Menghormati Leluhur Dan Alam Semesta Bukan Animisme Dan Dinamisme


Menghormati leluhur bukan menyembah leluhur. Menghormati leluhur bisa dimaknai memahami tentang sejarah. Kita perlu merenungkan sebuah logika sederhana. Kita bisa berada di dunia ini karena orang tua kita dapat hidup minimal sampai melahirkan kita. Orang tua kitapun eksis karena orang tua mereka minimal hidup sampai melahirkan mereka. Semua leluhur kita adalah manusia yang dapat survive hidup sampai menghasilkan keturunan. Sebelum menghasilkan keturunan, semua leluhur tidak mati, baik dalam medan perang, kecebur jurang atau karena penyakit. Kita bisa hidup karena kita mewarisi gen unggul mereka, gen unggul yang bisa mengatasi tantangan selagi hidup. Gen hanya diwariskan, sukses tidak merubah gen. Sukses tidak menyebabkan gen menjadi bagus, justru kita sukses karena kita mewarisi gen yang bagus. Dalam setiap generasi ada penyaringan genetik, hanya yang baguslah yang lolos. Menghormati leluhur adalah hal yang pantas dilakukan oleh mereka yang sadar siapa dirinya.

 

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyang kita sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

 

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Perliku seseorang saat ini terkait dengan perilaku para leluhurnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Walaupun para leluhur kita dikatakan penganut animisme dan dinamisme, hal tersebut adalah bagian dari evolusi dan kita harus menghormatinya.

 

Seorang sufi terkemuka Jallaludin el-Rumi di awal abad ke 13 telah memahami evolusi jiwa manusia, sehingga beliau berkata:

Aku mati sebagai mineral, dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan, dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut? Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia, dan lahir di alam para malaikat. Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, aku masih harus mati lagi; Karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat, aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kesunyian Karena hanya dalam kesunyian itu terdengar nyanyian mulia; “Kepada Nya, kita semua akan kembali.”

 

Jika dikatakan animisme dan dinamisme adalah pemujaan terhadap roh, yang sebenarnya terjadi mungkin adalah penghormatan terhadap adanya roh. Jika para leluhur menghormati benda-benda dan pepohonan itu belum bisa dikatakan menyembah benda-benda dan pepohonan. Kita dapat menerima penghormatan terhadap batu hajar Aswad dan Bangunan Kabah, akan tetapi kita tidak menyembahnya, kita hanya menyembah kepada Yang Maha Kuasa.

 

Pada tanaman terdapat zat hidup, kala tanaman kehilangan zat hidupnya, maka dia akan layu dan mati. Zat hidup itu sering dinamakan ruh. lmuwan Sir Jagdish Chandra Bose mulai melakukan percobaan pada tanaman di tahun 1900. Ia menemukan bahwa setiap tanaman dan setiap bagian dari tanaman memiliki sistem saraf yang peka dan dapat bereaksi. Bose juga menemukan bahwa tanaman tumbuh lebih cepat di tengah-tengah musik yang menyenangkan dan lebih lambat di tengah suara bising. Ia juga mengklaim bahwa tanaman dapat “merasakan sakit, memahami rasa sayang. Menurut dia, tanaman yang diperlakukan dengan perawatan dan kasih sayang akan memberikan sebuah getaran yang berbeda dibandingkan dengan tanaman yang mengalami penyiksaan.

Lihat Gambar 1. Sir Jagdish Chandra Bose peneliti tentang perasaan tanaman

Penemuan Dr. Masaru Emoto tentang air yang memiliki kesadaran merupakan tonggak penting dalam menjelaskan fenomena alam, bahwa air yang dianggap benda mati pun ternyata mempunyai kesadaran.  Air membentuk kristal hexagonal yang cantik ketika mendapat vibrasi kasih dan kristal tersebut akan rusak bentuknya ketika mendapat vibrasi negatif. Saat mendengar doa dengan bahasa apa pun juga, saat mendengarkan nyanyian yang indah, saat mendapat perlakuan yang menghormatinya, air ternyata membentuk kristal hexagonal yang cantik. Akan tetapi tidak demikian kala air mendengar umpatan atau caci maki, dimana air tidak membentuk kristal.

Lihat Gambar 2. Kristal Air hasil penelitian Dr. Masaru Emoto.

Bila air terpengaruh vibrasi positif dan negatif, maka uap air juga akan terpengaruh. Otak kita yang mengandung 90% air juga akan terpengaruh. Di negara yang lembab seperti di Indonesia , kegelisahan massa yang diungkapkan di media masa, lewat hp, lewat internet di udara yang lembab tetap akan mempengaruhi massa.

 

Demikian pula air dalam bentuk es akan terpengaruh oleh vibrasi positif dan negatif. Sebuah batu kristal yang terbentuk dari air yang dipadatkan dalam tekanan tinggi selama jutaan tahun mempunyai pengaruh amplifyer, memperbesar pengaruh vibrasi. Seseorang yang memakai kristal rose quartz akan memperbesar sifat kasih yang diungkapkannya.

 

Kandungan air di bumi sekitar 70% demikian pula kandungan air dalam tubuh kita. Pada saat bulan purnama, air laut pasang, dan demikian tekanan pula darah di tubuh kita. Pada saat itu kita mudah stress dan apabil ditambah makan durian dan daging kambing, maka kemungkinan akan menderita stroke akan lebih besar. Pada saat gerhana, daya tarik bulan dan matahari pada satu garis lurus, sehingga air pasang lebih besar. Leluhur kita di desa yang memukul lesung dan kentongan secara berirama pada waktu gerhana juga ada dasarnya. Agar pengaruh gerhana tidak begitu terasa. Suara gamelan dalam acara pertunjukan wayang yang sering digelar di desa pada waktu itu akan mempengaruhi kesuburan tanaman. Pada saat ini padi yang kiita makan sedikit mendengar suara kicau burung dan seruling anak gembala. Yang didengar suara mesin traktor dan mobil di jalan raya. Para petani pun dalam keadaan stress karena harga jual yang rendah, harga pupuk dan benih yang tinggi dan biaya anak sekolah yang tinggi. Aura kecemasan petani tersebut tanpa terasa terbawa dalam nasi yang kita makan.

 

Mengelus-elus tubuh penuh kasih, mengambil air wudhu sambil berdoa akan mempengaruhi air dalam tubuh. Mengobati orang sakit dengan berdoa di depan segelas air dan diminumkan pada pasien ada dasarnya. Leluhur kita bukan berdoa pada air, tetapi berdoa pada Yang Maha Kuasa yang akan direspon air. Acara ritual Slametan dengan duduk melingkari tumpeng pun ada dasarnya karena tumpeng pun mengandung air.

 

Benda di alam ini mengandung 5 unsur elemen alami, ruang, angin, api, air dan tanah. Kombinasi jumlah elemen tiap benda berbeda. Tanaman yang sebagian besar kandungannya berupa air, jelas akan terpengaruh oleh vibrasi negatif ataupun positif sesuai dengan penemuan Dr. Masaru Emoto tersebut. Seorang Amerika menghubungkan kedua elektrode ”lie detector” pada sebatang bunga Adhatoda Vasica, kemudian menyiramkan air pada bagian akar bunga, setelah itu dia menemukan pena elektronik dari lie detector dengan cepat menggoreskan suatu garis lengkung. Garis lengkung ini persis sama dengan garis lengkung dari otak manusia ketika dalam waktu yang sangat pendek mengalami suatu rangsangan maupun kegembiraan. Selanjutnya, dia meletakkan dua tanaman dalam pot dan salah seorang siswa diminta menginjak-injak salah satu tanaman sampai mati, dan kemudian tanaman yang masih hidup dipindah ke dalam ruangan dan dipasangi lie detector. Empat orang siswa diminta masuk ruangan satu per satu. Ketika giliran siswa kelima, siswa yang menginjak tanaman masuk ke dalam, belum sampai berjalan mendekat, pena elektronik segera menggoreskan suatu garis lengkung, suatu garis lengkung yang terjadi saat manusia merasa ketakutan. Luar biasa, tanaman mempunyai emosi, tanaman mempunyai kesadaran.

 

Vibrasi kasih terhadap tanaman, seperti menyiram dan memberi pupuk, memberikan pengaruh positif. Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga volume air di mata air tetap. Pembabatan pohon membuat volume mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air “krasan” singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan volume air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat makhluk yang serakah, air sudah tidak “krasan” lagi di gunung, di musim penghujan langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersisa, kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan. Walaupun leluhur kita dikatakan penganut animisme akan tetapi pada saat itu alam terjaga dengan baik.

 

Dalam film Little Krishna, penduduk Vrindavan diminta Sri Krishna menyembah Bukit Govinda dan bukan Dewa Indra, karena bukit itulah yang memberi kehidupan pada masyarakat. Dan Sri Krishna tidak mengajari animisme dan dinamisme…….

 

Kita mengenal konsep Tri Hita Karana. Hita ialah “Kemakmuran”, dan Karana berarti “Sebab”. Tiga Sebab Kemakmuran, atau lebih tepatnya Sejahtera lahir-batin – itulah arti Tri Hita Karana. Atau, kalau mau, bisa juga diartikan sebagai tiga panduan untuk hidup seimbang dengan keberadaan. Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dan Tuhan; antara manusia dan manusia lain, dan antara manusia dengan lingkungan alam. Sebetulnya ketiga hubungan tersebut adalah satu. Manusia dan lingkungan adalah wujud dari Tuhan juga. Bila kita membeda-bedakan dan menganggap hubungan dengan Tuhan lebih tinggi dan hubungan horisontal dapat dikalahkan, maka manusia dapat menafikan keberadaan manusia lainnya dan lingkungan. Terjadilah perang atas nama Tuhan dan alam semesta dirusak atas nama manusia. Jika kita menganggap manusia dan lingkungan alam berada di luar Tuhan, maka sekecil apa pun Tuhan akan mempunyai saingan, padahal Tuhan adalah Maha Kuasa, tidak ada bandingannya dan tak dapat diserupakan dengan apa pun juga. Einstein mengatakan bahwa segala yang ada pada hakikatnya adalah energi. Elemen pokok pembentuk alam: tanah, air, api, udara dan ruang adalah energi dengan kemampatan yang berbeda. Tuhan adalah Energi Agung menurutnya.

 

Kemudian para leluhur mendoakan leluhur mereka dan bukan memohon pada leluhur mereka. bagi yang percaya adanya reinkarnasi. Manusia terdiri dari body, mind and soul. Body bisa mati, akan tetapi mind tidak bisa mati kecuali mind tersebut sudah tidak mempunyai keinginan duniawi lagi. Jiwa adalah soul yang terperangkap dalam mind. Bila mind sudah mati , maka ruh akan menjadi murni. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……… Leluhur adalah gumpalan energi, gugusan pikiran atau mind yang “sudah tidak berwujud”, mereka yang telah mendahului kita. Dan energi tidak pernah mati. Hanya berubah bentuk, beralih wujud. Mereka sedang menunggu giliran untuk berwujud “kembali”. Selama berada di alam transisi, dalam bentuk mind atau gugusan pikiran, mereka pun butuh makanan yang bisa membantu evolusi mereka. “Energi Kasih” adalah makanan utama. Tradisi-tradisi kuno menganjurkan persembahan atau offering bagi para leluhur. Apa yang Anda persembahkan tidak penting. Yang penting adalah niat Anda. Rasa serta kasih di balik persembahan itu. Ketika Anda memasak atau mempersembahkan bubur atau kue kesukaan orang tua yang sudah wafat, timbul energi dari rasa kasih, rasa rindu terhadapnya. Bubur dan kue persembahan tidak penting. Yang penting adalah energi dari rasa kasih yang timbul saat memasak atau mempersembahkan. Mereka yang “tidak tahu” akan mencap Anda sebagai pemuja leluhur. Tidak perlu menanggapi mereka. Untuk apa?………

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

3 Tanggapan

  1. Saudara-saudaraku, menghormati tidak sama dengan menyembah. Sering sekali menghormati disamakan dengan menyembah, Apakah bila kita menghormati orang tua berarti kita menyembah mereka? Pertama kali ada pendapat bahwa Dia Yang Maha Kuasa itu tiada bandingnya dan oleh karenanya tidak ada seseuatu apa pun yang bisa ada tanpa Dia. Bila kita menganggap seseorang atau tanaman atau hewan atau manusia berada di luar Dia, maka Dia akan mempunyai saingan walaupun bagaimana kecil dan tak berartinya. Dalam setiap tanaman/hewan/manusia ada zat hidup yang membuat hidup. Dia adalah Yang Maha Menghidupi. Menyembah yang lain adalah menyekutukanNya. Dengan menghormati tanaman yang ada zat hidup-Nya kita tidak merusak lingkungan, tapi kita tidak menyembahnya. Leluhur pun berada dalam Dia, tanpa leluhur kita tidak ada. Kita menghormati sejarah bahwa lewat mereka lah kita ada. Tetapi perlu diingat segala sesuatu ada di dalam Dia. Tiada yang lain selain Dia…. Hidup adalah kontinuitas, masa anak-anak, masa remaja dan masa dewasa dan semuanya adalah bagian kehidupan kita. Masalah leluhur kita yang masih banyak kesalahan adalah masa lalu seperti masa saat kita masih anak-anak. Perlu diperbaiki, tetapi perlu dihormati.
    Salam Kasih __/\__

  2. […] Tidak Mau Menyerang IndonesiaSeandainya US menyerang IndonesiaAndai Perang Lawan Malaysia TerjadiMenghormati Leluhur Dan Alam Semesta Bukan Animisme Dan DinamismeMenghormati Leluhur Dan Alam Semesta Bukan Animisme Dan […]

  3. Trimakasih telah menambah wawasan saya, saudara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: