Memadamkan Api Kegelisahan Pikiran, Renungan Kisah Shisupala Dan Sri Krishna

Pikiran itu seperti monyet yang lari ke sana kemari. Melihat dari suatu sisi, pikiran berkata bahwa ini adalah keputusan yang benar. Kemudian pindah ke sisi yang lain, pikiran melihat bahwa keputusan dari sisi inilah yang ternyata benar. Ada berapa banyak sudut pandang dan ada berapa banyak argumentasi yang mendukungnya?Semakin cerdas dan semakin emosional, dengan hanya berbekal pikiran dan perasaan, orang akan semakin bingung mengambil keputusan. Setiap alternatif keputusan selalu ditentang alternatif lainya. Dari zaman dahulu manusia selalu berupaya mengambil solusi yang tepat dan akurat dari konflik yang disebabkan pertentangan pikiran.

 

Adalah seorang ibu yang mempunyai masalah yang sangat besar. Dia sangat mencintai putranya yang baru lahir. Sang anak lahir dengan empat tangan dan tiga mata. Memang dalam imaginasi para ibu di zaman itu mereka biasa melihat Sri Vishnu yang bertangan empat atau Shiva yang bermata tiga. Akan tetapi melihat sang putra demikian, dia bingung. Di tengah masyarakat nanti, anaknya akan menjadi tontonan. Bertangan empat dan bermata tiganya para dewa adalah simbol keilahian. Simbol bukan hal yang nyata, sedangkan bagi sang putra, empat tangan dan tiga mata adalah cacat. Seorang peramal datang dan mengatakan bahwa sang ibu tidak usah khawatir, sang anak akan tersembuhkan kala dipegang oleh orang yang akan membunuhnya. Kembali hati sang ibu bergolak, apa gunanya sang anak sembuh dari cacatnya, bila akhirnya dia akan dibunuh oleh orang yang menyembuhkannya? Pikiran manusia selalu tidak tenang, selalu gelisah. Sang ibu ingin anak sembuh dari cacat, tetapi dia juga tak mau anaknya dibunuh, dia ingin anaknya menjadi raja terkenal, tetapi dia juga tidak mau sang anak menjadi raja cacat yang menjadi gunjingan warga negaranya. Pikiran tidak akan menyelesaikan masalah. Dan seperti ada kekuatan yang menuntunnya, sang ibu kemudian mengheningkan diri. Mau apa lagi? Anak sebenarnya bukan anaknya, anak adalah titipan Gusti kepadanya. Sang anak punya kehidupan sendiri. Tugas dia hanya berupaya mendidik dan memelihara selagi kecil. Sang ibu sadar dia hanya sekedar “alat”. Dalam dirinya ada Gusti yang akan selalu memandunya dalam menjalani kehidupan. Kepasrahan itulah yang membuat dia tenang. Pokoknya aku melayani anakku dengan penuh kasih, tetapi aku juga tidak ingin anakku menjadi pemarah dan mencelakai orang yang menghina cacat tubuhnya……. “Sudahlah Gusti aku hanya ingin melayani anak yang Kau titipkan kepadaku sebaik-baiknya…….”

 

Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan……… Puluhan ribu tahun yang lalu, dalam Masa Emas atau Sat Yuga, bertapa adalah jalan yang paling tepat. Kemudian pada Masa Perak atau Treta Yuga, Datanglah Rama untuk menunjukkan jalur pengorbanan. Kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, Krishna menganjurkan pelayanan penuh kasih sebagai jalan yang paling tepat untuk Masa Tembaga atau Dwapara Yuga. Untuk Masa Besi atau Kali Yuga, adalah bhajan atau naam sankeertan menyanyikan kebesaran, keagungan dan kemuliaan Gusti Pangeran……..

 

Dalam buku “Sai Anand Gita, Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati”, Sai Das, Koperasi Global Anand Krishna, 2012 disampaikan…… Secara ilmiah, pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik dan tarian. Pada dasarnya, jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualisasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan dan bisa membuat keputusan cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total……. Baca lebih lanjut

Iklan