Arjuna Pun Berdoa Kepada Bunda Alam Semesta Sebelum Memulai Perang Bharatayuda


Pada abad ke 11, Dewi Durga adalah kekuatan/energi feminin yang dipuja oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan (1009-1042). Kemudian Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari  juga memuja Kekuatan Feminin Dewi Chamundi salah satu nama dari Dewi Durga. Akan tetapi pada abad 15 ditulislah beberapa kitab antara lain Tantu Panggelaran,  Sudamala, Kidung Sri Tanjung, Korawasrama yang menggambarkan Bathari Durga sebagai Dewi yang berpenampilan mengerikan yang merupakan istri Shiwa yang dikutuk karena berbuat salah. Kemudian Hikayat Calon Arang yang menceritakan tentang pemujaan Bathari Durga sebagai kekuatan jahat juga ditulis pada abad ke 16. Dalam kisah-kisah yang ada di Indonesia, Sadewa meruwat Bathari Durga kembali menjadi Dewi Uma. Dan Dewi Uma mencabut mantra yang diberikan kepada raksasa Kalantaka dan Kalanjaya, sehingga sekutu Korawa tersebut dapat dikalahkan Pandawa. Dalam kisah versi lain Raden Wisanggeni putra Arjuna dengan Dewi Dersanala diperalat Sri Krishna untuk menghadap Sang Hyang Wenang menanyakan apakah perang Bharatayuda akan terjadi atau tidak karena Bathari Durga akan memangsa Pandawa yang masuk kriteria “sukerta”. Wisanggeni dianugerahi senjata Gada Inten untuk mengalahkan Bathari Durga dan Bathara Kala yang berpihak kepada Korawa. Dan setelah mereka ditaklukkan Raden Wisanggeni pergi ke kahyangan. Mengapa Bathari Durga dianggap jahat sejak abad ke 15 sedangkan pada abad ke 11 dipuja silakan baca: http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/23/mencermati-perubahan-karakter-legenda-dewi-feminin-durga-menjadi-bathari-maskulin-ganas-durga/

Membaca artikel “Arjuna’s Hymn to Mother Durga” (Arjuna Krta Devi Stotram) pada http://www.dipika.org.za/index.php?option=com_content&view=article&id=15:arjunas-hymn-to-mother-durga&catid=1:articles&Itemid=2 kita akan membaca bahwa Arjuna berdoa kepada Dewi Durga sebelum maju perang……… Dalam kisah Mahabharata – Bisma Parva-Bagian XXIII Bhagavad Gita Parva. Sri Krishna berkata kepada Arjuna untuk mensucikan diri dengan membaca pemujaan kepada Dewi Durga untuk mencapai kemenangan dalam peperangan seperti.

Arjuna kemudian berdoa memuja Dewi Durga: “Kami tunduk, wahai Siddha terkemuka, yang mulia yang bersemayam di hutan Mandara, wahai Bunda Kali! istri Kapala! Dengan rona hitam dan kuning kecoklatan. Kami menghormati-Mu. Wahai Bunda Kali Yang Pemurah, kami menghormati Engkau. Kami menghormati Engkau, wahai BundaTara, Sang Dewi Penyelamat, maka anugerahilah kami. Wahai Bunda Durga! Zat yang menganugerahkan kemenangan! Wahai personifikasi dari Kemenangan! Wahai yang mengenakan bendera bulu merak, yang dihiasi dengan segala ornamen indah. Wahai yang menggunakan tombak, pemegang pedang dan perisai. Yang lahir sebagai saudari Sri Krishna. Yang lahir dari keluarga gembala Nanda (Dewi Mahamaya yang menjadi putri Nanda diyakini sebagai salah satu wujud Durga). Yang mengenakan jubah kuning yang melahap Asura, kami menghormati Engkau yang tegas dalam pertempuran. Wahai Bunda Uma, wahai Sakambari, yang berwarna putih dan juga hitam. Wahai pembunuh Asura Kaitabha. Wahai yang melihat segalanya. Wahai yang memiliki mata berwarna asap yang melihat segalanya. Kami tunduk kepada-Mu. Engkau adalah Veda, Shruti, dan kebajikan besar. Para brahmana melakukan persembahan kepada-Mu. Engkau yang selalu hadir di kediaman suci yang didirikan untuk-Mu. Kami tunduk kepada-Mu. Engkau adalah pengetahuan yang tertinggi, di antara ilmu kebenaran. Wahai Ibu Skanda, pemilik 6 atribut keilahian. Yang bersemayam di wilayah yang terisolir. Engkau dipanggil Svaha, Svadha, Kala dan Kashta. Engkau adalah Dewi Pengetahuan Saraswati dan Ibu dari Veda serta personifikasi dari Vedanta. Dengan pikiran yang telah dimurnikan, kami memuji Engkau, wahai Dewi Mulia, biarkan kemenangan selalu menghadiri kami melalui kasih karunia-Mu di medan perang. Di daerah terisolir, dimana ada ketakutan, di tempat-tempat kesulitan, di dengan tempat tinggal kelompok dan di daerah Patala bawah, Engkau selalu hadir. Dalam setiap pertempuran Engkau selalu mengalahkan asura. Engkau adalah ketidaksadaran, tidur, dan mimpi. Engkau adalah keindahan semua makhluk. Engkau adalahsumber cahaya yang berkilau. Engkau Savitri, ibu semua ciptaan. Engkau adalah kepuasan, pengembangan, ketabahan. Engkau meningkatkan sinar matahari dan bulan. Engkau adalah kesejahteraan dari mereka yang makmur. Para siddha dan Charana melihat Engkau dalam meditasi yang dalam………

Sanjaya sang pelihat yang melapor kepada Drestarastra (seperti dalam Bhagavad Gita) mengatakan: “Mengetahui upaya pengabdian Arjuna, Dewi Durga muncul di hadapan Sri Krishna dan Arjuna dan mengucapkan kata-kata: ……..Dalam waktu singkat kamu pasti akan menaklukkan musuhmu, wahai kesatria Pandawa yang tak terkalahkan, kamu memiliki Narayana (Sri Krishna) sebagai bantuan bagimu dan dia tidak mampu dikalahkan oleh musuh!……. Setelah mengatakan ini, Sang Dewi pemberi anugerah segera menghilang. Kemudian Arjuna dan Sri Krishna naik kereta perangnya”………. versi bertemunya Arjuna dengan Dewi Durga, ataupun versi yang kita kenal tentang kesaksian Arjuna melihat wujud asli Sri Krishna disebutkan sebagai tingkat kesadaran kosmis yang telah dicapai Arjuna. Arjuna mengetahui siapa jatidirinya…….

Dalam kitab Srimad Bhagavatam sering disebutkan bahwa energi atau daya gerak itu berasal dari kekuatan feminin, itulah sebabnya energi disebut Shakti. Tanpa energi, manusia hanya berupa jasad atau mayat. Dewi Durga adalah Shaktinya ShIva. Oleh karena itu “ShIva” ditulis dengan I besar, tanpa I besar (yang bermakna energi) ShIva akan menjadi Shava atau mayat. Dewi Durga adalah simbol dari kekuatan shakti awal mula atau “parashakti”. Matahari bersinar menghidupi manusia di bumi, akan tetapi shakti (disebut Savitri) adalah energi yang membuat matahari bersinar. Shakti ada dalam setiap makhluk hidup. Demikianlah atas nasehat Sri Krishna, Arjuna berdoa kepada Dewi Durga personifikasi dari Bunda Alam semesta……. dalam kisah Srimad Bhagavatam disebutkan bahwa pada masa kecilnya, Sri Krishna punya ayah angkat bernama Nanda dan Sri Krishna bersahabat dengan para gopala (penggembala) dan para gopi dimana mereka adalah pemuja Dewi Katyayani yang merupakan salah satu wujud dari Dewi Durga. Para gopi disebutkan berdoa kepada Dewi Katyayani agar mereka menjadi pasangan Sri Krishna. Dewi Durga adalah Mahamaya, Mahalaksmi, Srimati Radharani, Sarasvati  dan wujud dari semua shakti lainnya……

Manusia perlu ingat asal-usulnya, jatidirinya dengan mengingat “Bunda Alam Semesta”. Keilahian. Adalah karena manusia mempunyai pikiran, mempunyai mind, dan percaya kepada mindnya, maka manusia mulai menjauh dari keilahian. Sebelum menuju perang Bharatayuda, Arjuna diingatkan Sri Krishna agar dia menyadari siapa jatidirinya……… Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan…….. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan kesadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita………

…….Kesadaran Kosmis, atau kesadaran akan kemanunggalan diri dengan Roh Hyang Kekal Abadi hanya dapat diraih dan dipertahankan dengan upaya yang sungguh-sungguh dan secara terus-menerus. Upaya yang dimaksud adalah hal ini adalah upaya mental, upaya pikiran. Pikiran yang senantiasa memikirkan, menginginkan, dan mengupayakan kemanunggalannya dengan Roh, dengan Allah Bapa… Ini yang disebut Doa. Doa bukanlah untuk “membangun” hubungan dengan Tuhan karena, hubungan itu sudah ada. Doa adalah upaya kita untuk menyadari hubungan itu, hubungan yang sudah ada. Doa adalah upaya pikiran untuk selalu mengingat hubungan itu, untuk senantiasa memikirkan hubungan itu, supaya kemanunggalan diri terasa setiap saat. Sesungguhnya, doa tidak memiliki tujuan lain. Satu-satunya tujuan doa adalah kemanunggalan dengan Roh karena segala sesuatu yang lain sudah ada dalam kemanunggalan dengan Roh itu. Hendaknya kita tidak mencari kesehatan, kedamaian, kekayaan, ataupun kekuatan dan kekuasaan lewat doa. Doa kita, hendaknya untuk menyadari kemanunggalan kita dengan Tuhan…  itu saja. Setelah manunggal, kesehatan, kedamaian, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan lain sebagainya akan menjadi milik kita dengan sendirinya……..

……..Apa yang menjadi inti dari permintaan Yesus bagi kita, umat manusia? “Mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar”. (Yohanes 17 : 3). “Semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita” (Yohanes 17 : 21). Itulah inti doa Yesus bagi kita : “Mengenal Tuhan dan menyatu dengan-Nya.” Tiada sesuatu yang lebih penting, itulah hal terpenting. Untuk kepentingan itulah Yesus berdoa. Setiap orang yang telah meraih kesadaran spiritual, atau rohani setiap orang yang telah mengenal Tuhan atau Roh – akan dengan sendirinya meraih kesehatan, kedamaian, kekuasaan, dan kekayaan. Lewat ajaran dan kehidupan-Nya sendiri Yesus menjelaskan betapa pentingnya doa itu. Bagi Yesus doa adalah bagian dari keseharian hidup. Perjanjian baru bercerita banyak tentang kebiasaan-kebiasaan-Nya menarik diri dari keramaian untuk berdoa, bahkan untuk sepanjang malam. Dari pengalaman-Nya itu, kita boleh menyimpulkan bila Ia dapat mempertahankan kemanunggalan-Nya dengan Allah Bapa, dengan Roh karena pengulangan yang dilakukan-Nya secara intensif. Bagi Yesus, doa ibarat afirmasi yang diulanginya terus menerus……. Dengan menggunakan badan dan indra, kita tidak mungkin merasakan kemanunggalan diri dengan-Nya. Ada kalanya, badan kita indra malah menolak keberadaan Tuhan karena mereka tidak bisa menggapai-Nya. Untuk menggapai kesadaran kosmis, doa mesti, terlebih dahulu, memicu roh dalam diri manusia, supaya terungkap. Supaya mulai berkarya. Kemudian, mempersatukan roh itu dengan Roh Agung, dengan Sumber Tunggal, Allah Bapa, Tuhan. Nah, roh dalam diri manusia – kesadaran, atau “aku” dalam diri setiap insan hanya akan terpicu jika ada strong will power, kehendak, yang sangat kuat. Siapa yang mesti berkehendak atau berkeinginan kuat? Manusia sendiri, “aku” dalam diri setiap insan, atau kesadaran “ku” sendiri. Pendekatan Yesus dalam hal ini, boleh dikata, sangat ilmiah. Dasar yang diletakkan-Nya untuk meraih kesadaran kosmis adalah : Berkehendak atau berkeinginan kuat untuk menjalani Kehendak Allah. Ia sendiri melakukan hal yang sama. Dan, ia pun mengaku bila segala kekuatan yang dimilikinya berasal dari Roh, dari Allah Bapa, dan Tuhan karena Ia menjalani kehendak-Nya. “Siapa pun yang berkehendak untuk menjalani Kehendak Allah” kata Yesus, “Akan tahu” ya mereka akan tahu dari pengalaman pribadi karena saat itu mereka pun memperoleh segala kekuatan dan kekuasaan. Berkehendak untuk menjalani Kehendak Allah Bapa berarti, mengindahkan setiap kata yang terucap oleh-Nya, dan, mengerjakan pekerjaan-Nya. Itulah langkah pertama menuju kemanunggalan. Dalam hal ini kita melihat bahwasannya “doa penuh keyakinan” untuk satu hal yang sama, tidak bisa, dan tidak perlu diucapkan dua kali. Cukup satu kali saja. Setelah menyampaikan permintaan lewat doa penuh keyakinan, kita mesti percaya bahwa apa yang kita minta dan doakan itu telah kita terima. Selanjutnya, doa kita bukanlah untuk permintaan yang sama, tetapi untuk mensyukuri apa yang telah kita terima. Berarti : Sekali minta dengan penuh keyakinan, selanjutnya bersyukur atas terkabulnya permintaan itu. Dan selanjutnya menjadi afirmasi penerimaan, mengiyakan, mensyukuri, mengamini apa yang telah kita terima……..

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: