Mengelola Nafsu, Renungan Tentang Kama Dalam Kisah Bathara Kamajaya


Pada awal abad ke 12 Mpu Dharmaja menggubah Kakawin Smaradahana, sebuah karya sastra Jawa Kuna dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya. Kisah yang sedikit berbeda dengan kisah yang beredar di India tersebut dipersembahkan kepada Raja Kediri Kameshwara I. Nama Kameshwara adalah nama lain dari Dewa Kama atau Kamadewa dan oleh Mpu Dharmaja dikisahkan sebagai Batahara Kamajaya. Menurut Prof. Purbatjaraka, kisah tersebut ada kaitannya dengan kisah percintaan antara Pangeran Panji Asmara Bangun dengan Putri Galuh Candra Kirana. Pangeran Panji Asmara Bangun akhirnya menjadi  Raja Kameshwara I. Kata Asmara Bangun berkaitan dengan “membangun Trishna” (tresna), cinta kasih yang suci yang meningkatkan kesadaran dan beda dengan “fall in love”, dimana dengan cinta seseorang akan jatuh. Kamajaya ada kaitannya dengan Dewa Kama putra Semar. Sedangkan Candra Kirana ada kaitannya dengan Ratih atau Rati atau Kamaratih putri Bulan (Candra). Di India, Rati adalah putri Daksa dan Kamadewa adalah putra Brahma. Sampai sekarang Tari Karonsih yang mengungkapkan cinta kasih Panji Asmara Bangun dan Galuh Candra Kirana masih sering dipentaskan dalam pesta perkawinan di Jawa. Bathara Kamajaya terkenal sangat tampan, berbudi luhur dan sangat sayang terhadap istrinya. Bathari Kamaratih terkenal karena kecantikannya dan wataknya yang lembut dan setia terhadap suaminya. Pasangan suami-istri tersebut amat rukun dan masing-masing menjaga kesetiaannya lahir batin dan sehidup semati.

Kami memilih kisah yang ada di India sebagai referensi dengan pertimbangan bahwa Kamadewa dengan senjata yang dimilikinya mempunyai kaitan dengan simbol senjata dalam Tantra dan juga dalam Buddha Tantrayana. Di beberapa wilayah di India, terdapat kepercayaan bahwa baik Krishna maupun Buddha adalah reinkarnasi dari Kamadewa. Sedang di Jawa para leluhur percaya bahwa Arjuna adalah titisan Kamajaya. Dikisahkan bahwa para dewa diserang oleh para asura dipimpin oleh Tarakasura. Seluruh dewa dikalahkan, sedangkan Shiva sedang bertapa karena kematian Sati, istrinya. Para dewa tahu bahwa Sati telah lahir kembali sebagai Parwati. Dan hanya putra Shiva dan Sati yang dapat mengalahkan raja asura tersebut. Konon Tarakasura telah bertapa ratusan tahun dan mendapat anugerah Brahma bahwa obsesinya menjadi makhluk terkuat di tiga alam dan hanya dapat dikalahkan oleh putra Shiva terpenuhi. Pada waktu itu Tarakasura tahu bahwa Sati, istri Shiva telah meninggal dunia dan Shiva bertapa untuk menenangkan dirinya. Selanjutnya, para dewa minta bantuan Kamadewa agar Shiwa  dapat “membangun tresna” lagi dengan Parwati yang merupakan reinkarnasi dari Sati.

Kamadewa adalah dewa tampan berkulit hijau bersenjatakan busur dari tebu dan tali busur dari madu lebah dengan anak panah terdiri dari 5 macam bunga. Dia ditemani burung kakatua, lebah, musim semi dan angin yang lembut. Batang tebu bermakna bahwa air yang merupakan sari tebu sangat lezat dan menghapuskan dahaga kama. Madu lebah merupakan persembahan lebah yang sangat bernilai, dimana lebah hanya mengkonsumsi sepersepuluhnya dan bagian terbesar dipersembahkan kepada alam semesta. Selaras dengan alam yang bersifat pemberi, selain lebah, sapi juga mempersembahkan susu melebih kebutuhan air susu anak-anaknya, ayam juga menghasilkan telur melebihi kebutuhan untuk meneruskan jenisnya. Lima macam bunga terdiri dari: bunga Asoka yang dimaknai bebas dari rasa sedih; bunga teratai yang indah dan suci yang dikelilingi lumpur tapi tetap bersih, yang terdiri bunga teratai putih yang mekar diwaktu siang;  bunga teratai biru yang mekar di waktu malam; bunga melati yang melambangkan kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi; bunga mangga adalah bunga majemuk yang jumlahnya bisa mencapai 1000-6000 dalam setiap tangkai bunga dan berbunga pada akhir musim panas. Senjata Kamadewa efektif untuk segala keadaan dan segala waktu. Brahma berkata pada Kamadewa bahwa dengan panah keindahan yang menawan, dan busur batang tebu dengan harum bunga, dia akan melakukan pekerjaan membantu penciptaan. Dan pekerjaan Kamadewa selamanya akan membingungkan pria dan wanita. Tidak dewa, tidak gandharva, tidak kinnara, tidak ular, tidak asura, tidak daitya, tidak vanavidya, tidak raksasa, tidak yaksa, tidak pisaca, tidak bhuta, tidak vinayaka, tidak guhyasa, tidak vasiddha, tidak manusia. tidak burung, sapi, rusa, cacing, serangga, tak satu pun dari semua ini akan dibebaskan dari panah Kamadewa.

Shiva yang kena panah Kamadewa membuka matanya dan mata ketiganya membakar Kamadewa. Kebetulan Parwati yang ada di wilayah tersebut mendadak jatuh cinta kepada Shiva. Parwati kemudian bertapa dan akhirnya diperistri oleh Shiva. Kartikeya putra Shiva dan Parwati dapat mengalahkan Tarakasura. Kala Kamadewa terbakar, Dewi Ratih istrinya mohon pada Shiva untuk dihidupkan lagi. Shiva menghidupkan Kamadewa tanpa raga, “ananga”. Akan tetapi justru karena tanpa raga itulah maka pekerjaan Kamadewa semakin efektif dan dia bisa masuk ke pikiran dan perasaan manusia dan hewan.

Kama sebenarnya mewakili desire, keinginan, sehingga tidak harus dikaitkan dengan seks semata. Kamadewa yang berwarna hijau melambangkan anahata chakra. Lapisan kesadaran yang berkaitan dengan suara yang tak terdengarkan atau suara hati nurani. Suara tersebut akan terdengar kala manusia dalam keadaan tenang, rileks, damai, ceria. Berada pada Anahat Chakra yang terletak di sekitar dada, seseorang memahami betul bahasa badan dan keluhan organ-organ di dalam tubuhnya. Sehingga manusia menjadi sehat secara alami. Ia akan menolak segala sesuatu yang tidak selaras dengan badannya, tidak sesuai dengan kebutuhannya. Energi yang berpusat pada Manipura Chakra yang terletak di sekitar pusar akan bergerak ke bawah bila energi tersebut berupa cairan dan akan meningkat ke atas bila telah menjadi uap air. Kama yang berhubungan dengan nafsu makan-minum, seks dan kenyamanan pancaindra adalah kama yang masih bersifat cair dan mengalir ke bawah. Kebutuhan tersebut juga merupakan instink hewani. Hanya hewan makan makan minum mentah sedang manusia dimasak dan diberi bumbu lebih dulu, hewan berhubungan seks dengan lain jenisnya kapan saja, sedangkan manusia mempunyai norma dan etika, hewan tidur memilih dalam lobang dan goa sedangkan manusia dalam rumah.

Kehendak pemimpin bijak untuk mensejahterakan semua rakyatnya, upaya para pecinta alam untuk mempertahankan lingkungan bumi, obsesi para suci untuk menyadarkan manusia, merupakan kama positif yang tidak ada kaitannya dengan pamrih diri pribadi. Dalam kitab kamasutra dijelaskan adanya kama, dharma, artha dan moksha. Agar energi yang ada dalam diri bisa dioptimalkan, artha ditujukan untuk dharma, sedangkan kama ditujukan untuk moksha. Selama ini yang terjadi kama untuk artha dan dharma untuk moksha.

Dalam artikel “Makna Spiritual Bentuk Geometris Dari Candi-Candi Dan Tempat-Tempat Ibadah Di Indonesia” , lihat http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/31/makna-spiritual-bentuk-geometris-dari-candi-candi-dan-tempat-tempat-ibadah-di-indonesia/ disampaikan bahwa bintang segienam sama sisi merupakan kolaborasi antara segitiga dengan ujung menghadap ke atas yang merupakan simbol api, dan segitiga dengan ujungnya menghadap ke bawah yang merupakan simbol air. Simbol bintang segi enam juga merupakan simbol anahata chakra. Seseorang yang berada pada tingkat kesadaran anahata chakra bisa menuruti kama seperti air yang menuju ke bawah yang berupa preya, kesenangan pikiran dan fisik atau pancaindra. Walaupun seorang ahli agama bila dia masih mengikuti kama yang mengalir ke bawah maka dia akan menurun tingkat kesadarannya. Akan tetapi seseorang bisa mengikuti kama seperti api yang tidak terpengaruh keterikatan/gravitasi dan menuju ke atas atau shreya, tindakan yang memuliakan. Pasangan yang mengikuti tarikan kama ke bawah dan melakukan seks yang menerjang norma dan etika akan melahirkan putra-putri yang kualitasnya berbeda dengan  pasangan yang melakukan seks sesuai norma dan etika dengan tujuan mencetak putra-putri yang saleh yang mengharumkan dunia.

Bintang segi enam juga sering disebut pasangan antara segitiga dengan ujung ke atas yang merupakan simbol Shiwa dan segitiga dengan ujung ke bawah sebagai simbol shakti. Sehingga simbol yang ada di Candi Sukuh dengan lingga yang berada di bawah mengarah ke atas dan yoni yang berada di atas mempunyai makna hampir sama dengan bintang segi enam. Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan…….. bagi para siswa yang ingin meningkatkan kesadaran mereka, ingin memasuki kehidupan rohani atau spiritual, candi Sukuh menyediakan pelajaran-pelajaran Tantra yang dapat membantu mereka. Tantra merupakan suatu revolusi dalam bidang spiritual. “Tantra” berarti latihan, eksperimen atau cara. Bereksperimen dengan energi yang berbeda dalam diri kita sendiri, yang selama ini kita sebut energi seks, untuk meningkatkan kesadaran kita. Itulah Tujuan Tantra. Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Selama bertahun-tahun, pembicaraan tentang seks saja dianggap tabu. Para ahli agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seks, tidak pernah bicara tentang seks. Pendirian Tantra lain. Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran Rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seseorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seseorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda. Kesadaran Anda akan tetap berada pada tingkat bawah. Hampir tidak ada kemungkinan untuk meningkatkannya. Akan terjadi penarikan-penarikan diri alam bawah sadar anda sendiri. Berbagai keinginan dan obsesi yang tidak terpenuhi akan menghantui Anda. Perjalanan rohani hampir tidak mungkin. Karena itu, kepuasan badaniah sangat penting, kepuasan duniawi sangat penting, bahkan sangat menentukan keberhasilan Anda dalam bidang spiritual……….

………. Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini………. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Passion dan compassion, kedua kata dalam bahasa Inggris ini, berasal dari suku kata yang sama. Compassion berasal passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap Yang Abstrak, Yang Tak Dapat Dijelaskan.

Kamadewa selalu dikaitkan dengan musim semi yang dikaitkan dengan masa remaja, masa muda. Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan……… Adalah masa muda yang menjadi inti kehidupan. Itupun bila ia dapat memilih mana yang tepat bagi dirinya, dan mana yang tidak. Satu-satunya masa dimana kita betul-betul hidup ketika energi kehidupan berada pada puncaknya, adalah masa muda. Janganlah menyia-nyiakan masa itu. Kenapa masa muda? Karena saat itulah hormon testosterone dan estrogen mulai bekerja. Hormon-hormon itulah yang membedakan seorang anak dari seorang pemuda. Hormon-hormon ini menciptakan “gairah”. Inilah energi yang terdahsyat. Energi ini dapat disalurkan dan digunakan untuk apa saja, bahkan untuk memindahkan gunung Semeru dari tempatnya!……..

………… Untuk itu, kita perlu mempraktikkan pengendalian diri (exercise self-control). Banyak energi muda, energi yang masih murni, dan berkualitas prima tersia-siakan karena “aktivitas seksual yang berlebihan dan belum waktunya”. Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Seni adalah ungkapannya yang paling sempurna. Maka, janganlah memboroskan energi ini. Hal ini tidak berarti kau mesti menghentikan seluruh kegiatan seks. Silakan melakukan, tetapi tidak berlebihan……….

……….. Bagaimana Mengendalikan Keinginan Seks? Itu adalah pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya. “Bagaimana mengendalikan keinginan yang meluap-luap?” Jawaban saya, “Jangan dikendalikan, tidak perlu dikendalikan.” Instead, try to understand its nature. Lebih baik pahami sifat energi yang meluap-luap itu. Sifatnya: Kreatif. Sekarang, salurkan energi itu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih kreatif dan lebih bermanfaat. Dengan sendirinya ia tak akan meluap-luap dan mengganggumu lagi. Energi seks yang sedang meluap-luap itu berupa cairan. Mengikuti sifat dan kodrat cairan, ia akan mencari tempat yang lebih rendah. Ia keluar lewat alat kelamin. Bagaimana jika kita berhasil mengubah energi tersebut menjadi uap? Mengikuti sifat dan kodrat gas, ia akan menguap ke atas. la akan membuka blokade-blokade dalam otakmu. Otak akan mengalami revitalisasi. la menjadi lebih aktif, lebih awas……….

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: