Para Nabi Telah Berupaya Memperbaiki Dunia Tetapi Kejahatan Masih Saja Merajalela?


Ada sebuah cerita, tentang seseorang yang mempunyai talenta dan semangat yang luar biasa. Sejak kecil dia ingin mengubah dunia, akan tetapi sampai mendekati puncak karirnya, dunia tidak dapat berubah seperti yang dikehendakinya. Oleh karena itu sampai masa purna tugasnya, dia hanya  ingin mengubah masyarakat di tempat dia tinggal. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi, dan pengaruh dia kalah besar dengan pengaruh banyak hal sehingga dia tidak mampu mengubah masyarakat sekelilingnya. Akhirnya dia hanya ingin mengubah keluarga, bahwa yang penting baginya adalah bisa mengubah keluarganya sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Akan tetapi ternyata masing-masing anggota keluarga adalah individu yang mempunyai pandangan pribadi yang tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi olehnya. Sehingga mendekati akhir hayatnya dia baru sadar bahwa  yang dapat diubah olehnya hanyalah dirinya sendiri. Itupun memerlukankan perjuangan yang tidak kalah serunya.

Terus bagaimana dengan petunjuk para suci, para nabi, para guru untuk mengasihi orang lain, peduli dengan tetangga dan masyarakat? Bila ternyata tidak semua orang pantas dikasihi, tidak semua tetangga baik, tidak semua masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan? Apakah petunjuk mereka kurang tepat? Bukankah sudah banyak para suci, para nabi, para guru berjuang di dunia, akan tetapi dunia belum juga damai, kejahatan tetap merajalela?

Dalam keterbatasan diri yang sudah mulai menua, dan beberapa organ tubuh yang sudah mulai menurun fungsinya, tiba-tiba muncul sebersit kesadaran……. Yang penting bukan yang di luar, akan tetapi apa yang di dalam…… petunjuk untuk mengasihi orang lain dan alam semesta adalah salah satu cara untuk mengaktifkan kasih di dalam diri. Latihan meditasi atau olah batin dengan penuh komitmen, menjalankan “sadhana” atau amalan dengan disiplin, melakukan pelayanan kepada orang lain tanpa pamrih pribadi, bukan untuk mengubah yang di luar, akan tetapi untuk memberdaya diri yang di dalam. Petunjuk dari para suci untuk mengasihi tetangga dan alam semesta adalah salah satu cara untuk mengaktifkan kasih di dalam diri. Bila kasih sudah ada di dalam diri, maka baru tindakan kita ke luar akan penuh kasih. Tiba-tiba seperti ada yang menyadarkan, bahwa bahwa para suci tidak terpancang pada dunia berubah atau tidak oleh Mereka, akan tetapi adalah tugas para suci agar ajarannya menyebar dan menyentuh hati-hati insan yang telah “siap”. Ajaran Mereka bukan untuk menguasai dunia. Bukan untuk memperluas wilayah yang terpengaruh ajaran Mereka. Tetapi ajaran Mereka untuk menyentuh hati-hati insan yang telah “lapar” akan kebenaran sehingga siap menikmati jamuan makan Mereka.

Kami ingat motto Bapak Anand Krishna yang telah menjadi motto di dalam diri “Inner Peace, Communal Love, Global Harmony”. Semuanya dimulai dengan “inner peace”. Selanjutnya kita menghadapi masyarakat dengan penuh kasih, dan berkontribusi agar tercipta dunia yang penuh harmoni. Akan tetapi Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa motto tersebut akan tetap valid sampai akhir zaman. Menurut pendapat kami sampai dengan saat ini, berarti yang penting adalah kita melakukan hal yang benar, berbagi kebenaran, ada beberapa orang saja yang tersentuh itu sudah merupakan kebahagiaan. Apalagi bila ada pemimpin masyarakat yang mempraktekkan kebenaran tersebut.

Yang penting adalah timbulnya rasa kasih dalam diri. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas“, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 juga disampaikan………. Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya….. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-”apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri………..

Selama ini kita telah bertindak tanpa kesadaran, apakah tindakan kita benar-benar penuh kasih atau masih terselip keinginan guna mendapatkan pujian dari luar? Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia“, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 disampaikan bahwa Hyang Widhi selalu memberi, memberi dan memberi…….. Anugerah-Nya berlimpah, seolah Tangan-Nya selalu terbuka untuk memberi dan memberi dan memberi. Kita tidak mampu menghitung pemberian-Nya, berkah-Nya. Ia memberi tanpa menampakkan Diri. Hendaknya kita belajar dari sifat-Nya yang satu ini: Memberi tanpa menampakkan diri, tanpa bergembar-gembor. Tidak perlu publisitas. Berilah karena cinta, karena kasih. Bukan karena pengakuan oleh masyarakat, oleh institusi, ataupun karena anjuran si Fulan. Berilah karena memang memberi adalah sifatmu…………

Guru hadir dalam kehidupan untuk menerangi hati yang telah sekian lama berada dalam kegelapan. Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran“, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan………. Arti kata guru dalam bahasa Sansekerta adalah “bebas dari kegelapan kebodohan yang disebabkan oleh ketidaksadaran.” Ungkapan Jaya Guru Deva dalam bahasa yang sama berarti, “berjayalah kemuliaan yang membebaskan diri dari kebodohan yang disebabkan oleh ketidaksadaran”. Kemuliaan ini berada di dalam diri kita sendiri. Sumber kesadaran berada di dalam diri kita sendiri. Jiwa atau semangat panembahan tidak berasal dari luar diri. Seorang guru sejati hanya menginginkan kita bahwa kita tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa. Kita bisa membantu diri sendiri. Kita bisa membebaskan diri dari kebodohan, dari ketaksadaran. Kemuliaan ada di dalam diri setiap orang, tinggal digali, ditemukan, dan diungkapkan. Seorang guru sejati membebaskan kita dari segala macam ketergantungan, termasuk ketergantungan pada dirinya. Hanya seorang seperti itu yang dapat membantu. Hendaknya kita selalu ingat bahwa sesungguhnya kita sendiri yang dapat membantu diri sendiri. Kita sendiri yang mesti membantu diri sendiri. Dan, kita dapat melakukannya, asal kita percaya diri. Itu saja……….

Sebuah refleksi dalam rangka menghormati Guru Purnima

Dalam rangka peringatan Guru Purnima, Bapak Anand Krishna telah berbagi wejangan…….. yang terjemahan bebasnya……. Selama ribuan tahun sampai kini telah ditetapkan satu hari dalam setahun guna mengingat dan menunjukkan rasa terima kasih kepada guru mentor spiritual kita, dan panduannya bagi umat manusia. Hari itu disebut Guru Purnima – hari ketika kita tercerahkan, dan kegelapan ilusi terhalau.

……… Mengikuti penanggalan Lunar, tanggal 3 Juli 2012 adalah Guru Purnima. Mari kita merenungkan apa yang disampaikan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sekitar 50 tahun yang lalu:

……. “Guru memperingatkan dan membangkitkan. Dia mengungkapkan kebenaran dan mendorong Anda ke arah kemajuan.”

……..“(Namun) Kecuali Anda memiliki kerinduan, pertanyaan terdalam, pencarian inteligensi, Guru tidak bisa berbuat banyak.”

……..“Mereka yang lapar dapat dijamu; orang yang tidak merasa lapar akan membuang makanan dengan ketidaksukaan.”

……..“Guru adalah tukang kebun, yang akan menanam. Tapi, biji pohon harus sudah berkecambah lebih dahulu sebelum ditanam.”

……..“Guru tidak menambahkan sesuatu yang baru kepada tanaman, Guru hanya membantu agar tanaman tumbuh sesuai dengan garis kehidupannya sendiri, mungkin lebih cepat dan lengkap, tapi tidak menentang bawaan alaminya.

……..“Guru menghilangkan kemiskinan dengan menunjukkan harta karun yang terkubur dalam diri Anda. Dia menyarankan metode penemuannya dan kewaspadaan yang diperlukan guna mendapatkan yang terbaik.”……….

Terima kasih Guru……

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: