Mungkinkah Dunia Berkembang Tanpa Adanya Nafsu, Kisah Kelahiran Bhandasura Setelah Kematian Kamadeva


Apa yang terjadi pada dunia, apabila nafsu telah musnah? Mungkinkah dunia bertahan tanpa adanya nafsu? Kisah ini bersumber pada kisah Lalitopakhyana, kisah Bunda Alam Semesta. Pada suatu saat Kamajaya yang juga disebut Kamadeva (dewa kama) atau Manmatha (pengaduk hati) melepaskan anak panahnya kepada Shiva, yang membuat Shiva tergerak memperhatikan Parvati. Tetapi Shiva kemudian sadar, bahwa musim semi datang bukan pada saatnya, dan Shiva berpikir, mengapa hatinya berkembang seperti munculnya tunas pada musim semi? Saat Shiva melihat Kamadeva sedang bersembunyi, dia paham bahwa ini pasti karena tindakan Kamadeva dan kemudian dia mengarahkan mata ketiganya sehingga terbakarlah Kamadeva.

 

Kamadeva yang mempunyai kekuasaan besar dalam membantu terjadinya penciptaan, pernah lupa diri, dia pernah menjadi angkuh dan “cengengesan”, bercanda yang keterlaluan yang dapat merusak dunia. Hanya demi kepuasan pribadi yang bersifat sementara dia mempermainkan Brahma sehingga Dewa Pencipta ini terpukau dengan kecantikan Dewi Tilottama. Setelah Brahma diselamatkan Shiva, dia mengutuk bahwa suatu saat Kamadeva akan mati terbakar oleh Shiva. Kamadeva kemudian mulai sadar bahwa seseorang itu selalu diberi kesempatan untuk memilih. Memilih “Preya” yang hanya menyenangkan pikiran dan pancaindra yang bersifat sementara atau memilih “Shreya” yang perupakan tindakan mulia yang bersifat abadi. Saat menghadapi Tarakasura, Kamadeva memilih “Shreya”,  dia memanahkan anak panahnya kepada Shiva agar Shiva segera kawin dengan Parvati dan melahirkan putra yang dapat mengalahkan Tarakasura. Resiko besar telah dialaminya dan akhirnya dia mati terbakar oleh mata ketiga Shiva. Kematian yang merupakan pengorbanan bagi keselamatan semesta.

 

Pada suatu ketika Chitrakarma, salah satu komandan pasukan Shiva mengambil abu Kamadeva dan membentuk sebuah boneka dan membawanya ke hadapan Shiva. Secara tak terduga Shiva menghidupkan boneka yang kemudian bersujud pada Shiva dan Chitrakarma. Chitrakarma sangat senang dan meminta anak tersebut bertapa. Setelah bertapa ribuan tahun datanglah Shiva kepada anak tersebut. Sang anak mohon kepada Shiva agar memberi karunia, agar siapa pun yang bertarung dengannya akan kehilangan separuh kekuatannya yang akan berakumulasi menjadi tambahan kekuatan dirinya. Sang anak juga meminta bahwa tak ada senjata yang dapat mengalahkannya.

 

Shiva mengabulkan permohonannya dan memberi anugerah tambahan untuk memerintah kerajaan selama enam puluh ribu tahun. Brahma menamakan anak tersebut Bhanda, karena sifatnya sebagai asura yang sangat terikat pada keduniawian, oleh karena itu ia sering disebut Bhandasura. Dari sisa abu Kamadewa kemudian lahir asura Vishukra dan asura Vishanga yang menjadi saudara Bandhasura dan lahir juga ribuan raksasa. Mereka membentuk pasukan yang sangat kuat yang terdiri dari 300 Akshouhini ( 1 akshouhini terdiri dari 21.870 gajah, 65.610 kuda dan 109.350 prajurit). Guru mereka adalah Shukracharya. Mereka kemudian membuat kota baru bernama Shoonyaka Pattana. Mereka selalu mengadakan upacara ritual dengan teratur.

 

Ketika kerajaan sudah mapan, Bhandasura mengadakan pertemuan dengan kedua saudara dan para menterinya. Bhandasura berkata: “Dewa adalah musuh kita, selama Kamadeva masih hidup, mereka meneruskan garis keturunan dengan baik. Mereka juga telah menikmati banyak kesenangan karena adanya kama (nafsu). Kini keberuntungan ada di pihak kita. Kita lahir dari abu Kamadeva. Para dewa kini tengah berupaya untuk melahirkan Kamadeva dan itu jangan sampai terjadi. Mari kita membunuh para dewa. Akan tetapi jika kita masih dalam bentuk seperti ini, kita sulit untuk menang. Mari kita mewujud sebagai angin/udara dan memasuki tubuh mereka. Setelah masuk ke dalam tubuh mereka, kita keringkan cairan tubuh mereka terutama air maninya. Jika air mani atau ‘liquid energy’ tersebut mengering, maka kekuatan organ tubuh akan berkurang secara otomatis!” Seluruh komandan balatentara asura bersorak dengan penuh sukacita atas ajakan Bhandasura.

 

Mereka kemudian mulai memasuki otak para dewa dan mengeringkan pemikiran mereka. Mereka juga merasuk ke dalam wajah dan merampok kecantikan dan ketampanan para dewi dan dewa. Semua pria dan wanita di surga menjadi mandul dan menjemukan. Selain itu para dewa-dewi juga kehilangan rasa kasih sayang.  Bahkan tanaman dan hewan pun mulai mengalami nasib yang sama. Vishukra bersama rombongannya masuk bumi dan orang-orang di bumi berhenti tersenyum. Penduduk bumi kehilangan rasa kebahagiaan dan rasa hormat, menjadi seperti batu yang tidak memiliki kehidupan dan perasaan. Vishanga bersama rombongannya memasuki Rasaatala dan menciptakan keadaan serupa.

 

Dari 5 elemen alami, tanah adalah kombinasi dari semua elemen, sedangkan ruang adalah tempatnya kehidupan, sehingga elemen yang pengaruhnya sangat besar adalah air, api dan angin. Ketiga elemen tersebut membentuk “rasa”, cairan kehidupan. Rasa adalah awal keberadaan kehidupan. Rasa membentuk darah. Darah membentuk daging. Daging membentuk tulang. Tulang membentuk sumsum. Sumsum membentuk veerya (sperma/ovum). Dari veerya datang Kanti (cahaya), Utsaaha (antusiasme), Ullasa (kebahagiaan), dharma (kebenaran), daya (Kasih-sayang), Preeti (cinta), buddhi (kemapuan intelegensia), vikasa (pembangun), parakrama (keberanian), shastra vijnana (pengetahuan), kala asakti (seni), soundarya drishti (ketepatan kecantikan) dan lain-lain. Pada tumbuhan, rasa meningkatkan energi api yang berupa potensi di dalam tumbuhan. Energi api menghasilkan bunga dan buah-buahan. Karena berpotensi api, maka kayu kering akan cepat terbakar. Veda mengatakan bahwa makhluk mengalami kebahagiaan jika “rasa” hadir. Bhandasura memahami hal ini. Para asura di bawah pimpinan Bhandasura masuk ke dalam semua makhluk dan mengeringkan “rasa”. Bahkan matahari, bulan dan bintang telah kehilangan kecemerlangannya. Demikian Vasanta menyampaikan penjelasan kepada Dewi Rati dan kemudian mengatakan bahwa sudah semakin dekat waktu Kamadeva hidup kembali.  Dewi Rati segera bertapa dengan tekun.

 

Brahma dan semua dewa menghadap Sri Vishnu. Kata Viṣhṇu berasal dari Bahasa Sanskerta, akar katanya vish, (yang berarti “menempati”, “memasuki”, juga berarti “mengisi”), dan mendapat akhiran nu. Kata Vishnu kira-kira diartikan: “Sesuatu yang menempati segalanya”. Adi Shankara dalam Vishnu Sahasranama, mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya sebagai “yang hadir dimana pun”. Mereka menemui Sri Vishnu dalam keadaan “sushupti”, “deep sleep”. Vishnu berkata kepada para dewa: “Ini semua adalah permainan jahat Bhandasura. Kita semua adalah “causal body”, dan walaupun saya Brahma dan Shiva mewujudkan penciptaan, kami  masih terpengaruh oleh Bhandasura, karena kami masih menghuni penciptaan. Akan tetapi ada Dia yang berada di luar manifestasi penciptaan, dia disebut Maha Shambhu dimana Parashakti terus-menerus mendampinginya. Dia tanpa bentuk, tidak tergantung dan tidak berubah. Dia tidak akan dapat dipengaruhi oleh Bhandasura. Mari kita semua menghadapnya!”

 

Para dewa memasuki Chinmaya Akasha yang bebas, murni dan bebas dari 5 elemen alami. Dan mereka melihat Maha Shambhu dan Parashakti. Maha Shambhu berkata, “Saya paham mengapa kalian ke sini. Ada 3 macam pralaya: Avaantara Pralaya, MahaPralaya dan Kama Pralaya. Saya bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari Maha Pralaya. Vishnu bertanggungjawab menyelamatkan dari Aavantara Pralaya. Dan, Lalita Parameshwari yang akan menyelamatkan dunia dari Kama Pralaya. Ketiga macam Pralaya berlangsung dalam pola siklus dalam setiap Kalpa. Kama Pralaya atau Kaamika Pralaya telah terjadi karena matinya Kama dan tindakan Bhandasura mengeringkan rasa. Hanya Lalita Devi yang dapat menyelamatkan situasi saat ini. Oleh karena itu, berlindunglah dalam dirinya. Mohon Dia untuk membantu kalian!” Mendengar ini, para dewa tidak tahu harus berbuat apa dan mohon Maha Shambhu untuk mengajari mereka bagaimana meminta bantuan Parashakti.

Maha Shambhu menjelaskan bahwa mereka harus mengadakan acara ritual Maha Yaga, sebuah ritual pengorbanan lewat api. Pada saat api tersebut menyala, kalian semua harus meloncat ke dalam api. Kalian harus memiliki pengabdian mutlak. Selanjutnya Lalita Paramesgvari akan mencipta Parambrahma atas nama Kameshvara. Lalita Parameshvari atau sering disebut sebagai Bunda Ilahi atau Bunda Tripurasundari adalah “aku”-nya Kameshvara yang adalah nama lain dari Paramashiva. Bunda Ilahi akan menciptakan kembali seluruh alam semesta dan membuat Kamadeva hidup kembali. Dia akan membuat 4 senjata yaitu Ikshu Dhanus, busur dari batang tebu; Pushpa Banas, anak panah dari 5 macam bunga; Paasha, tali pengikat kasih sayang; dan Ankusha, alat pengait gajah. Dengan senjata ini Dia akan menghancurkan Bhandasura.

 

Konon demikianlah yang terjadi, Bunda Lalita Devi (Dia yang bangkit dari api pengetahuan dan kebenaran sejati) mengalahkan “Bhandasura” (sifat “keterikatan” dalam diri). Balatentara Bunda Ilahi membunuh Vishanga, saudara Bhanda yang merupakan keinginan untuk hal-hal yang bersifat fisik. BalatentaraNya juga membunuh Vishuka, saudara Bhanda yang merupakan personifikasi dari “ignorance”, ketidaktahuan. Bunda Tripurasundari atau Parashakti adalah yang mencipta Ganesha, penghancur rintangan untuk memusnahkan hambatan “penundaan” yang dibuat oleh Vishuka. Adi Shankara bahkan menyebutkan bahwa Shiva dapat mencipta dunia karena adanya Parashakti di dalamnya, tanpa shakti Shiva tidak dapat bergerak (Shava atau mayat adalah ShIva tanpa I-energi). Ini mengingatkan diri kita bahwa kita bisa bergerak karena ada energi, adanya zat hidup dalam diri kita. Tanpa adanya zat hidup kita hanya berupa jasad. Apa yang harus kita sombongkan? Mengapa kita hanya menuruti nafsu kita? Mari kita belajar mengalahkan keterikatan kita pada panca indra, pada keinginan-keinginan fsik dan mari kita mengalahkan ignorance, ketidaktahuan diri yang menganggap diri kita adalah fisik kita atau pikiran/mental-emosional kita. Kita harus meningkatkan kesadaran sampai mencapai buddhi, pikiran yang telah jernih yang tidak terperangkap dalam ignorance, ketidaktahuan tentang siapa jatidiri kita………… Konon Arjuna memohon pada Bunda Ilahi sebelum perang dengan Korawa dan demikian juga yang dilakukan Sri Rama saat akan berperang melawan Rahvana……..

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: