Memelihara Nyala Semangat Agar Tidak Bekerja Hangat-Hangat Tahi Ayam


Belum genap seminggu tahun 2011 kita tinggalkan dan berita hingar bingar di akhir tahun masih dapat kita baca di arsip berita, akan tetapi sudah tak ada seorang pun yang membicarakannya. Kita sudah lupa masalah seminggu yang lalu, padahal dari segi keuangan pengaruhnya masih terasa ke neraca ekonomi rumah tangga beberapa bulan ke depan. Melupakan masa lalu baik, agar kita bisa terfokus pada apa yang dihadapi saat ini, akan tetapi kita harus mendapatkan pelajaran dari tindakan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan lama di masa mendatang. Bagaimana pun juga komitmen kerja keras, berbuat baik harus tetap diingat dan diimplementasikan serta tidak ikut terlupakan. Kita bisa melihat janji-janji para pemimpin sebelum pemilu yang terlupakan, seperti kita juga perlu merenungi komitmen-komitmen perbaikan kualitas diri yang juga terabaikan…….. Kita lupa bahwa bila kita tidak belajar dari  pengalaman, maka kita akan terpaksa mengulanginya di masa depan. Filsuf George Santayana berkata, “Mereka yang tidak dapat belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya.” Apakah bangsa kita mudah melupakan sejarah dan mengulangi peristiwa yang hampir sama berkali-kali? Apakah kita hanya ingat fakta-fakta tentang sejarah dan tidak belajar sejarah? Sejarawan Arnold Toynbee menegaskan tentang perlunya kita Belajar Dari Sejarah, dan tidak sekedar mempelajari fakta-fakta sejarah. Demikian pula secara individual kita perlu belajar dari sejarah pengalaman pribadi, agar kita tahu potensi yang ada dalam diri dan kita bisa memberdayakan diri sendiri……….

Di akhir tahun, kita melihat antrean mobil di pusat keramaian, penuhnya tempat parkir di hotel dan mall, ramainya penerbangan domestik dan internasional serta pesta kembang api di berbagai kota besar di Indonesia, rasanya negara kita sudah sejahtera dan tak banyak masalah yang membelit bangsanya…….. Melihat artikel di media televisi dan koran saat itu, diri kita ikut terseret kesenangan sesaat dan lupa masalah kemiskinan di berbagai daerah, lupa masalah kekerasan yang tengah melanda negeri. Kita mudah lupa walau untuk sejenak saja……….. Semangat konsumtivisme, hedonisme, materi dan duniawi, menguasai kehidupan. Televisi mengajarkan setiap hari bagaimana menikmati hidup modern ini, entah dari mana mendapatkan uangnya. Kita bersenang-senang, seolah-olah telah mencapai kesuksesan seperti China, Jepang, dan Singapura. Kita ingin segera menikmati segala sesuatu secara instan tanpa menghiraukan prosesnya. Kita tidak pernah sadar bahwa kita menikmati mobil, pakaian, peralatan rumah tangga, hp, laptop, padahal yang memproses bukan bangsa sendiri. Kita tidak sadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan dilakukan dengan cara membayar harga proses yang dilakukan bangsa lain.

Banyak para pemimpin bangsa dan tokoh masyarakat yang meneriakkan semangat baru di tahun baru, salah seorang petinggi negara berkata: “Username dan pasword kita hanya kerja, kerja dan kerja.” Seorang pengusaha kaya yang seniman memberi semangat: “Saya ingin tetap berjuang, lebih baik mati sambil teriak daripada mati menua dan pikun.” Mungkin bagi sedikit orang, mereka bisa melakukan dengan konsisten antara semangat dan praktek di kehidupan nyata….. Akan tetapi banyak dari kita yang berjanji untuk melakukan kebaikan di tahun baru…… tetapi banyak juga yang skeptis….. biasa kita itu bangsa yang hangat-hangat tahi ayam…. Demikian penilaian sebagian masyarakat terhadap karakter bangsa kita sendiri…… Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya pada permulaan.  Lama kelamaan melempem karena tidak tahan berjuang lama. Semangat hanya selagi di depan, sebentar juga adem dengan sendirinya……. hangat-hangat tahi ayam…….. Seminggu setelah semangat yang menggebu-gebu saja sudah bekerja “as usual”……

Kita perhatikan catatan media bangsa kita sangat ribut kala terjadi suatu peristiwa. Semua orang mengemukakan pendapatnya dari ruang sidang pejabat sampai kursi warteg tenda di tepi jalan. Kebanyakan tidak suka kalau pendapatnya dibantah. Apakah semangat baru tersebut bisa konsisten sampai bulan Desember 2012 atau gembos di bulan Februari. Budayawan Yakob Sumardjo punya pendapat mengapa bangsa ini mudah terbakar sesaat?………… Mengapa kita menyukai hangatnya tahi ayam? Suatu persoalan belum selesai diceritakan, sudah beralih pada cerita yang lain. Ini tak lain karena bangsa ini masih hidup dalam kebudayaan lisan. Kita ini belum memasuki periode bangsa literer, bangsa suka membaca. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih mengandalkan epistimologi pengetahuannya, kesadarannya, dari mendengar sampai menonton. Bangsa dengan budaya lisan yang menonjol……….. Budaya lisan itu terbatas ruang cakrawalanya, yakni hanya mengenal dimensi ruang dan waktu sesaat. Sikap hidup semacam ini menggantungkan diri pada kesadaran kolektif, bukan solidaritas umum yang universal. Perspektif pandangannya pendek saja, yakni yang terindera. Peristiwa dilihat sebagai peristiwa inderawi. Dia lupa masalah yang panas sehingga menjadi dingin dengan cepat………

……….Budaya ini berbeda dengan mereka yang literer. Manusia literer mampu berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat hubungan-hubungan peristiwa dalam struktur yang tetap. Orang begini tidak mudah dihasut, karena tidak melihat berdasarkan inderawinya tetapi akal budinya. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif apa adanya, dan bukan bagaimana nampaknya. Orang-orang ini kritis, berbuat setelah matang pemikirannya karena ia melihat perspektif kemungkinan-kemungkinannya………. Manusia lisan mengandalkan kesadarannya diisi oleh radio dan televisi, mengobrol, gosip, SMS, pidato, koran kuning, tabloid, dan gurauan-gurauan. Semua ini gejala-gejala permukaan yang diangkat menjadi persoalan substansial……. Di kampus-kampus, ada saja sebagian mahasiswa cukup menyelipkan selembar buku catatan di saku belakang celananya. Mereka alergi terhadap buku-buku tebal sehingga tak pernah menyentuhnya, apalagi membacanya. Perpustakaan kampus sepi pengunjung, juga dari dosen-dosennya. Komik tebal dan tabloid laku dimana-mana. Bacaan wajib pun malas membelinya. Acara favorit mereka kalau bukan kriminal ya celoteh kaum selebriti. Orang-orang literer menurut hasil penelitian Kooyman di tahun 1970 di Indonesia hanya 2 % saja dari sekitar 100 juta orang dewasa. Sekarang paling banyak 30 % demikian pandangan budayawan Yakob Sumardjo.

Kita telah melupakan ajakan para leluhur. Nenek-moyang kita anggap bodoh dan ketinggalan zaman. Padahal mereka mengutamakan laku, proses. Ngelmu itu harus dilaksanakan dengan laku, tindakan nyata. Kita tergoda untuk masuk jalur instan. Nafsu memetik kenikmatan dengan cara singkat. Padahal kehidupan itu merupakan proses dari laku, dari kerja. Semua produk itu ada prosesnya. Kita bangga mengkonsumsi produk dari proses bangsa lain. Apakah kembang api yang kita nikmati, mobil mewah yang di parkir di hotel berbintang, HP canggih yang menghubungkan relasi kita buatan putra-putri bangsa sendiri?

Tanpa terasa kita telah mengalami ketergantungan pada produk-produk luar. Kita terbiasa dilayani. Apalagi bila sudah tersentuh gengsi, lupa bahwa memakai produk sendiri berarti memberi kesempatan putra-putri bangsa berpartisipasi dalam proses pembuatan produk. Tanpa sadar kita telah terjerumus untuk menggunakan naluri untuk menikmati tanpa peduli prosesnya menguntungkan bangsa atau tidak. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan……… Hewan tidak membutuhkan pendidikan, kecuali bila Anda ingin memaksakan kebiasaan-kebiasaan lain terhadapnya. Kebiasaan-kebiasaan yang tidak natural, tidak alami baginya. Untuk segala sesuatu yang alami baginya, seekor anak hewan tidak membutuhkan pendidikan. Nalarnya sudah cukup. Ia tinggal menggunakan nalarnya……… Anak manusia  tidak hanya membutuhkan pendidikan, tapi juga perawatan dan pemeliharaan fisik, mental, emosional……. Setiap lapisan kesadaran di dalam diri manusia perlu dirawat dan dipelihara. Dengan cara apa mendidik anak manusia, merawat serta memelihara kesadarannya? Dengan cara “membangkitkan semangat” dalam dirinya; dengan cara memberdayakan dirinya semangat, energi, atau apa pun sebutannya, tidak dapat diperoleh lewat motivasi dari luar. Motivasi pun harus datang dari dalam diri sendiri. Kita harus mampu memotivasi diri sendiri………. Sungguh mudah “memperoleh” motivasi dari luar. Tinggal membayar sejumlah uang, menghadiri seminar, atau bahkan cukup dengan membaca salah satu di antara sekian banyak buku yang ditawarkan. Namun, motivasi yang gampang diperoleh itu jga gampang lenyap tanpa bekas. Tetaplah memberdayakan diri dengan motivasi dari dalam diri sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini………. Mulailah dari saat ini. Janganlah menunda memotivasi diri. peringatan-peringatan persuasif seperti inilah yang dapat mendidik seorang anak. Jangan membebani mereka dengan segudang buku dan peraturan. Semua itu hanya akan melemahkan jiwa mereka. biarlah jiwa mereka bebas untuk berkembang, mengikuti potensi yang sudah ada di dalam diri mereka. kita cukup mengingatkan anak-anak kita: “Berkembanglah! Karena, perkembanganitulah kehidupan.”

Program-program Neo Self Empowerment yang dikelola oleh Yayasan Anand Ashram Center for Holistic Health and Meditation (http://www.anandashram.or.id/) memberikan pengalaman dan pelatihan untuk merasakan sendiri betapa luar biasanya potensi yang terpendam dalam diri setiap orang.

Program-program di Neo Self Empowerment membuat kita bangun, bangkit, menyadari potensi luar biasa yang selama ini terpendam, tersembunyikan atau memang sengaja oleh orang-orang tertentu, lingkungan, keluarga atau bahkan kita sendiri tidak diberdayakan. Banyak sudah seminar motivasi yang mungkin sudah kita ikuti, tetapi mungkin setelah itu kita tidak percaya diri kembali. Kita menjadi tidak berdaya lagi. Itu karena kita hanya mengurus lapisan pengetahuan saja. Kita tahu, tetapi tidak merasakan potensi tersebut. kita harus mengalaminya sendiri, setelah itu semua akan datang dengan sendirinya. Ada beberapa program dari NSE yang ditawarkan sehingga kita mengalami potensi tersebut dan kemudian kita manfaatkan untuk berbagai hal seperti kesejahteraan, kesuksesan, kedamaian, dan kebahagiaan……….

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Kemudian ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: