Serat Wedhatama Mempersatukan Umat Manusia Melalui Pemahaman Body, Mind And Soul


Setiap manusia mempunyai body atau raga yang berbeda satu dengan lainnya. Enam milyar manusia mempunyai wajah dan penampilan fisik yang tidak sama. Mereka yang lahir kembar pun dengan pengalaman hidup yang berbeda pada akhirnya menunjukkan perbedaan juga. Semua tumbuhan dan hewan pun walau dapat dikelompokkan dari ciri-cirinya, akan tetapi satu-persatu juga berbeda. Mengapa berbeda? Karena pengalaman hidup setiap makhluk tidak sama. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan yaitu Atman, dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Sehingga orang yang berkesadaran fisik akan menganggap bahwa setiap orang itu berbeda-beda.

Selanjutnya, body atau raga itu dikendalikan oleh mental, oleh mind, oleh pikiran. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikirannya. Bila raga atau fisik itu mengalami lahir, tumbuh, berkembang, mandeg dan mati maka tidak demikian dengan mind. Mind adalah energi. Dan, sebagai energi mind tidak mati. Katakanlah seorang pemimpin meninggal, akan tetapi pemikirannya tidak akan meninggal, mind-nya tidak akan meninggal. Mind sendiri terdiri dari conscious mind, subconscious mind dan super conscious mind.

Body dan mind saja dalam diri seseorang tidak cukup, harus ada soul, ruh. Tanpa ruh body hanya berupa jasad mati yang segera didaur-ulang kembali oleh alam menjadi elemen pokok: tanah, air, api, udara dan ruang. Tanah, air, api, udara dan ruang kesemuanya adalah energi dengan kemampatan yang berbeda. Einstein mengatakan E=MC kwadrat, Energi adalah Masa (materi) dalam fungsi kecepatan tertentu……. Selanjutnya, mind pun tanpa body dan ruh tidak bisa berkembang. Semua perbaikan mind harus dilakukan saat body masih ada, atau pada saat masih hidup. Ruh yang terperangkap oleh mind itulah jiwa. Bila mind telah mati, telah tidak punya keinginan, tidak punya keterikatan, maka yang tinggal hanyalah ruh. Istilah “mati sajroning ngaurip”, mati keinginan selagi hidup ada persamaannya dengan jivan mukta. Seorang yang telah bebas dari belenggu pikiran, maka kehendak orang tersebut adalah kehendak-Nya. Keyakinan bahwa apabila ada orang yang menjelang kematiannya mengucapkan la illa ha illallah dia akan bertemu Allah, sebenarnya orang yang akan mati tersebut telah mengalahkan semua obsesi keduniawiannya, baginya yang ada hanya Allah, la illa ha illallah, tidak ada yang lain selain Allah,  maka dia akan menuju Allah.

Bagi mereka yang percaya dengan reinkarnasi atau rebirth ataupun penitisan kembali, maka setelah kematian tubuh, subconscious mind yang penuh obsesi duniawi tidak ikut mati dan akan mencari tubuh baru untuk melanjutkan pemenuhan obsesinya. Seseorang akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”. Dan “pengolahan” tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Lapisan super conscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Mereka yang tidak ingin lahir kembali, super conscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika masih “hidup”, masih ber-“tubuh”. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas super conscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, pada saat kematian tidak ada yang dapat mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali.

Tiga bagian dari Candi Borobudur Kamadathu, Rupadhatu dan Arupadhatu, semuanya ada kaitan dengan body, mind and soul. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan……… Borobudur dan banyak bangunan lain di India, Afganisthan, dan Indocina secara simbolik mewakili tiga alam tersebut. Dalam pemahaman Buddhis, Kamadhatu mewakili Alam Keinginan. Alam Keinginan ini hampir tidak terbatas. Dari dunia di mana kaki kita berpijak, hingga surga tertinggi dalam khayalan, semuanya adalah Kamadhatu. Semua berada dalam satu lapis kama atau keinginan, pikiran… dan bersifat dhatu atau materi. Galaksi mana saja, planet sejauh apa pun bila masih terpikirkan, menjadi bagian dari Kamadhatu. Begitu pula dengan surga yang kita bayangkan penuh kenikmatan dan neraka penuh penderitaan; keduanya berada dalam alam ini. Rupadhatu adalah Alam Rupa atau Wujud Asli. Dalam alam ini, kita baru berkenalan dengan diri sendiri, dengan wujud asli kita. Kesadaran kita tidak lagi mengalir ke luar menggapai galaksi terjauh di luar sana, tetapi terarah ke dalam diri. Arupadhatu adalah Alam Tanpa Rupa, Tanpa Wujud. Bila meditasi pun terlampaui sudah, kita memasuki alam ini. Saat itu kita merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Kendati demikian, alam ketiga ini (Arupadhatu)pun bukanlah Tujuan Bodhidharma. Alam ketiga ini pun harus dilampaui. Setelah melampaui alam meditasi, next what? Sudah Bersatu dengan semesta, so what? Berada dalam alam ini pun, kita masih dapat ber”keinginan” kembali, dan menciptakan Kamadhatu baru bagi diri kita. Berada dalam alam ini, kita masih belum larut, belum hanyut dalam Kasunyatan. Karena itu, Bodhidharma berkata : Tinggal di dalam dunia “berlapis tiga” ini seperti tinggal di dalam rumah yang terbakar… Rumah kesadaran kita sudah pasti runtuh, berkeping-keping, dan itu tinggal tunggu waktu saja…….

Selanjutnya tiga bagian Candi Prambanan (Bhur  mewakili tanah, Bhuvah/atmosfir mewakili air dan Svaha mewakili api), kesemuanya juga ada kaitannya dengan body, mind and soul. Bila kita menjelajah internet maka kita akan tahu bahwa setelah Bhur, Bhuvah, Svah masih ada banyak tingkatan menuju soul, diantaranya Mahah, Janah, Tapah, Satyam……. Bila seseorang telah melampaui kesadaran mental dan mencapai kesadaran murni, ada penjelasan dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 yang menyampaikan……. Bhagavad Gita – Nyanyian Ilahi – menjelaskan dengan sangat apik: “Terbakar habis oleh api, sebagaimana kayu menjadi abu; seperti itu pula ‘akibat’ dari segala perbuatan yang di-‘sebab’-kan oleh ketidaktahuan dan ketidaksadaran, terbakar habis oleh nyala api pengetahuan sejati dan kesadaran.” (BAB IV, AYAT 37). Hukum Sebab-Akibat, Gravitas, Ketertarikan Relativitas – semuanya dapat dilampaui. Hukum fisika mengikat fisik kita. Satu-satunya cara untuk melampaui hukum tersebut adalah dengan melampaui kesadaran fisik. Bicara tentang fisik maka pikiran, emosi, perasaan, dan segala tetek-bengek lainnya, termasuk prana, atau energi kehidupan, dan getaran-getaran kasar maupun halus yang merupakan inti atau esensi penciptaan, semuanya adalah fisik, materi, semuanya benda. Hukum fisika adalah hukum kebendaan. Segala sesuatu yang memiliki wujud, rupa, bentuk dan/atau nama adalah benda. Jangankan sesuatu yang dapat diungkapkan atau dijelaskan, sesuatu yang baru terpikir atau terasa pun masih berada dalam alam fisika, alam kebendaan. Alam fisika ini, kebendaan ini, kesadaran jasmani ini hanyalah terlampaui ketika ketidaktahuan kita, kesalahpahaman kita tentang definisi fisik “terbakar habis”. Tidak tersisa lagi. Ketika kita sadar sesadar-sadarnya bahwa apa pun yang terjelaskan, terpikir, dan terasa bukanlah kesadaran. Lain, kesadaran itu apa? Ah! Svaahaa – Ya, itulah!……..

………….. Melampaui kesadaran fisik tidak berarti mati atau bunuh diri. Tidak, kita tidak mati. Kita tidak bunuh diri. Kita tetap berada di dunia ini, di alam fisik, tetapi dengan kesadaran baru. Dengan memahami hukum fisika, kita tidak terkecoh lagi. Kita tidak lagi membenarkan kebodohan diri dengan mencari pembenaran, “Ah, aku sudah melampaui kesadaran fisik….” “Aku?” Itu kesadaran fisik. Itu pikiran, itu emosi, itu perasaan, itu energi, itu vibrasi. Itu, itu, itu…. Selama masih ada “aku”sekasar atau sehalus apa pun jua, badan masih ada, fisik masih ada. Hukum fisika masih belum terlampaui. Fisik atau materi adalah ungkapan dari non-fisik, atau nonmateri. Tapi, nonfisik seperti apa? Nonmateri seperti apa? Jika dengan nonmateri yang dimaksud adalah pikiran, atau perasaan, maka menurut Buddha itu pun masih “dhatu”, materi. Titik. Pelampauan kesadaran fisik dalam kehidupan bukanlah suatu pencapaian, tetapi suatu pencarian. Perjalanan panjang yang hanya akan selesai ketika “aku” selesai. Lagi-lagi bukan dalam pengertian “aku” mati, karena “aku” tidak pernah mati. “Aku” hanya meninggalkan badan-”ku”. Badan itu mengalami dekomposisi dan kemudian terurai kembali. Elemen tanah menyatu kembali dengan tanah; api dengan api; air dengan air; udara dengan udara; dan, ruang yang pernah ditempati oleh badan-”ku” terasa kosong…….

Sri Mangkunagoro IV dalam Serat Wedhatama yang telah disajikan dalam kemasan modern dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 menyampaikan……. Pertama Bhoutik atau kesadaran fisik, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Kedua, Daivik atau kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama.  Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak adapat dijelaskan.Menurut Sri Mangkunagoro, sruning brata kataman wahyu dyatmika: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri……..

Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 tersebut juga disampaikan tentang:

Sembah Raga. Sembah Raga merupakan persembahan yang dilakukan oleh raga, untuk melampaui raga itu sendiri, untuk melampaui kesadaran jasmani. Apabila Sembah Raga belum bisa juga mengantar Anda ke tahap ketenteraman jiwa, ketahuilah bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Cara Anda melakukannya sudah salah. Atau mungkin Sembah Raga yang Anda lakukan, sudah bukan Sembah Raga lagi, tetapi sudah menjadi olah raga.

Sembah Cipta. Sembah Kalbu atau Sembah Cipta, tidak perlu dan bahkan tidak dapat dipamerkan. Kasih tidak dapat dipamerkan, tidak perlu dipamerkan. Kasih merupakan suatu sifat yang melengket dengan jiwa kita. Menurut Sri Bhagavan, orang seperti itu menjadi narapati. Narapati adalah julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya. Yang dikuasai adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia. Pati berarti raja, penguasa atau  pengendali. Yang dimaksudkan adalah pengendalian diri. Wedhatama Bagi Orang Modern.

Sembah raga merupakan persiapan, sedangkan Sembah Cipta ini sudah mulai memasuki esensi agama. Hasil akhir Sembah Cipta adalah Kesadaran. Bagaimana cara memperolehnya? Yang diolah bukan badan lagi. Membersihkan badan dengan air sudah tidak dapat membantu lagi. Yang harus dibersihkan adalah jiwa. Jiwa yang ditutupi oleh awan ketidaksadaran, kabut kebodohan.

Sembah Jiwa. Sembah Jiwa berarti menyadari sepenuhnya bahwa Sukma dan Hyang Sukma hanya terlihat berbeda, dan pada hakikatnya tidak berbeda. Selama penglihatan Anda masih terfokuskan pada benda-benda duniawi yang disinari oleh rembulan, selama itu pula Anda belum memahami esensi agama. Begitu Anda melihat ke atas, begitu Anda melihat Bulan, Anda akan sadar bahwa benda-benda duniawi ini tidak akan terlihat , tidak berguna sama sekali , apabila tidak disadari oleh rembulan yang merupakan bagian Bulan yang tak terpisahkan. Kesimpulannya, dalam persembahan ini, Anda masih harus berusaha. Penglihatan Anda masih sempit dan datar harus ditingkatkan. Anda harus melihat ke atas untuk melihat sumber cahaya. Kesadaran Anda harus ditingkatkan.

Sembah Rasa. Sembah Rasa merupakan hasil akhir perjalanan spiritual kita. Sembah Rasa sudah bukan merupakan proses lagi, tetapi hasil suatu proses, the ultimate experience, the outcome. Kesadaran raga dapat dilewati oleh kesadaran cipta. Kesadaran cipta dapat dilampaui oleh kesadaran jiwa. Tetapi dalam kesadaran jiwa itu, rasa masih ada. Ketenangan, ketenteraman, kesentosaan, kedamaian, semuanya ini merupakan rasa. Pada tingkat Sembah Rasa, rasa pun terlampaui. Bedanya proses ini terjadi sendiri……….

Demikian penjelasan Serat Wedhatama mengenai body, mind and soul. Ibarat roda lingkaran dengan porosnya berupa soul-ruh, dengan lapisan mental di lingkaran tengah sedang lapisan fisik berada di lingkaran luar, maka seseorang yang berada di lapisan luar akan merasakan banyak  perbedaan, sedangkan semakin menuju ke dalam diri perbedaannya semakin kecil. Pancaindra menuntut kesadaran mengalir ke luar dan di luar ada berbagai keinginan (arah 360 derajat) yang tidak ada batasnya. Sedangkan bila seseorang meniti ke dalam diri, tujuannya adalah satu dan sama. Pemahaman ini akan mempersatukan umat manusia. Bhinneka Tunggal Ika, nampaknya berbeda tetapi esensinya satu jua……..

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: