Keangkuhan Menjadi Awal Bencana, Belajar Dari Kesalahan Dewa Indra Dalam Kitab Lalitopakhyana


Resi Agastya

Dikisahkan Resi Agastya pindah dari India Utara ke India Selatan. Dengan kehadiran sang resi seluruh masyarakat India Selatan mulai berangsur-angsur menjadi saleh dan sejahtera. Resi Agastya adalah seorang chiranjivin, seseorang yang dikaruniai usia sangat panjang, sehingga dia diyakini masih hidup bahkan sampai saaat ini. Chiram – lama, jivi – hidup, hidup lama. Seorang chiranjivin tidak imortal, tidak abadi, tetapi berusia sangat panjang. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan beberapa chiranjivin: Agastya, Markandeya, Bali, Parashurama, Hanuman, Vyasa, Ashwatthama, Kripa.

 

Dalam buku “Shalala, Merayakan Hidup”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Di India Selatan Agastya hidup dalam pengasingan. Semacam self-exile – mengasingkan diri. Jauh dari keramaian. Bersama Lopamudra, Agastya menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran……… Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar. Semar, Agastya adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka. Ya, Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia “beragama” semakin fanatik. Indonesia mulai melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendikiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Dan itu jelas salah. Agastya juga ingin beristirahat sebentar. Ingin tidur sebentar di pangkuan “Himalaya”.  Agastya ingin mengunjungi tempat-tempat suci yang bermunculan dalam 5.000 tahun terakhir. Tetapi sekarang beliau sudah kembali ke Indonesia……

 

Zaman berubah dari Krta Yuga ke Treta Yuga, masuk Dvapara Yuga dan kemudian Kali Yuga. Di zaman Kali Yuga, sifat-sifat jahat berkembang lebih pesat, manusia nampak semakin egois dan menjadi budak dari pancaindra dan ini membuat Sang Resi sangat sedih. Resi Agastya kemudian pergi berziarah di wilayah India Selatan. Setelah mencapai Kanchi (Tamil Nadu) sang resi melakukan tapa berat. Sri Vishnu mewujud sebagai Hayagreeva dan menemui sang resi. Agastya bertanya, “Wahai Penguasa Alam, adakah jalan keselamatan bagi mereka yang berada dalam  “ignorance”, yang tidak mengetahui Kebenaran, tidak mengenal siapa jatidirinya pada zaman Kali Yuga ini?” Hayagreeva menjawab, “Ada dua buah cara. Cara pertama adalah menyangkal segala sesuatu – Ini bukan Kebenaran, itu bukan Kebenaran. Dengan Gyaana Yoga mereka dapat mencapai Kebenaran tentang “Attributeless”, sifat Keberadaan yang tanpa sifat. Ini adalah sebuah cara yang sangat sulit. Kemudian, cara kedua adalah tunduk dan menjadi devoti dari Bunda Ilahi yang berwujud. Bahkan orang yang melakukan kesalahan pun dapat mengambil jalan ini. Banyak yang mendapatkan keselamatan lewat jalan ini!” Resi Agastya kemudian minta Hayagreeva menceritakan tentang Bunda Ilahi. Demikianlah asal usul kitab Lalitopakhyana, Kisah Dewi Lalita, Sang Bunda Ilahi.

 

Resi Agastya

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna menyampaikan bahwa mereka yang memfokuskan pikiran mereka pada wujud-Nya dan selalu terlibat dalam persembahan kepada-Nya dengan penuh keyakinan adalah paling baik. Demikian pula mereka yang melakukan persembahan kepada yang tidak berwujud, yang melampaui persepsi indra, yang berada di mana-mana akan mencapai-Nya juga. Tuhan mempunyai wujud sekaligus tidak mempunyai wujud, karena dia berada di luar logika kita. Bila Dia dipaksakan masuk dalam logika maka Dia sudah di-bonsai karena Dia dapat dimasukkan dalam pikiran yang terbatas. Dia akan menjadi Tuhan konsep, yang dikonsepkan oleh pikiran manusia, bukan Tuhan yang sesungguhnya. Apabila kita yakin pada Tuhan, apakah Tuhan berwujud atau tidak berwujud, Dia selalu mendengarkan doa kita, dan selalu bersama kita dan selalu melimpahkan karunia kepada kita.

 

Dikisahkan dalam sebuah kuil di Bengal Dia diwujudkan oleh seorang pembuat patung dalam bentuk Bunda Alam Semesta yang sangat indah dan memberikan inspirasi yang dalam. Pada suatu hari seorang pertapa tua yang berjalan menggunakan tongkat masuk ke dalam kuil tersebut. Mendekati altar dia berkata, “Bunda disebut Tuhan; katakan sebenarnya Bunda, apakah Bunda seperti gambaran pada patung batu ini atau Bunda itu tanpa wujud, tidak dapat dijelaskan dan tidak mungkin disentuh?” Kemudian sang pertapa mendengar suara, “pukul tubuh saya pada bagian kiri!” dan sang pertapa memukulnya dan terdengar bunyi “daak” dari tongkat yang bertemu batu. Kemudian terdengar suara lagi, “Sekarang pukul sebelah kanan!” Saat sang pertapa memukulkan tongkatnya ke bagian kanan tubuh patung Bunda Alam Semesta, tongkat tersebut seperti melewati udara saja. Sang pertapa berpikir Tuhan bisa berwujud atau tidak berwujud pada saat yang sama. Dan……. sang pertapa tersebut adalah Sri Ramakrishna Paramhansa guru Svami Vivekananda.

 

Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya……. Bagi para panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dari Brahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada seseorang sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru………

 

Dalam kitab Lalitopakhyana dikisahkan bahwa Brihaspati, guru Indra dan para dewa mengatakan bahwa di masa lalu, Diti, istri kedua Kashyapa melahirkan seorang putra dengan nama Danu dan seorang anak perempuan bernama Rupavati. Danu adalah pendahulu dari ras Danava (Asura). Rupavati menikah dengan Tvasta dan mempunyai anak Vishvarupa. Dia melakukan tapa yang berat dan memiliki banyak sifat keilahian, akan tetapi dia adalah keponakan seorang asura, sehingga dia dekat dengan dewa maupun asura. Dikisahkan, beberapa waktu setelah menjadi raja para dewa, Indra berubah menjadi angkuh. Pada suatu saat Indra duduk dengan Saci, sang istri di sampingnya dan sedang mendengarkan nyanyian para gandharwa dan menikmati tarian para apsara. Seluruh dewa dari empat penjuru menghormatinya. Brihaspati, sang guru datang ke istana dan Indra tidak bangun untuk menghormati gurunya. Indra telah melanggar “guru devotion” dan akan menerima malapetaka besar. Brihaspati segera meninggalkan istana dan Indra yang telah sadar mencarinya, akan tetapi tidak ketemu jua.

 

Para Asura segera mengambil keuntungan dari keadaan Indra yang ditinggalkan gurunya dan mereka segera menyerang istana para dewa. Dan, Indra beserta para dewa dikalahkan. Para dewa kemudian berlindung kepada Sri Vishnu yang menyarankan agar Indra minta Vishvarupa, putra Tvasta untuk membantu mereka. Indra dan para dewa kemudian mendatangi Vishvarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Vishvarupa kemudian memberikan Indra  baju pelindung besi yang kuat bernama “Narayana Kavacha”. Para dewa juga diajari membaca mantram suci kavacha, “Om Namo Narayanaya”. Setiap bagian tubuh, diliputi pikiran dan perasaan yang terfokus terhadap Narayana, sehingga jiwanya dilindungi oleh Narayana. Dengan baju pelindung besi tersebut, maka Indra dapat mengusir para Asura dari istana para dewa. Dikisahkan bahwa Vishvarupa adalah seorang yang mempunyai sifat dewa maupun asura, sehingga dalam suatu upacara persembahan dia mendahulukan kepentingan asura daripada para dewa. Indra yang emosional langsung membunuh Vishvarupa. Akan tetapi kembali Indra sadar dan menyesal telah membunuh seorang brahmana (dikenal sebagai kesalahan brahmahatya) bahkan yang telah membantu dirinya. Kemudian Indra membagi akibat dari kesalahan membunuh seorang brahmana kepada tanah, air, pohon dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang meminumnya, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya. Sri Vishnu kemudian memberikan kompensasi bahwa lubang-lubang bumi dapat terisi, pepohonan yang telah terpotong bisa hidupkan kembali, air kotor yang menguap setelah mengembun bisa diminum kembali dan perempuan dapat melahirkan anak-anak.

 

Sekali lagi Indra menjadi makmur. Namun, egonya segera meningkat lagi, bahkan hormatnya kepada Shiva mulai berkurang. Shiva kemudian minta Resi Durvasa menemui Indra. Sang Resi mengambil wujud seorang pengemis yang buruk rupa. Dalam perjalanan sang pengemis bertemu seorang bidadari yang memegang karangan bunga yang indah dan bertanya, “Darimana Anda memperoleh karangan bunga yang indah tersebut?” Sang bidadari menyadari bahwa di depannya adalah seorang suci dan dia langsung bersujud dan menjawab, “Kami baru saja melakukan persembahan kepada Bunda Ilahi dan kami diberi karangan bunga ini sebagai prasadam!” Sang pengemis minta karangan bunga tersebut dan sang bidadari memberikannya dengan penuh kerelaan. Sang pengemis kemudian bertemu Indra yang sedang naik Gajah Airavata. Indra yang egonya sedang naik, tidak peka dengan siapa yang ada di hadapannya. Saat sang pengemis berkata, “Indra ini adalah karangan bunga dari Bunda Ilahi, silakan ambil!” Indra menerima dan kemudian melemparnya ke kaki Gajah Airavata yang segera menginjaknya. Resi Durvasa kemudian mengutuk Indra, “Engkau terlalu angkuh, engkau tidak dapat mengenali prasadam dari Bunda Ilahi, karena itu kemakmuran Anda segera lenyap!” Indra kemudian sadar, tetapi sang resi telah menghilang.

 

Lalita Tripurasundari

Tidak berapa lama para Asura mengalahkan dewa dan Indra melarikan diri. Kemudian Indra meminta bantuan Sri Vishnu. Sri Vishnu memberi petunjuk kepada para dewa, agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para asura.  Mereka perlu mendapatkan Amerta, obat yang melindungi diri dari kematian. Untuk itu samudera  harus diaduk. Gunung Mandaragiri dapat di jadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri. Para Dewa harus mendapatkan Amerta yang akan keluar dari samudera. Para dewa kemudian dibantu oleh Bunda Ilahi yang mewujud sebagai Dewi Mohini. Silakan lihat kisahnya pada http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/14/mungkinkah-karma-buruk-diampuni-renungan-kisah-bunda-alam-semesta-yang-berpihak-kepada-para-dewa/

 

Indra memang sering berbuat kesalahan, akan tetapi komitmennya untuk membasmi kejahatan tidak pernah luntur. Apakah Bunda Ilahi tidak adil? Bunda Ilahi memang berada di luar logika, berada di luar hukum sebab-akibat. Para asura dari dahulu selalu mendahulukan kepentingan pribadi. Mereka menginginkan kekayaan dan kekuasaan di tiga dunia dan mereka sering mendapatkannya, akan tetapi selalu saja kekayaan dan kekuasaan itu bersifat sementara. Di lain pihak para dewa mempunyai komitmen untuk membela kebenaran. Dan mereka selalu berkarya tanpa pamrih pribadi. Mereka tidak memiliki niat selain patuh pada Hyang Maha Kuasa. Bila manusia punya komitmen membela kebenaran, bila manusia berkarya tanpa pamrih pribadi dan manusia selalu mendengarkan hati nurani dan menafikan ego, maka Bunda Alam Semesta pun bisa berpihak pada manusia yang bertindak demikian…….. Dalam diri manusia ada sifat asura yang menginginkan kepuasan pikiran dan pancaindra yang bersifat duniawi. Dalam diri manusia juga ada sifat Indra yang sering menjadi angkuh saat mendapatkan kekuasaan yang besar. Dalam diri manusia juga ada sifat Resi Agastya yang memikirkan kesejahteraan dan keselamatan seluruh umat manusia. Kesemuanya merupakan pilihan kita sendiri untuk mengikuti yang mana. Semoga Bunda Ilahi memandu kita semua dari kegelapan menuju penerangan, dari keterikatan menuju kebebasan, dari ignorance-ketidaktahuan menuju kesadaran, dari penderitaan menuju kebahagiaan abadi……..

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: