Siapa Yang Menabur Akan Menuai, Renungan Di Balik Kisah Terbakarnya Bathara Kamajaya


Seringkali terjadi seseorang berjuang sekuat tenaga untuk menegakkan keadilan dan bahkan telah melupakan kepentingan pribadinya dengan resiko yang sangat besar demi cita-cita kemanusiaan. Dengan penuh keyakinan orang tersebut menjalankan dharma kebenaran, akan tetapi orang  tersebut malah menjadi korban atau tumbal dari tujuan yang sangat mulia. Tujuannya tercapai tetapi dia menjadi tumbalnya. Kamadewa berhasrat menyelamatkan dunia dari cengkeraman raja asura lalim bernama Tarakasura. Tarakasura hanya dapat dikalahkan oleh putra yang dilahirkan oleh Shiva dan Parvati. Tetapi perbuatannya untuk membangkitkan cinta Shiva penuh resiko dan akhirnya dia mati terbakar. Lihat http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/09/mengelola-nafsu-renungan-tentang-kama-dalam-kisah-bathara-kamajaya/

Ternyata ada kisah lain di balik kematiannya…….. Melihat sebuah kehidupan itu tidak bisa sepotong-sepotong, harus secara holistik, karena masa kini adalah kelanjutan dari masa lalu, dan masa depan adalah kelanjutan dari masa kini……..

Dalam kisah Srimad Bhagavatam, Sati istri Shiva membakar diri dengan yoganya, karena tindakan Daksa, sang ayah yang mengucilkan dirinya dan menghina suaminya dengan tidak mengundang mereka dalam upacara yajna. Daksa akhirnya mati dibunuh Virabadra, makhluk ciptaan Shiva. Selanjutnya Daksa dihidupkan lagi oleh Shiva dengan mengganti kepalanya dengan kepala kambing. Ini bermakna seseorang yang sudah dekat dengan Tuhan (Sati), masih berkeinginan mengikuti keduniawian dengan datang ke acara ayahnya yang merupakan panglima prajapati para dewa dan akhirnya Sati menderita kekecewaan.  Daksa adalah contoh orang yang berkuasa dan gila hormat dan lupa menundukkan kepala kepada Tuhan. Setelah egonya terpotong, dia berkepala kambing (patuh dengan Tuhan). Seseorang yang “trust” pada Tuhan,  maka dia manafikan pikirannya dan hanya mendengarkan hati nuraninya dalam bertindak. “Biarlah kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak pikiranku…….

Dikisahkan Himavanta (Himalaya) dan bidadari Menaka berhasrat apabila Sati lahir kembali agar menjadi anak mereka. mereka bertapa selama 150 juta tahun. Akhirnya mereka punya anak yang diberi nama Parvati (putri Parvata, putri Gunung). Mereka berdua memiliki “power of the will, power of knowingness, and power of action” untuk mewujudkan hasrat mereka . Upaya yang kuat tersebut dilambangkan seperti simbol segitiga yang ujungnya ke atas, yang merupakan simbol api yang arahnya ke atas yang tidak terpengaruh oleh gravitasi bumi. Upaya yang kuat tersebut mendapatkan grace, rahmad, simbol segitiga yang ujungnya ke bawah yang juga merupakan simbol air yang menuju ke bawah. Dan terkabulkanlah upaya mereka. Setelah Parvati remaja, Rishi Narada datang dan berkata kepada Himavanta dan Menaka bahwa Shiva sedang bertapa disekitar wilayah tersebut dan agar Parvati melayani Shiva. Himavanta menemui Shiva dan dia setuju Parvati untuk melayani dan menyiapkan keperluannya bertapa, dan Shiva kembali kepada meditasinya.

Pada suatu saat Kamajaya yang juga disebut Kamadeva (dewa kama) atau Manmatha (pengaduk hati) melepaskan anak panahnya kepada ShiVa, yang membuat Shiva tergerak memperhatikan Parvati. Tetapi Shiva kemudian sadar, mengapa musim semi datang bukan pada saatnya dan dia melihat Kamadeva sedang bersembunyi. Shiva kemudian mengarahkan mata ketiganya kepadanya dan terbakarlah Kamadeva. Parvati pingsan melihat hal tersebut dan ketika bangun Shiva sudah pergi dari tempat tersebut. Parvati kemudian bertapa sampai akhirnya Shiva terketuk hatinya dan menikahi Parvati…… Dewi Rati, istri Kamadeva datang ke tempat tersebut dan menangis melihat keadaan suaminya. Vasanta (dewa musim semi) saudara Kamadeva menghiburnya dan berkata bahwa semuanya memang harus terjadi. Kamadeva harus menyelesaikan hutang-piutang perbuatannya di masa lalu. Karena niat Kamadeva yang mulia, bukan untuk kepentingan pribadi tetapi demi keselamatan umat tiga dunia yang pada saat ini di bawah cengkeraman Tarakasura, dan Tarakasura hanya dapat dikalahkan oleh putra Shiva dan Parvati, maka dia telah menempuh resiko yang sangat besar. Karena itu diminta agar Dewi Rati bersabar, karena akan datang saatnya Kamadeva akan hidup lagi. Dewi Rati berkata sebenarnya dia telah merasakan akan terjadinya kejadian tragis bila suaminya menggoda Shiva, tetapi demi keselamatan dunia Kamadeva meneruskan perbuatannya. Kemudian Dewi Rati minta agar Vasanta menjelaskan perbuatan apa yang menyebabkan Kamadeva sampai mengalami hal tersebut.

Pada suatu ketika ada dua asura bersaudara bernama Sunda dan Upasunda yang saling menyayangi satu sama lain. Mereka mempunyai hasrat yang kuat sebagai penguasa tiga dunia. Mereka melakukan tapa yoga yang keras. Brahma akhirnya datang dan mengabulkan permintaan mereka. Mereka ingin menjadi yang paling kuat di tiga dunia dan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh diri mereka sendiri. “Power tends to corrupts”, sifat keserakahan asura telah mendarah daging bagi mereka, sehingga mereka menguasai tiga dunia dan membuat kekacauan. Brahma berpikir bagaimana caranya agar mereka saling berkelahi satu sama lain, sehingga Brahma menciptakan bidadari Tilottamma yang sangat cantik yang merupakan akumulasi dari semua kecantikan di seluruh dunia. Kemudian Brahma memanggil Kamadeva dan akan memberikan instruksi bagaimana caranya memanahkan anak panah asmaranya kepada Sunda dan Upasunda agar mereka berkelahi memperebutkan Tilottama.

Kamadeva, masih muda dan mempunyai senjata andalan  istimewa dan terbersit keinginannya untuk mencoba keampuhan senjatanya. Maka saat datang ke tempat Brahma dia memanahkan anak panah dengan lima bunganya kepada Brahma. Brahma terpengaruh dan mengejar Tilottama. Tilottama lari dan mengubah dirinya sebagai rusa dan Brahma tetap mengejarnya dengan mengubah wujudnya sebagai rusa juga. Para dewa geger melihat kejadian itu. Shiva yang juga dinyatakan sebagai seorang pemburu mendatangi Brahma, dan Brahma dalam wujud rusa sangat takut kepada Shiva dan tidak lagi mengejar Tilottama. Cinta sang rusa kepada hidupnya melebihi cinta terhadap lawan jenis impiannya. Dan masalah pun terselesaikan, Brahma minta maaf dan para dewa tenang kembali. Tilottama kemudian diminta mendatangi asura Sunda dan Upasunda serta Kamadeva  mendampinginya. Dengan panah kama akhirnya Sunda dan Upasunda memperebutkan Tilottama dan berkelahi sampai dua-duanya mati. Tilottama kemudia diangkat menjadi bidadari di Surga.

Demikianlah dalam keadaan kritis, dimana kita menghadapi masalah besar, sering kita mendapat masalah tambahan yang juga tak kalah besarnya. Brahma selanjutnya mengutuk Kamadeva, karena tanpa sadar, demi kepuasan pribadi ingin mencoba kekuatan yang membahayakan dunia. Tanpa adanya Shiva, maka Sunda dan Upasunda tidak dapat dikalahkan dan bahkan dunia geger karena kekacauan yang ditimbulkan akibat jatuh cintanya Brahma terhadap Tilottama. Karena Kamadeva bermain-main dengan anak panah asmara demi kesenangan pribadi, yang mempunyai resiko yang amat besar, maka akan tiba saatnya nanti Kamadeva akan berupaya menyelamatkan dunia dengan menggunakan panah asmaranya dan dia akan mengalami resiko yang amat besar. Brahma berkata, “Suatu kali kau akan terbakar oleh mata ketiga Shiva!” Mendengar kutukan tersebut Dewa Rati dan Kamadeva mohon pengampunan. Brahma berkata bahwa sebuah kutukan itu bukan tanpa dasar. Kutukan itu memang harus terjadi, agar hutang perbuatan seseorang di masa lalu segera lunas. Apalagi kalau kutukan tersebut terjadi pada saat seseorang menjalankan dharma kebenaran tanpa pamrih pribadi. “Setelah kau terbakar nanti akan datang Bunda Alam Semesta yang akan mewujud sebagai Lalithadevi yang nanti akan menjadi shaktinya Shiva. Dia akan menghidupkan kamu lagi! ” Sejak saat itu Dewi Rati dan Kamadeva selalu memuja Bunda Lalithadevi.

Sewaktu seseorang mempunyai kekuasaan yang besar dia sering lupa diri, itulah yang terjadi pada asura Sunda dan Upasunda. Mereka hanya mementingkan kenikmatan duniawi, dan kenikmatan duniawi itu bersifat sementara, ada batas waktunya. Dengan pikiran manusia mereka menganggap bahwa mereka saling sayang-menyayangi dengan saudaranya dan tidak mungkin mereka saling berkelahi, tetapi pikiran manusia ada batasnya dan mereka saling bunuh dalam memperebutkan bidadari jelita………  Kamadeva yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar, juga lupa diri, dia menjadi angkuh dan “cengengesan”, bercanda yang keterlaluan yang dapat berakibat merusak dunia. Hanya demi kepuasan pribadi yang bersifat sementara dia mempermainkan Dewa Pencipta. Tetapi peristiwa yang terjadi membuat Kamadeva sadar bahwa seseorang itu selalu diberi kesempatan untuk memilih. Memilih “Preya” yang hanya menyenangkan pikiran dan pancaindra yang bersifat sementara atau memilih “Shreya” yang perupakan tindakan mulia. Saat menghadapi Tarakasura, Kamadeva memilih “Shreya”,  memanahkan anak panahnya kepada Shiva agar segera kawin dengan Parvati dan akhirnya lahir putra yang dapat mengalahkan Tarakasura. Resiko yang besar telah dialaminya dan akhirnya dia mati terbakar oleh mata ketiga Shiva.

Setiap aksi selalu mengakibatkan reaksi, siapa yang menabur akan menuai, oleh karena itu seseorang yang paham tentang hukum alam akan selalu menjalankan dharma kebenaran. Dalam buku “Indonesia Under Attack, Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 disampaikan sebuah nasehat……. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap pekerjaan yang baik akan membawakan hasil yang baik pula. Jaminan apa lagi yang kubutuhkan? Keyakinanku itulah jaminanku. Karena, keyakinan itu bukanlah khayalan atau awan-awan belaka. Keyakinan itu sesuai dengan Hukum Alam, Hukum Aksi Reaksi, Hukum Sebab-Akibat. Sebab itu, sekali lagi kukatakan: Aku tidak membutuhkan jaminan keberhasilan untuk memotivasiku. Aku bekerja karena aku suka bekerja, tidak membutuhkan jaminan keberhasilan. Dan, jika ada seorang pun yang memahami apa yang tengah kulakukan, maka aku sudah merasa terberkati. Karena, dalam Hukum Alam yang kuketahui satu ditambah satu tidak selalu dua………

 

Bagaimana keadaan dunia bila tidak ada kama, tidak nafsu, tidak passion? Masihkah seperti dunia pada saat ini? Silakan menunggu kisah selanjutnya……

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: