Keangkuhan Menjadi Awal Bencana, Belajar Dari Kesalahan Dewa Indra Dalam Kitab Lalitopakhyana

Resi Agastya

Dikisahkan Resi Agastya pindah dari India Utara ke India Selatan. Dengan kehadiran sang resi seluruh masyarakat India Selatan mulai berangsur-angsur menjadi saleh dan sejahtera. Resi Agastya adalah seorang chiranjivin, seseorang yang dikaruniai usia sangat panjang, sehingga dia diyakini masih hidup bahkan sampai saaat ini. Chiram – lama, jivi – hidup, hidup lama. Seorang chiranjivin tidak imortal, tidak abadi, tetapi berusia sangat panjang. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan beberapa chiranjivin: Agastya, Markandeya, Bali, Parashurama, Hanuman, Vyasa, Ashwatthama, Kripa.

 

Dalam buku “Shalala, Merayakan Hidup”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Di India Selatan Agastya hidup dalam pengasingan. Semacam self-exile – mengasingkan diri. Jauh dari keramaian. Bersama Lopamudra, Agastya menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran……… Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar. Semar, Agastya adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka. Ya, Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia “beragama” semakin fanatik. Indonesia mulai melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendikiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Dan itu jelas salah. Agastya juga ingin beristirahat sebentar. Ingin tidur sebentar di pangkuan “Himalaya”.  Agastya ingin mengunjungi tempat-tempat suci yang bermunculan dalam 5.000 tahun terakhir. Tetapi sekarang beliau sudah kembali ke Indonesia……

 

Zaman berubah dari Krta Yuga ke Treta Yuga, masuk Dvapara Yuga dan kemudian Kali Yuga. Di zaman Kali Yuga, sifat-sifat jahat berkembang lebih pesat, manusia nampak semakin egois dan menjadi budak dari pancaindra dan ini membuat Sang Resi sangat sedih. Resi Agastya kemudian pergi berziarah di wilayah India Selatan. Setelah mencapai Kanchi (Tamil Nadu) sang resi melakukan tapa berat. Sri Vishnu mewujud sebagai Hayagreeva dan menemui sang resi. Agastya bertanya, “Wahai Penguasa Alam, adakah jalan keselamatan bagi mereka yang berada dalam  “ignorance”, yang tidak mengetahui Kebenaran, tidak mengenal siapa jatidirinya pada zaman Kali Yuga ini?” Hayagreeva menjawab, “Ada dua buah cara. Cara pertama adalah menyangkal segala sesuatu – Ini bukan Kebenaran, itu bukan Kebenaran. Dengan Gyaana Yoga mereka dapat mencapai Kebenaran tentang “Attributeless”, sifat Keberadaan yang tanpa sifat. Ini adalah sebuah cara yang sangat sulit. Kemudian, cara kedua adalah tunduk dan menjadi devoti dari Bunda Ilahi yang berwujud. Bahkan orang yang melakukan kesalahan pun dapat mengambil jalan ini. Banyak yang mendapatkan keselamatan lewat jalan ini!” Resi Agastya kemudian minta Hayagreeva menceritakan tentang Bunda Ilahi. Demikianlah asal usul kitab Lalitopakhyana, Kisah Dewi Lalita, Sang Bunda Ilahi. Baca lebih lanjut

Arjuna Pun Berdoa Kepada Bunda Alam Semesta Sebelum Memulai Perang Bharatayuda

Pada abad ke 11, Dewi Durga adalah kekuatan/energi feminin yang dipuja oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan (1009-1042). Kemudian Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari  juga memuja Kekuatan Feminin Dewi Chamundi salah satu nama dari Dewi Durga. Akan tetapi pada abad 15 ditulislah beberapa kitab antara lain Tantu Panggelaran,  Sudamala, Kidung Sri Tanjung, Korawasrama yang menggambarkan Bathari Durga sebagai Dewi yang berpenampilan mengerikan yang merupakan istri Shiwa yang dikutuk karena berbuat salah. Kemudian Hikayat Calon Arang yang menceritakan tentang pemujaan Bathari Durga sebagai kekuatan jahat juga ditulis pada abad ke 16. Dalam kisah-kisah yang ada di Indonesia, Sadewa meruwat Bathari Durga kembali menjadi Dewi Uma. Dan Dewi Uma mencabut mantra yang diberikan kepada raksasa Kalantaka dan Kalanjaya, sehingga sekutu Korawa tersebut dapat dikalahkan Pandawa. Dalam kisah versi lain Raden Wisanggeni putra Arjuna dengan Dewi Dersanala diperalat Sri Krishna untuk menghadap Sang Hyang Wenang menanyakan apakah perang Bharatayuda akan terjadi atau tidak karena Bathari Durga akan memangsa Pandawa yang masuk kriteria “sukerta”. Wisanggeni dianugerahi senjata Gada Inten untuk mengalahkan Bathari Durga dan Bathara Kala yang berpihak kepada Korawa. Dan setelah mereka ditaklukkan Raden Wisanggeni pergi ke kahyangan. Mengapa Bathari Durga dianggap jahat sejak abad ke 15 sedangkan pada abad ke 11 dipuja silakan baca: http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/23/mencermati-perubahan-karakter-legenda-dewi-feminin-durga-menjadi-bathari-maskulin-ganas-durga/

Membaca artikel “Arjuna’s Hymn to Mother Durga” (Arjuna Krta Devi Stotram) pada http://www.dipika.org.za/index.php?option=com_content&view=article&id=15:arjunas-hymn-to-mother-durga&catid=1:articles&Itemid=2 kita akan membaca bahwa Arjuna berdoa kepada Dewi Durga sebelum maju perang……… Dalam kisah Mahabharata – Bisma Parva-Bagian XXIII Bhagavad Gita Parva. Sri Krishna berkata kepada Arjuna untuk mensucikan diri dengan membaca pemujaan kepada Dewi Durga untuk mencapai kemenangan dalam peperangan seperti.

Arjuna kemudian berdoa memuja Dewi Durga: “Kami tunduk, wahai Siddha terkemuka, yang mulia yang bersemayam di hutan Mandara, wahai Bunda Kali! istri Kapala! Dengan rona hitam dan kuning kecoklatan. Kami menghormati-Mu. Wahai Bunda Kali Yang Pemurah, kami menghormati Engkau. Kami menghormati Engkau, wahai BundaTara, Sang Dewi Penyelamat, maka anugerahilah kami. Wahai Bunda Durga! Zat yang menganugerahkan kemenangan! Wahai personifikasi dari Kemenangan! Wahai yang mengenakan bendera bulu merak, yang dihiasi dengan segala ornamen indah. Wahai yang menggunakan tombak, pemegang pedang dan perisai. Yang lahir sebagai saudari Sri Krishna. Yang lahir dari keluarga gembala Nanda (Dewi Mahamaya yang menjadi putri Nanda diyakini sebagai salah satu wujud Durga). Yang mengenakan jubah kuning yang melahap Asura, kami menghormati Engkau yang tegas dalam pertempuran. Wahai Bunda Uma, wahai Sakambari, yang berwarna putih dan juga hitam. Wahai pembunuh Asura Kaitabha. Wahai yang melihat segalanya. Wahai yang memiliki mata berwarna asap yang melihat segalanya. Kami tunduk kepada-Mu. Engkau adalah Veda, Shruti, dan kebajikan besar. Para brahmana melakukan persembahan kepada-Mu. Engkau yang selalu hadir di kediaman suci yang didirikan untuk-Mu. Kami tunduk kepada-Mu. Engkau adalah pengetahuan yang tertinggi, di antara ilmu kebenaran. Wahai Ibu Skanda, pemilik 6 atribut keilahian. Yang bersemayam di wilayah yang terisolir. Engkau dipanggil Svaha, Svadha, Kala dan Kashta. Engkau adalah Dewi Pengetahuan Saraswati dan Ibu dari Veda serta personifikasi dari Vedanta. Dengan pikiran yang telah dimurnikan, kami memuji Engkau, wahai Dewi Mulia, biarkan kemenangan selalu menghadiri kami melalui kasih karunia-Mu di medan perang. Di daerah terisolir, dimana ada ketakutan, di tempat-tempat kesulitan, di dengan tempat tinggal kelompok dan di daerah Patala bawah, Engkau selalu hadir. Dalam setiap pertempuran Engkau selalu mengalahkan asura. Engkau adalah ketidaksadaran, tidur, dan mimpi. Engkau adalah keindahan semua makhluk. Engkau adalahsumber cahaya yang berkilau. Engkau Savitri, ibu semua ciptaan. Engkau adalah kepuasan, pengembangan, ketabahan. Engkau meningkatkan sinar matahari dan bulan. Engkau adalah kesejahteraan dari mereka yang makmur. Para siddha dan Charana melihat Engkau dalam meditasi yang dalam………

Sanjaya sang pelihat yang melapor kepada Drestarastra (seperti dalam Bhagavad Gita) mengatakan: “Mengetahui upaya pengabdian Arjuna, Dewi Durga muncul di hadapan Sri Krishna dan Arjuna dan mengucapkan kata-kata: ……..Dalam waktu singkat kamu pasti akan menaklukkan musuhmu, wahai kesatria Pandawa yang tak terkalahkan, kamu memiliki Narayana (Sri Krishna) sebagai bantuan bagimu dan dia tidak mampu dikalahkan oleh musuh!……. Setelah mengatakan ini, Sang Dewi pemberi anugerah segera menghilang. Kemudian Arjuna dan Sri Krishna naik kereta perangnya”………. versi bertemunya Arjuna dengan Dewi Durga, ataupun versi yang kita kenal tentang kesaksian Arjuna melihat wujud asli Sri Krishna disebutkan sebagai tingkat kesadaran kosmis yang telah dicapai Arjuna. Arjuna mengetahui siapa jatidirinya……. Baca lebih lanjut

Mungkinkah Dunia Berkembang Tanpa Adanya Nafsu, Kisah Kelahiran Bhandasura Setelah Kematian Kamadeva

Apa yang terjadi pada dunia, apabila nafsu telah musnah? Mungkinkah dunia bertahan tanpa adanya nafsu? Kisah ini bersumber pada kisah Lalitopakhyana, kisah Bunda Alam Semesta. Pada suatu saat Kamajaya yang juga disebut Kamadeva (dewa kama) atau Manmatha (pengaduk hati) melepaskan anak panahnya kepada Shiva, yang membuat Shiva tergerak memperhatikan Parvati. Tetapi Shiva kemudian sadar, bahwa musim semi datang bukan pada saatnya, dan Shiva berpikir, mengapa hatinya berkembang seperti munculnya tunas pada musim semi? Saat Shiva melihat Kamadeva sedang bersembunyi, dia paham bahwa ini pasti karena tindakan Kamadeva dan kemudian dia mengarahkan mata ketiganya sehingga terbakarlah Kamadeva.

 

Kamadeva yang mempunyai kekuasaan besar dalam membantu terjadinya penciptaan, pernah lupa diri, dia pernah menjadi angkuh dan “cengengesan”, bercanda yang keterlaluan yang dapat merusak dunia. Hanya demi kepuasan pribadi yang bersifat sementara dia mempermainkan Brahma sehingga Dewa Pencipta ini terpukau dengan kecantikan Dewi Tilottama. Setelah Brahma diselamatkan Shiva, dia mengutuk bahwa suatu saat Kamadeva akan mati terbakar oleh Shiva. Kamadeva kemudian mulai sadar bahwa seseorang itu selalu diberi kesempatan untuk memilih. Memilih “Preya” yang hanya menyenangkan pikiran dan pancaindra yang bersifat sementara atau memilih “Shreya” yang perupakan tindakan mulia yang bersifat abadi. Saat menghadapi Tarakasura, Kamadeva memilih “Shreya”,  dia memanahkan anak panahnya kepada Shiva agar Shiva segera kawin dengan Parvati dan melahirkan putra yang dapat mengalahkan Tarakasura. Resiko besar telah dialaminya dan akhirnya dia mati terbakar oleh mata ketiga Shiva. Kematian yang merupakan pengorbanan bagi keselamatan semesta.

 

Pada suatu ketika Chitrakarma, salah satu komandan pasukan Shiva mengambil abu Kamadeva dan membentuk sebuah boneka dan membawanya ke hadapan Shiva. Secara tak terduga Shiva menghidupkan boneka yang kemudian bersujud pada Shiva dan Chitrakarma. Chitrakarma sangat senang dan meminta anak tersebut bertapa. Setelah bertapa ribuan tahun datanglah Shiva kepada anak tersebut. Sang anak mohon kepada Shiva agar memberi karunia, agar siapa pun yang bertarung dengannya akan kehilangan separuh kekuatannya yang akan berakumulasi menjadi tambahan kekuatan dirinya. Sang anak juga meminta bahwa tak ada senjata yang dapat mengalahkannya.

 

Shiva mengabulkan permohonannya dan memberi anugerah tambahan untuk memerintah kerajaan selama enam puluh ribu tahun. Brahma menamakan anak tersebut Bhanda, karena sifatnya sebagai asura yang sangat terikat pada keduniawian, oleh karena itu ia sering disebut Bhandasura. Dari sisa abu Kamadewa kemudian lahir asura Vishukra dan asura Vishanga yang menjadi saudara Bandhasura dan lahir juga ribuan raksasa. Mereka membentuk pasukan yang sangat kuat yang terdiri dari 300 Akshouhini ( 1 akshouhini terdiri dari 21.870 gajah, 65.610 kuda dan 109.350 prajurit). Guru mereka adalah Shukracharya. Mereka kemudian membuat kota baru bernama Shoonyaka Pattana. Mereka selalu mengadakan upacara ritual dengan teratur.

 

Ketika kerajaan sudah mapan, Bhandasura mengadakan pertemuan dengan kedua saudara dan para menterinya. Bhandasura berkata: “Dewa adalah musuh kita, selama Kamadeva masih hidup, mereka meneruskan garis keturunan dengan baik. Mereka juga telah menikmati banyak kesenangan karena adanya kama (nafsu). Kini keberuntungan ada di pihak kita. Kita lahir dari abu Kamadeva. Para dewa kini tengah berupaya untuk melahirkan Kamadeva dan itu jangan sampai terjadi. Mari kita membunuh para dewa. Akan tetapi jika kita masih dalam bentuk seperti ini, kita sulit untuk menang. Mari kita mewujud sebagai angin/udara dan memasuki tubuh mereka. Setelah masuk ke dalam tubuh mereka, kita keringkan cairan tubuh mereka terutama air maninya. Jika air mani atau ‘liquid energy’ tersebut mengering, maka kekuatan organ tubuh akan berkurang secara otomatis!” Seluruh komandan balatentara asura bersorak dengan penuh sukacita atas ajakan Bhandasura. Baca lebih lanjut

Mungkinkah Karma Buruk Diampuni? Renungan Kisah Bunda Alam Semesta Yang Berpihak Kepada Para Dewa

Adalah seorang pencuri bernama Vajra di daerah Kanchipuram. Ia mencuri barang-barang kecil secara bertahap sehingga terkumpul uang yang berjumlah sangat besar. Setelah itu dia ingin mengamankan harta curiannya di tepi sebuah hutan, dengan menggali lubang yang cukup dalam, meletakkan uang tersebut dan kemudian menimbunnya kembali. Seorang pemburu bernama Veeradanta sedang duduk di atas pohon dan mengamati tndakan sang pencuri. Setelah sang pencuri pergi dia mendatangi tempat tersebut, menggali dan mengambil sepersepuluh harta pencuri dan kemudian menutupinya dengan tanah lagi.

 

Dikisahkan bahwa sang pemburu sangat mencintai istrinya dan dia patuh terhadap kata-kata istrinya. Sang istri melihat uang yang dibawa suaminya dan dapat menduga bagaimana cara sang suami mendapatkan uang tersebut. Sang istri kemudian berkata, “Ada beberapa Brahmana datang ke rumah dan meramalkan bahwa kita akan kaya mendadak dan kini ramalan terebut menjadi telah menjadi kenyataan.” Kala sang pemburu berkata akan membeli anggur dan daging, sang istri berkata bahwa para brahmana telah mengingatkan dia bahwa uang yang diperoleh dengan susah payah akan tahan lama, sedangkan uang yang diperoleh dengan mudah akan cepat menguap dan tidak membawa berkah bagi keluarga mereka. Sang pemburu berada dalam kebimbangan setelah merasakan kebenaran kata-kata sang istri. Dia ingat bahwa ibunya pernah berkata, “Belajarlah pada alam! Lihatlah sapi betina, mereka menghasilkan susu tetapi jumlahnya sangat besar melebihi kepentingan untuk menyusui anak-anaknya dan mereka mempersembahkan susunya kepada manusia. Ayam juga bertelur melebih jumlah yang dipakai untuk meneruskan generasinya dan sebagaian besar dipersembahkan kepada manusia. Demikian pula lebah, dia tidak merusak bunga yang diserap tepungsarinya dan dia membuat madu dalam jumlah yang besar. Hanya 10% yang dipakai sebagai makanannya dan sebagian besar dipersembahkan untuk kepentingan manusia. Hati nuraninya berkata bahwa dia telah berbuat kesalahan, tetapi dia juga tahu bahwa uang tersebut adalah uang hasil curian, sehingga mengembalikannya pun tidak membawa kebaikan dunia. Dia akhirnya menyetujui keinginan istrinya untuk mempergunakan uang tersebut untuk berbuat kebaikan bagi dunia.

 

Uang tersebut digunakan untuk menggali sumur dan membuat tandon tempat penyimpanan air di daerah yang tak terjangkau air sungai. Kemudian mereka mulai membuat kuil tempat pemujaan Vishnu dan Shiva di dekat kolam penyimpan air tersebut. Ketika uang untuk pembuatan kuil tersebut habis, maka dia mulai mengambil uang sang pencuri sedikit demi sedikit sampai kuil pemujaan tersebut selesai dan dia mulai memberikan derma kepada para Brahmana yang mengelolan kuil tersebut. Kebetulan kehidupan mereka membaik, sehingga uang curian hanya dipergunakan untuk berbuat kebaikan dan mereka hidup sederhana dengan penghasilan mereka sendiri. Sang pemburu dan istrinya kemudian diberi gelar oleh masyarakat sebagai Dvijavarma dan Shilavati. Tempat tersebut akhirnya berkembang dan diberi nama oleh sang pemburu sebagai Devaratapura, kota Devarata. Devarata adalah nama dari Guru sang pemburu dan istrinya. Setelah beberapa tahun berlalu, sang pemburu beserta istrinya meninggal…..

 

Para utusan Dewa Yama datang akanmengambil jiwa mereka untuk dihukum atas kesalahan mereka mencuri harta curian. Akan tetapi utusan Vishnu dan Shiva pun datang dan meminta mereka tinggal di Kailasha, tempat tinggal Shiva karena perbuatan baik mereka membangun kota. Resi Narada selanjutnya datang dan berkata, “Kalian wahai para utusan Yama, utusan Vishnu dan Shiva tidak punya hak untuk mengambil jiwa mereka. Sang pemburu telah mencuri uang tapi semuanya digunakan untuk berbuat kebaikan, maka sesuai aturan jiwanya tidak boleh diambil, dia akan menjadi hantu sampai pemilik uang yang dicurinya meninggal. Kemudian istri sang pemburu, karena tidak melakukan kejahatan dan dia adalah seorang devoti Shiva, maka dia bisa diambil oleh para utusan Shiva diminta tinggal di Kailasha!” Sang istri kemudian berkata, “Hamba tidak mau tinggal di tempat Shiva sedang suami saya menjadi hantu, saya percaya pada kebijaksanaan Resi Narada, tolonglah saya harus melakukan apa sehingga suami saya tidak menjadi hantu!” Resi Narada sangat senang dan dia memberikan inisiasi mantra kepada sang istri, sehingga sang suami memperoleh ampunan dan dapat tinggal di tempat Shiva bersamanya……. Baca lebih lanjut

Siapa Yang Menabur Akan Menuai, Renungan Di Balik Kisah Terbakarnya Bathara Kamajaya

Seringkali terjadi seseorang berjuang sekuat tenaga untuk menegakkan keadilan dan bahkan telah melupakan kepentingan pribadinya dengan resiko yang sangat besar demi cita-cita kemanusiaan. Dengan penuh keyakinan orang tersebut menjalankan dharma kebenaran, akan tetapi orang  tersebut malah menjadi korban atau tumbal dari tujuan yang sangat mulia. Tujuannya tercapai tetapi dia menjadi tumbalnya. Kamadewa berhasrat menyelamatkan dunia dari cengkeraman raja asura lalim bernama Tarakasura. Tarakasura hanya dapat dikalahkan oleh putra yang dilahirkan oleh Shiva dan Parvati. Tetapi perbuatannya untuk membangkitkan cinta Shiva penuh resiko dan akhirnya dia mati terbakar. Lihat http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/09/mengelola-nafsu-renungan-tentang-kama-dalam-kisah-bathara-kamajaya/

Ternyata ada kisah lain di balik kematiannya…….. Melihat sebuah kehidupan itu tidak bisa sepotong-sepotong, harus secara holistik, karena masa kini adalah kelanjutan dari masa lalu, dan masa depan adalah kelanjutan dari masa kini……..

Dalam kisah Srimad Bhagavatam, Sati istri Shiva membakar diri dengan yoganya, karena tindakan Daksa, sang ayah yang mengucilkan dirinya dan menghina suaminya dengan tidak mengundang mereka dalam upacara yajna. Daksa akhirnya mati dibunuh Virabadra, makhluk ciptaan Shiva. Selanjutnya Daksa dihidupkan lagi oleh Shiva dengan mengganti kepalanya dengan kepala kambing. Ini bermakna seseorang yang sudah dekat dengan Tuhan (Sati), masih berkeinginan mengikuti keduniawian dengan datang ke acara ayahnya yang merupakan panglima prajapati para dewa dan akhirnya Sati menderita kekecewaan.  Daksa adalah contoh orang yang berkuasa dan gila hormat dan lupa menundukkan kepala kepada Tuhan. Setelah egonya terpotong, dia berkepala kambing (patuh dengan Tuhan). Seseorang yang “trust” pada Tuhan,  maka dia manafikan pikirannya dan hanya mendengarkan hati nuraninya dalam bertindak. “Biarlah kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak pikiranku…….

Dikisahkan Himavanta (Himalaya) dan bidadari Menaka berhasrat apabila Sati lahir kembali agar menjadi anak mereka. mereka bertapa selama 150 juta tahun. Akhirnya mereka punya anak yang diberi nama Parvati (putri Parvata, putri Gunung). Mereka berdua memiliki “power of the will, power of knowingness, and power of action” untuk mewujudkan hasrat mereka . Upaya yang kuat tersebut dilambangkan seperti simbol segitiga yang ujungnya ke atas, yang merupakan simbol api yang arahnya ke atas yang tidak terpengaruh oleh gravitasi bumi. Upaya yang kuat tersebut mendapatkan grace, rahmad, simbol segitiga yang ujungnya ke bawah yang juga merupakan simbol air yang menuju ke bawah. Dan terkabulkanlah upaya mereka. Setelah Parvati remaja, Rishi Narada datang dan berkata kepada Himavanta dan Menaka bahwa Shiva sedang bertapa disekitar wilayah tersebut dan agar Parvati melayani Shiva. Himavanta menemui Shiva dan dia setuju Parvati untuk melayani dan menyiapkan keperluannya bertapa, dan Shiva kembali kepada meditasinya.

Baca lebih lanjut

Mengelola Nafsu, Renungan Tentang Kama Dalam Kisah Bathara Kamajaya

Pada awal abad ke 12 Mpu Dharmaja menggubah Kakawin Smaradahana, sebuah karya sastra Jawa Kuna dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya. Kisah yang sedikit berbeda dengan kisah yang beredar di India tersebut dipersembahkan kepada Raja Kediri Kameshwara I. Nama Kameshwara adalah nama lain dari Dewa Kama atau Kamadewa dan oleh Mpu Dharmaja dikisahkan sebagai Batahara Kamajaya. Menurut Prof. Purbatjaraka, kisah tersebut ada kaitannya dengan kisah percintaan antara Pangeran Panji Asmara Bangun dengan Putri Galuh Candra Kirana. Pangeran Panji Asmara Bangun akhirnya menjadi  Raja Kameshwara I. Kata Asmara Bangun berkaitan dengan “membangun Trishna” (tresna), cinta kasih yang suci yang meningkatkan kesadaran dan beda dengan “fall in love”, dimana dengan cinta seseorang akan jatuh. Kamajaya ada kaitannya dengan Dewa Kama putra Semar. Sedangkan Candra Kirana ada kaitannya dengan Ratih atau Rati atau Kamaratih putri Bulan (Candra). Di India, Rati adalah putri Daksa dan Kamadewa adalah putra Brahma. Sampai sekarang Tari Karonsih yang mengungkapkan cinta kasih Panji Asmara Bangun dan Galuh Candra Kirana masih sering dipentaskan dalam pesta perkawinan di Jawa. Bathara Kamajaya terkenal sangat tampan, berbudi luhur dan sangat sayang terhadap istrinya. Bathari Kamaratih terkenal karena kecantikannya dan wataknya yang lembut dan setia terhadap suaminya. Pasangan suami-istri tersebut amat rukun dan masing-masing menjaga kesetiaannya lahir batin dan sehidup semati.

Kami memilih kisah yang ada di India sebagai referensi dengan pertimbangan bahwa Kamadewa dengan senjata yang dimilikinya mempunyai kaitan dengan simbol senjata dalam Tantra dan juga dalam Buddha Tantrayana. Di beberapa wilayah di India, terdapat kepercayaan bahwa baik Krishna maupun Buddha adalah reinkarnasi dari Kamadewa. Sedang di Jawa para leluhur percaya bahwa Arjuna adalah titisan Kamajaya. Dikisahkan bahwa para dewa diserang oleh para asura dipimpin oleh Tarakasura. Seluruh dewa dikalahkan, sedangkan Shiva sedang bertapa karena kematian Sati, istrinya. Para dewa tahu bahwa Sati telah lahir kembali sebagai Parwati. Dan hanya putra Shiva dan Sati yang dapat mengalahkan raja asura tersebut. Konon Tarakasura telah bertapa ratusan tahun dan mendapat anugerah Brahma bahwa obsesinya menjadi makhluk terkuat di tiga alam dan hanya dapat dikalahkan oleh putra Shiva terpenuhi. Pada waktu itu Tarakasura tahu bahwa Sati, istri Shiva telah meninggal dunia dan Shiva bertapa untuk menenangkan dirinya. Selanjutnya, para dewa minta bantuan Kamadewa agar Shiwa  dapat “membangun tresna” lagi dengan Parwati yang merupakan reinkarnasi dari Sati.

Kamadewa adalah dewa tampan berkulit hijau bersenjatakan busur dari tebu dan tali busur dari madu lebah dengan anak panah terdiri dari 5 macam bunga. Dia ditemani burung kakatua, lebah, musim semi dan angin yang lembut. Batang tebu bermakna bahwa air yang merupakan sari tebu sangat lezat dan menghapuskan dahaga kama. Madu lebah merupakan persembahan lebah yang sangat bernilai, dimana lebah hanya mengkonsumsi sepersepuluhnya dan bagian terbesar dipersembahkan kepada alam semesta. Selaras dengan alam yang bersifat pemberi, selain lebah, sapi juga mempersembahkan susu melebih kebutuhan air susu anak-anaknya, ayam juga menghasilkan telur melebihi kebutuhan untuk meneruskan jenisnya. Lima macam bunga terdiri dari: bunga Asoka yang dimaknai bebas dari rasa sedih; bunga teratai yang indah dan suci yang dikelilingi lumpur tapi tetap bersih, yang terdiri bunga teratai putih yang mekar diwaktu siang;  bunga teratai biru yang mekar di waktu malam; bunga melati yang melambangkan kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi; bunga mangga adalah bunga majemuk yang jumlahnya bisa mencapai 1000-6000 dalam setiap tangkai bunga dan berbunga pada akhir musim panas. Senjata Kamadewa efektif untuk segala keadaan dan segala waktu. Brahma berkata pada Kamadewa bahwa dengan panah keindahan yang menawan, dan busur batang tebu dengan harum bunga, dia akan melakukan pekerjaan membantu penciptaan. Dan pekerjaan Kamadewa selamanya akan membingungkan pria dan wanita. Tidak dewa, tidak gandharva, tidak kinnara, tidak ular, tidak asura, tidak daitya, tidak vanavidya, tidak raksasa, tidak yaksa, tidak pisaca, tidak bhuta, tidak vinayaka, tidak guhyasa, tidak vasiddha, tidak manusia. tidak burung, sapi, rusa, cacing, serangga, tak satu pun dari semua ini akan dibebaskan dari panah Kamadewa. Baca lebih lanjut

Menghormati Leluhur Dan Alam Semesta Bukan Animisme Dan Dinamisme

Menghormati leluhur bukan menyembah leluhur. Menghormati leluhur bisa dimaknai memahami tentang sejarah. Kita perlu merenungkan sebuah logika sederhana. Kita bisa berada di dunia ini karena orang tua kita dapat hidup minimal sampai melahirkan kita. Orang tua kitapun eksis karena orang tua mereka minimal hidup sampai melahirkan mereka. Semua leluhur kita adalah manusia yang dapat survive hidup sampai menghasilkan keturunan. Sebelum menghasilkan keturunan, semua leluhur tidak mati, baik dalam medan perang, kecebur jurang atau karena penyakit. Kita bisa hidup karena kita mewarisi gen unggul mereka, gen unggul yang bisa mengatasi tantangan selagi hidup. Gen hanya diwariskan, sukses tidak merubah gen. Sukses tidak menyebabkan gen menjadi bagus, justru kita sukses karena kita mewarisi gen yang bagus. Dalam setiap generasi ada penyaringan genetik, hanya yang baguslah yang lolos. Menghormati leluhur adalah hal yang pantas dilakukan oleh mereka yang sadar siapa dirinya.

 

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyang kita sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

 

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Perliku seseorang saat ini terkait dengan perilaku para leluhurnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Walaupun para leluhur kita dikatakan penganut animisme dan dinamisme, hal tersebut adalah bagian dari evolusi dan kita harus menghormatinya.

 

Seorang sufi terkemuka Jallaludin el-Rumi di awal abad ke 13 telah memahami evolusi jiwa manusia, sehingga beliau berkata:

Aku mati sebagai mineral, dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan, dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut? Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia, dan lahir di alam para malaikat. Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, aku masih harus mati lagi; Karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat, aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kesunyian Karena hanya dalam kesunyian itu terdengar nyanyian mulia; “Kepada Nya, kita semua akan kembali.”

 

Jika dikatakan animisme dan dinamisme adalah pemujaan terhadap roh, yang sebenarnya terjadi mungkin adalah penghormatan terhadap adanya roh. Jika para leluhur menghormati benda-benda dan pepohonan itu belum bisa dikatakan menyembah benda-benda dan pepohonan. Kita dapat menerima penghormatan terhadap batu hajar Aswad dan Bangunan Kabah, akan tetapi kita tidak menyembahnya, kita hanya menyembah kepada Yang Maha Kuasa.

 

Pada tanaman terdapat zat hidup, kala tanaman kehilangan zat hidupnya, maka dia akan layu dan mati. Zat hidup itu sering dinamakan ruh. lmuwan Sir Jagdish Chandra Bose mulai melakukan percobaan pada tanaman di tahun 1900. Ia menemukan bahwa setiap tanaman dan setiap bagian dari tanaman memiliki sistem saraf yang peka dan dapat bereaksi. Bose juga menemukan bahwa tanaman tumbuh lebih cepat di tengah-tengah musik yang menyenangkan dan lebih lambat di tengah suara bising. Ia juga mengklaim bahwa tanaman dapat “merasakan sakit, memahami rasa sayang. Menurut dia, tanaman yang diperlakukan dengan perawatan dan kasih sayang akan memberikan sebuah getaran yang berbeda dibandingkan dengan tanaman yang mengalami penyiksaan. Baca lebih lanjut