Mengalahkan Gangguan Setan Kemalasan Dalam Berkarya, Kisah Devi Mahatmya Menaklukkan Madhu Kaidabha

Madhu dan Kaidabha lahir saat Vishnu tidur
Darimanakah datangnya kemalasan? Kemudian darimanakah datangnya kemarahan? Apakah datangnya dari Setan yang berada di luar diri. Bila kita yakin bahwa Manusia berasal dari Hyang Maha Suci, apakah Setan itu berasal dari Kekotoran? Kekotoran itu berasal dari mana? Apakah berasal dari Hyang Maha Suci pula? Bila Setan tidak berasal dari Hyang Maha Suci berarti dia berada di luar Hyang Maha Suci, berarti sekecil apa pun dia menjadi saingan bagi Hyang Maha Suci. Padahal dikatakan bahwa Hyang Maha Suci yang Tidak Ada Hyang lain Yang Menyamainya. Kisah ini menyampaikan bahwa gangguan setan kemalasan itu datangnya juga dari Hyang Maha Suci, Hyang Tidak Ada Bandingannya, Hyang Tidak Dapat Disepertikan Seperti Apapun………

Dikisahkan bahwa Vishnu sedang tidur. Tidurnya para dewa, adalah tidur dengan tidak memperhatikan dunia. Kemudian, dari kotoran telinga Vishnu yang sedang tidur lahir Asura Madhu dan Kaidabha. Brahma yang sedang duduk di atas teratai yang keluar dari pusar Vishnu dan sedang berkarya mencipta, mulai diganggu oleh kedua asura tersebut. Brahma kemudian berdoa kepada Dewi Mahatmya untuk membantunya melanjutkan pekerjaan mencipta. Kala seseorang tidur pulas lupa dengan duniawi, maka masih ada diri yang masih hidup. Demikian pula kala Kekuatan Sang Pemelihara sedang istirahat, maka masih ada Sumber Kekuatan yang menjaga segalanya. Madhu dan Kaidabha muncul keluar dari kotoran telinga Vishnu. Perlawanan terendah terhadap kebenaran adalah mengotori. Bila dalam kisah Devi Mahatnya melawan Mahishasura, Mahishasura adalah mewakili kemarahan atau sifat rajas, dan sang dewi juga berwujud sebagai Durga yang juga merupakan perwujudan rajas, maka Madhu dan Kaidabha merupakan kekotoran yang bersifat tamas atau kemalasan. Kemalasan ini juga berasal dari keinginan untuk bermalas-malas sehingga mengganggu kegiatan berkarya, kegiatan Brahma.

Dikisahkan Raja Suradha yang hidup pada zaman pemerintahan Manu kedelapan, memperlakukan warga seperti putra-putranya sendiri. Kemudian pada suatu saaat, pasukannya dikalahkan oleh raja asing, sehinga dia hanya menjadi orang yang dituakan di kerajaannya. Kemudian seluruh harta bendanya diambil oleh para menterinya dan dia pergi ke hutan dengan rasa penuh penderitaan. Akhirnya dia sampai ke ashram Resi Sumedha. Sang raja tinggal beberapa lama di ashram sang resi dan bepergian ke beberapa daerah. Dalam perjalanan dia mulai merenung, “Bagaimana kerajaanku pada saat ini, dibawah pimpinan para menteri yang mempunyai karakter buruk dan bagaimana pula kabarnya pasukan gajahku yang perkasa dibawah penguasaan raja asing? Mereka semua mendapat penghidupan, kekayaan dan makanan dariku tetapi mereka mengabdi pada raja asing.”

Pada suatu hari sang raja bertemu dengan Samadhi, seorang pedagang yang karena hanya memikirkan uang belaka, harta kekayaannya dirampok. Dan karena sudah tidak berharta, kemudian dia diusir dari rumah oleh istri dan anak-anaknya sehingga dia pergi ke hutan meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Sang pedagang berkata kepada sang raja, “Saya sedih tidak mengetahui kabar keluargaku dan tak mengetahui anak-anakku menjadi jahat atau tidak?”
Raja Suradha bertanya, “Kamu kehilangan keluarga karena obsesimu terhadap uang, mengapa kamu bersedih memikirkan mereka? Bukankah mereka yang mengusirmu?”
Sang pedagang menjawab, “Saya tidak tahu mengapa, tetapi saya tetap mencintai mereka. Saya menderita tapi saya mencintai mereka.”
Mereka berdua kemudian pergi kepada Resi Sumedha dan sang raja bertanya, “Wahai resi yang suci, mengapa kami tak dapat mengendalikan pikiran dan merasa menderita? Kami kehilangan kerajaan tapi kami masih memikirkan kerajaan. Saudaraku diusir oleh keluarganya, tetapi tetap memikirkan mereka. Mengapa demikian resi?” Sang resi berkata, “Semua hewan mempunyai pengetahuan tentang apa yang akan dihadapinya. Tetapi jiwa-jiwa besar mempunyai pengetahuannya yang berbeda. Ada hewan yang tak dapat melihat di waktu siang, ada yang tak dapat melihat di waktu malam dan ada yang dapat melihat keduanya. Manusia adalah bijak, tapi demikian pula sapi, burung dan hewan liar lainnya. Pengetahuan mereka untuk memperoleh makanan, minuman seks dan kenyamanan mirip……….. Wahai raja, singa di antara manusia, manusia menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka dengan harapan bahwa mereka akan memberikan timbal balik terhadapnya. Tetapi apakah raja melihat burung-burung ini? Burung melakukan tindakan apa pun tanpa mengharapkan apa pun! Manusia jatuh kedalam kolam keterikatan yang amat mempesona. Kekuatan mempesona adalah tidur yoganya Vishnu. Tidurnya Vishnu mempesona dunia sehingga kalian tidak sadar tentang apa yang kalian lakukan. Dewi yang terkenal sebagai Mahamaya (Yang Maha Mempesona) adalah personifikasi dari semua kepemilikan. Mereka ada yang menjadi terikat dengan kepemilikan dan ada yang memperoleh pengetahuan khusus sehingga dapat melepaskan diri dari kepemilikan. Sang Dewi menciptakan tiga dunia dengan segala seuatu yang bergerak dan tidak bergerak. Dan, meskipun dia penyebab keterikatan, dia juga akan menganugerahkan kebebasan. Dia adalah penyebab knowingness, kesadaran, pengetahuan terbesar, yang merupakan penyebab keselamatan, namun dia juga adalah penyebab ignorance, ketidaktahuan yang menyebabkan keterikatan dengan dunia fana. Dia adalah juga ibu dari semua dewa.”……. Baca lebih lanjut

Iklan

Roro Jonggrang Atau Durga Mahishasuramardini? Kisah Devi Mahatmya Di Candi Prambanan

Dalam cerita rakyat, kita mengenal legenda Roro Jonggrang di Candi Prambanan. Kita tidak tahu banyak, sejak kapan kisah Roro Jonggrang melegenda, dan apakah patung yang disebut Roro Jonggrang di Candi Prambanan tersebut betul mewakili legenda tersebut? Roro Jonggrang adalah seorang putri raja yang tidak senang orang tuanya ditaklukkan dan dia diminta menjadi istri sang raja penakluk. Dia berupaya menolak dengan berbagai upaya, dan karena sang raja penakluk marah maka dia dijadikan patung.

Kita bisa melihat bahwa pada Candi Prambanan terdapat relief kisah mulia Ramayana dan di dunia ini hanya di Candi Prambananlah kisah Ramayana dipahat pada dinding candi sebagai relief. Kita perlu mengenal kisah Ramayana, dimana disebutkan bahwa Sri Rama yang sering disebut Titisan Sri Vishnu pun pada saat perang melawan Ravana berdoa kepada Bunda Alam Semesta yang berwujud sebagai Durga. Patung yang disebut Roro Jonggrang tersebut adalah patung Durga Mahishasuramardini, Durga yang mengalahkan asura Mahisha. Patung yang menggambarkan Dewi bertangan delapan dan menginjak kerbau (mahisha) tersebut tidak ada kaitannya dengan Roro Jonggrang tetapi jelas menggambarkan patung Durga Mahishasuramardini. Kata Prambanan sendiri berasal dari Param Brahman, Kebenaran Mutlak Tertinggi.

Dikisahkan Resi Markandeya menceritakan kisah Bunda Alam Semesta kepada Resi Baguri. Resi Markandeya bercerita bahwa adalah Raja Suradha yang diusir dari kerajaan oleh rakyatnya sendiri bertemu di sebuah hutan dengan pengusaha Samadhi yang diusir oleh istri dan anak-anaknya. Mereka berdua merasa bahwa kejadian yang menimpa mereka berada di luar kewajaran. Kemudian mereka berdua menemui Resi Sumedha yang mengatakan bahwa mereka mengalami ilusi yang disebabkan Mahadewi bernama Vishnumaya. Mereka berdua ingin mengetahui kisah Mahadewi Vishnumaya atau ibunda para dewa, dan diceritakanlah kisah Dewi Mahatmya yang terdiri dari 3 cerita. Durga Mahishamardini adalah kisah Mahalaksmi, nama lain dari Bunda Alam Semesta yang membunuh asura di kala seluruh dewa tidak sanggup mengalahkan sang asura.

Asura Mahisha adalah seorang raja yang kuat dalam bertapa, dia memiliki power of the will (niat yang kuat), power of action (kerja keras), power of knowlege (ilmu yang dalam), tetapi tidak mempunyai power of knowingness (power of wisdom, atau kesadaran). Brahma menemuinya dan menanyakan apa obsesi sang asura. Mahishasura memohon Brahma agar dia dapat hidup abadi dan Brahma menyampaikan bahwa itu berada di luar kewenangannya. Kemudian Mahishasura meminta bahwa dia tidak bisa dikalahkan oleh seluruh manusia dan dewa, dan dia hanya dapat dikalahkan oleh seorang perempuan. Brahma mengabulkan permohonannya, dan Mahishasura bergembira karena Trimurti yaitu Brahma, Shiva dan Vishnu pun termasuk dewa sehingga dia tidak dapat dikalahkan oleh mereka. Kalau mereka tidak mengalahkannya, apalagi makhluk ciptaan mereka yang berjenis perempuan, maka menurut pikirannya dia tidak akan dapat dikalahkan. Baca lebih lanjut