Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. demikian ditulis oleh Bapak Anand Krishna dalam buku “The Gospel of Michael Jackson”.

 

Membaca kisah kezaliman Korawa atau Rahwana, kita dapat menikmatinya karena kita sudah tahu akhirnya bahwa adharma akan dikalahkan oleh dharma. Akan tetapi bila kita berada dalam situasi tersebut, hidup kita akan galau karena kita belum tahu kapan dharma akan tegak, sedangkan pada saat itu adharma sudah menguasai kehidupan bermasyarakat. Banyak sekali contoh tentang berapa lama kekuasaan para penguasa, akan tetapi sebetulnya hitungan bagi negara itu bukan dalam tahun tetapi dalam abad. Bukankah kejayaan Bangsa Yunani, Imperium Romawi, para Pharaoh di Mesir, Negara Atlantis yang bertahan beberapa abad pun mengalami penurunan…… Akan tetapi satu abad itu sangat lama bagi yang mengalaminya. Bisa saja seseorang sejak lahir sampai meninggal hanya dapat mengalami adharma yang bersimaharajalela. Bisa saja selama hidupnya dia hanya melihat Yudas-Yudas yang dipercaya penguasa.

 

Kami membaca ulang duapuluhan artikel kami di kompasiana pada bulan Maret-April 2011 yang mengungkapkan kondisi adharma yang memprihatinkan dan laku kezaliman terhadap Anand Krishna, diantaranya:

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/23/keberimbangan-berita-mass-media-secara-legal-formal-dan-dampak-riil-bagi-keadilan-seorang-anak-bangsa/

http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/17/figur-duryudana-burisrawa-drestarasta-dan-sengkuni-di-tengah-tengah-bangsa/

http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/15/beberapa-karakter-utama-manusia-zaman-alengka-di-tengah-tengah-bangsa-kita/

http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/08/refleksi-hari-ke-31-pak-anand-krishna-puasa-makan-demi-keadilan/

 

Kemudian membandingkan dengan ungkapan para putra bangsa pencinta ibu pertiwi seperti yang kami tulis pada akhir-akhir ini diantaranya:

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/09/surat-terbuka-anand-krishna/

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/14/anak-bangsa-yang-menghalalkan-segala-cara-untuk-menjatuhkan-anand-krishna/

Nampaknya keberingasan adharma semakin memuncak, dan bagi kami apa yang terjadi pada Bapak Anand Krishna adalah gambaran nyata sebuah model yang terjadi secara luas di tengah masyarakat kita. Baca lebih lanjut

Iklan

Anak Bangsa Yang Menghalalkan Segala Cara Untuk Menjatuhkan Anand Krishna

Prihatin atas berita-berita di koran dan internet tentang ketidakberpihakan sebagian oknum-oknum putra-putri bangsa terhadap Kebenaran dan Keadilan, di dalam hati terjadi perenungan yang dalam……

Untuk berapa lama kita hidup?

Apakah kita hidup selamanya?

Bukankah akan ada suatu masa di mana mulut dikunci dan seluruh anggota tubuh menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?

Mengapa tindakan kita mau menang sendiri dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi/kelompok dan mengesampingkan kebenaran?

Mengapa kita menganggap bahwa masyarakat umum tidak perlu tahu prosesnya, yang penting secara hukum tindakan dibenarkan?

Mengapa yang dipentingkan pertimbangan dari segi hukum walau di dalamnya penuh manipulasi dan jauh dari rasa keadilan dan kebenaran?

Mengapa mengedepankan nafsu mau menang sendiri dan mengabaikan hati nurani?

Mengapa beberapa instansi yang dilapori melindungi oknum atas nama Korps dan bukan atas nama Kebenaran dan Keadilan?

Sudah saatnya suara diungkapkan kepada alam semesta……..

Dia Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Adil akan memberikan balasan sesuai perbuatan yang dilakukan……..

Ibarat buah yang membesar di atas pohon kejahatan, maka alam semesta akan menunggu waktu masaknya buah, dan buah tersebut akan jatuh sendiri pada waktunya……

 

Berikut contoh ketidakadilan yang perlu disimak……

 

Siaran Pers Komunitas Pecinta Anand Ashram

Kebohongan Jaksa Muda Martha P Berliana dalam kasus Anand Krishna dilaporkan. Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA), melapor kepada Kejaksaan Agung RepubIik Indonesia dugaan terjadinya kesengajaan Jaksa Muda Martha P Berliana (NIP. 19700416 199603 2 002) dalam melakukan kebohongan, pemutar-balikan fakta dan pengaburan dalam menyusun Permohonan Memori Kasasi terhadap Putusan Bebas PN Jakarta Selatan terhadap Anand Krishna, tanggal 22 Nopember 2011 lalu.

 

PROTES KERAS ini disampaikan karena telah dilakukan oleh Jaksa Muda Martha P Berliana berulang-ulang kali, mulai dari Surat Tuntutan, Replik dan sekarang Permohonan Memori Kasasi sehingga kami menduga ini dilakukan oleh Jaksa Muda Martha P Berliana sebagai upaya KESENGAJAAN, bukan lagi tindakan sekedar TIDAK PROFESSIONAL dalam melaksanakan tugasnya. Baca lebih lanjut

Surat Terbuka Anand Krishna

Surat Terbuka buat

Sdr. Zaharuddin Utama,

Sdr. Achmad Yamenie, Sdr.Sofyan Sitompul,

Saudara-saudaraku Sebangsa dan Setanahair,

yang saat ini menjabat sebagai Hakim Agung;

 

Sdr. Martha Berliana Tobing,

Saudariku Sebangsa dan Setanahair,

yang saat ini menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum;

dan,

 

Keluarga Besarku – Keluarga Indonesia,

yang telah Menjadi Saksi akan Kezaliman

yang Dilakukan terhadap Diriku….

 

 

 

“At his best, man is the noblest of all animals;

separated from law and justice he is the worst.”

Manusia adalah yang paling mulia diantara

makhluk-makhluk hidup lainnya;

namun ketika tidak mengindahkan hukum dan keadilan,

 maka ia adalah makhluk yang paling nista.

Aristotle

 

 

Saudara-saudaraku Sebangsa dan Setanahair,

 

Sungguh, saya tidak habis mengerti apa yang menggerakkan hati Saudara-Saudaraku Zaharuddin Utama, Achmad Yamenie, Sdr. Sofyan Sitompul, dan Martha Berliana Tobing hingga bersekongkol untuk menjatuhkan hukuman yang sama sekali tidak masuk akal.

 

Selama bertahun-tahun saya telah mengabdikan diri pada negeri ini, menjunjung tinggi hukumnya, dan melayani sesama anak bangsa – dan, oleh karena itu, adalah kewajiban serta keyakinan saya untuk menolak setiap orang yang melecehkan nilai-nilai kebersamaan, menginjak-injak Hukum Negara, dan merusak Keadilan dengan menyelewengkan Kebenaran.

 

Sebab itu, Saudara-Saudaraku……….

 

Demi Keadilan,

Saya MENOLAK SECARA TEGAS setiap TINDAKAN

Yang MELECEHKAN HUKUM Negeri ini;

dan, dalam hal ini Keputusan yang dibuat oleh

Sdr. Zaharuddin Utama,

Sdr. Achmad Yamenie, Sdr. Sofyan Sitompul,

atas dasar Kasasi oleh JPU Sdri. Martha Berliana Tobing,

sebagaimana diberitakan lewat media.

jelas-jelas adalah Tindakan PELECEHAN HUKUM,

TIDAK KONSTITUSIONAL, dan

MELANGGAR HAK-HAK AZASI MANUSIA.

 

Kiranya, saya perlu mengingatkan Saudara-Saudara akan hal-hal berikut:

 

1. Putusan Bebas tidak bisa dikasasi karena bertentangan dengan Pasal 67 dan Pasal 244 UU No. 8 Tentang KUHAP, tidak ada Hukum Negara Beradab mana pun juga yang membenarkan hal ini;

 

2. Saya divonis bebas oleh Hakim Albertina Ho, yang integritas dan profesionalitasnya tak diragukan lagi;

 

3. Dengan mengabulkan permohonan kasasi JPU yang sudah melanggar hukum dan inkonstitusional, Saudara-Saudara yang berjabat sebagai Hakim Agung pun ikut melanggar hukum dan melakukan tindakan inkonstitusional, dengan dalih yurisprudensi;

 

4. Yurisprudensi bukanlah salah satu sumber tertib hukum di Indonesia menurut TAP MPR No. 3 Tahun 2000;

 

Untuk itu, saya mengajak SELURUH KELUARGA BESARKU – KELUARGA BESAR INDONESIA dengan BAPAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA sebagai KEPALA KELUARGA; Anggota MPR/DPR sebagai Saudara-Saudara Tua, SUPAYA:

 

A. Tidakmembiarkan keputusan-keputusan oportunistik dari oknum-oknum MA untuk dijadikan yurisprudensi hukum untuk menzalimi sesama anak bangsa;

 

B. Selalu menjunjung tinggi Martabat Negara Indonesia sebagai Negara Hukum, bukan Negara para oknum mafia hukum yang telah menodai Citra dan Wibawa MA;

 

C. Membebaskan MA dari oknum-oknum hakim oportunis dan mafia hukum;

 

D. Menegakkan UUD 1945 yang menjamin keadilan, kesamaan, dan kepastian hukum yang adil bagi seluruh rakyatnya;

 

E. Menegakkan kembali Pasal 67 dan 244 UU No. 8 tentang KUHAP, yang melarang kasasi putusan bebas demi kepastian hukum dan HAM; dan,

 

Terakhir, lagi-lagi saya tujukan kepada BAPAK PRESIDEN RI selaku KEPALA KELUARGA INDONESIA, dan KETUA MAHKAMAH AGUNG untuk:

 

I.    Tidak Menerima kasasi hukum terhadap saya karena cacat hukum, melanggar HAM, dan,

 

II.   Melengserkan oknum-oknum yang telah melecehkan hukum, menginjak-injak keadilan, dan menodai citra dan wibawa lembaga-lembaga negara yang kita hormati.

 

 

Sekian, semoga pikiran kita selalu jernih, hati kita selalu bersih, ucapan kita selalu benar, dan tindakan kita selalu tepat, demikian doa saya senantiasa…

 

ttd

 

Krishna Kumar Tolaram Gangtani (Anand Krishna)

 

 

“Justice will overtake fabricators of lies and false witnesses.”

Keadilan pasti mengalahkan para pedusta dan para saksi palsu.

Heraclitus