Mungkinkah Karma Buruk Diampuni? Renungan Kisah Bunda Alam Semesta Yang Berpihak Kepada Para Dewa


Adalah seorang pencuri bernama Vajra di daerah Kanchipuram. Ia mencuri barang-barang kecil secara bertahap sehingga terkumpul uang yang berjumlah sangat besar. Setelah itu dia ingin mengamankan harta curiannya di tepi sebuah hutan, dengan menggali lubang yang cukup dalam, meletakkan uang tersebut dan kemudian menimbunnya kembali. Seorang pemburu bernama Veeradanta sedang duduk di atas pohon dan mengamati tndakan sang pencuri. Setelah sang pencuri pergi dia mendatangi tempat tersebut, menggali dan mengambil sepersepuluh harta pencuri dan kemudian menutupinya dengan tanah lagi.

 

Dikisahkan bahwa sang pemburu sangat mencintai istrinya dan dia patuh terhadap kata-kata istrinya. Sang istri melihat uang yang dibawa suaminya dan dapat menduga bagaimana cara sang suami mendapatkan uang tersebut. Sang istri kemudian berkata, “Ada beberapa Brahmana datang ke rumah dan meramalkan bahwa kita akan kaya mendadak dan kini ramalan terebut menjadi telah menjadi kenyataan.” Kala sang pemburu berkata akan membeli anggur dan daging, sang istri berkata bahwa para brahmana telah mengingatkan dia bahwa uang yang diperoleh dengan susah payah akan tahan lama, sedangkan uang yang diperoleh dengan mudah akan cepat menguap dan tidak membawa berkah bagi keluarga mereka. Sang pemburu berada dalam kebimbangan setelah merasakan kebenaran kata-kata sang istri. Dia ingat bahwa ibunya pernah berkata, “Belajarlah pada alam! Lihatlah sapi betina, mereka menghasilkan susu tetapi jumlahnya sangat besar melebihi kepentingan untuk menyusui anak-anaknya dan mereka mempersembahkan susunya kepada manusia. Ayam juga bertelur melebih jumlah yang dipakai untuk meneruskan generasinya dan sebagaian besar dipersembahkan kepada manusia. Demikian pula lebah, dia tidak merusak bunga yang diserap tepungsarinya dan dia membuat madu dalam jumlah yang besar. Hanya 10% yang dipakai sebagai makanannya dan sebagian besar dipersembahkan untuk kepentingan manusia. Hati nuraninya berkata bahwa dia telah berbuat kesalahan, tetapi dia juga tahu bahwa uang tersebut adalah uang hasil curian, sehingga mengembalikannya pun tidak membawa kebaikan dunia. Dia akhirnya menyetujui keinginan istrinya untuk mempergunakan uang tersebut untuk berbuat kebaikan bagi dunia.

 

Uang tersebut digunakan untuk menggali sumur dan membuat tandon tempat penyimpanan air di daerah yang tak terjangkau air sungai. Kemudian mereka mulai membuat kuil tempat pemujaan Vishnu dan Shiva di dekat kolam penyimpan air tersebut. Ketika uang untuk pembuatan kuil tersebut habis, maka dia mulai mengambil uang sang pencuri sedikit demi sedikit sampai kuil pemujaan tersebut selesai dan dia mulai memberikan derma kepada para Brahmana yang mengelolan kuil tersebut. Kebetulan kehidupan mereka membaik, sehingga uang curian hanya dipergunakan untuk berbuat kebaikan dan mereka hidup sederhana dengan penghasilan mereka sendiri. Sang pemburu dan istrinya kemudian diberi gelar oleh masyarakat sebagai Dvijavarma dan Shilavati. Tempat tersebut akhirnya berkembang dan diberi nama oleh sang pemburu sebagai Devaratapura, kota Devarata. Devarata adalah nama dari Guru sang pemburu dan istrinya. Setelah beberapa tahun berlalu, sang pemburu beserta istrinya meninggal…..

 

Para utusan Dewa Yama datang akanmengambil jiwa mereka untuk dihukum atas kesalahan mereka mencuri harta curian. Akan tetapi utusan Vishnu dan Shiva pun datang dan meminta mereka tinggal di Kailasha, tempat tinggal Shiva karena perbuatan baik mereka membangun kota. Resi Narada selanjutnya datang dan berkata, “Kalian wahai para utusan Yama, utusan Vishnu dan Shiva tidak punya hak untuk mengambil jiwa mereka. Sang pemburu telah mencuri uang tapi semuanya digunakan untuk berbuat kebaikan, maka sesuai aturan jiwanya tidak boleh diambil, dia akan menjadi hantu sampai pemilik uang yang dicurinya meninggal. Kemudian istri sang pemburu, karena tidak melakukan kejahatan dan dia adalah seorang devoti Shiva, maka dia bisa diambil oleh para utusan Shiva diminta tinggal di Kailasha!” Sang istri kemudian berkata, “Hamba tidak mau tinggal di tempat Shiva sedang suami saya menjadi hantu, saya percaya pada kebijaksanaan Resi Narada, tolonglah saya harus melakukan apa sehingga suami saya tidak menjadi hantu!” Resi Narada sangat senang dan dia memberikan inisiasi mantra kepada sang istri, sehingga sang suami memperoleh ampunan dan dapat tinggal di tempat Shiva bersamanya…….

 

Setelah beberapa saat sang pencuri dan beberapa orang yang dicuri hartanya meninggal. Mereka semua sudah sampai di pintu neraka dan kemudian ditemui oleh Yama, “Walaupun kalian tidak punya keinginan untuk berbuat kebaikan, akan tetapi uang kalian sudah digunakan untuk berbuat kebaikan. Sekarang kalian ingin menerima akibat dari perbuatan buruk kalian lebih dahulu dan tinggal di Neraka, atau kalian lebih memilih menerima akibat dari perbuatan baik lebih dahulu, sehingga kalian bisa tinggal di Kailasha. Mereka serentak menjawab bahwa mereka ingin hidup bahagia dulu di Kailasha, sehingga mereka mempunyai kesempatan bergaul dengan orang-orang bijak dan pada gilirannya akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka di kehidupan masa lalu. Yama berkenan dan mengirimkan mereka sebagai petugas Dvijavarma. Dan karena pergaulan baiknya, kesalahan mereka dihapuskan dan mereka bisa menetap di Kailasha.

 

Mereka yang hidup di dunia dalam keadaan bahagia perlu memaanfaatkan kesempatan kebahagiaan yang dikaruniakan kepada mereka untuk bergaul dengan orang-orang bijak sehingga kesalahan mereka di masa lalu dapat dihapus. Bila demikian dapat terjadi apakah Keberadaan itu tidak adil? Apakah kisah tersebut bisa terjadi pada diri kita, apakah kesalahan kita di masa lalu dapat diampuni? Bisakah kita lepas dari hukum sebab-akibat. Kisah di atas diambil dari Lalitopakhyana, Kisah tentang Dewi Lalitha, dewi yang berada di atas hukum sebab-akibat…….

 

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa di bawah pimpinan Indra terdesak oleh para asura di bawah pimpinan Bali, sehingga para dewa menghadap Narayana. Mereka mohon petunjuk agar mereka dapat terus hidup dalam melawan ketidakbenaran. Narayana memberi petunjuk agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para asura.  Mereka perlu mendapatkan Amerta, obat yang melindungi diri dari kematian. Untuk itu samudera  harus diaduk. Gunung Mandaragiri dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri. Para Dewa harus mendapatkan Amerta yang akan keluar dari samudera. Para dewa diminta fokus pada Amerta. Pada akhirnya keluar Dhanvantari membawa mangkuk Amerta. Para Asura dengan cepat melepaskan Vasuki dan mereka merenggut bejana berisi Amerta. Tiba-tiba terjadilah perebutan diantara para Asura, siapakah yang berhak mencicipi Amerta lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul dan serakah adalah sifat asura. Kemudian suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para Asura ternganga dan langsung menyerahkan bejana berisi Amerta, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.”  Kemudian sang bidadari yang bernama Mohini yang merupakan perwujudan dari Dewi Lalitha meminta para dewa dan para asura duduk dalam posisi baris. Para Asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok Amerta untuk para dewa disisi lainnya.Setelah amerta habis dan Mohini menghilang, para asura kaget karena mereka merasa ditipu oleh wanita cantik tersebut. Mereka kembali berperang melawan dewa, tetapi mereka mengalami kekalahan karena para dewa telah meminum amerta. Bunda Alam Semesta ternyata berpihak kepada para dewa. Dalam kisah Bharatayuda, Sri Krishna pun berpihak kepada Pandawa dan sering membuat tipu muslihat untuk mengalahkan Korawa, seperti meminta Bhima membunuh gajah Aswatama dan diminta berteriak keras-keras “Aswatama mati!” yang diikuti teriakan pasukan Pandawa. Drona, Panglima Korawa minta konfirmasi Yudistira yang mengikuti petunjuk Sri Krishna yang mengkonfirmasi bahwa Aswatama memang mati, sehingga Drona mengalami depresi dan dapat dikalahkan.

 

Apakah Bunda Alam Semesta ini tidak adil. Mari kita renungkan, mungkinkah seseorang mencapai moksha, apabila setiap saat di dalam hidupnya dia selalu mengalami persoalan di dunia yang berpotensi membuat kesadaran menurun? Mungkinkah orang selalu berbuat kebenaran selama hidupnya? Bunda Alam Semesta adalah shakti, energi kehidupan dari manusia. Tanpa energi kehidupan seorang manusia hanyalah jasad belaka. Dan nampaknya Bunda Alam Semesta menyenangi mereka yang berkarya tanpa pamrih. Mereka yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi. Para asura dari dahulu selalu mendahulukan kepentingan pribadi. Mereka menginginkan kekayaan dan kekuasaan di tiga dunia dan mereka sering mendapatkannya, akan tetapi selalu saja kekayaan dan kekuasaan itu bersifat sementara. Di lain pihak para dewa mempunyai komitmen untuk membela kebenaran. Dan mereka selalu berkarya tanpa pamrih pribadi. Mereka tidak memiliki niat selain patuh pada Hyang Maha Kuasa. Bila manusia punya komitmen membela kebenaran, bila manusia berkarya tanpa pamrih pribadi dan manusia selalu mendengarkan hati nurani dan menafikan ego, maka Bunda Alam Semesta pun bisa berpihak pada manusia yang bertindak demikian…….. Bunda Alam Semesta berada di luar hukum sebab-akibat, di luar logika. Dan sebab-akibat berada dalam alam pikiran, lapisan kesadaran mental. Ada beberapa lapisan kesadaran, lapisan kesadaran fisik, energi, mental-emosional, lapisan intelegensia yang berada di atas lapisan mental-emosional dan lapisan kesadaran murni.

 

Kita perlu merenungkan kisah ini. Bisakah kita seperti pemburu Veeradhanta yang sadar bahwa barang curiannya tidak akan memberi berkah dan dia seratus persen menggunakan kekayaan yang diperoleh dengan cara tidak benar untuk dipakai dalam kegiatan kebaikan.

Bisakah kita seperti istri Veradhanta yang meminta suaminya menyedekahkan seluruh harta yang diperoleh suaminya untuk perbuatan mulia.

Bisakah kita bertindak seperti lebah yang bekerja tanpa merusak tempat yang memberi makan kepadanya dan hanya memakai kepentingan pribadi sekitar 10% penghasilannya dan menyisakan yang lain untuk kemaslahatan umum? Mereka yang mendapatkan buddhi/intelegensia seperti lebah akan dikaruniai siddhi, kesaktian dan riddhi, kekayaan.

Bisakah kita seperti pencuri Vajra dan orang-orang yang dicuri hartanya yang memilih hidup bahagia menerima berkah dan menggunakan berkah tersebut untuk bergaul dengan para bijak, sehingga kesalahan masa lalunya dapat diampuni dan selalu hidup bahagia selamanya……. Manusia perlu punya komitmenuntuk  membela kebenaran, manusia perlu selalu berkarya tanpa pamrih pribadi dan manusia perlu untuk selalu mendengarkan hati nurani dan menafikan ego, sehingga Bunda Alam Semesta bisa berpihak dan melindungi manusia yang bertindak seperti demikian……..

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Iklan

2 Tanggapan

  1. malam pak, jadi menurut anda apakah hukum karma itu ada?

    • Terima kasih Sista Jeanny. Tingkat kesadaran setiap orang itu berbeda. Selama seseorang berada dalam lapisan kesadaran mental/emosional dan dia merasa bahwa dirinya adalah mindnya, maka hukum sebab-akibat itu ada. Akan tetapi bila seseorang telah melampaui kesadaran mind, maka dia tidak lagi berada dalam kalachakra, yang terpengaruh waktu, dia akan berada dalam dharma chakra. Seperti air yang hanya melakukan tugasnya, melakukan kehendak-Nya bukan kehendak pribadinya maka dia sudah lepas dari hukum sebab-akibat.
      Salam __/\__

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: