Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe Nasehat Leluhur Untuk Menyelesaikan Penderitaan Yang Tak Berkesudahan


Pamrih selalu dikaitkan dengan niat awal. Dan niat itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kesadaran orang yang melakukannya. Pertama, pada tingkatan seks, orang akan berniat untuk memuaskan keinginan diri sendiri, bahkan tanpa memperdulikan apakah hal tersebut merugikan pihak lain atau tidak. Kedua, pada tingkatan mereka yang sudah mulai memahami “golden rule”, kaidah emas, “bila aku tidak senang diperlakukan demikian oleh orang lain maka aku tidak akan melakukan hal demikian pada orang lain”. Pada tingkat kesadaran ini muncul kesadaran untuk menerima dan memberi, aku mendapatkan barang/jasa dan aku membayar, aku memperoleh gaji dan aku bekerja sebaik-baiknya. Ketiga, mulai masuk pada tingkat kesadaran kasih, mereka sudah lebih banyak memberi daripada menerima, mereka juga memaafkan orang yang berbuat salah kepada mereka. Kemudian “aku” mereka meluas, mereka berkarya bukan demi kepentingan “diriku” tetapi demi kepentingan umum, demi kepentingan alam semesta. Sampai suatu saat muncul kesadaran bahwa Hyang bekerja bukanlah mereka. Mereka hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Mereka menyerahkan segalanya kepada Dia. Mereka berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.

Sepi ing pamrih rame ing gawe” bisa dipahami oleh mereka yang sudah berkesadaran tinggi, bahwa kita di dunia hanya berkarya dengan penuh semangat (rame ing gawe) dan tanpa pmrih pribadi (sepi ing pamrih). Seperti yang disampaikan pada alinea sebelumnya bahwa mereka yang berada pada tingkat kesadaran seks ingin (berpamrih) memuaskan diri sendiri saja. Pada kesadaran ini yang bekerja adalah instink dasar (basic instinct) manusia yang juga dimiliki oleh hewan (animal instinct) yang hanya ingin memenuhi kebutuhan makan, minum, seks dan tidur (kenyamanan) bagi diri pribadi.

Meningkat sedikit, manusia menyadari bahwa hidup itu memberi dan menerima. Tidak berkeinginan menerima saja. Hingga pada suatu saat manusia melampaui logika dan memasuki rasa, mereka lebih senang memberi dan memaafkan. “Bila kau dipukul balaslah dengan setimpal, akan tetapi bila kau memaafkan itu adalah tindakan yang lebih mulia.” Hidup manusia menjadi lebih mulia. Manusia mulai memikirkan kepentingan umum dan kepentingan alam semesta. Dikatakan “from passion to compassion”, dari birahi pribadi menjadi birahi terhadap alam semesta. Di sini terjadi perubahan dari egosentris, personal ke arah transpersonal. Sampai suatu saat manusia sadar bahwa Alam lah yang bekerja, manusia hanyalah alat Dia. Pada tingkat tersebut manusia berkarya sedapat mungkin bukan atas kehendak pribadi akan tetapi mengikuti KehendakNya.

Pertama sekali kita perlu memahami prinsip dasar hukum sebab-akibat, barang siapa yang menanam maka dia yang akan memetik hasilnya apakah hasil itu baik atau buruk. Perbuatan baik atau buruk dinilai berdasarkan pada akibat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami oleh pembuat. Seseorang yang telah melakukan karma buruk pasti akan menderita karena pada suatu saat akan menerima akibat hasil perbuatannya sendiri. Kita tidak mungkin menghindarkan diri dari akibat yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh karma buruk yang telah kita lakukan. Sang Buddha menyampaikan: “Tidak di angkasa, di tengah lautan ataupun di dalam gua – gua gunung, tidak dimana pun seseorang dapat menyembunyikan dirinya dari akibat perbuatan – perbuatan jahatnya.“ (Dhammapada 127)

Kemudian Sang Buddha membedakan dengan 4 macam karma……… “Para bhikkhu, empat macam karma yang telah Kupahami dengan kebijaksanaan sendiri dan selanjutnya kuajarkan kepada dunia. Apakah empat macam karma itu ? Empat macam karma itu adalah: Karma hitam yang berakibat hitam; karma putih yang berakibat putih; karma hitam dan putih yang berakibat hitam dan putih; dan karma bukan hitam maupun putih yang berakibat bukan hitam maupun putih serta membawa pengakhiran karma.” (Anguttara Nikaya, Catukkanipata 232 – 238). Semua pikiran, ucapan dan tindakan jasmani adalah benih dari karma baik, karma buruk, karma campuran baik dan buruk dan bukan “karma baik dan buruk”.

Bertindak dengan pamrih akan mengakibatkan hasil dikemudian hari. Misalkan  kita berbuat dengan pamrih kebaikan pribadi, maka kita akan hidup untuk menerima akibat tanaman kebaikan tersebut. Tetapi bila kita berbuat kebaikan tanpa pamrih, hanya demi Kebaikan, hanya merupakan persembahan kepadaNya, maka kita tidak membuat benih karma baru. Bahwa kita akan menerima akibat kebaikan itu adalah hukum alam, tetapi kita telah memutuskan tidak masuk lingkaran karma……… Kita hidup di dunia ada sebabnya. Diantaranya kita pernah menanam benih baik dan buruk sehingga kita harus lahir menerima akibatnya. Itulah sebabnya ada anak yang lahir kurang beruntung di tengah lingkungan tidak baik dan ada anak yang beruntung hidup di keluarga yang harmonis. Akan tetapi setelah lahir kita lengah, dan membuat benih-benih karma baru baik benih karma baik maupun benih karma buruk lagi, sehingga kita harus lahir lagi untuk menerima akibat perbuatan kita sendiri. Bagaimana bila kita ingin memutuskan tidak membuat benih karma baru? Kita perlu berkarya sepenuh tenaga tanpa pamrih, seluruh tindakan hanya merupakan persembahan kepadaNya? Sepi ing pamrih rame ing gawe adalah pesan leluhur untuk memutuskan siklus sebab-akibat dan merupakan tindakan pembersihan jiwa.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan: “Tindakan-tindakan persembahan, pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih, tidak dilepaskan oleh para bijak, karena tindakan-tindakan demikian membantu pembersihan jiwa. Namun, tindakan-tindakan semacam itu pun harus dilakukan tanpa pamrih dan keterikatan pada hasilnya.” (Bhagavad Gita 18:5/6)

Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dapat dibasahi oleh air, begitu pula ia yang berkarya tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemar oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya.” (Bhagavad Gita 5:10/11)

Dalam Materi Neo Interfaith Studies pada One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) Bapak Anand Krishna menyampaikan…… Berkaryalah tanpa motif pribadi! Karena motif pribadi itulah yang mengikat kita dengan hukum sebab akibat. Dan, hukum sebab akibat tidak pernah bisa menjamin suka saja. Karena dasar dari hukum itu adalah dualitas. Ada suka pasti ada duka pula. Segala sesuatu dalam dunia ini diciptakan berpasangan. Demikian pula menurut Qur’an. Tapi, tujuan hidup adalah melampaui dualitas dvaita menuju tauhid advaita. Maka untuk menuju TUJUAN BESAR itu kita mesti melupakan tujuan-tujuan kecil/motif-motif pribadi. Pertanyaannya apakah kita bisa berkarya tanpa motif? Jawabannya, ya. Dan, sesungguhnya kita “hanya bisa berkarya”  tanpa motif. Mereka yang berkarya dengan motif sesungguhnya “belum berkarya”. Mereka diperbudak oleh motif. Pilihan di tangan kita, mau berkarya, atau mau menjadi budak. Jika ingin berkarya, maka bebaskan diri dari perbudakan oleh motif. Berkaryalah di ladang dunia ini, karena ladang ini adalah ladangmu, ladangku, ladang kita, ladang DIA.

Dalam materi Neo Interfaith Studies tersebut Bapak Anand Krishna juga menyampaikan…….  Apa yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada  diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifahan di dalam diri kita. Dalam Al Qur’an Surat Al-Araaf ayat 113, disampaikan……… “Tukang-tukang sihir itu datanglah menghadap Firaun, seraya sembahnya: Adakah kami akan menerima upah jika kami menang?”

Disebutkan dalam Alkitab Matius 10:8:Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah (bersihkanlah) orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”………… Ayat tersebut menjelaskan sikap seorang “pekerja untuk Allah” – seorang sukarelawan – seseorang yang memiliki niat kuat untuk berkarya tanpa pamrih. Pertama ia tidak diperkenankan menerima upah/bayaran dari mereka yang dilayaninya. Kenapa? Karena ia tidak bekerja untuk mereka. Ia berkarya atas nama Allah, ia diutus olehNya, maka sudah jelas yang mesti mengupahi dia adalah Allah, bukan mereka yang dilayani.

Dalam Kitab Tao Teh Ching digambarkan sifat ketidakpamrihan atau ketidakterikatan seperti air…….. “Yang keras, yang kukuh, sangat terbatas gerakannya. Kekukuhannya, kekerasannya sendiri menjadi penghalang utama bagi gerak-geriknya. Namun yang cair, yang seperti air, dapat mengalir ke mana-mana”……….. Hidup kita juga hendaknya mengalir seperti air. Sambil menyirami hati yang kering, membasahi jiwa yang gerah, hendaknya kita mengalir terus, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Bekerja tanpa pamrih…….. Sungai, Matahari, Bulan, Bumi, Udara, Api, Air semuanya bekerja tanpa pamrih…… Semoga demikian pula kita……

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

April 2012

Satu Tanggapan

  1. […] *) Sumber Tulisan Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama: Blog Mas Triwidodo […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: