Nyai Lara Kidul Laut Selatan, Candi Kalasan Indonesia dan Dewi Tara Tibet


Membaca artikel di internet “Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java”, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak kita masing-masing: seperti yang berkaitan dengan hal mistis; pencarian jalan pintas dalam mendapatkan kekayaan; tumbal manusia secara berkala untuk dijadikan pekerja Istana Dasar Laut Kidul; atau pun Kanjeng Ratu Kidul yang berhubungan mistis dengan para Raja Surakarta dan Jogjakarta yang merupakan anak keturunan dari Raja Mataram Pertama Panembahan Senopati……… sang penulis artikel mengambil referensi nama Nyai Lara Kidul, sebagai dewi yang dikenal masyarakat pada zaman Candi Kalasan sedang dibangun. Dewi yang berkaitan dengan Dewi Padi (Dewi Sri) dan Dewi Padi Ladang (dewi Tisnawati) dan juga Dewi yang memberikan kemakmuran kepada masyarakat (Dewi Laksmi). Menurut sang penulis, gambaran tentang ikon Nyai Lara Kidul tersebut pada saat ini telah berubah menjadi seperti yang kita pahami pada saat ini.

Mengenai panggilan Nyai, perlu dimengerti bahwa orang-orang Jawa Kuna merasa dekat bila kekuatan yang dipuja mereka dipanggil sebagai keluarga dekat. Orang Jawa Kuna merasa bahwa sebutan Allah dan Nabi itu jauh, sehingga agar dekat di hati, mereka memanggilnya dengan sebutan Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, seperti menyebut raja dan bangsawan kerajaan bagi mereka. Mereka memanggil Tuhan dengan sebutan Gusti Pangeran. Memanggil Dewa, kekuatan ilahi pun dengan sebutan Hyang (Eyang), matahari dipanggil Hyang Surya, bulan dipanggil Hyang Chandra. Memanggil para Wali dengan sebutan Kanjeng Sunan. Memanggil orang yang dihormati sebagai Kyai atau Nyai.

Baik Dewi Tara maupun Nyai Lara Kidul menyukai warna hijau yang merupakan kekuatan jiwa muda. Dewi Tara memegang bunga Utpala (teratai biru, atau teratai malam) yang mekar di waktu malam tidak seperti teratai putih yang mekar di siang hari. Demikian juga Nyai Lara Kidul memegang bunga Wijaya Kusuma yang mekar di waktu malam. Penulis menganggap ada perbedaan antara Nyai Lara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Nyai Lara Kidul adalah Dewi Kesuburan dan Pelindung di zaman dahulu kala. Sedangkan Kanjeng Ratu Kidul adalah shakti/energi para Raja Jawa setelah para Raja Jawa menganut agama Islam. Pada panggung Sangga Buana di Keraton Surakarta digantungkan lukisan yang menggambarkan seorang pria mengendarai ular terbang, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai candra-sengkala (tanda tahun) 1782 M. Akan tetapi bagi sang penulis, ular tersebut ada hubungannya dengan Ratu Kidul. Di Keraton Jogjakarta Kanjeng Ratu Kidul bertemu Sultan di Sumur Gumuling di Taman Sari yang menurut penulis juga ada hubungannya dengan ular. Kanjeng Ratu Kidul menurut penulis adalah Ratu Naga. Sesungguhnya ular ada hubungannya dengan energi kundalini atau shakti yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.

Kita paham bahwa ajaran Buddha sangat adaptatif dengan keyakinan setempat, sehingga di tengah masyarakat perbedaan antara ajaran Buddha, Shiwa dan keyakinan setempat hanya berupa perbedaan formal. Di dalam kenyataan di lapangan, keyakinan tersebut bisa berbaur di tengah masyarakat. Buddha Mahayana dan Vajrayana tidak ragu-ragu menyesuaikan ajaran asli mereka, dengan mengambil alih konsep dan bahkan  ikon dari banyak dewa-dewi dan ikon keyakinan masyarakat setempat. Dewi Tara mempunyai asosiasi dengan Dewi Durga yang merupakan Adishakti  dan juga dengan dewi kepercayaan masyarakat setempat seperti Nyai Lara kidul. Bila di Candi Kalasan terdapat patung Dewi Tara, maka dalam jarak kurang dari 2 km ada Candi Prambanan dengan patung Dewi Durga. Melihat kondisi geografis, nampaknya sungai Opak yang memisahkan Candi Prambanan dengan Candi Kalasan menjadi batas antara kekuasaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Candi-candi di jawa Tengah seperti Kalasan, Plaosan dan Prambanan, Sambisari dibangun oleh masyarakat campuran antara Shiwa dan Buddha. Bagi mereka Dewi Durga, Dewi Tara, Nyai lara Kidul adalah ikon seorang ibu yang perlu dipuja.

Masyarakat pada waktu itu paham bahwa ajaran dan keyakinan itu adalah jalan, sehingga berbeda-beda. Akan tetapi tujuannya adalah Tuhan yang satu dan sama. Bagi masyarakat, Guru Sejati ada di dalam diri, Sri Krishna ada di dalam diri, Buddha ada di dalam diri, Gusti Yesus ada dalam diri, Allah bersemayam dalam hati orang yang beriman. Bila pikiran seseorang telah jernih (pikiran yang jernih adalah buddhi), maka ia akan dipandu Suara Hati Nuraninya dalam menjalani kehidupannya. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan tentang pandangan seorang sufi berasal dari Sindh, Pakistan…….. Idries Shah memang benar – persatuan dan kesatuan semacam ini tidak pernah bisa diterima oleh mereka yang tidak berjiwa Sufi. Para sufi sebaliknya tidak bisa melihat perbedaan. Mereka melihat aliran kesatuan dan persatuan di balik perbedaan yang disebabkan oleh budaya-budaya yang berbeda. Menurut Idries Shah, Rumi telah melampaui batas-batas yang disebabkan oleh kesadaran rendah, kesadaran biasa. Ia telah mencapai kesadaran tinggi, kesadaran luar biasa. Itu sebabnya, olehnya hanyalah kesatuan dan persatuan……..

Putra-putri Ibu Pertiwi saat itu paham bahwa spiritualitas tidak mengenal kotak-kotak ajaran. Mereka tidak mencampur-adukkan agama. Ibu Pertiwi hanya ingin mengajak para pendatang untuk menemukan ‘esensi agama’ atau ‘spiritualitas’ – yang memang satu adanya. Pada saat yang sama, Ibu Pertiwi juga tidak ‘menolak’ agama. Ibu Pertiwi ingin menyadarkan putra-putrinya, juga mereka yang datang ke Nusantara, bahwa Kebenaran Itu Satu Ada-Nya. Islam, Hindu, Buddha, Kristen dan agama-agama lain hanyalah sisi-sisi Kebenaran Yang Satu Itu. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan………. ‘Isme’ hanya bisa terciptakan apabila saya memberikan ‘kredo’ baru. Itu tidak pernah dan tidak akan pernah saya berikan. Saya selalu menganjurkan kepada setiap orang untuk ‘menggali lahan agamanya sendiri’. Gali terus sampai menemukan air kehidupan. Seorang pejabat tinggi negara pernah menyebut upaya seperti ini sebagai upaya ‘menggado-gadokan agama’. Ia sinis. Tetapi ia benar. Gado-Gado adalah masakan khas Indonesia. Dalam gado-gado setiap jenis sayur mempertahankan keasliannya. Tidak terlalu lama dimasak, hanya diseduh, dimasak sebentar. Lantas disirami bumbu kacang. Agama-agama yang berbeda bagaikan jenis-jenis sayur yang berbeda. Bumbu-Kacang, Bumbu-Kasih hanya mempererat hubungan antara mereka……….

………Dalam Sutasoma, Mpu Tantular menyatakan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua. Ia tidak menciptakan suatu ‘isme’ baru. Penguasa jaman itu, Hayamwuruk, beragama Hindu. Patihnya, Gajahmada, beragama Buddha. Tidak terjadi sinkretisme. Yang terjadi malah saling apresiasi – bukan sekadar toleransi yang semu. Dan sampai hari ini pun, kita menggunakan buah pemikiran dia untuk mempersatukan bangsa kita, negara kit a, rakyat kita……..

………Dalam AI-Qur’an tertulis: ‘Kuciptakan kalian sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa’. Entah berapa kali telah kita baca Firman Allah itu, namun sepertinya tidak pernah kita hayati. Bolak-balik yang kita permasalahkan adalah bentuk luar agama, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Esensi agama tidak bisa dipermasalahkan. Esensi agama adalah “taqwa” kepada Allah. Dan siapa yang bisa menentukan ke-“taqwa” -an seseorang, kecuali Allah?

Pada masa itu terdapat dua Wangsa, dua Dinasti yang berbeda keyakinan. Kerajaan Mataram Hindu mempunyai raja-raja sebagai berikut: Sanjaya (732-760 M), Rakai Panangkaran (760-780 M), Rakai Pananggalan (780-800 M, Rakai Warak (800-820 M, Rakai Garung (820-840 M), Rakai Pikatan (840 – 856 M), Rakai Kayuwangi (856 – 882 M), Rakai Watuhumalang (882 – 899 M), Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M), Rakai Daksottama (915 – 919 M), Dyah Tulodhong (919 – 921 M), Dyah Wawa ( 921 – 928 M, Rakai Empu Sendok (929 – 930 M):

Pada masa yang sama juga ada Wangsa Syailendra yang beragama Buddha memerintah di dekat wilayah Wangsa Sanjaya. Menurut Purbatjaraka, Keluarga Syailendra adalah keturunandari Wangsa Sanjaya di era pemerintahan Rakai Panangkaran. Adapun Raja-raja yang pernah berkuasa, yaitu : Bhanu (752 – 775 M), Wisnu (775 – 782 M), Indra (782 – 812 M), Samaratungga ( 812 – 833 M), Pramodhawardhani (833 – 856 M): Pramodhawardhani akhirnya menjadi permaisuri raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Seorang adik (ada yang menyebutnya anak) Raja Samaratungga bernama Balaputradewa pergi ke Palembang dan akhirnya menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya yang saat itu menjadi daerah kekuasaan Wangsa Syailendra.

Candi Kalasan dibangun pada tahun 778 M pada masa Rakai Panangkaran dan Wisnu berkuasa. Pada Candi Kalasan dipasang ikon Dewi Tara. Kemudian adik Raja Samaratungga yang bernama Balaputradewa setelah pergi dari Jawa akhirnya menjadi Raja Sriwijaya di Sumatera juga memakai ikon Tara di Sriwijaya. Ibu Balaputradewa sendiri bernama Tara adalah putri penguasa Sriwijaya yang merupakan dinasti Soma dan dikatakan menyerupai Dewi Tara sendiri. Dewi Tara menjadi Dewi pujaan Raja Balaputradewa. Tiga abad setelah berdirinya Candi Kalasan, di awal abad 11 Yang Mulia Atisa datang dari India Timur laut dan selama dua belas tahun (1013-1025) tinggal di istana Sriwijaya belajar pada Guru Besar Yang Mulia Dharmakirti. Konon Atisa dan Dharmakirti menjadikan Dewi Tara sebagai obyek meditasi dan konon mereka dapat melihat wajah suci Dewi Tara. Kemudian Atisha pergi ke Tibet untuk  “memberi spirit baru” Buddhisme di sana dan memberikan dorongan untuk penghormatan kepada Dewi Tara, sehingga saat ini dewi Tara menjadi Dewi Nasional Tibet.

Berbicara masalah simbol-simbol untuk meditasi, ada baiknya kita membaca buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999……… Simbol-simbol keagamaan seperti salib, kaligrafi dan arca sebenarnya merupakan alat-alat, sarana-sarana untuk meditasi. Para rishi, para bhagavan di pegunungan Himalaya bahkan menciptakan yantra atau alat-alat untuk mengantar kita ke alam meditasi……… Santo Fransiskus menggunakan “Wujud Yesus” sebagai sarana meditasi. Ia menggunakan “salib” sebagai alat meditasi. Dengan memusatkan kesadarannya pada “Wujud Yesus di atas Salib” ia bisa melampaui “keakuan” -nya. Untuk mencapai “Kesadaran Tinggi” atau “Kesadaran Murni” – yang dalam bahasa gereja disebut “Kesadaran Kristus” – kesadaran-diri yang rendah harus terlampaui. Hari itu, Fransiskusberhasil melampaui dirinya. Ia bersatu, menyatu dengan “Kristus”. Hari itu, Fransiskus menerima “stigmata” – luka-luka suci Yesus. Bukan hanya kesadarannya yang melebur dalam Kesadaran Kristus, tetapi wujud fisiknya pun menyatu dengan Wujud Yesus yang ia jadikan sarana untuk meditasi. Hari itu, kedua tangan Fransiskus, begitu pun kedua kaki dan lambungnya, tiba-tiba mengeluarkan darah segar. Persis seperti yang pernah terjadi pada Yesus di atas salib. Hari itu, Fransiskus lenyap sudah, mati sudah – yang tersisa adalah “Kesadaran Kristus”……….

Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang menyebabkan “luka-luka suci” tersebut? Apabila  Anda menggunakan sebuah “sarana” untuk alam meditasi, pada suatu tingkat kesadaran tertentu, ke- “aku”-an Anda akan melebur, menyatu dengan sarana tersebut. Fransiskus menggunakan “Yesus di atas Salib” sebagai sarana meditasi, sehingga ia melebur, menyatu dengan sarananya itu. Bukan hanya jiwanya saja, tetapi fisiknya pun bersatu dengan “Yesus di atas Salib”. Dan muncullah “luka-Iuka suci” yang kita sebut “stigmata”. Seorang meditator yang menggunakan “bayi Yesus” sebagai sarana meditasinya tentu saja tidak akan menerima “stigmata”. Kendati demikian, devosi dia, pencapaian dia tidak kurang, tidak kalah dari mereka yang memperoleh “stigmata”. Tanda-tanda yang diperolehnya berbeda. Ia akan menjadi polos, tulus dan lugu seperti seorang “bayi”! Mereka yang menjadikan “Bunda Maria” sebagai sarana meditasi akan memperoleh tanda yang berbeda lagi. Mereka menjadi sang at reseptif, feminin, penuh dengan belas kasihan – persis seperti Bunda Maria. Ramakrishna Paramahansa, guru Swami Vivekananda, pernah melakukan eksperimen. Setiap enam bulan sekali, ia mengubah sarana meditasinya. Kadang ia menjadikan zikir Islami sebagai sarananya, kadang mantra Hindu, kadang doa Kristen, kadang pemujaan Parsi. Dan ia menyimpulkan bahwa “pengalaman terakhir”, the ultimate experience yang ia peroleh sama sekali tidak berbeda – persis sama!……….

Demikian tulisan seorang awam berdasar referensi yang diperoleh dari internet, semoga menjadi pemicu bagi para sejarawan untuk meneliti kebenaran yang ada dibaliknya.

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: