ayam…….. Seminggu setelah semangat yang menggebu-gebu saja sudah bekerja “as usual”……
Baca lebih lanjut