Membebaskan Diri Dari Hipnotis Dunia


Filsafat Vedanta menjelaskan bahwa alam semesta ini – pikiran, perasaan, fisik, nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat semuanya mampu menghipnosis kita. Siapa yang mesti disalahkan untuk keadaan seperti itu? Kita sendiri. Karena itu, keluh-kesah, jeritan, dan tangisan kita, semuanya tidak berguna……. Demikian disampaikan oleh Swami Vivekananda, seorang pemikir besar dari Timur, idola Bung Karno…….. Benarkah kita ini telah terhipnotis oleh dunia? Terhipnotis oleh program-program yang sudah ada dalam masyarakat? Benarkah kita sesungguhnya belum bebas dari hipnotis masal? Dan selama ini kita hanya patuh pada program-program yang dihipnotiskan kepada kita?

 

Seorang anak manusia lahir dengan genetik bawaan dari orang tuanya dan kemudian memperoleh pengetahuan tentang kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Beda orang tua, beda pendidikan dan beda lingkungan akan menyebabkan pandangan tentang kebenaran yang tidak sama. Kita sudah mulai memahami bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan “delta” yang sangat reseptif sehingga apa pun yang dikatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan “alpha”, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002” disampaikan…….. Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau Buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja…….. Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Itulah sebab adanya Mind-Islam, Mind-Kristen, Mind-Hindu, Mind-Buddhis dan Mind-Atheis. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu lain.

 

Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……… Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di”manipulasi”……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……..

 

Pernyataan Swami Vivekananda bahwa kita berada dalam keadaan terhipnotis mengandung kebenaran. Kita belum bebas dari pengaruh hipnosis dari dunia yang kita alami sejak kita masih anak-anak. Sang Buddha memberi nama lain “hipnosis” sebagai “kurungan” yang membelenggu diri manusia. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan………. Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama:

  1. Lapisan Pertama adalah yang anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali. (Menurut kami, karakter bawaan sejak lahir seseorang dipengaruhi oleh Lapisan Pertama ini).
  2. Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.
  3. Lapisan ketiga adalah yang anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Hanya seorang Buddha yang hidup bebas. Hanya dialah yang hidup di luar kurungan. Buddha sedang mengundang anda untuk membebaskan diri dari “kurungan”. Tetapi anda tidak berani. Anda masih ragu-ragu. Anda masih bimbang, “Di dalam kurungan, hidup saya sudah cukup secure. Cukup terjamin. Sudah bisa makan enak. Sudah bisa jalan-jalan ke Mal. Sudah bisa nonton film. Sudah bisa ke diskotik. Di luar sana, semua itu ada nggak? Seorang Yesus sangat persuasive. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka akan memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin anda bebas dari kurungan. Dan mereka tahu persis, jika tidak diberikan iming-iming surga, anda tidak akan berani keluar dari kurungan……..

 

Para Suci, Orang-Orang Besar mengajak kita keluar dari kurungan, keluar dari pengaruh hipnotis dunia. Dalam buku “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan…….. Orang-Orang Besar menjadi besar, karena mereka berhasil membebaskan diri dari pengaruh hypnosis massal yang membenarkan kebiasaan-kebiasaan umum. Karena itu, mereka bisa mentransformasi diri dan metransformasi setiap orang yang berada di sekitar mereka. Inilah kisah Krishna, Buddha, Lao Tze, Muhammad, dan Isa. Mereka bukan orang-orang yang konformis. Ketika ditawari kerajaan dunia, harta kekayaan, dan kedudukan, mereka menolak demi kebenaran yang mereka percayai. “Tidak menerima tawaran dunia”; inilah turning point dalam hidup mereka. Bacalah kisah kehidupan mereka. Mereka semua mendapatkan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan dari iblis, namun mereka menolaknya. Dan mereka menjadi besar. Mereka menjadi jauh lebih besar daripada iblis yang menawarkan semuanya itu kepada mereka.

Semua Orang-Orang Besar, Semua Guru Sejati selalu mengingatkan manusia untuk mendengarkan Guru di Dalam Diri. Guru di Dalam Diri ini sering disebut hati nurani. Hati nurani bukan pikiran akan tetapi rasa terdalam. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I CHING Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Suara lembut hati nurani anda, adalah suara “wong cilik” dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras mind yang selalu membingungkan. Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”……….

 

Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan…….. Seorang guru sejati hanya menginginkan kita bahwa kita tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa. Kita bisa membantu diri sendiri. Kita bisa membebaskan diri dari kebodohan, dari ketaksadaran. Kemuliaan ada di dalam diri setiap orang, tinggal digali, ditemukan, dan diungkapkan. Seorang guru sejati membebaskan kita dari segala macam ketergantungan, termasuk ketergantungan pada dirinya. Hanya seorang seperti itu yang dapat membantu.

 

Untuk mengakses hati nurani, rasa terdalam atau inner feeling kita perlu melakukan latihan olah batin atau latihan meditasi. Dalam buku “Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Azka, 2012 disampaikan……… Bhaava atau Inner Feeling. Rasa Terdalam ini tidak membutuhkan otak. Ini adalah aliran kehidupan, yang justru menghidupi otak. Buddha mengaitkan bhaava dengan “keadaan meditatif”. Ia menyebutnya bhaavanaa. Sekarang, kita sering mengaitkan meditasi dengan kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, keseimbangan emosi, kedamaian jiwa, dan sebagainya. Sah-sah saja, tapi sayang. Ibarat menggunakan computer canggih untuk surat-menyurat saja. Fitur-fitur lain dari computer itu tidak digunakan, bahkan tidak dipelajari. Ada kalanya kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang kecanggihan serta kemampuan alat yang kita miliki. Buddha menggunakan inner feeling atau bhaava untuk menelusuri diri, untuk eksplorasi diri, untuk menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran, maupun alasan semu, yang sangat tergantung pada otak. Dan, ia menemukannya! Banyak orang, bahkan boleh bilang mayoritas – lahir, hidup, dan mati tanpa mengakses rasa terdalam itu. Persis seperti dalam perumpamaan computer sebelumnya – atau telepon genggam yang canggih, jika kita sudah cukup puas dengan menggunakan fitur-fitur basic saja, ya wis. Tidak perlu mempelajari fitur-fiturnya yang lebih advanced. Sah-sah saja, boleh-boleh saja, silakan hidup di periferi, di lingkar luar. Kehidupan semu pun hidup adanya. Jika sekadar mau hidup, monggo…….. Sekarang terserah kita, mau hidup terhipnotis dunia atau mau hidup bebas dari hipnotis dunia?

 

Untuk mendalami silakan baca buku setebal 300 halaman, “Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal”, Anand Krishna, Gramedia, 2012

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: