Memandang Lilin, Latihan Visualisasi Dan Memberdayakan Kasih Dalam Program Neo Self Empowerment


Salah satu latihan latihan Neo Self Empowerment dari Anand Ashram yang keempat adalah membudayakan penglihatan/visi (sight culturing) dan mengembangkan kasih serta intuisi.

Duduk bersila menghadap lilin yang sudah dinyalakan. Menatap cahaya lilin terus-menerus. Membiarkan air mata mengalir tanpa dihapus. Setelah air mata sudah mengalir banyak, atau mata sudah terasa pedih, mata dipejamkan pelan-pelan dan duduk diam sampai rasa sakit hilang. Pada saat itu kita merasakan kelegaan. Dengan mata tetap tertutup, kemudian kita bayangkan cahaya lilin berada di tengah-tengah kedua alis mata. Kemudian dibayangkan cahaya tersebut dipindahkan ke mata, telinga, pipi, hidung, mulut dan leher. Dari leher, turunkan cahaya ini ke bawah, sampai ke dada. Selanjutnya cahaya ini dirasakan. Cahaya ini memberikan rangsangan kepada jantung, dan dengan sedikit upaya, kita dapat merasakan Kasih di dalam diri dan seterusnya……. Kemudian kita merasakan seluruh badan mandi dibawah pancuran kasih. Kasih mengisi seluruh badan dan sudah tidak dapat membendung lagi dan energi kasih ini mulai meluap ke luar dan mengisi seluruh ruangan. Selanjutnya energi kasih disebarkan ini ke seluruh rumah kita, kirimkan ke tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya. diniatkan juga bahwa kita mengirimkan bingkisan kasih ini kepada para sahabat, mereka yang kita cintai. Juga kita kirimkan kepada mereka yang selama ini kita anggap sebagai musuh. Sebarkan juga ke seluruh Indonesia, selanjutnya ke seluruh dunia……  dan seterusnya…. untuk lengkapnya dapat dilihat pada buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”, Anand Krishna, Gramedia, 2003…… Dalam latihan Neo Kundalini Yoga yang dilakukan di Anand Ashram, memandang nyala api lilin ini dilakukan lebih detail dengan melihat warna cakra, yang penting dalam peningkatan kesadaran diri.

Bila dalam satu waktu kita memikirkan banyak hal, maka gelombang otak kita bergerak diatas 13 Hertz (siklus per detik), yang dikenal sebagai kondisi ”beta”. Misalnya sambil berkendara, ngobrol dengan teman, melihat anak menyeberang jalan dan melihat polisi di perempatan jalan, serta telinga mendengar suara ambulance di belakang kita…….. pikiran terasa tegang. Selanjutnya, ketika kita fokus hanya memikirkan satu hal dalam satu waktu, gelombang otak akan menurun terus sampai  kondisi ”alpha”. Misalnya membaca buku dengan sangat asyik….. atau hanya memperhatikan napas masuk dan napas keluar hidung…….. atau memandang nyala api lilin…… Prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian dari pikiran tertentu misalkan pikiran tentang kesedihan dengan memikirkan hal yang lain, sehingga kesedihan tidak terpikirkan dan kita masuk dalam keadaan tenang. Pada prinsipnya, memikir satu hal tertentu dapat menggantikan pikiran yang lain. Kemudian, apabila dalam satu waktu, kegiatan memikir tersebut diganti dengan tindakan visualisasi, maka gelombang otak akan lebih tenang lagi……..  Pada waktu latihan “sight culturing” – pembudayaan penglihatan, ketika kita betul-betul memperhatikan nyala api lilin, pikiran-pikiran yang lain akan jarang masuk. Nyala lilin ini betul-betul terasa baru bukan sekedar pengertian umum nyala api lilin yang tersimpan dalam otak kita. Selanjutnya, ketika mata ditutup dan mulai memvisualisasikan nyala api lilin, kita semakin tenang dan pikiran semakin jernih. Pada waktu pikiran jernih,dan kita tidak merasakan adanya tangan, kaki dan badan kita, kita sudah mulai masuk kondisi yang sangat menyehatkan dan sangat inspiratif. Itulah sebabnya salah satu peserta mahasiswi dalam latihan di Anand Krishna Information Center Solo mengatakan “saya hanya melihat lilin, yang lain-lainnya gelap, bahkan tidak ingat sedang duduk melingkar dengan orang banyak!” Afirmasi dan visualisasi tentang kasih yang dilakukan saat latihan dalam kondisi ini sangat sugestif dan merasuk ke dalam bawah sadar.

Kemudian tentang kasih, kasih ini terasa lebih mulia daripada keadilan. Keadilan masih menggunakan logika, sedangkan kasih sudah melampaui logika. Dikisahkan ada seorang anak yang mempunyai beberapa saudara minta hak warisan kepada orang tuanya yang belum meninggal agar dia bisa mandiri hidup di kota lain. Dengan berat hati, setelah memberikan berbagai nasehat dan bermusyawarah dengan anak-anaknya yang lain, diberikanlah warisan kepada anak tersebut yang berjanji tidak akan minta warisan lagi di kemudian hari…… Akan tetapi 5 tahun kemudian harta sang anak habis dan dia pulang dengan wajah loyo, bagai habis kalah perang. Ia datang memohon maaf dan mohon dapat diterima untuk hidup bersama orang tuanya lagi. Sebagai orang tua haruskah bertindak adil dan konsekuen dan membiarkan salah satu anaknya berada dalam penderitaan? Visi keadilan masih memakai pikiran, masih memakai logika sebagai alat penimbang, sedangkan visi kasih mempergunakan rasa sebagai alat pengambil keputusan. Kasih berada di atas keadilan. Orang tua tersebut kemudian mengumpulkan anak-anaknya dan berbicara bagaimana baiknya menghadapi masalah tersebut……. Seandainya kita tidak hanya bersifat kasih terhadap keluarga, akan tetapi tetangga pun dianggap sebagai keluarga, alangkah damainya dunia ini……

Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna” disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31).  Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai…….

Latihan visualisasi atau imaginasi secara positif dan dilakukan secara sadar dalam latihan tersebut sangat berarti bagi pengembangan kasih di dalam diri…….. Imajinasi merupakan kemampuan untuk menciptakan gambaran mental dalam pikiran. Dalam keadaan tenang dan rileks kita menggunakan imajinasi untuk menciptakan gambaran yang jelas tentang sesuatu yang kita inginkan. Bila kita terus memfokuskan perhatian pada gambaran mental tersebut secara teratur, akan memberi kekuatan positif sampai ia menjadi realitas…….

Visualisasi adalah bahasa pikiran bawah sadar, bahasa otak kanan dan jalan menuju kesempurnaan doa. Visualisasi adalah bagaimana kita mengoptimalkan kemampuan otak kanan kita untuk tetap fokus pada satu tujuan. Banyak para pakar berpendapat bila antara doa dan visualisasi tidak selaras maka yang akan menjadi kenyataan adalah visualisasinya……. Bapak Anand Krishna pernah bercanda mengenai visualisasi…….. Ucapkan Alhamdulillah seakan-akan keinginan kita sudah terjadi, bukan Insya Allah, karena Keberadaan mungkin berpikir bahwa yang mengucapkan Insya Allah belum serius minta, masih Insya Allah, maka diberikan nanti-nanti saja…… Dengan mengucap Alhamdulillah, kita sudah memvisualisasi keberhasilan kita……… Dan, Keberadaan berkenan mengabulkan…….Semoga…..

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: