Manipulasi Otak Epidemi Yang Merusak Kesatuan Bangsa

Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) adalah yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.” Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” sesuai ”proses pembelajaran yang diperolehnya”…….. Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur. Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau… manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan “pengulangan”. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif. Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya……… Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan. Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang…….. # diambil dari artikel Bapak Anand Krishna yang pernah dimuat Harian Kompas 15 Agustus 2009……..

Seorang sahabat dari Pakistan pernah menulis di jejaring Face Book tentang kondisi penuh kekerasan di Pakistan yang tak ada habis-habisnya…….. Seorang anak lelaki kecil ditempatkan di madrasah terpencil. Dia dijauhkan dari masyarakat dan dia dihalangi agar tidak berinteraksi dengan manusia. Dia didoktrin dengan agama versi yang ekstrim dan ceritakan bahwa dia bukan milik dunia. Ajari dia tentang dunia indah  yang menunggunya di surga,  dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya, termasuk tubuh miliknya…… Pada saat dia berusia enam belas, anak ini telah menjadi lebah jantan: pria yang bukan manusia. Selain remaja segar, mereka adalah pemuda-pemuda patuh semacam Cyborg (Cybernetic Organism) di film-film action, tetapi mereka benar-benar manusia, yang siap meledakkan diri atas pesanan khusus……. Berkembang pesat  di Pakistan, ini adalah eksperimen menakutkan dalam pencucian otak dan setaraf apabila tidak lebih buruk daripada perbaikan keturunan versi Nazi Jerman. Mereka berbuat atas nama ilmu pengetahuan; dan di Pakistan, dilakukan atas nama Tuhan dan Agama. Dalam skala yang sangat besar, keberhasilan eksperimen yang luar biasa ini mempertahankan kemenangan secara alami……… “ Anak-anak kami menghadapi ketakutan masa depan bukan karena Taliban, mereka sangat sedikit, tetapi karena gelombang agama ultra konservatif yang telah melanda negara ini. Madrasah-madrasah terpencil mungkin mengubah anak-anak lelaki menjadi lebah jantan. Ada ribuan madrasah di seluruh pedesaan Pakistan yang memproduksi lebah-lebah baru yang mungkin tidak semuanya menjadi pelaku bom bunuh diri tetapi tetap tidak selaras dengan kehidupan dunia. Anak-anak ini perlu diselamatkan. Demikian cerita sahabat dari Pakistan di Face Book………. Baca lebih lanjut

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

Kita hidup untuk berapa lama? Apakah kita hidup selamanya?

Bukankah akan ada suatu hari, di mana mulut kita dikunci, dan seluruh anggota tubuh menjadi saksi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri? Mengapa menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi?

Mengapa menjerembabkan kebenaran? Mengapa punya anggapan, masyarakat tidak memperhatikan, yang penting secara hukum tindakan dibenarkan? Terus di blow-up di media habis-habisan. Mengapa dasar hukum tersurat dipentingkan? Walau di dalamnya penuh manipulasi dan permainan, jauh dari rasa keadilan dan kebenaran?

Mengapa kita mengedepankan nafsu mau menang sendiri? Mengapa mengabaikan hati nurani? Mengapa penguasa yang dilapori, melindungi oknum atas nama instansi, mengabaikan nurani, dan mendepak Kebenaran dan Keadilan Sejati?………

Sudah saatnya suara diteriakkan kepada alam semesta……..  Dia Maha Tahu, Maha Adil dan Maha Kuasa.

Ibarat buah yang membesar di atas pohon kejahatan. Alam semesta sabar menunggu waktu kejatuhan. Tidak akan selamanya buah bertahan. Akan jatuh sendiri tak bisa dipertahankan…….

Mari teguhkan lagi komitmen para founding fathers. Apapun agama, suku, dan keyakinanmu, kita semua orang Indonesia,” kata dr. Sayoga Ketua Yayasan Anand Ashram di depan 400-an peserta simposium Road to Global Interfaith Harmony pada tanggal 1 September 2012 di Gedung Taman Siswa Jogja. Setelah mohon izin pada “Ngarso Dalem”, sebutan masyarakat Yogyakarta terhadap Sri Sultan HB X, dr. Sayoga membacakan surat Bapak Anand Krishna mengapa beliau tidak dapat hadir pada acara yang digagas oleh beliau sendiri.

Berikut adalah petikan suratnya……… “Kepada Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono X….. Yang Mulia Sri Baginda Sultan…Mohon menerima penghormatan saya dan mohon maaf sebesar-besarnya, saya yakin Wayan Suriastini dan dr. Sayoga sudah menjelaskan alasannya karena terkait kasasi dalam kasus saya.”………

“Saya menolak keputusan yang tidak konstitusional tersebut. Mereka tidak akan bisa memaksa saya. Oleh Bunda Ilahi, saya tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini (Ubud, Bali,red), karena harus lebih menggiatkan diri dalam doa dan meditasi. Terimakasih sebesar-besarnya kepada Sri Baginda yang telah mendukung dan membuka simposium ini. Mohon doa bagi gerakan dan visi misi kita. Salam hormat. Anand Krishna.”………

Sampai saat ini (11 September 2012) petikan pengabulan kasasi oleh Mahkamah Agung yang konon ditetapkan pada tanggal 24 Juli 2012 belum sampai di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Bila sudah sampai, maka Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan katanya baru dapat mengeksekusi. Bagaimana pun Bapak Anand Krishna di Ubud dan tidak akan mau dieksekusi, dan memilih mempertahankan diri sampai titik darah penghabisan………

Sejak pengadilan digelar Agustus 2010, tak ada satupun saksi yang menyaksikan terjadinya pelanggaran Pasal 290 KUHP. Akan tetapi bahkan setelah Dr. Mun’im Idris dari RS Cipto Mangunkusumo mengeluarkan visum bahwa korban masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan, pengadilan tetap jalan terus…… Hanya 10 % pertanyaan yang ditanya tentang Pasal 290 KUHP. Sisa 90%nya ditanya terkait kegiatan, program, pemikiran dan buku-buku Pak Anand yang tidak bermasalah dan dijual bebas di toko-toko buku……. Surat Penetapan Penahanan tertanggal 9 Maret 2011 yang dikeluarkan diduga sangat cacat hukum. Di Kepolisian dan di Kejaksaan, Pak Anand tak pernah ditahan. Penetapan dikeluarkan ketika terdakwa selalu koperatif dalam menghadiri sidang pengadilan, dan proses pengadilan belum mendengarkan keterangan seluruh saksi. Hakim sudah berpihak ketika proses sidang masih berlangsung di tengah proses persidangan. ….. Melihat hal yang demikian bila Pak Anand diam, walau tidak terbukti bersalah beliau akan dinyatakan bersalah. Karena itu pilihan Pak Anand mogok makan adalah upaya terakhir minta keadilan……… Baca lebih lanjut

Isu Agama di Indonesia Menurut Wakil Umat Hindu

Drs. I Nyoman Warta, M.Hum mewakili Umat Hindu dalam simposium Road to Global Harmony. Dosen Sekolah Tinggi Hindu Dharma Jawa Tengah dan UGM Yogyakarta ini menyampaikan bahwa dalam Hindu ada istilah Tat Tvam Asi (kamu adalah aku – aku adalah kamu) , Wasudewa Kutumbakan (kita semua bersaudara), dan Tri Hita Karana (keselarasan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan alam).

 

Semua orang, setiap helai daun tidak ada yang sama persis karena masing-masing mempunyai pengalaman hidup yang berbeda. Akan tetapi bila kita duduk diam sejenak dan bertanya pada diri kita sendiri, “Siapakah aku ini?” Tidak lama kemudian, batin kita akan menjawab. Pakaianku bukan aku, aku bukan pakaian; rumahku bukan aku, aku bukan rumah; badanku bukan aku, aku bukan badan; pikiranku bukan aku, aku bukan pikiran…….. Kita akan sadar bahwa badan kasar ini hanya ibarat pakaian yang kita pakai. Kita juga bukan pikiran. Pikiran adalah sekadar alat yang kita perlukan untuk kegiatan sehari-hari di alam fisik ini. Aku beragama ini, aku berasal dari suku ini hanyalah olah pikiran. Kita bukan badan kasar; bukan juga pikiran; dan bukan intelek. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!……… Pengenalan diri dan kemarahan tidak dapat berada bersama, sebagaimana gelap dan terang tidak dapat bereksistensi bersama……….

 

Sri Sultan HB X memberikan ilustrasi keyakinan yang berbeda-beda seperti cahaya putih yang jatuh di atas prisma pengalaman manusia. Cahaya putih menyebar ke dalam tradisi, ajaran dan agama yang tak terhitung alirannya yang membawa karakteristik khas sesuai akar budayanya masing-masing.

 

Alissa Wahid menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dunia saat ini seperti desa yang besar, global village, semakin mengecil, dan keterikatan semakin erat. Kita tidak bisa hidup sendiri, hidup dalam satu kelompok dan merasa yang paling benar. Yang demikian itu orang zaman dahulu yang belum bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

 

Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin. Dari agama yang berbeda, dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa. Yaitu rasa kebebasan, kemahardikaan.

 

Romo Aloysius Budi Purnomo mengungkapkan bahwa dalam kehidupan antarumat beragama diperlukan toleransi. Tidak sekedar pemaknaan lisan, tapi lebih pada laku. Janganlah merasa paling benar. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

 

YP Sukiyanto dari Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mengetengahkan bahwa ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga?

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Lemhanas menyampaikan bahwa Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau, lebih dari 512 bahasa, beragam agama, keyakinan, kepercayaan. Untuk itu harus ditegakkan kebebasan (Hak Asasi Manusia), kesetaraan warga dan bangsa tanpa memandang etnis, agama, dan lain-lain, serta toleransi, agar kehidupan yang harmoni bisa diwujudkan.

 

Wenshe Adjie Chandra mengibaratkan bahwa jari-jari tangan kita memang berbeda-beda agar jari-jari tersebut bisa bekerja sama. Bila semua sama, bahkan kerjasama akan kurang maksimal.

 

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam menggarisbawahi bahwa kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan, kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan yang bisa menghilangkan kebencian adalah cinta kasih.

 

Drs. I Nyoman Warta, M.Hum menegaskan bahwa walaupun fisik setiap orang tidak ada yang sama, pikiran setiap orang berbeda, akan tetapi kita bukan fisik; bukan juga pikiran. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!

 

Bapak Anand Krishna menyampaikan dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002……..  jalan manapun yang kau tempuh akan mencapai pada-Ku. Bahkan di Rigveda jauh sebelum Bhagavad Gita muncul dinyatakan bahwa Kebenaran itu satu, dan para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.

 

Bapak Anand Krishna juga menyampaikan bahwa pemahaman istilah “Hindu” dalam konteks budaya/peradaban kuno, prasejarah, dan antrapologi tidaklah terkait dengan agama, tapi dengan suatu wilayah geografis dari pegunungan Hindu Kush, sekarang di Pakistan dan Afghanistan, hingga perbatasan kepulauan Nusantara, termasuk sebagian Filipina. Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 beliau menyampaikan……… Manusia Indonesia tidaklah jahiliyah. Sebelum terpengaruh oleh agama-agama besar dunia, kita sudah berbudaya. Sudah beradab. Kita berada dalam satu wilayah peradaban yang sangat besar. Peradaban, yang oleh para sejarawan Cina disebut Shintu distorsi dari Sindhu. Distorsi dari kata Sindhu, Sungai Berbadan Lebar seperti Laut atau Sindhu. Sungai ini masih dikenal dengan sebutan yang sama, dan berada dalam wilayah Pakistan dan India. Sejarawan Arab mendistorsinya lebih lanjut, sehingga Shintu menjadi Hindu. Dalam bahasa latin, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, ia menjadi Indies, Indische, India, Indo…..… kita sendiri, di zaman pejajahan masih menyebut diri Hindia, Hindia Belanda. Dutch-Indies, Hindia yang waktu itu berada dalam “cengkeraman” Belanda untuk membedakan dari British-Indies, yaitu India atau Hindia daratan yang berada dalam “cengkeraman” Inggris. Agama-agama, budaya dan peradaban di dalam wilayah luas yang dikelilingi oleh Samudera Hindia ini tidak pernah mengenal keseragaman. Tidak ada upaya dari siapa dari siapa pun di dalam wilayah ini untuk menyeragamkannya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan kearifan lokal kita. Istilah Hindu dimulai dikaitkan dengan agama “tertentu” di jaman Mogul kurang lebih limaratus tahun yang lalu. Dinasti Islam ini pernah menguasai sebagian besar wilayah India, termasuk apa yang sekarang menjadi negara Pakistan dan Bangladesh. Bahkan, Dinasti Mogul yang beragama Islam itu pula yang menyebut wilayahnya Hindustan, Tanah Hindu! Jelas, saat itu Hindu belum dikaitkan dengan agama tertentu. Ya, dikaitkan dengan wilayah peradaban tertentu. Dengan budaya tertentu. Dvipantara atau Kepulauan Nusantara sebagian besar Indo-Cina Thailand, Cambodia, Vietnam berada dalam wilayah tersebut……..

 

Dalam buku “Tsunami, Membaca Ayat Ayat Allah dari Tragedi Tsunami”, Anand Krishna dan teman-teman, One Earth Media, 2006 Bapak Anand Krishna menyampaikan………. Ketika Rasulullah, Nabi Muhammad masih ada, ada satu kelompok di Sindh, di Pakistan yang mengirimkan seseorang bernama Baba Ratan untuk belajar dari Nabi. Dan ajaran Nabi itu dibawa ke Sindh, sekarang salah satu wilayah di Pakistan, pada saat Nabi masih hidup. Maka, umumnya orang-orang Sindhi pun sering menerjemahkan hadis yang sangat populer tentang menuntut ilmu hingga Shin, sebagai pengakuan Sang Nabi terhadap kebesaran Peradaban Mohen Jo Daro yang ada di Sindh dan wilayah sekitarnya. Yang dimaksudnya dengan Shin, kata mereka, bukanlah Cina, tapi Sindh……… Pikir-pikir, menuntut ilmu hingga negeri Cina tidak masuk akal juga, karena saat Nabi masih ada di tengah kita, orang-orang Cina justru sibuk perang. Jadi, barangkali Shin itu bukan Cina, tetapi negeri di seberang sungai Sindhu, karena sudah terjalinnya hubungan antara Nabi dan Sindh lewat Baba Ratan………

 

Berikut ini pandangan Bapak Anand Krishna tentang Hindu yang kami ambil dari blog kami……. https://triwidodo.wordpress.com/2012/09/10/bangkitlah-bali-demi-keutuhan-nkri/

……….Kita tidak mengimpor budaya itu dari India. Kita memiliki budaya yang mirip dan sama. Budaya itu adalah dari wilayah peradaban yang luas sekali dari Gandhahar hingga ke Australia seluruh wilayah peradaban ini memiliki budaya yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda kalau saya tidak bisa menghormati agama-agama lain maka saya belum beragama Hindu, belum orang Hindu. Budaya ini yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia.

 

Menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bangsa ini harus mulai darimana dan apa yang harus kita lakukan untuk memotivasi kebangkitan bangsa, Pak Anand menjawab………. Mulai dari mana? kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berfikir kalau kita mempunyai kekuasaan baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhamad, Nabi Isa, Swami Vivekananda tidak mempunyai kekuasaan. Semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan setelah itu baru orang mendengar mereka. Bekal yang kita butuhkan adalah rasa bangga terhadap kebudayaan kita sendiri. Untuk itu penting sekali kita mempelajari sejarah. Pemda setempat perlu membiayai orang-orang tertentu untuk menulis ulang lembaran-lembaran sejarah kita. Karena banyak lembaran-lembaran sejarah kita yang hilang atau bahkan sengaja dihilangkan. Misalnya kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Majapahit dan Sriwijaya. Itu baru 400 tahun yang lalu. Saya kira tidak ada di seluruh dunia ini, dimana sejarah 500 tahun tidak utuh, tidak ada, bahkan peninggalannya tidak ada dan Trowulan itu juga berandai-andai. Saya rasa ada konspirasi yang sangat teratur untuk membuat kita lupa akan sejarah kita dan karena kita lupa akan sejarah, kita seakan dipisahkan dari akar kita. Seperti kembang dalam pot ini kita akan mengalami disintegrasi dan layu…….

 

…….. Dalam buku-buku sejarah kita dituliskan, masa Hindu, masa Buddha dan masa apa, seolah-olah masa itu masa yang tidak berbudaya. Barangkali pemerintah harus dengan serius menangani kata “peninggalan masa Hindu”. Apakah tidak ada lagi orang Hindu di negara ini? Kenapa harus mengatakan peninggalan? Di india tidak ada istilah peninggalan Hindu, peninggalan Islam. Taj Mahal adalah peninggalan Dinasty Mogul saya kira cara berpikir kita harus lebih dewasa, harus lebih matang. Leluhur saya mungkin mempunyai kepercayaan lain dengan saya tetapi kita tidak bisa menafikan leluhur kita. Dengan penafian seperti itu, keterpurukan yang terjadi di Indonesia terjadi karena kita melupakan leluhur kita, sejarah bangsa kita dan kita harus mulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga kita…….

 

Pemikiran seseorang tak bisa diadili. Oleh karena pandangan Pak Anand Krishna tentang kebhinekaan, beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia……… Komplek Rumah Kebhinnekaan satu per satu sudah terbakar dan api sudah merembet semakin dekat, mungkinkah kita hanya duduk diam dan berpangku tangan? Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya. Tidak semua rumah-rumah tersebut sesuai selera dengan kita, akan tetapi rumah-rumah tersebut berdiri di atas Hak Milik NKRI dengan Ijin Mendirikan Bangunan sesuai UUD’45. Di lain pihak nampaknya kekerasan demi kekerasan dibiarkan terjadi tanpa tindak lanjut…. Bersuaralah!!!

 

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Cinta Kasih dalam Agama Menurut Prof. Dr. Muhammad AS Hikam

“Kini kalau menuntut semua harus sama, itu pandangan jadul. Menciptakan insan kebangsaan, brotherly love, communal love, konkretisasinya ada di Indonesia Raya (NKRI). Yang tak setuju, silakan pindah saja ke tempat lain seperti di Saudi Arabia, London, Washington, ataupun kota di negara lain.” Demikian salah satu petikan dari sambutan Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Beliau adalah seorang Mantan Menteri yang “berani” dalam mengungkapkan kebenaran tanpa tedeng aling-aling. Walaupun demikian sebagai seorang Profesor pandangan beliau sangat jernih dan selalu berpegang kepada undang-undang dan peraturan negara, dan bukan kepada partai/kelompok tertentu. Di sela-sela simposium kami mendengar sendiri kala beliau diminta pendapatnya oleh seorang wartawan via hp. Sang wartawan bertanya apa pendapat beliau tentang seorang ketua DPR yang menyatakan bahwa masyarakat harus memilih pemimpin yang seiman. “Mau pilih yang bercanda atau serius mas? Kalau yang bercanda yang muslim memilih Jokowi dan yang non-muslim memilih Ahok…….. Bila yang serius, Tidak ada ketentuan di Undang-Undang Dasar atau peraturan perundangan lainnya untuk memilih pemimpin yang seiman. Bila seseorang digaji dan mendapat fasilitas dari suatu kelompok maka wajar dia mengungkapkan pendapat kelompok tersebut. Tapi bila dia seorang pejabat pemerintah yang digaji dan nmendapat fasilitas dari rakyat, maka dia harus berbicara sesuai undang-undang. Memang saat ini jarang pejabat yang mempunyai karakter kenegarawanan”……. akan tetapi beliau juga menentang seorang presiden dijatuhkan dengan cara-cara pemaksaan. “Kita mempunyai preseden yang nggak baik tentang penggantian presiden. Nyatanya pengganti Gus Dur juga tidak membawa reformasi semakin jaya.”…… Pria kelahiran Tuban pendukung Gus Dur ini memang berani seperti Gus Dur, akan tetapi beliau mengaku ada hal yang tidak bisa ditirunya dari seorang Gus Dur, yaitu melihat bahwa semua orang itu baik. Kebaikan hati seorang Gus Dur itulah yang membuat Gus Dur nampak kadang diperdaya oleh musuh-musuh maupun teman-teman Gus Dur sendiri.

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dengan rendah hati mengawali sambutannya,  “Karena sekarang menjadi dosen, dan pernah sekolah mungkin itulah saya diminta berbicara tentang Communal Love dari sudut pandang pendidikan. Tapi saya tidak berani mengklaim diri sebagai seorang pakar, apalagi di Taman Siswa, pusatnya pendidikan.”……… Beliau mengutip Jalaluddin Rumi, seorang Sufi berkebangsaan Iran yang selalu mengungkapkan tentang cinta dan kasih sayang, “Tugas manusia bukan untuk mencari atau memburu cinta, tugas manusia ialah berusaha menyingkirkan apa yang menghalangi tumbuhnya cinta.” Beliau juga menyitir pendapat Pendeta Kristen, Marthin Luther King Jr. Pejuang HAM anti kekerasan dan persamaan hak politik anti diskriminasi ras, “Kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan. Kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan hanya cinta yang bisa menghilangkan kebencian.” Menurut Pak Hikam, tulisan itu terpahat di pagar Monumen Marthin Luther King Jr di Washington DC yang diresmikan pada tahun 2011. Kedua tokoh, Rumi dan Luther King Jr, menurut Pak Hikam, sangat concern seperti Pak Anand Krishna terhadap Communal Love dan persaudaraan antar iman. Baca lebih lanjut

Isu Agama di Indonesia Menurut Wakil Umat Khonghucu

Pada sesi Global Harmony, WS Adjie Chandra, Ketua Yayasan Tri Pusaka dari perwakilan Kong Hu Chu berbagi 3 ayat penting. Pertama, kita bisa harmonis walaupun tidak sama, jangan sama tapi tidak harmonis. Kedua, di empat penjuru angin sesungguhnya kita semua bersaudara. Ketiga, kalau kita ingin maju bantulah orang lain untuk maju, kalau kita ingin tegak bantulah orang lain untuk tegak.

 

Khonghucu mendukung keharmonisan global. Caranya dirumuskan lewat 8 agenda. Antara lain rajin belajar, praktek dalam kehidupan, bermanfaat bagi sesama, mencapai kesuksesan diri, membina diri, membereskan rumah tangga, mengatur masyakarat dan bernegara, serta menciptakan kedamaian di dunia. Fondasinya ada 3 prinsip. Pertama, manusia tidak lepas dari jalan suci Tuhan. Manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Kedua, manusia harus belajar mengenal sesama orang lain. Ketiga, Manusia harus merawat alam semesta dan memperhatikan lingkungan sekitar.

 

Dalam keluarganya sendiri, Wenshe Adjie Chandra mempraktekkan kerukunan beragama. Beliau adalah 5 bersaudara, dan masing-masing ada yang beragama Kristen, Katolik, dan Muslim. Mereka menjadi tokoh-tokoh di kelompoknya. Walau pun berbeda agama, akan tetapi saat sembahyangan untuk arwah orang tua, mereka semua bisa berdoa bersama. “Ibarat jari kita 5, bentuknya beda-beda sehingga bisa berfungsi dengan baik. Kalau sama malah tidak bisa melakukan apapun.”

 

Sehari-hari Bapak Wenshe Adjie Chandra ini sangat sibuk. Agendanya sangat padat, akan tetapi beliau tidak pernah mengeluh. Bahkan diundang diskusi lokal oleh Anand Krishna Center Joglosemar di Jogja pun beliau datang sendiri naik kereta. Pernah pada suatu hari kami datang ke kelenteng beliau dan melihat banyak sekali orang yang sudah tua hadir di kelenteng. Komentar beliau, “kami mulai dari nol kebanyakan umat adalah yang tua-tua, sisa umat Khonghucu zaman dahulu. Sedang generasi muda baru lahir setelah Gus Dur menyatakan Khonghucu adalah sebuah agama. Putra-putri penganut Konghucu di sekolah harus memilih agama Buddha, Katholik, Kristen Protestan atau Islam. Gus Dur begitu dekat di mata pengurus MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) Surakarta ini.

 

Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Xs. Tjhie Tjay Ing mengeluhkan saat ini di Indonesia hanya memiliki 8 Pendeta Agama Khonghucu. Itupun 3 Pendeta diantaranya berada di Kota Solo. Pendeta sebanyak itu tentu tidak bisa melayani Umat Khonghucu di Indonesia. MATAKIN Mendesak Pemerintah agar Memperhatikan masalah Pendidikan Agama Khonghucu di Indonesia,

 

Untuk memberikan ilustrasi beratnya perjuangan agama “baru” di Indonesia, berikut ini kami kutip dari forum tanya-jawab program Neo Interfaith Studies dari One Earth College of Higher Learning (oneearthcollege dot com) di mana penulis sebagai koordinator program.

 

Pada zaman kolonial, agama Buddha dan Khonghucu dan Tao ditekan sehingga didirikanlah Kelenteng Tridharma. Pada tahun 1966, Pemberontakan G30S PKI terjadi dan Presiden Soeharto pada waktu itu mencurigai keterlibatan RRC dalam pemberontakan komunis. Kemudian keluarlah kebijakan diskriminatif terhadap semua budaya dan tradisi Tionghoa. Semua kebudayaan China dilarang. Barongsai dilarang. Liong dilarang. Sekolah Mandarin ditutup. Imlek pun dilarang. Akhirnya dicari cara bagaimana supaya kelenteng bisa tetap berjalan walaupun agama Tao dan Konghucu tidak diakui. Dari pihak agama Buddha menawarkan “Bagaimana kalau menumpang saja dulu di Buddha.” Baca lebih lanjut

Isu Agama Di Indonesia Menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa

YP Sukiyanto mewakili Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

YP Sukiyanto Pendiri Paguyuban Kekadang Liman Seto Pusat Blora, Ketua Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, mengungkapkan dengan sebuah gambar ilustrasi yang menunjukkan sumber keresahan manusia. Diantaranya adalah egois, merasa lebih dari yang lain, tergesa-gesa, tidak sabaran, tidak tahan penderitaan, terlalu yakin, menganggap sepele, tak mengerti, tidak menguasai masalah, berontak dan sikap lemah. Beliau juga menyatakan bahwa sumber ketenteraman hati adalah hakikat diam, bakti, kasih dan damai di dalam hati. Beliau datang dari Blora dengan rombongan yang berpakaian seragam rapi, celana hitam, baju putih dan jas hitam.

Dalam hati kami merenung dalam-dalam….. Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa, benar-benar nyata ada di Indonesia, akan tetapi menyaksikan berita dari dunia maya status keberadaannya memprihatinkan. Kami ingat nasehat seorang sahabat yang meng-quote Uskup Desmon Tutu, pemimpin agama yang bersama Nelson Mandela bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Afrika Selatan. Terjemahan bebasnya adalah……. Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda sudah memihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor seekor tikus dan Anda mengatakan netral, maka sang tikus tidak akan memperoleh keadilan. Atas dasar itulah tulisan ini dibuat……

Kami ingat tulisan Romo Sindhunata…….. Di mana-mana politik memang tak bisa terpisahkan dari kebohongan. Kebenaran sulit menjadi kriteria politik karena politik memang tidak berkenaan dengan kebenaran, tetapi dengan naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Politik bergerak sedemikian rupa sehingga mendepak kebenaran. Politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung jadi permainan. Hakikatnya adalah “Who get What, When, How”. Machiavelli lebih realistis lagi, menurut dia seorang penguasa boleh mengingkari janjinya apabila janji itu ternyata merugikannya dan apabila tiada lagi alasan untuk tetap berpegang teguh pada janjinya…….

 

Mau tidak mau kebenaran selalu bersinggungan dengan politik yang sulit menerapkan kebenaran. Kebenaran pandangan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa yang mendasarkan pada nurani secara generik tanpa terperangkap pada formulasi agama tertentu justru sering tersudutkan. Romo Budi pernah mengingatkan bahwa sebenarnya di negara ini, semua agama adalah impor. Begitu pula dengan kelenteng. Justru yang beridentitas Indonesia hanyalah kejawen. Karena itu, janganlah kita merasa paling benar…….. Benar juga pandangan Romo Budi, ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga? Mungkin “pelepas dahaga” itulah nama Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Benar juga pandangan Romo Budi, mari kita melihat sejarah, pada tahun berapa agama resmi masuk Nusantara. Bahkan dibandingkan dengan umur agama resmi pun budaya asal Nusantara jauh lebih tua. Dalam DNA manusia Indonesia masih terwaris budaya asal tersebut, sehingga Islamnya warga Indonesia adalah Islam model Indonesia, Kristen/Katholik cara Indonesia, Buddha/Hindu ala Indonesia……… ada tradisi “mudik”, “nyekar”, “sungkem”, “mutih”, “mengheningkan cipta”, “slametan”, “nyewu”(seribu hari), “haul” (kol-kolan), “padusan”, “grebek”, “ngabuburit”, salat yang sering bolong dan sebagainya….. Baca lebih lanjut

Kebebasan Kesetaraan dan Toleransi Menuju Bangsa yang Beradab Menurut Lemhanas

Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, inklusif, meliputi semua golongan. Tiga kata kunci agar tercapai sebuah Bangsa yang Beradab adalah Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi. Demikian pandangan Prof. Dr. Irwan Abdullah mewakili Lemhanas sebagai keynote speaker dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012 ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Sebelum keynote speaker dari Lemhanas tersebut, Ketua Yayasan Anand Ashram, dr. Sayoga menyampaikan bahwa tanggal 1 September 2005 dicanangkan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) saat itu, Prof. Juwono Sudarsono, Ph.D sebagai Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Pada waktu itu di Aula Dwi Warna, Gedung Lemhanas, Jakarta digelar Simposium kebangsaan Bagimu Ibu Pertiwi. Hadir pula Gubernur Lemhanas saat itu, Bapak Muladi; Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Sutiyoso; dan almarhum Gus Dur.

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah adalah Guru Besar di Center for Religious and Cultural Studies (CRCS) UGM, Doktor alumnus Fakultas Antropologi Sosial, Universitas Amsterdam. Beliau mengapresiasi Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi yang dirayakan dengan simposium Road to Global Interfaith Harmony. “Ini memang menjadi isu sentral bagi Lemhanas. Sehingga lewat acara ini kita dapat memberi masukan kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia. Yakni demi membangun ketahanan nasional.” Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau dan 512 bahasa lebih. Kita pun memiliki beragam agama, keyakinan, dan kepercayaan. Kebudayaan kita dari Sabang sampai Merauke juga beragam. “Sehingga apa yang hari ini bersifat lokal harus ditempatkan dalam konteks global harmoni. Inilah potensi, kekuatan kultural Indonesia. Jadi kultur itu harus didamaikan dengan struktur negara, sosial, ekonomi, dan seterusnya, sehingga bisa hidup di satu lingkungan yang harmoni.”

 

Masyarakat sudah mempraktekkannya. Ada petuah Melayu untuk mendamaikan kultur dan struktur. Terutama dalam hal kepemimpinan (leadership). Pemimpin ialah orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dan dimuliakan sekuku. Artinya pemimpin harus dekat dengan kita. Revitalisasi budaya lokal, kearifan leluhur menjadi penting. Di Jawa sendiri, ada falsafah kepemimpinan. Dari Tamansiswa, dulu Ki Hadjar Dewantara sudah mengingatkan pada Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Baca lebih lanjut