Makna Masa Kini Tentang Kisah Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Dan Kisah Masyarakat Dalam Zaman Edan


Kisah Nabi Yunus ada dalam berbagai agama. Banyak versi kisah maupun pembahasannya, akan tetapi semestinya esensinya adalah satu jua. Pedoman “Bhinneka Tunggal Ika” digunakan dalam mencari esensi dari banyak versi kisah yang berbeda-beda.  Pada masa kini, para pengguna internet telah mendapatkan kebebasan untuk membaca berbagai versi kisah tersebut dan dengan demikian telah memperkaya wawasan mereka, kala mendalami kisah tersebut. Wikipedia menyebutkan bahwa Nabi Yunus, Yunus (Arab), Jonah ( Inggris), Yonah (Ibrani), Ionas (Latin) (sekitar 750 SM) adalah salah nabi yang dikenal dalam berbagai agama. Sudah semestinya Kisah Nabi Yunus mempunyai esensi yang sama bagi berbagai agama. Dalam Al Qur’an Surah Yunus, dikisahkan tentang Nabi Yunus AS dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya. Dalam Alkitab ada Kitab Yunus, yang mengisahkan pengalaman Nabi Yunus, ketika ia mencoba menghindari perintah Tuhan. Nabi Yunus adalah Utusan Ilahi bagi orang Ninawa/Niniweh/Ninevites di daerah Irak.

 

Berulang kali Nabi Yunus memperingatkan mereka yang tengah tenggelam dalam perbuatan adharma, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Nabi Yunus bukan dari kaum mereka. Setiap kali adharma merajalela akan ada “Utusan” yang memperingatkan agar masyarakat kembali ke jalan yang benar. Kita juga mengerti bahwa banyak “Utusan” yang bukan penduduk setempat.  Konon Adi Shankara lahir di Kerala (kebanyakan masyarakat bergenetik Melayu atau Malayalam; Nabi Musa konon juga bergenetik Yahudi walau menjadi putra raja Mesir, sehingga bangsa Yahudi saat itu tidak mengetahui bahwa Musa sebangsa dengan mereka; Tokoh Hanuman adalah “Utusan” yang bergenetik “kera” bagi para raksasa yang tinggal di Alengka. Sri Krishna adalah “Utusan” bagi masyarakat adharma Korawa sebelum perang Bharatayuda.

 

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Para “Utusan” adalah pembaharu sehingga menyampaikan hal yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat. Nabi Yunus berkata: “Aku hanya mengajakmu beriman dan bertauhid (advaitha/non-dualitas) sesuai dengan amanah Allah yang wajib kusampaikan padamu. Aku hanyalah pesuruh Allah yang ditugaskan mengeluarkanmu dari kesesatan dan menuntunmu di jalan yang lurus. Aku sekali-kali tidak mengharapkan upah atas apa yang kukerjakan ini (berkarya tanpa pamrih/karma yoga). Aku tidak bisa memaksamu mengikutiku. Namun jika kamu tetap bertahan pada kebiasaanmu itu, maka Allah akan menunjukkan tanda-tanda kebenaran akan kata-kataku dengan menurunkan azab yang pedih padamu, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Masyarakat menjawab dengan menantang: “Kami tetap tidak akan mengikuti kemauanmu dan tidak takut ancamanmu. Tunjukkan ancamanmu jika kamu termasuk orang yang benar!” Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka.

 

Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa sangat gundah, karena mendung sangat pekat, binatang peliharaan sangat gelisah, dan suara angin bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar akan terjadi pada mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Nabi Yunus adalah orang yang benar. Mereka kemudian beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Nabi Yunus sambil memohon pengampunan Allah atas kesalahan mereka. Yang Maha Pemaaf-pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Nabi Yunus agar mereka bisa dituntun di jalan yang benar. Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar dan selamat dari bencana alam yang menghampiri mereka.

 

Disebutkan ada makna empat tangan Wisnu sebagai kekuatan pemelihara alam. Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Yang Maha Kuasa terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera bertaubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.

 

Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar sehingga selamat setelah mendengar “terompet kerang peringatan yang diberikan Sang Pemelihara Alam” sehingga gada Wisnu tak jadi bekerja. Setelah meninggalkan masyarakat Ninawa, Nabi Yunus pergi ke pantai dan ikut kapal berlayar saat badai dan mendung memenuhi langit. Di tengah samudera, para awak kapal sepakat mengurangi beban dengan membuang salah seorang penumpang dan dari tiga kali undian nama Yunus selalu muncul sehingga Nabi Yunus harus dibuang ke samudera. Nabi Yunus sadar bahwa kehendak-Nya pasti terjadi. Sebuah ikan paus kemudian menelan Nabi Yunus yang terombang-ambing di samudera. Nabi Yunus berdoa dalam perut ikan paus sampai ikan tersebut memuntahkan Nabi Yunus di pantai. Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus bukanlah Nabi Yunus yang lama. Ini adalah Nabi Yunus yang telah dibersihkan/dipurifikasi. Semestinya Nabi Yunus berpuasa di dalam perut ikan dan hanya minum air yang masuk kedalam perut ikan. Nabi Yunus pasrah pada Yang Maha Kuasa. Demikian pula Gusti Yesus pernah dicoba oleh iblis di padang pasir dan tetap berpuasa selama 40 hari, tetap pasrah dan tetap beriman kepada Yang Maha Kuasa.

 

Ibarat memasuki perangkap yang tidak diketahui bagaimana jalan keluarnya, para suci pasrah dan “trust” kepada Yang Maha Kuasa. Seharusnya demikian pula kita yang berada dalam masyarakat yang kacau, membingungkan, serba salah atau”zaman edan” menurut pujangga Ronggowarsito dan kita tidak tahu bagaimana akhir ceritanya. Meneladani para suci semestinya kita tetap pasrah dan trust pada yang maha kuasa. Pasrah atau “nrimo” bukan berarti putus asa, tetapi pasrah dengan “challenge”, menghadapi apa pun yang harus dihadapi. Kepasrahan atau “nrimo”-nya Arjuna kepada Sri Krishna bukan berarti dia meninggalkan peperangan, akan tetapi menerima peperangan yang tak dapat dihindarinya demi penegakan dharma. Arjuna tidak tahu dia akan mati atau tidak dalam perjuangannya. Sri Krishna hanya menasehati, bila kalah dan mati Arjuna akan dikenang sebagai seorang kesatria, sedangkan bila hidup dan melarikan diri Arjuna akan dikenang sebagai pengecut sepanjang masa.

 

Dalam Alkitab (Lukas 11:29-32) disampaikan…… Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Generasi ini adalah generasi yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk generasi ini. Pada waktu penghakiman, Ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari generasi ini dan Dia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo (Nabi Sulaiman), dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”……..

 

Generasi saat ini mengacu pada kelompok masyarakat yang pada saat ini kondisinya pun tidak banyak berbeda. Generasi “jahat” menurut Alkitab, “maksiat” menurut Al Qur’an yang maknanya sama dengan “adharma”. Tanda Nabi Yunus bisa dimaknai Yunus yang telah berbeda saat keluar dari ikan paus. Tanda anak manusia untuk generasi ini. Mungkin itu adalah saat Nabi Muhammad SAW bersaksi bahwa tak ada yang lain kecuali Allah, saat Gusti Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Aku adalah satu adanya, saat seseorang menyadari siapa jatidirinya. Saat orang sadar bahwa rumahku bukan aku. Aku terpisah dari rumah. Analog dengan pikiranku bukan aku, perasaanku bukan aku. Dan persepsi tentang aku atau “self” tergantung tingkat kesadaran seseorang.

 

Dalam buku “Shri Sai Sat Charita” disampaikan…….. Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan………

 

Dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………

 

Bagi seseorang yang berkesadaran murni, dia hanya menjalankan Kehendak-Nya dan tidak mengikuti kehendak pikiran pribadinya. Istilah Anak Manusia dalam alkitab bisa berarti manusia yang telah mencapai kesadaran murni. Sehingga apa yang dikatakan adalah ucapan-Nya, dan dia menjadi tangan-Nya, menjadi alat-Nya. Ketika Rasul Paulus berkata bahwa Yesus hadir di dunia sekarang ini. Dia hadir dalam tubuh-Nya. Kitalah tubuh-Nya itu. Rasul Paulus berkata, “Kristus ada di dalam kamu”. Kita, adalah perwujudan dari Kristus di tengah dunia sekarang ini. Saat orang-orang melihat kita, mereka seharusnya melihat Yesus. Dengan cara itulah dunia bisa mengenal Dia. Mereka mengenal Dia melalui manusia yang telah mencapai kesadaran murni. Begitulah cara manusia untuk bisa melihat Dia. Itulah makna kelahiran kembali bahwa seseorang sudah pasrah pada-Nya, mengikuti kehendak-Nya, menjalankan apa yang dikehendaki-Nya. Orang-orang yang telah mencapai kesadaran murni , adalah orang-orang yang melihat Dia yang berada di Timur, di Barat dan dimana-mana. Tanda nabi Yunus adalah kebangkitan manusia yang telah mencapai kesadaran murni.

 

Siapakah kita ini dalam kisah Nabi Yunus tersebut? Mungkin kita menjadi orang-orang Ninawa yang berkubang dalam adharma dan menolak peringatan ilahi. Ataukah kita menjadi masyarakat Ninawa yang sudah sadar dan mengikuti jejak Nabi Yunus, orang yang telah mencapai kesadaran murni. Mungkin juga kita menjadi Nabi Yunus kala bersemangat menyadarkan masyarakat. Atau kita menjadi nabi Yunus yang melarikan diri setelah mengutuk masyarakat yang tetap memilih berkubang dalam adharma. Ataukah kita menjadi nabi Yunus yang yakin akan kehendak-Nya karena tiga kali undian dan tetap saja namanya yang keluar sehingga dia dibuang ke samudera. Atau sudahkah kita dalam kesadaran, pasrah kepada kehendak-Nya seperti Nabi Yunus sewaktu dalam perut ikan. Atau seperti Nabi Yunus yang telah lahir kembali…… segala sesuatunya perlu perjuangan dan pemandu ilahi yang handal dalam memberi panduan menuju tujuan………..

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Januari 2012

Satu Tanggapan

  1. Reblogged this on wordsbyvera and commented:
    Hmmm ..interesting article😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: