Bukan Menyembah Matahari Tetapi Bermeditasi Kepada Sang Pemberi Kekuatan Matahari


Apa yang akan terjadi pada kehidupan di bumi bila Matahari lenyap? David Stevenson, profesor ilmu planet di California Institute of Technology menjelaskan bahwa dalam seminggu, suhu permukaan rata-rata bumi akan turun di bawah 0 derajat Fahrenheit. Dalam setahun akan menurun menjadi minus 100 derajat Fahrenheit. Dalam anomali bencana, es akan melindungi air yang berada jauh dari permukaan. Jutaan tahun setelah itu suhu bumi akan mencapai minus 400 derajat Fahrenheit. Meskipun beberapa mikroorganisme yang hidup di bawah permukaan air akan bertahan, akan tetapi pohon-pohon segera mati setelah fotosintesis tidak terjadi lagi. Hewan dan manusia akan mati lebih cepat. Akan tetapi matahari bukan hanya sebagai pemanas bumi, tetapi juga penjaga orbit planet bumi. Jika matahari musnah, bumi seperti terlepas dari tali yang mengikatnya dan akan terlempar di dalam ruang angkasa dan semua makhluk di bumi musnah.

Manusia sejak zaman dahulu kala memahami peranan matahari terhadap kehidupan manusia. Di Mesir, Matahari digambarkan sebagai Dewa Ra yang mengendarai kereta perang dan melintas pada waktu siang hari. Bangsa Maya menghormati kekuatan Matahari dan menyebutnya Kinich-ahau. Di  Jepang, masyarakat menghormati Matahari sebagai Dewa Amaterasu dan bahkan Jepang disebut Negara Matahari Terbit. Di Yunani, Matahari digambarkan sebagai Helios, dewa yang bermahkotakan halo matahari yang mengendarai kereta perang ke angkasa. Helios bertugas memberikan cahaya ke surga dan ke bumi. Suku Aztec menyebut Matahari, Huitzilopochtli, yang merupakan dewa perang dan simbol matahari yang mengusir kegelapan. Bangsa Inca menyebutnya sebagai dewa tertinggi bernama Inti. Dewa Inti menganugerahkan peradaban Inca kepada putranya yang bernama Manco Capac yang juga merupakan Raja Bangsa Inca yang pertama. Bangsa Inca menyebut diri mereka sebagai putra-putri Matahari. Di Peradaban Sindhu yang merupakan hamparan wilayah dari Sungai Sindhu ke Astraleya (Australia) masyarakat mengenalnya sebagai Surya. Surya sering disebut sebagai salah satu wujud Vishnu, Kekuatan Pemelihara Alam Semesta, tanpa Surya kehidupan punah. Surya juga sering disebut sebagai salah satu wujud Shiva, Kekuatan Ilahi pendaur ulang, karena dengan matahari terjadi banyak siklus/daur-ulang kehidupan di bumi. Surya juga dikenal sebagai salah satu wujud Brahma, karena segala sesuatu di bumi tercipta karena adanya matahari. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan penguasa bumi ketujuh adalah Vaivasvata Manu atau Sraddhadeva Manu yang merupakan putra Surya. Selanjutnya penguasa bumi kedelapan adalah Savarni Manu yang juga adalah putra Surya. Sri Rama adalah salah satu penerus dari Dinasti Surya.

Dalam Suryopanishat (Surya Upanishad) dikisahkan bahwa Surya dikenal sebagai Surya Narayana Keemasan yang mengendarai kereta dengan tujuh kuda sebagai penggerak waktu. Matahari adalah “Atma” / “Self” dari dunia, yang bergerak sekaligus tidak bergerak. Dari Surya kehidupan lahir, demikian pula muncul hujan, makanan dan energi. Surya yang disebut Aditya (putra Aditi yang bersuamikan Kasyapa)disebut sebagai manifestasi Brahma, Vishnu, Rudra dan semua Veda. Dari Surya (energi)lahir bumi, air, api dan udara (semua elemen alami sebenarnya adalah energi yang berbeda kerapatannya), arah, dewa-dewa (elemen alami yang tercipta sebelum manusia) dan Veda (Veda berarti “pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang). Disebutkan pula bahwa Surya adalah sumber penggerak segala sesuatu.

Sebagai penyebab adanya waktu maka Surya berpengaruh besar pada hari Minggu, Sunday (hari Matahari), bahasa Jawa kuno menyebutnya Radite/Raditya (kaitan dengan Ra, Matahari). Sedangkan hari Senin berkaitan dengan Bulan (Moon), Moonday/Monday, bahasa Jawa kuno menyebut hari Senin sebagai Soma (Bulan). Hari Minggu adalah hari yang penuh energi. Dengan ditetapkannya hari Minggu sebagai hari libur maka mall dan pertokoan penuh karena pada hari tersebut manusia penuh energi. Sedangkan Senin dikaitkan dengan moon, manas, mind, pikiran. Pada hari Senin mind manusia kuat sehingga banyak yang menganjurkanuntuk ber puasa pada hari Senin.

Apakah para leluhur kita adalah pemuja matahari? Kita perlu memperhatikan nama-nama putra-putri bangsa sejak zaman dahulu kala yang ada kaitannya dengan kata Surya, Raditya, Savitri (dikaitkan dengan matahari) dan Gayatri (mantra dalam Veda yang merupakan penghormatan kepada Savitri). Bila Surya adalah Matahari, maka Savitri adalah shakti/energi yang membuat matahari bersinar. Bila Matahari adalah sumber cahaya bagi kehidupan, maka Savitri adalah Sumber Energi dari Matahari. Mereka yang melantunkan Gayatri Mantra, bukan pemuja Matahari, akan tetapi Pengagung Sang Pemberi Energi kepada Matahari. Sang Pemberi Energi bisa disebut dengan berbagai nama termasuk Savitri atau Gayatri, atau Parashakti, energi Awal-Mula.

Dari buku “Cinta yang mencerahkan, Gayatri Sadhana, Laku Spiritual bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Azka Mulia Media, 2012 disampaikan……….. Gayatri digambarkan sebagai Dewi berwajah lima…. Empat dari lima wajah-Nya mewakili pilar-pilar kehidupan. Rg Veda:Pilar pengetahuan Spiritual yang menjadi landasan bagi hidup berarti di dunia ini, dengan menjalankan Dharma atau Kebajikan. Yajur Veda: Pilar Keberanian, Kegigihan, dan Kemerdekaan Jiwa atau Moksha dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Saama Veda: Pilar Kenikmatan dan Kenyamanan yang bertanggungjawab, yang tidak merugikan orang lain atau Kaama. Atharva Veda: Pilar Kesejahteraan, Harta Kekayaan, Kedudukan Sosial, Keadilan dan lain sebagainya yang mesti memfasilitasi atau menunjang kehidupan selama persinggahan kita di dunia atau Artha. Wajah ke-5 mewakili Misteri Agung, Hyang Maha Tinggi, Maha Luas sekaligus Maha Kecil, Maha Rendah sehingga ia bisa berada di mana-mana. Di Bintang terjauh, dan di dalam diri kita sendiri. Sesungguhnya ia meliputi segala-galanya.segala-galanya ada karena-Nya. Ia menjadi Sebab Awal penciptaan.

Dalam buku “Cinta yang mencerahkan, Gayatri Sadhana, Laku Spiritual bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Azka Mulia Media, 2012 juga disampaikan……….. Gayatri Mantra  dalam bahasa Sanskerta – yang adalah bahasa program, persis seperti bahasa komputer – mesti diinterpretasikan sendiri dalam bahasa Ibu Anda, atau bahasa yang terdekat dengan hati Anda, dengan roh Anda.

Swami Vivekananda (1863-1902) memaknai Gayatri Mantra: “Kami bermeditasi pada Kemuliaan Dia, yang telah menciptakan jagad raya; semoga pikiran kami dicerahkan oleh-Nya.”

Swami Dayananda (1824-1883) memaknai Gayatri Mantra: “O Tuhan Pemberi Kehidupan, Hyang membebaskan diri kita dari segala macam penderitaan dan duka, Pemberi kebahagiaan, Pencipta alam semesta, Engkau adalah Hyang Maha Bersinar dan patut disembah, Penghapus dosa. Kami bermeditasi kepada-Mu, semoga Engkau dapat menginspirasi, mencerahkan, dan memandu kami pada jalur yang benar.”

S. Radhakrishnan (1888-1975) memaknai Gayatri Mantra: “Kami bermeditasi pada sinar kemuliaan Cahaya Ilahi. Semoga Ia mengilhami pemahaman kami.”

Leluhur kita bukan penyembah matahari tetapi pengagung Sang Pemberi Kekuatan kepada Matahari. Dan kita dapat menjadikan Matahari sebagai teladan kita dalam berkarya. Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan…….. Matahari mengajarkan kita untuk berbagi tanpa pilih kasih. Ia adalah sumber energi utama. Tanpa matahari kita tidak dapat membayangkan kehidupan. Ia memberi, dan memberi, dan memberi…. Hingga akhirnya ia akan “padam” untuk selamanya. Adakah ia mengharapkan sesuatu dari kita? Adakah ia bekerja untuk memperoleh pujian? Tidak juga. Leluhur kita menghormati Matahari dan saudara-saudara kita se-alam. Sekarang kita menyalahartikan rasa hormat itu, dan mencap mereka sebagai animis – pemuja alam, pemuja berhala. Matahari tidak terganggu. Ya, kebodohan kita tidak menganggunya. Dihormati atau tidak, ia tetap memberi……..  Bagi para pemimpin, Matahari juga mengajarkan sesuatu yang lain. Yaitu, ketika menarik berbagai macam pajak dan cukai dari rakyat – hendaknya memperhatikan cara Matahari menyerap air laut. Ia tidak memaksa, dan menyerap tanpa mengurangi. Maka, laut pun memberi tanpa berkeluh-kesah. Ketika rakyat berkeluh-kesah tentang undang-undang dan peraturan penarikan pajak yang tidak jelas dan terasa membebani; atau, tidak membayar sesuai dengan kewajibannya – maka yang mesti melakukan introspeksi diri adalah pihak pemerintah, pihak penarik pajak. Fasilitas apa yang diperoleh masyarakat dari pajak yang dibayarnya? Perhatikan cara kerja Matahari… Ia menyerap air laut, tetapi tidak menyimpannya bagi kroni, keluarga dan kelompoknya. Ia mendaur ulang air laut yang asin dan mengembalikannya sebagai air hujan yang bersih, murni! Inti pelajaran dari Matahari adalah: Berbagi dan Melayani tanpa Pilih-Kasih, dan Menjamin Kesejahteraan dan Keadilan Sosial bagi Semua……….

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: