Jangan Takut Menghadapi Masalah

 

Pada saat akan menjadi mahasiswa, kita bisa memilih fakultas/jurusan apa yang yang sesuai dengan diri kita. Akan tetapi setelah memilih suatu jurusan, kita harus menghadapi evaluasi dari sejumlah mata kuliah yang kita tempuh, kita tidak bisa lari menghindarinya, tak ada pilihan lain kecuali menghadapinya. Pada waktu SMA kita bisa memilih masuk Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial atau Ilmu Pengetahuan Alam. Akan tetapi, kembali kita harus menempuh ujian dari seluruh mata pelajaran yang diujikan pada jurusan pilihan kita. Di Pendidikan Dasar bahkan kita harus dapat mengatasi ujian dari seluruh pelajaran agar kita dapat lulus, tidak ada kesempatan untuk menghindari. Kita semua pernah mengalami rasa takut menghadapi ujian dalam setiap jenjang pendidikan, akan tetapi semua ujian terselesaikan juga.

 

Demikian pula dalam kehidupan kita yang selalu berkembang. Pada waktu di dalam kandungan, sebagai janin kita hanya makan lewat suplai darah ibunda. Kita berada dalam posisi diam dan otomatis diberi makan. Kemudian setelah menjadi bayi kita harus berupaya bergerak dan menangis untuk minum ASI ibunda. Setelah menjadi anak kecil kita bisa makan sendiri, akan tetapi nasi tersebut adalah hasil keringat orang tua. Selanjutnya kita bekerja, mandiri, dan kita baru bisa makan dengan hasil keringat sendiri. Setelah itu kita mulai mencari nafkah untuk keluarga dan seterusnya. Masalah kehidupan tidak pernah lepas dari manusia. Rasa takut selalu bersama kita dalam setiap tahap kehidupan.

 

Memang hidup pada saat ini, rasa takutnya jauh lebih besar daripada masa lalu, sebagai akibat gaya hidup masa kini. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,  2001 disampaikan rasa takut masa kini………… Sewaktu masih bayi, kita begitu tak berdaya. Hidup-mati kita sangat tergantung pada belas-kasihan orang lain, termasuk orangtua kita. Sekarang, di mana kedua orangtua biasanya bekerja, seorang bayi akan sangat tergantung pada baby-sitter atau pembantu. Apabila ia lapar, ia hanya dapat menangis dan mungkin sang pembantu sibuk mengerjakan sesuatu atau sedang nonton TV. la harus tahan lapar dan menangis be berapa lama, sebelum mendapatkan makanan. Begitu diberi susu, ia akan minum sebanyak mungkin. la menjadi rakus. Sejak bayi ia mulai belajar menjadi takut, nanti kalau lapar, akan mendapatkan susu lagi atau tidak. Begitu tiba saat diberi susu, la minum sebanyak-banyaknya, sehingga perutnya sering kembung. Rasa takut ini masih terbawa sampai dewasa. Sampai tua pun, la masih mengejar sesuatu, terlibat dalam perlombaan, sibuk menghimpun harta benda. Kenapa? Karena rasa takut yang menyertainya sejak masa bayi……..

Baca lebih lanjut

Membebaskan Diri Dari Hipnotis Dunia

Filsafat Vedanta menjelaskan bahwa alam semesta ini – pikiran, perasaan, fisik, nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat semuanya mampu menghipnosis kita. Siapa yang mesti disalahkan untuk keadaan seperti itu? Kita sendiri. Karena itu, keluh-kesah, jeritan, dan tangisan kita, semuanya tidak berguna……. Demikian disampaikan oleh Swami Vivekananda, seorang pemikir besar dari Timur, idola Bung Karno…….. Benarkah kita ini telah terhipnotis oleh dunia? Terhipnotis oleh program-program yang sudah ada dalam masyarakat? Benarkah kita sesungguhnya belum bebas dari hipnotis masal? Dan selama ini kita hanya patuh pada program-program yang dihipnotiskan kepada kita?

 

Seorang anak manusia lahir dengan genetik bawaan dari orang tuanya dan kemudian memperoleh pengetahuan tentang kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Beda orang tua, beda pendidikan dan beda lingkungan akan menyebabkan pandangan tentang kebenaran yang tidak sama. Kita sudah mulai memahami bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan “delta” yang sangat reseptif sehingga apa pun yang dikatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan “alpha”, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002” disampaikan…….. Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau Buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja…….. Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Itulah sebab adanya Mind-Islam, Mind-Kristen, Mind-Hindu, Mind-Buddhis dan Mind-Atheis. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu lain.

 

Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……… Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di”manipulasi”……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……..

 

Pernyataan Swami Vivekananda bahwa kita berada dalam keadaan terhipnotis mengandung kebenaran. Kita belum bebas dari pengaruh hipnosis dari dunia yang kita alami sejak kita masih anak-anak. Sang Buddha memberi nama lain “hipnosis” sebagai “kurungan” yang membelenggu diri manusia. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan………. Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama:

  1. Lapisan Pertama adalah yang anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali. (Menurut kami, karakter bawaan sejak lahir seseorang dipengaruhi oleh Lapisan Pertama ini).
  2. Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.
  3. Lapisan ketiga adalah yang anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Hanya seorang Buddha yang hidup bebas. Hanya dialah yang hidup di luar kurungan. Buddha sedang mengundang anda untuk membebaskan diri dari “kurungan”. Tetapi anda tidak berani. Anda masih ragu-ragu. Anda masih bimbang, “Di dalam kurungan, hidup saya sudah cukup secure. Cukup terjamin. Sudah bisa makan enak. Sudah bisa jalan-jalan ke Mal. Sudah bisa nonton film. Sudah bisa ke diskotik. Di luar sana, semua itu ada nggak? Seorang Yesus sangat persuasive. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka akan memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin anda bebas dari kurungan. Dan mereka tahu persis, jika tidak diberikan iming-iming surga, anda tidak akan berani keluar dari kurungan……..

 

Para Suci, Orang-Orang Besar mengajak kita keluar dari kurungan, keluar dari pengaruh hipnotis dunia. Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan…….. Orang-Orang Besar menjadi besar, karena mereka berhasil membebaskan diri dari pengaruh hypnosis massal yang membenarkan kebiasaan-kebiasaan umum. Karena itu, mereka bisa mentransformasi diri dan metransformasi setiap orang yang berada di sekitar mereka. Inilah kisah Krishna, Buddha, Lao Tze, Muhammad, dan Isa. Mereka bukan orang-orang yang konformis. Ketika ditawari kerajaan dunia, harta kekayaan, dan kedudukan, mereka menolak demi kebenaran yang mereka percayai. “Tidak menerima tawaran dunia”; inilah turning point dalam hidup mereka. Bacalah kisah kehidupan mereka. Mereka semua mendapatkan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan dari iblis, namun mereka menolaknya. Dan mereka menjadi besar. Mereka menjadi jauh lebih besar daripada iblis yang menawarkan semuanya itu kepada mereka.

Semua Orang-Orang Besar, Semua Guru Sejati selalu mengingatkan manusia untuk mendengarkan Guru di Dalam Diri. Guru di Dalam Diri ini sering disebut hati nurani. Hati nurani bukan pikiran akan tetapi rasa terdalam. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I CHING Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Suara lembut hati nurani anda, adalah suara “wong cilik” dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras mind yang selalu membingungkan. Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”……….

 

Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan…….. Seorang guru sejati hanya menginginkan kita bahwa kita tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa. Kita bisa membantu diri sendiri. Kita bisa membebaskan diri dari kebodohan, dari ketaksadaran. Kemuliaan ada di dalam diri setiap orang, tinggal digali, ditemukan, dan diungkapkan. Seorang guru sejati membebaskan kita dari segala macam ketergantungan, termasuk ketergantungan pada dirinya. Hanya seorang seperti itu yang dapat membantu.

 

Untuk mengakses hati nurani, rasa terdalam atau inner feeling kita perlu melakukan latihan olah batin atau latihan meditasi. Dalam buku “Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Azka, 2012 disampaikan……… Bhaava atau Inner Feeling. Rasa Terdalam ini tidak membutuhkan otak. Ini adalah aliran kehidupan, yang justru menghidupi otak. Buddha mengaitkan bhaava dengan “keadaan meditatif”. Ia menyebutnya bhaavanaa. Sekarang, kita sering mengaitkan meditasi dengan kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, keseimbangan emosi, kedamaian jiwa, dan sebagainya. Sah-sah saja, tapi sayang. Ibarat menggunakan computer canggih untuk surat-menyurat saja. Fitur-fitur lain dari computer itu tidak digunakan, bahkan tidak dipelajari. Ada kalanya kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang kecanggihan serta kemampuan alat yang kita miliki. Buddha menggunakan inner feeling atau bhaava untuk menelusuri diri, untuk eksplorasi diri, untuk menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran, maupun alasan semu, yang sangat tergantung pada otak. Dan, ia menemukannya! Banyak orang, bahkan boleh bilang mayoritas – lahir, hidup, dan mati tanpa mengakses rasa terdalam itu. Persis seperti dalam perumpamaan computer sebelumnya – atau telepon genggam yang canggih, jika kita sudah cukup puas dengan menggunakan fitur-fitur basic saja, ya wis. Tidak perlu mempelajari fitur-fiturnya yang lebih advanced. Sah-sah saja, boleh-boleh saja, silakan hidup di periferi, di lingkar luar. Kehidupan semu pun hidup adanya. Jika sekadar mau hidup, monggo…….. Sekarang terserah kita, mau hidup terhipnotis dunia atau mau hidup bebas dari hipnotis dunia?

 

Untuk mendalami silakan baca buku setebal 300 halaman, “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Juni 2012

Guru Poornima atau Vyaasa Pooja

Berikut ini adalah renungan Bapak Anand Krishna menjelang peringatan Guru Poornima tanggal 3 Juli 2012

Beloved,

 

Guru Sangamam telah menyatakan Guru Poornima, atau Vyaasa Pooja, yang mana di Bali disebut Saraswati Pooja sebagai Hari Penting untuk dirayakan oleh setiap orang, entah yang sedang meniti jalan spiritual, maupun yang tidak.

 

Poornima mengingatkan kita pada cerita dari Padma Puraana yang sekarang selalu dibacakan saat berdoa hari itu. Kenapa cerita itu mesti dibaca ulang terus-menerus, dari bulan ke bulan?

 

Cerita itu juga disebut SatyaNaaraayana Vrata Kathaa – Cerita Brata Kebenaran Agung… Karena, “kebenaran itulah dharma tertinggi” (Satyam naasti paro dharmah) – tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kebenaran.

 

Kepalsuan tidak bisa bertahan lama.

Hanyalah kebenaran yang selalu bertahan.

 

Cerita2 dari Padma Puraana itu mengingatkan kita bagaimana seorang miskin bisa menjadi kaya raya karena Berkah Ilahi, dan bukan karena kemampuannya, tetapi kemudian kehilangan segalanya karena tidak taat pada Brata Kebenaran.

 

Ada kalanya, kita sudah sedemikian seringnya berbohong sehingga berbohong itulah menjadi dharma kita. Untuk hal-hal kecil pun berbohong. Awalnya memang kita menganggap hal itu biasa-biasa, “Toh saya tidak merugikan orang lain!” Akan tetapi, lambat laun kebohongan sekecil apapun menjadi tumor ganas. Dan, ketika hujan berkahNya berhenti, maka bukan saja menjadi miskin materi, orang itu kehilangan makna jiwanya. Kemudian, mau berbuat apapun juga, jiwanya tidak terselamatkan. Kecuali, ia betul-betul bertobat dan memohon maaf dari para tua, para suci, siapa saja yang pernah dibohonginya.

 

Satyameva Jayate – Kebenaran itulah yang akhirnya Jaya, Menang – kita sering mendengar hal ini, tetapi lebih sering lupa pula. Gampang mengucapkannya, tetapi sulit menerapkannya dalam keseharian hidup.

 

Tidak ada kejayaan, tidak ada keselamatan, tidak ada kebaikan, tidak ada kedamaian, tidak ada ketenangan, tidak ada kesehatan, tidak ada kasih, tidak ada kemuliaan, tidak ada sesuatu yang bernilai dan berharga dalam hidup mereka yang sudah terbiasa berbohong.

 

Menjelang Guru Poornimaa tahun ini, marilah kita berjanji pada diri sendiri bahwa kita tidak akan pernah lagi berbohong, untuk urusan apa pun juga. Jika tidak mau melakukan atau memberitahu sesuatu, lebih baik berterus-terang, “Saya tidak sanggup, tidak mau”, atau bahkan “tidak ingin lagi berkomentar”, “tidak ingin menjawab”, “tidak ingin beritahu” – tetapi tidak berbohong dan tidak menghindari keadaan.

 

Melarikan diri dari keadaan pun merupakan salah satu bentuk kebohongan.

 

Banyak sekali perubahan dan kejadian yang telah dan akan menimpa umat manusia dalam bulan2 mendatang – dalam keadaan pancaroba seperti itu, adalah kekuatan Satya atau Kebenaran yang menjadi pelindung kita, perisai kita.

 

Lagi-lagi, para suci mengingatkan kita bahwa ketika kepalsuan bergabung dengan kepalsuan maka ia menjadi alot, keras, kaku, dan tidak bisa lagi melihat kebenaran. Ini yang mesti diperhatikan selalu. Tidak ada spiritualitas, tidak ada kehidupan materi yang bahagia tanpa Satsang – pergaulan yang mengajak kita kepada kejujuran, kebenaran, ketulusan, dan keterbukaan.

 

Menuju tanggal 3 Juli nanti, mulai hari ini, sejak saat ini mari kita berjujur dengan diri sendiri.Karena, sesungguhnya ketika berbohong kita hanyalah membohongi diri sendiri. Para suci, para dewa, para guru mengetahui persis segala sesuatu – kita pun tidak bisa membohongi mereka.

 

Mari kita melakukan inventarisasi tentang jalan kebenaran apa yang telah kita tempuh selama setahun terakhir, dan kepalsuan apa, kebohongan apa yang telah kita ucapkan. Mari kita bertobat, dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi.

 

Kekuatan-kekuatan kepalsuan hanyalah mendekati kita ketika mereka mendapatkan sesuatu, mendapatkan materi, mendapatkan pujian dan lain sebagainya dari kita. Sementara itu mereka tidak dapat memberi kita sesuatu, kecuali kecelakaan dan kekhawatiran. Adalah kekuatan kebenaran yang senantiasa melindungi kita.

 

Hujan Berkah Bunda masih turun, dan hujan berkahNya lebat sekali, maka cawan kita yang berlubang dan bocor pun ada kalanya masih terlihat penuh. Namun, ketika hujan berkah itu berhenti, maka cawan kita menjadi kosong. Dan, tidak berguna lagi. Mari kita memperbaiki cawan otak dan rasa kita, memperbaiki kebocorannya. Supaya bisa menampung hujan berkah.

 

Setiap keadaan, setiap orang yang menjauhkan kita dari jalan kebenaran adalah kekuatan jahat yang membangkitkan benih-benih kejahatan yang ada di dalam diri setiap orang. Benih-benih ini tidak pernah mati, kecuali terus menerus kita membanjiri lahan jiwa kita dengan Hujan BerkahNya, dengan Luapan Kasih dan Kebenarannya. Kemudian, benih-benih itu pun akan hanyut, dan tidak mengganggu lagi.

 

Bersiap-siaplah untuk menampung air hujan BerkahNya.

 

Love and blessings as always

 

PS: Message ini bisa dishare

Ternyata Kita Sudah Terhipnotis Masal

Pakar hypnotherapy  Bapak Adi W Gunawan dalam salah satu talkshow bersama Bapak Anand Krishna menyatakan bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan “delta” yang sangat reseptif sehingga apa pun yang diakatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan “alpha”, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya. Bapak Anand Krishna menambahkan bahwa orang yang sudah dewasa pun, bila sedang memberhentikan kendaraan pada saat lampu merah di perempatan jalan dan melihat iklan di di tepi jalan, maka dia akan membacanya sekali. Akan tetapi bila ada lampu berkedap-kedip pada iklan tersebut bisa saja selama dia berhenti di lampu merah pikiran dia akan menerima pesan ratusan kali, sebanyak kedipan lampu di iklan tersebut. Dan proses hipnotis masal terjadi……….

 

Benarkah kita sudah terhipnotis masal? Mengapa para pemanipulasi otak tidak senang beragumentasi dan mengapa pula iklan sampai saaat ini tidak pernah beragumentasi? Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan…….. Tidak ada iklan interaktif. Setidaknya, hingga saat ini belum ada. Semua iklan bersifat satu arah. Ini pula yang membedakan seorang pemimpin sekte yang hendak mempengaruhi anggotanya dan seorang spiritualis yang justru berupaya untuk membuka wawasan siapa saja yang berhubungan dengannya dengan cara berdialog dan tanya jawab. Seorang spiritualis membuka diri untuk bertemu dan berdialog dengan siapa saja. Anda boleh berbeda pandangan dan pendapat dengannya. Ada boleh menerima dan boleh juga tidak menerimanya. Ia tidak terpengaruh oleh penerimaan dan penolakan kita……..

………Apakah kamu pernah memperhatikan bahwa iklan tidak pernah berargumentasi? Ia tidak berkepentingan dengan argumentasi. Seorang yang ingin mempengaruhimu tidak pernah berargumentasi. Ia akan membombardir dirimu secara halus dengan sugesti-sugesti yang diinginkannya. Karena, ketika orang berargumentasi denganmu, kau pasti akan membela diri. Kau akan menjawab argumentasinya. Jika seorang tidak berargumentasi denganmu tapi secara terus-menerus membombardir dirimu dengan sugesti-sugesti sesuai dengan keinginannya, kau akan mempercayai dia!……… Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau gugusan pikiran manusia dapat dimanipulasi, dapat di hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya……..

 

……..Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup………

………Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu………

 

Bila seorang anak kecil berada dalam gelombang pikiran yang sugestif untuk dihipnosis, maka manusia dewasa pun sering mengalami keadaan seperti trans sehingga mudah dihipnosis. Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan…….. Kenyataannya adalah bahwa setiap hari kita mengalami keadaan-alami (yang menyerupai trans) dalam tahapan yang berbeda. Ini bukanlah khayalan, tapi fakta. Bukankan setiap hari kita menggunakan waktu kita untuk memikirkan berbagai macam rencana dan hasil dari perencanaan itu. Ketika terjadi pemusatan perhatian, pikiran atau kesadaran pada sesuatu, maka kita berada dalam suatu keadaan yang menyerupai trans………

………Banyak kegiatan dalam keseharian hidup kita bersifat hipnotik. Ketika kita mengendarai mobil misalnya, seolah tidak sadar/tidak tahu, dan tiba-tiba sudah sampai ditujuan…….. Televisi sangat hipnotik, sebab itu disebut candu….atau, ketika kita sedang menonton film. Sebelum film dimulai, kita masih sepenuhnya sadar akan lingkungan dan teman di sebelah kita. Tetapi, begitu film dimulai apalagi jika film itu bagus dan menarik diperhatikan kita, maka kita seolah terputus dari lingkungan. Seluruh perhatian kita terpusat pada tayangan tersebut. Keadaan-keadaan sebagaimana dijelaskan diatas memang menciptakan keadaan alami yang mirip dengan trans. Tetapi ini bukanlah hypnosis yang sebenarnya. Hypnosis yang sebenarnya adalah ketika seorang hipnotis secara sengaja berusaha untuk mengubah keadaan subjeknya. Ia menarik seorang subjek dari keadaan alami yang menyerupai trans (termasuk kesadaran yang terpusatkan ketika kita sedang menonton televisi, mengendarai mobil, dsb) dan membawanya ke dalam lapisan kesadaran hipnotik, dimana ia dapat mempengaruhi pikiran dan perasaannya dengan memberi sugesti sesuai dengan pilihannya.

 

Ternyata kala kita berinteraksi dengan orang lain, sering secara tidak sadar kita terhipnotis. Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan…….. Hipnosis memiliki banyak wujud dan nama lain…….. Salah satu pelopor NLP, penulis, dan presenter (Richard Bandler) mengakui secara terbuka bahwa cara terbaik untuk induksi adalah dengan menatap orang yang hendak diinduksi, menyelaraskan napas dengan dia, dan menginduksi diri untuk memasuki trans. Dengan cara meinduksi diri dan memasuki trans itu, orang yang sedang kita tatap pun akan ikut terinduksi dan masuk ke dalam alam trans. Ini adalah salah satu bentuk “hypnosis” yang sering terjadi tanpa kita sadari……… Pergaulan dapat menginduksi kita dengan cara tersebut. Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral. Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi. Hal yang sama (penyelarasan napas) terjadi ketika kita bernyanyi bersama. Kemudian, muatan pada lirik lagu pun mempengaruhi jiwa kita. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama menginduksi kita untuk bersama-sama memasuki alam rohani. Lagu-lagu disco mengantar kita kealam disco……..

 

Meditasi, latihan olah batin berupaya membebaskan diri seseorang dari perbudakan pikiran, membebaskan diri dari hipnotis masal. Latihan-latihan afirmasi atau menghipnosis diri sendiri agar seseorang bebas dari perbudakan pancaindera dan mengantarnya ke dalam diri untuk mengenal siapa jatidirinya. Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan……..  Meditasi, spiritualitas, metafisika adalah seni pemberdayaan diri. Meditasi membebaskan diri kita dari perbudakan pada pancaindera. Spiritualitas mengantar kita ke dalam diri, dimana kita mengenal potensi diri. Metafisika mengembangkan diri kita secara holistik. Intinya: Seni memberdaya diri untuk memberdayakan manusia baru – Neoman dan Neowoman – untuk memberdayakan diri anda, diri kita semua. Inilah seni zaman baru, milenia baru, berlandaskan kebijakan kuno dari timur, sebagaimana akan kita baca di bagian lain buku ini……… Jika teknik-teknik hypnosis diajarkan supaya kita dapat memberdayakan diri sendiri, oke. Itu baik tetapi jika teknik-teknik itu diterapkan supaya kita tergantung pada sang terapis, celapa tiga belas! Setiap latihan yang tidak memberdayakan diri kita, tidak menjadikan kita menjadi bagi diri sendiri adalah berbahaya dan merendahkan martabat kita sebagai manusia……..

 

Untuk mendalami silakan baca buku setebal 300 halaman, “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Juni 2012

Dari Hirarki Kebutuhan Manusia Menuju Hirarki Kesadaran Manusia

Abraham Maslow menggunakan piramida kebutuhan manusia untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang selalu berkembang. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan fisik adalah kebutuhan terendah. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, seperti kebutuhan rumah, kesehatan di hari tua, dapat menyekolahkan putra-putrinya dan lain-lain. Setelah itu ada kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian baru kebutuhan harga diri, agar dirinya dalam pergaulan sosial bisa dihargai. Dan akhirnya adalah  kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk melaksanakan karya nyata di tengah masyarakat. Sebetulnya Maslow di hari tuanya paham bahwa itu semua merupakan kebutuhan personal dan menambahkan kebutuhan transpersonal manusia, akan tetapi kebutuhan yang terakhir tersebut kurang dapat dipahami orang dan kurang terekspose.

Pada suatu saat,seseorang  mungkin sudah memperoleh semuanya, akan tetapi dia belum merasa bahagia juga. Semua kebutuhan luar tersebut tidak memberinya kebahagiaan selamanya. Kadang kebutuhannya terpenuhi, kadang terancam pemenuhannya dan kadang bahkan kebutuhan yang sudah berada dalam tangannya menghilang, sehingga kebahagiaan yang dirasakannya tidak bertahan lama. Hanya menggunakan pikirannya belaka, hanya memfokuskan pada aspek mental-emosionalnya saja manusia belum dapat menemukan kebahagiaan sejati. Dalam diri setiap orang tidak hanya aspek mental-emosionalnya yang berpengaruh akan tetapi ada  juga aspek intelegensia. Intelegensia membuat seseorang sadar akan adanya golden rule,”bila aku tidak senang diperlakukan demikian oleh orang lain, maka aku juga tidak akan melakukan hal demikian kepada orang lain”. Intelegensia membuat seseorang merasa “sama” dengan lainnya, sedangkan mind membuat seseorang merasa berbeda dengan lainnya. Mind ingin memuaskan diri sendiri, sedang intelegensia menumbuhkan rasa ingin loving, caring and sharing to others. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……… Ada mind, ada intelegensia. Bukan intelek, tetapi intelegensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum. Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Baca lebih lanjut

Mengapa Rasa Bahagia Masih Terancam Derita? Sudah Benarkah Pandangan Hidup Kita?

Konon Sidharta Gautama, sang putra mahkota Kerajaan Kapilavastu adalah seorang yang sangat kritis dalam memandang kehidupan. Saat melihat orang sakit, dia sadar bahwa dia pun dapat mengalami sakit dan semua orang dapat mengalami sakit. Baik suka atau tidak suka, keadaan sakit akan mendatangi semua manusia. Kemudian kala Sidharta melihat orang tua yang sedang sekarat, dia sadar pada suatu saat dia pun akan mengalami hal itu, semua orang akan mengalami hal yang sama, mengalami saat maut datang menjemput. Kala Sidharta melihat orang mati, kembali dia sadar bahwa setiap orang akan mengalami kematian termasuk dirinya.

Kita juga mengalami hal yang sama, kita sudah  pernah melihat penderitaan orang yang sakit. Kita juga sudah pernah melihat orang dekat kita mendekati kematian, kala berbaring di rumah sakit dengan berbagai selang infus dengan grafik komputer yang menunjukkan bahwa dia dalam keadaan kritis. Kita juga beberapa kali takziah mendatangi upacara pemakaman orang-orang dekat. Akan tetapi mengapa hati kita tidak terketuk seperti Sidharta? Kita tidak senang berpikir hal buruk yang akan menimpa kita, kita ingin selalu bahagia. Itu saja. Tetapi apakah kita selalu bahagia? Suka dan duka datang silih berganti, tetapi tetap saja kita tidak mau berpikir masalah utama yang menyebabkan duka, padahal setiap suka selalu bergandeng tangan dengan duka. Mungkin sampai nyawa kita diambil Sang Pencabut Nyawa pun kita belum tahu atau belum mau tahu penyebab utama datangnya duka dan penderitaan.

Dikisahkan pada suatu saat, Pangeran Sidharta melihat seseorang yang sakit, yang sedang menghadapi sakaratul maut dan dalam beberapa saat lagi akan mati. Akan tetapi sang pangeran melihat rona kebahagiaan di wajah orang tersebut. Ini kembali menyadarkan sang pangeran, bahwa kejadian yang sama dapat dihadapi dengan rasa penuh kebahagiaan. Kejadian-kejadian tersebut membuat Pangeran Sidharta meninggalkan istana untuk mencari tahu tentang kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang dirasakan setiap saat dalam kondisi apa pun. Dan, akhirnya seluruh umat manusia dapat memetik pelajaran yang diperoleh dari pencerahan sang pangeran.

Banyak anak-anak muda yang bercita-cita muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga. Mungkin sebagian besar orang menginginkan hal tersebut. Mungkin ada idola yang seakan-akan telah mengalami hal tersebut. Akan tetapi betulkah sang idola mengalami kebahagiaan sepanjang hidupnya? Bukankah kita mengalami sendiri berkali-kali, kita sesaat merasa bahagia dan sesaat kemudian merasa sengsara? Akan tetapi kita tetap nekat menempuh jalan yang sama berulang-ulang. Inilah yang disebut ketidaktahuan atau ignorance. Ketidaktahuan yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu bahwa kita sebenarnya tidak tahu. Bagi seorang Buddha suka-duka yang dialami manusia tersebut disebut dukha. Dan dukha tersebut disebabkan karena keterikatan manusia dengan segala sesuatu. Baca lebih lanjut