Keselamatan Planet Dalam OrbitNya dan Kisah Keluarnya Dewi Sita Dari Pagar Pengaman Laksmana

Dewi Sita telah memutuskan mengikuti Sri Rama, melepaskan segala kesenangan di istana duniawi untuk mengikuti Sri Rama hidup di hutan Dandaka. Sampai suatu saat Dewi Sita yang sudah berbahagia bersama Sri Rama melihat kijang kencana yang indah dan ingin memilikinya. Dewi Sita mohon pada Sri Rama untuk menangkapkan kijang untuknya. Setelah Sri Rama pergi mengejar sang kijang, Dewi Sita yang ditemani Laksmana, adik Sri Rama mendengar suara jeritan dari kejauhan. Dewi Sita kemudian minta Laksmana mencari tahu suara jeritan apakah Sri Rama mengalami kecelakaan. Laksmana meninggalkan Sita dan membuat lingkaran pengaman, agar Sita selalu berada dalam lingkaran. Berada di dalam lingkaran Dewi Sita akan terlindungi. Setelah Laksmana pergi, datang Rahwana berpura-pura menjadi pengemis dan minta makanan pada Dewi Sita. Dewi Sita lupa diri, terpengaruh oleh rasa kasihan, dia menjulurkan tangan dan makanan, keluar lingkaran pengaman kepada sang pengemis. Dan, sang pengemis kemudian berubah wujud menjadi Rahwana yang segera menarik tangannya dan menculiknya…….

Dewi Sita adalah ibarat seseorang yang sudah mencintai Tuhan. Rama berarti Dia yang berada di mana-mana atau Ruh Sejati. Orang tersebut telah meninggalkan kenyamanan inderawi agar dekat dengan Tuhan. Dalam kebahagiaan dekat denganNya, orang tersebut tertarik pada Kijang Kencana, wujud keduniawian lagi. Pada waktu itu orang tersebut telah “lupa”, bahwa dengan menginginkan sesuatu yang menyenangkan inderawinya, maka dia telah mulai bergeser dari kecintaan terhadap Tuhan yang abadi kepada ciptaannya yang bersifat tidak abadi. Orang tersebut sudah mulai men-“dua”-kanNya. Sri Rama menuruti kehendak orang yang bersikeras, karena setelah seseorang berniat dan dingatkan keuntungan/kerugiannya dia bersikukuh, maka orang tersebut akan dibiarkan menuruti kehendaknya. Dengan segala resiko yang akan diterima akibat pilihan tersebut. Keberadaan selalu memberikan kebebasan pilihan kepada kita.

Laksmana adalah, power of the will, kehendak kuat menuju Sri Rama, Laksmana adalah kekuatan Ekagrata terhadap Tuhan. Yang dipikir oleh Laksmana adalah Tuhan saja. Laksmana selalu mengikuti Sri Rama ke mana pun pergi. Kekhawatiran Dewi Sita terhadap Sri Rama yang sedang mengejar kijang kencana, membuat dirinya meminta Laksmana meninggalkan dirinya. Laksmana patuh akan tetapi tetap membuat garis lingkaran pengaman di sekeliling Dewi Sita. Pada waktu Dewi Sita lengah, Sita diculik oleh Rahwana yang mewakili ego manusia. Keputusan-keputusan Dewi Sita yang kurang tepat membawa akibat yang besar sehingga muncullah cerita “Ramayana”, yang bermakna Tujuan Ruh, Tujuan kepada Tuhan. Baca lebih lanjut

Iklan

Menjalani Hukum Sebab Akibat Atau Belajar Membuat Pilihan Yang Tepat, Renungan Kisah Kematian Subali

Dikatakan bahwa Sri Krishna di zaman Dwapara Yuga adalah reinkarnasi dari Sri Rama di zaman Treta Yuga. Dan, karena Sri Rama pernah membunuh Subali dengan anak panah, maka dikatakan oleh sebagian orang bahwa Sri Krishna pun meninggal akibat anak panah. Sri Krishna memilih karma terbunuh oleh anak panah untuk mengakhiri mewujudnya Dia di dunia. Beberapa orang suci pun memilih akhir hidupnya di dunia dengan cara yang sama. Di bawah ini adalah petikan salah satu versi dari sebuah kisah. Dan, kisah adalah menyangkut rasa, dan rasa melampaui logika. Yang penting dari sebuah kisah adalah bukan benar/tidaknya sebuah kisah, akan tetapi apakah kita dapat menarik pelajaraan berharga dari kisah tersebut atau tidak?

Sri Rama dalam menjalani kehidupannya, telah meninggalkan tahta kerajaan dan kemudian dalam perjalanannya juga kehilangan istrinya. Hanuman keponakan Sugriwa dan Subali menyampaikan peristiwa konflik antara Sugriwa dan Subali yang disebabkan perebutan tahta dan juga istri. Hanuman begitu bertemu Sri Rama langsung patuh dan ikut ke mana pun Sri Rama pergi. Akan tetapi dia mohon bantuan Sri Rama untuk menyelesaikan konflik antara kedua pamannya. Sugriwa berjanji akan membantu Sri Rama menemukan Sita dengan mengerahkan seluruh pasukan kera setelah selesai masalahnya dengan Subali.

Alkisah para dewa meminta bantuan Sugriwa dan Subali untuk melenyapkan raksasa bernama Mayawi, yang dalam kisah para leluhur kita adalah Raksasa Maesasura dan Jathasura. Subali masuk ke dalam goa mereka dan berkata pada Sugriwa, bahwa apabila darah putih mengalir dari goa, maka dirinya telah mati dan pintu goa ditutup agar sang raksasa tidak bisa ke luar lagi. Ternyata dari dalam goa keluar darah putih bercampur dengan darah merah dan Sugriwa beranggapan bahwa Subali dan sang raksasa telah sama-sama mati, kemudian dia menutup goa dengan batu. Sugriwa kemudian lapor kepada dewa dan mendapatkan hadiah istri, Dewi Tara dan kemudian menjadi raja kera. Ternyata Subali masih hidup dan darah yang mengalir adaalah darah merah sang raksasa bercampur darah putih yang berasal dari otak raksasa. Akhirnya Subali bisa keluar goa dan sedih melihat peristiwa yang terjadi kepada dirinya. Adalah pelayan Dewi Tara yang merupakan anak buah Rahwana yang memanas-manasinya, bahwa Dewi Tara sesungguhnya mencintai Subali dan sekarang tersia-sia menjadi istri Sugriwa. Sang pelayan juga mengkipas-kipas kebenciannya bahwa Sugriwa sengaja menutup goa agar dapat menjadi raja dan memperistri Dewi Tara serta sengaja ingin membunuh Subali. Subali pada akhirnya terkena hasutan dan berkelahi mengalahkan Sugriwa, merebut tahta dan Dewi Tara serta mengusir Sugriwa.

Baca lebih lanjut

Memandang Lilin, Latihan Visualisasi Dan Memberdayakan Kasih Dalam Program Neo Self Empowerment

Salah satu latihan latihan Neo Self Empowerment dari Anand Ashram yang keempat adalah membudayakan penglihatan/visi (sight culturing) dan mengembangkan kasih serta intuisi.

Duduk bersila menghadap lilin yang sudah dinyalakan. Menatap cahaya lilin terus-menerus. Membiarkan air mata mengalir tanpa dihapus. Setelah air mata sudah mengalir banyak, atau mata sudah terasa pedih, mata dipejamkan pelan-pelan dan duduk diam sampai rasa sakit hilang. Pada saat itu kita merasakan kelegaan. Dengan mata tetap tertutup, kemudian kita bayangkan cahaya lilin berada di tengah-tengah kedua alis mata. Kemudian dibayangkan cahaya tersebut dipindahkan ke mata, telinga, pipi, hidung, mulut dan leher. Dari leher, turunkan cahaya ini ke bawah, sampai ke dada. Selanjutnya cahaya ini dirasakan. Cahaya ini memberikan rangsangan kepada jantung, dan dengan sedikit upaya, kita dapat merasakan Kasih di dalam diri dan seterusnya……. Kemudian kita merasakan seluruh badan mandi dibawah pancuran kasih. Kasih mengisi seluruh badan dan sudah tidak dapat membendung lagi dan energi kasih ini mulai meluap ke luar dan mengisi seluruh ruangan. Selanjutnya energi kasih disebarkan ini ke seluruh rumah kita, kirimkan ke tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya. diniatkan juga bahwa kita mengirimkan bingkisan kasih ini kepada para sahabat, mereka yang kita cintai. Juga kita kirimkan kepada mereka yang selama ini kita anggap sebagai musuh. Sebarkan juga ke seluruh Indonesia, selanjutnya ke seluruh dunia……  dan seterusnya…. untuk lengkapnya dapat dilihat pada buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”, Anand Krishna, Gramedia, 2003…… Dalam latihan Neo Kundalini Yoga yang dilakukan di Anand Ashram, memandang nyala api lilin ini dilakukan lebih detail dengan melihat warna cakra, yang penting dalam peningkatan kesadaran diri.

Bila dalam satu waktu kita memikirkan banyak hal, maka gelombang otak kita bergerak diatas 13 Hertz (siklus per detik), yang dikenal sebagai kondisi ”beta”. Misalnya sambil berkendara, ngobrol dengan teman, melihat anak menyeberang jalan dan melihat polisi di perempatan jalan, serta telinga mendengar suara ambulance di belakang kita…….. pikiran terasa tegang. Selanjutnya, ketika kita fokus hanya memikirkan satu hal dalam satu waktu, gelombang otak akan menurun terus sampai  kondisi ”alpha”. Misalnya membaca buku dengan sangat asyik….. atau hanya memperhatikan napas masuk dan napas keluar hidung…….. atau memandang nyala api lilin…… Prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian dari pikiran tertentu misalkan pikiran tentang kesedihan dengan memikirkan hal yang lain, sehingga kesedihan tidak terpikirkan dan kita masuk dalam keadaan tenang. Pada prinsipnya, memikir satu hal tertentu dapat menggantikan pikiran yang lain. Kemudian, apabila dalam satu waktu, kegiatan memikir tersebut diganti dengan tindakan visualisasi, maka gelombang otak akan lebih tenang lagi……..  Pada waktu latihan “sight culturing” – pembudayaan penglihatan, ketika kita betul-betul memperhatikan nyala api lilin, pikiran-pikiran yang lain akan jarang masuk. Nyala lilin ini betul-betul terasa baru bukan sekedar pengertian umum nyala api lilin yang tersimpan dalam otak kita. Selanjutnya, ketika mata ditutup dan mulai memvisualisasikan nyala api lilin, kita semakin tenang dan pikiran semakin jernih. Pada waktu pikiran jernih,dan kita tidak merasakan adanya tangan, kaki dan badan kita, kita sudah mulai masuk kondisi yang sangat menyehatkan dan sangat inspiratif. Itulah sebabnya salah satu peserta mahasiswi dalam latihan di Anand Krishna Information Center Solo mengatakan “saya hanya melihat lilin, yang lain-lainnya gelap, bahkan tidak ingat sedang duduk melingkar dengan orang banyak!” Afirmasi dan visualisasi tentang kasih yang dilakukan saat latihan dalam kondisi ini sangat sugestif dan merasuk ke dalam bawah sadar. Baca lebih lanjut

Mempersiapkan Kematian

Dijiwai Buku “SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati”, Sai Das, Koperasi Global Anand Krishna Indonesia, 2012

 

Suatu ketika Brahma Sang Pencipta bertanya kepada Narada

Adakah kaulihat hal yang paling menakjubkan di dunia?

Narada kemudian menjawabnya,

Orang yang sekarat sedang menangisi mereka yang sudah mati.

Mereka yang sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati.

Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati

Ataupun mencegah kematian mereka sendiri……………

 

 

Hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, sepatu disiapkan.

Saat akan bepergian ke kota lain, tas berisi pakaian pun dipersiapkan.

Namun persiapan apa yang sudah kita lakukan?

Untuk perjalanan terakhir menuju kematian??????????

 

 

Apakah kita sudah melakoni nilai-nilai keagamaan?

Kasih-sayang, keadilan, kebenaran, kesetiakawanan, kedamaian?

Perilaku tanpa kekerasan, tanpa paksaan, penuh rasa kebersamaan?

Cukupkah kita beribadah rutin sesuai anjuran?

Tetapi tidak menjalani nilai-nilai keagamaan?

Esensi dari ibadah, jiwa dari ritual-ritual keagamaan???????

 

 

Teruskan ibadahmu sesuai dengan kepercayaan.

Namun, janganlah berhenti di sana.

Janganlah berhenti pada tahap ibadah saja.

Melayani sesama sama dengan melayani Tuhan.

Ibadah dan Pelayanan Tak Terpisahkan.

Pelayanan,

Kepedulian terhadap setiap bentuk dan wujud kehidupan……….

 

 

Awali harimu dengan Cinta…………

Isi harimu dengan cinta…………

Akhiri harimu dengan cinta………….

 

 

Hidup diawali dengan sebuah tangisan,

harus diakhiri dengan sebuah senyuman.

Ketika engkau masih bayi,

orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau menangis tanpa henti

Ketika engkau mati,

orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini,

namun engkau semestinya tersenyum dalam kedamaian diri

Dan, kemudian mengundurkan diri dari dunia ini………..

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

April 2012

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe Nasehat Leluhur Untuk Menyelesaikan Penderitaan Yang Tak Berkesudahan

Pamrih selalu dikaitkan dengan niat awal. Dan niat itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kesadaran orang yang melakukannya. Pertama, pada tingkatan seks, orang akan berniat untuk memuaskan keinginan diri sendiri, bahkan tanpa memperdulikan apakah hal tersebut merugikan pihak lain atau tidak. Kedua, pada tingkatan mereka yang sudah mulai memahami “golden rule”, kaidah emas, “bila aku tidak senang diperlakukan demikian oleh orang lain maka aku tidak akan melakukan hal demikian pada orang lain”. Pada tingkat kesadaran ini muncul kesadaran untuk menerima dan memberi, aku mendapatkan barang/jasa dan aku membayar, aku memperoleh gaji dan aku bekerja sebaik-baiknya. Ketiga, mulai masuk pada tingkat kesadaran kasih, mereka sudah lebih banyak memberi daripada menerima, mereka juga memaafkan orang yang berbuat salah kepada mereka. Kemudian “aku” mereka meluas, mereka berkarya bukan demi kepentingan “diriku” tetapi demi kepentingan umum, demi kepentingan alam semesta. Sampai suatu saat muncul kesadaran bahwa Hyang bekerja bukanlah mereka. Mereka hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Mereka menyerahkan segalanya kepada Dia. Mereka berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.

Sepi ing pamrih rame ing gawe” bisa dipahami oleh mereka yang sudah berkesadaran tinggi, bahwa kita di dunia hanya berkarya dengan penuh semangat (rame ing gawe) dan tanpa pmrih pribadi (sepi ing pamrih). Seperti yang disampaikan pada alinea sebelumnya bahwa mereka yang berada pada tingkat kesadaran seks ingin (berpamrih) memuaskan diri sendiri saja. Pada kesadaran ini yang bekerja adalah instink dasar (basic instinct) manusia yang juga dimiliki oleh hewan (animal instinct) yang hanya ingin memenuhi kebutuhan makan, minum, seks dan tidur (kenyamanan) bagi diri pribadi.

Meningkat sedikit, manusia menyadari bahwa hidup itu memberi dan menerima. Tidak berkeinginan menerima saja. Hingga pada suatu saat manusia melampaui logika dan memasuki rasa, mereka lebih senang memberi dan memaafkan. “Bila kau dipukul balaslah dengan setimpal, akan tetapi bila kau memaafkan itu adalah tindakan yang lebih mulia.” Hidup manusia menjadi lebih mulia. Manusia mulai memikirkan kepentingan umum dan kepentingan alam semesta. Dikatakan “from passion to compassion”, dari birahi pribadi menjadi birahi terhadap alam semesta. Di sini terjadi perubahan dari egosentris, personal ke arah transpersonal. Sampai suatu saat manusia sadar bahwa Alam lah yang bekerja, manusia hanyalah alat Dia. Pada tingkat tersebut manusia berkarya sedapat mungkin bukan atas kehendak pribadi akan tetapi mengikuti KehendakNya. Baca lebih lanjut

Menghindari Melakukan Karma Buruk Dengan Memukuli Bantal?

Setiap aksi selalu ada reaksi, siapa yang menanam benih, pada suatu saat akan menuai buah akibat penanaman benihnya. Benih padi akan panen setelah 4 bulan. Benih buah mangga akan panen setelah 6 tahun. Benih pohon jati akan panen setelah 25-50 tahun. Ada aksi yang reaksinya kembali dengan cepat dan ada aksi yang reaksinya menunggu matang dan dalam waktu lama baru reaksinya kembali. Setiap ucapan dan tindakan kita adalah benih yang telah kita tanam, hanya kita tidak tahu kapan hasil panen dari penanaman benih tersebut. Apabila ada orang yang menghina kita, melecehkan kita atau membuat kita marah, kita cukup berkata bahwa “aku tidak senang dengan tindakanmu!” Tindakan tidak menyenangkan itu harus ditanggapi agar dia tidak melakukan hal yang sama kepada kita dan orang lain, akan tetapi kita tidak perlu membalas dengan cara yang sama. Mungkin saja dahulu kita pernah berbuat demikian kepada orang lain dan kini akibatnya telah datang. Membalas menghina dan melecehkan balik akan membuat kita membuat benih aksi baru yang pada suatu kali akan datang akibat kepada kita kembali. Memukuli bantal ternyata mampu meredam emosi kemarahan kita, sehingga kita tetap berpikir jernih, kita tetap bertindak meditatif.

Pada waktu latihan ketiga Neo Self Empowerment, kita dilatih mengeluarkan tumpukan kegelisahan yang ada di dalam diri. Sebuah peristiwa tidak disimpan hanya memori peristiwanya saja, akan tetapi emosi yang menyertai peristiwa tersebut akan kita simpan juga. Kita kadang ingin marah karena boss tidak adil, tetapi demi etika kita diam, tetapi emosi kegelisahan kita simpan. Kita tidak cocok dengan tindakan orang tua, tetapi mengikuti petunjuk anak yang saleh kita diam, dan kekecewaan tersebut kita simpan dalam hati. Kita pernah mengalami trauma yang hebat, tetapi karena menjaga nama baik kita, kita diam sehingga trauma tersebut kita simpan. Itulah sebabnya semakin tua, tumpukan kegelisahan tersebut semakin banyak dan tunggu meledaknya saja. Bila kita menahan diri agar tidak meledak, maka tumpukan kegelisahan tersebut akan merusak organ dalam diri kita. Anak-anak kecil dan remaja punya jalan keluar misalnya dengan berlari sekencang-kencangmya, atau berteriak-berteriak kala naik jet coster, atau berteriak dengan teman sebaya di pantai atau di jalan setapak di lereng gunung. Tetapi kita tidak terbiasa mengeluarkan emosi kegelisahan, karena emosi tersebut kita yakini dapat melukai orang lain. Dengan latihan Voice Culturing, secara sistematis kita dapat mengeluarkan sebagian sampah-sampah kegelisahan di dalam diri. Dan, setelah selesai semua peserta mengalami kelegaan yang luar biasa. Silakan membaca buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Baca lebih lanjut

Mengalahkan Keserakahan Dan Arogansi, Kisah Devi Mahatmyam Menaklukkan Rakthabija Shumbha Dan Nishumbha

Devi Mahatmyam bertarung melawan Shumba dan Nishumbha

Cerita-cerita menarik dari Kisah Devi Mahatmyam sebenarnya menggambarkan nafsu hewani dalam diri manusia yang digambarkan sebagai raja-raja asura sakti yang mengalahkan para dewa, elemen alami dalam diri manusia. Dan, asura sakti tersebut bisa menguasai tiga dunia, nafsu hewani tersebut dapat menguasai diri manusia pada masa kini, masa lalu dan masa yang akan datang. Akan tetapi kesadaran tidak pernah kalah, pada waktu sang manusia sadar bahwa ada kekuatan yang tak terbatas, dan manusia mohon pertolonganNya, maka Dia akan membantu manusia menaklukkan nafsu-nafsu hewani tersebut.

 

Shumbha dan Nishumbha adalah Raja Kembar Asura putra Resi Kasyapa dan Dhanu. Raktabija adalah salah seorang panglima dari Raja Kembar Shumbha Nishumba yang berkat tapanya yang luar biasa mendapatkan anugerah kesaktian dari Brahma, sehingga setiap tetes darahnya yang jatuh di bumi akan menjadi kloning dari wujudnya. Semua makhluk takut kepadanya, karena setiap dia dilukai musuhnya, tetesan-tetesan darahnya akan menjadi wujud-wujud Raktabija yang banyak, sehingga musuh-musuhnya dibuat kewalahan. Shumba dan Nishumbha juga mendapatkan anugerah dari  Brahma bahwa mereka tidak dapat mati kecuali oleh perempuan perkasa yang lebih kuat dari mereka. Mereka yakin adalah mustahil bila ada perempuan yang lebih kuat dari diri mereka. Chanda dan Munda adalah bekas panglima Mahishasura yang kala Mahishasura ditaklukkan Durga melarikan diri dan mengabdi kepada Shumba dan Nishumbha. Dengan kesaktian Shumbha dan Nishumbha beserta para panglimanya, para asura dapat mengalahkan Indra, Surya, Chandra, Kubhera dan Yama. Mereka kemudian minta para resi untuk melakukan persembahan kepada mereka. Para dewa kemudian datang kepada Trimurti, Brahma, Vishnu dan Shiva melaporkan kekalahan mereka menghadapi Shumbha, Nishumbha dan anak-anak buahnya. Para dewa kemudian diminta menemui Parvati yang sedang bertapa di Pegunungan Himalaya.

 

Para dewa kemudian datang kepada Parvati sebagai salah satu wujud Bunda Ilahi. Parvati tengah melakukan tapa dan menghilangkan kulit tubuhnya yang hitam sehingga menjadi putih sehingga disebut Gauri. Karena Gauri keluar dari lapisan fisik Parvati maka juga sering disebut Koushiki (Kousha – lapisan/kulit). Para dewa menyampaikan bahwa mereka telah dikalahkan oleh Raja Asura Shumba dan Nishumba yang kini menguasai tiga dunia dengan sewenang-wenang. Sang Dewi menyanggupi untuk menaklukkan Shumba dan Nishumbha dan meminta para dewa sabar menunggu……. Chanda dan Munda bekas panglima Mahishasura yang telah menjadi panglima Shumbha Nishumba mengintip para dewa yang menghadap seorang dewi yang sangat cantik. Melihat kecantikan Sang Dewi mereka pergi menghadap raja mereka. Mendengar laporan Chanda dan Munda, Shumbha, sang raja tiga dunia, penakluk semua dewa, kemudian mengirim Asura Sugriva sebagai utusan untuk melamar Sang Dewi. Baca lebih lanjut