Bakti Burung Garuda Terhadap Bunda Tercinta dalam Kitab Garuda Purana


Garuda dan Vishnu

Kebahagiaan seorang ibu berkembang saat putra-putri yang dilahirkannya menjadi anak yang terpandang di tengah masyarakat sekaligus mempunyai sifat saleh dan berbakti. Dalam perjalanan hidupnya, bisa saja seorang ibu pernah melakukan kesalahan langkah, akan tetapi  anak yang saleh akan mengembalikannya kepada jalan yang benar. Seorang ayah akan memberikan warisan genetika kepada anaknya, akan tetapi energi ibunyalah yang membentuknya. Sel telur yang telah dibuahi akan diproses dan berkembang menjadi anak dalam rahim sang ibu. Garuda mendapatkan warisan genetika dari ayahnya yaitu Resi Kashyapa putra Resi Marici (putra Brahma) dan warisan genetika dari sang ibu yaitu Dewi Vinata putri Prajapati Daksa (Putra Brahma). Garuda berkembang menjadi putra perkasa yang saleh dan berbakti sehingga menjadi wahana bepergian Sri Vishnu.

 

Resi Kashyapa menikah dengan putri-putri Daksa dan dua diantaranya adalah Kadru dan Vinata. Resi Kashyapa sangat senang dengan bakti mereka berdua dan menawarkan pemberian anugerah. Kadru berkata, “Berikan kami seribu putra dengan kekuatan dan keberanian tak tertandingi yang  dilahirkan olehku!” Kashyapa berkata, “Jadilah!”, Dan Kadru melahirkan ras ular, seribu ular dengan kekuatan sangat besar. Ketika tiba gilirannya untuk memilih anugerah, Vinata berkata, “Berikan dua putra yang dilahirkan olehku, yang memiliki kekuatan, keberanian dan ketenaran.” Kashyapa berkata, “Jadilah!” Vinata kemudian melahirkan dua butir telur. Lima ratus tahun berlalu, tetapi belum ada satu pun telur yang menetas. Vinata diejek oleh Kadru yang telah mempunyai putra seribu ular. Ejekan terus menerus menggoyahkan hati Vinata, sehingga akhirnya dia memecah salah satu telur. Bagian atas tubuh sang putra tubuhnya telah sempurna, akan tetapi bagian bawah tubuhnya masih dalam proses pertumbuhan. Putra tersebut diberi nama Aruna yang merupakan leluhur dari Sempati dan Jatayu. Aruna berkata dengan sedih, “Ibu tidak sabar menunggu saat yang tepatbagi kelahiranku. Karena terpengaruh ejekan Ibu menjadi tidak sabar dan nggege mongso,berbuat tidak alami dengan mempercepat keadaan yang belum waktunya. Ibu akan mengalami keadaan yang membuat Ibu belajar bagaimana menjalani hidup dengan kesabaran. Mohon ibu tidak memaksa adikku untuk segera menetas, biarlah dia menetas alami, karena dia lah yang akan membebaskan Ibu dari keadaan yang tidak membahagiakan!”

 

Beberapa saat kemudian, Kadru dan Vinata terlibat dalam perdebatan sengit. Kadru lebih sering mengejek Vinata yang mempunyai putra cacat. Kala itu para asura dan dewa tengah bekerjasama mengaduk samudera susu mencari Amerta, air yang membuat kehidupan abadi. Mereka diberitahu bahwa sebelum Amerta keluar, akan ada kuda Uchaisrava keluar dari samudera. Dalam keadaan bersitegang mereka bertaruh dengan diri mereka masing-masing. Yang kalah dalam pertaruhan akan menjadi budak dari yang menang. Mereka bertaruh mengenai warna ekor kuda Uchaisrava. Vinata menebak ekor sang kuda berwarna putih sedang Kadru menebak ekornya berwarna hitam. Setelah deal dan bersumpah, mereka pulang ke rumah masing-masing.  Sesampai di rumah Kadru menanyai putra-putranya apakah dia akan menang dalam pertaruhan ini. Para putranya yang bisa menyelam dalam samudera mengatakan sang ibu akan kalah, karena ekor kuda tersebut memang putih. Kadru kemudian memerintahkan para putranya untuk membelit dan menutupi ekor kuda dengan tubuh mereka sehingga ekor kuda tersebut akan nampak hitam.  Beberapa putra yang menolak melakukan ketidakjujuran kemudian dikutuk dan diusir dari rumah. Mereka yang takut dengan kutukan  ibunya, memberikan pembenaran bahwa mematuhi ibu adalah tindakan benar sehingga bagi mereka menipu pun dapat dibenarkan demi ibu yang telah melahirkan mereka. Kala Kadru dan Vinata melihat kuda yang keluar dari samudera nampak bahwa ekornya berwarna hitam dan Vinata akhirnya menjadi budak Kadru dan para putranya selama lima ratus tahun.

 

Ketidaksabaran Vinata sampai saat ini masih sering membelit manusia. Kita sering merasakan adanya ketidaksabaraan dalam diri dan kadang-kadang kita melakukan sesuatu dengan ketidaksabaran. Seorang Guru akan memandu para muridnya untuk melatih kesabaran. Sesuatu yang belum matang pada waktunya adalah seperti buah yang matang dikarbit. Dan sering cara pengkarbitannya salah……. Limaratus kemudian butir telur Vinata menetas dan lahirlah Garuda dengan penuh kecemerlangan. Dewa Indra berkata kepada Dewa Agni bahwa telah lahir api yang bahkan lebih terang dari Agni dan bertanya siapakah dia. Agni menjawab, itu adalah Garuda, raja burung, putra Kashyapa dengan Vinata. Dia sangat perkasa dan mulia dan akan mendapatkan keabadian. Para dewa kemudian mendekati Garuda dan meminta mengurangi sinar kecemerlangannya agar bisa dilihat manusia. Garuda menyetujui dan selanjutnya menemani ibunya menjadi pelayan bagi Kadru dan para ular putra-putranya.

Garuda putra Vinata dan para ular putra Kadru

Pada suatu saat Garuda diminta membawa beberapa ular raksasa ke tengah lautan untuk mencari pulau yang cocok bagi para ular raksasa. Mereka akhirnya menemukan pulau yang cocok bagi lingkungan mereka yaitu pulau Ramaniyaka…… Di tengah samudra yang luas, Garuda merasakan ada ketidakberesan mengapa sang ibu dan dirinya menjadi budak dari Kadru beserta para ular putra-putranya. Vinata kemudian menjelaskan mengenai taruhan yang dilakukan olehnya. Garuda kemudian mendatangi para ular dan menayakan bagaimana caranya agar ibu dan dirinya dapat bebas dari perbudakan. Para ular mengatakan bahwa Amerta, air kehidupan telah dibawa keluar dari samudera dan para dewa telah meminumnya. Para ular berkata bahwa apabila Garuda bisa memberi mereka Amerta, maka Garuda dan ibunya akan dibebaskan dari perbudakan.

 

Dengan penuh perjuangan dalam beberapa pertempuran, Garuda akhirnya Garuda bisa bertemu dengan Sri Vishnu yang mempunyai Amerta. Vishnu melihat potensi garuda yang penuh bakti terhadap ibunya, fearless, tanpa rasa takut, no doubt, tidak ragu dalam menjalankan kebenaran. Bertemu dengan Sri Vishnu, Garuda paham inilah “Guru, Buddha, Wujud Kesadaran Murni yang dicari-carinya selama ini.” Garuda langsung trust, iman, yakin terhadap Sri Vishnu. Garuda  kemudian patuh melakoni apa pun yang dikatakan Sri Vishnu. Melakoni dan menegakkan kebenaran itulah Dharma bagi Garuda. Garuda juga patuh pada kelompok/support group/sangha para penegak kebenaran yang dibentuk oleh Sri Vishnu…….. Percaya pada Buddha, Dia yang telah terjaga adalah satu hal, dan kemudian melakoni perintah Buddha adalah kelengkapan selanjutnya. Percaya tanpa melakoni tidak ada artinya. Seseorang yang hanya yakin tanpa membiasakan diri melakoni sampai kebenaran menjadi bagian dari dirinya dan seluruh anggota tubuhnya melakukan hal yang sama, maka keyakinannya belum penuh. Dia berada dalam ilusi. Kemudian seseorang yang percaya pada Buddha dan melakoni Dharma tanpa mendukung Sangha juga belum mempunyai kepercayaan yang sungguh-sungguh. Sangha, persatuan para penegak kebenaran dibentuk oleh Buddha. Buddha, Dharma dan Sangha adalah satu kesatuan.

 

Dalam diri kita pun ada Triratna: Buddha, Dharma dan Sangha. Dalam buku “ATISHA Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Ketiga 2003 disampaikan…… . Jangan lupa tujuan Anda berada di atas panggung sandiwara kehidupan yaitu untuk menghibur. Inilah kesadaran. Aku berlindung pada Kesadaran Murni.  Jangan lupa peranmu, lakonmu. Bermainlah sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Aku akan selalu mematuhi dharma, peran yang diberikan padaku. Jangan lupa bahwa kau berada di sini untuk menghibur diri dan menghibur orang lain, bukan untuk menyusahkan orang. Mencelakakan orang. Aku selalu memikirkan komunitas, (sangha)……… dalam buku tersebut diuraikan tentang: Take on three parts of the principal cause! (Buddha, Dharma dan Sangha). Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Mereka yang hanya mempelajari kulit ajaran Buddha menerjemahkan kalimat-kalimat yang indah ini secara sempit sekali. Buddha di terjemahkan sebagai patung Sidharta Gatama. Dharma diterjemahkan sebagai ajarannya sebagaimana mereka pahami. Lalu Sangha adalah sekte Buddha sesuai dengan afiliasi dan asosiasi mereka. Ajaran Buddha tidak pernah sesempit itu. Dalam Jangka Jayabaya jika Sabdapalon pernah meramalkan kebangkitan ajaran budhi di tanah air kita, yang dimaksudkan adalah pemahaman tentang Bodhi Chitta – ajaran tentang Kesadaran Murni. Dan ketahuilah bahwa suatu saat yang dibicarakan oleh Sabdapalon bisa didatangkan sekarang, saat ini juga! Dengan Bodhi Chitta, dengan kesadaran, mereka yang beragama Islam akan menjadi muslimin dan muslimat yang lebih saleh. Yang beragama Katholik dan Kristen akan menjadi umat yang lebih mengasihi. Yang beragama Hindu dan Buddha menjadi lebih peduli, lebih bertanggung jawab. Ya, benang merahnya adalah kesadaran……….

 

Dikisahkan, bahkan seorang Prahlada, bhakta Sri Vishnu yang amat sangat bijak pun , pernah meminta Sri Vishnu untuk mengampuni Hiranyakasipu, Sang Ayah. Pada saat itu Prahlada masih mempunyai keterikatan yang akhirnya keterikatan itu pun dapat dilepaskan. Seorang Nabi  Ibrahim yang dimuliakan alam pun pernah diuji keterikatannya terhadap sang putera. Seseorang yang menyatakan diri sebagai bhakta dari seorang Guru tertentu, perlu introspeksi, yang memberi gelar itu siapa? Apakah Gurunya sendiri? Kalau hanya memberi gelar pada diri sendiri itu termasuk ego. Kalau memproklamirkan diri sebagai hamba, perlu introspeksi, yang memberi sebutan itu siapa? Kalau yang memberi itu diri sendiri, bukankah itu bentuk ego yang halus? Dan selama ada ego, maka diri belum selaras dengan alam. Bukankah matahari menghidupi kehidupan, air membasahi kehidupan, tanah menyangga  kehidupan dan mereka tidak mempunyai ego selain hanya bersifat melayani belaka?

 

Sri Vishnu melihat benih kesadaran dalamdiri  Garuda ketika mencari Amerta. Sri Vishnu bermaksud memberikan Amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak dengan halus, “Terima Kasih Gusti, tujuan kami mencari Amerta ini adalah untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakan-Mu, saya yakin dan tidak ragu, tapi ijinkan kami membawa Amerta ini untuk kepentingan Ibu kami. Setelah Ibu kami lepas dari perbudakan, maka hutang-piutang karma kami dengan ibu telah selesai. Bila Gusti memang tetap mau memberi anugerah, berikanlah anugerah lainnya.” Sri Vishnu amat berkenan dengan etika Garuda dan meminta Garuda menjadi kendaraan-Nya. Garuda akhirnya tidak hanya mendapatkan hidup abadi, tetapi dia bisa setiap saat mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta.

 

Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri. Kita semua terikat kesenangan dunia dan tak mau melepaskan kesenangan panca indera……. Di tengah perjalanan Dewa Indra menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan Amerta kepada para ular setelah mereka membebaskan Vinata, dan setelah mereka mandi membersihkan diri dari kesalahan yang telah dilakukan mereka. Para ular, mematuhi permintaan Garuda, membebaskan Vinata, dan kemudian mandi mensucikan diri.  Para ular lupa kesalahan mereka yang karena takut dikutuk ibunya, mereka mengikuti Dewi Kadru, sang Ibu untuk berbuat tidak benar. Ketika mereka sedang mandi ,Amerta direbut para dewa, dan para ular tetap akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi.

 

Cerita tentang Bakti Burung Garuda tersebut terpahat dalam batu di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Terima kasih para “founding fathers” yang telah memilih Burung Garuda kendaraan Sang Pemelihara Alam menjadi simbol pembawa Pancasila. Pancasila akan “memelihara” keutuhan NKRI. Dalam Garuda kita tertulis “afirmasi persatuan”, “Bhinneka Tunggal Ika”. Burung Garuda adalah simbol seorang putra perkasa yang berbakti kepada bunda tercinta. Garuda membebaskan Ibu Pertiwi dari perbudakan, dari penjajahan.

 

Waktu di dunia amat pendek, kita bisa menuju tujuan memakai becak dan bersantai ria, tetapi bagi yang usianya sudah senja, tak ada jalan lain menuju Dia kecuali jalan Bhakti, menaiki wahana yang cepat. Dan, memang tidak mudah mengikuti jalan Garuda, kita lebih suka mengikuti perjalanan becak yang berjalan pelan sambil menikmati dunia yang bersifat sementara………

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Maret 2012

2 Tanggapan

  1. Terimakasih ilmunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: