Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna


Seorang perampok dan pembobol ATM akan terlihat dalam rekaman CCTV. Demikian pula dalam zaman modern ini, persidangan pun bisa direkam sehingga semua orang dapat mengetahui apa saja yang terjadi dalam persidangan. Suara seseorang akan tercatat dalam rekaman dan dia tidak bisa mengelaknya.  Peraturan/hukum selalu terlambat menyikapi kemajuan zaman. Dan untuk mencari menangnya sendiri seorang petugas hukum bisa berkilah bahwa dasar hukum untuk rekaman belum ada. Akan tetapi keadilan sejati tidak bisa ditutup atas dasar peraturan yang terbatas. Rekaman persidangan adalah catatan sejarah yang telah tercatat dan akan dibaca oleh generasi penerus kita dalam zaman yang lebih modern. Masyarakat pasti mendukung adanya rekaman CCTV di Setiap Sidang Pengadilan. Bisa saja tidak untuk dibuka untuk umum akan tetapi bagi para atasan yang bertanggung jawab sehingga dapat melihat kejadian nyata di sidang pengadilan.

 

Oleh karena itu Dedengkot Hukum di Indonesia, Almarhum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH mengatakan perlunya petugas hukum yang baik. Di tangan petugas hukum yang jelek, peraturan yang baik pun dapat dilanggar. Beliau mengungkapkan…… “Berikan pada saya jaksa dan hakim yang baik, maka dengan peraturan yang buruk sekalipun saya bisa membuat putusan yang baik”. Mengutamakan perilaku manusia daripada peraturan perundang-undangan sebagai titik tolak paradigma penegakan hukum, akan membawa kita untuk memahami hukum sebagai proses dan proyek kemanusiaan.

 

Masih menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH dalam artikel Keterpurukan Penegakan Hukum di Indonesia, beliau menulis……..sejak hukum modern semakin bertumpu pada dimensi bentuk yang menjadikannya formal dan procedural, maka sejak itu pula muncul perbedaan antara keadilan formal atau keadilan menurut hukum disatu pihak dan keadilan sejati atau keadilan substansial di pihak lain. Dengan adanya dua macam dimensi keadilan tersebut, maka kita dapat melihat bahwa dalam praktiknya hukum itu ternyata dapat digunakan untuk menyimpangi keadilan substansial. Penggunaan hukum yang demikian itu tidak berarti melakukan pelanggaran hukum, melainkan semata-mata menunjukkan bahwa hukum itu dapat digunakan untuk tujuan lain selain mencapai keadilan.

 

Selama seseorang masih berkuasa, dia bisa saja mengabaikan rekaman sejarah dan merasa dia lebih kuasa daripada rekaman tersebut. Akan tetapi rekaman sejarah tersebut abadi dan dia akan sabar menunggu muncul sampai kekuasaan dia terlepas. Itulah sebabnya, seorang pejabat selalu ingin berkuasa terus atau paling tidak sanak saudaranya atau kroninya yang menggantikannya, agar rekaman sejarah tersebut tidak berpengaruh kepadanya. Akan tetapi orang yang demikian telah merasa sebagai mahakuasa dan kita melihat banyak contoh akhirnya rekaman tersebut terbuka juga.

 

Di zaman modern kita bisa menyaksikan kebohongan lewat video yang telah diunggah di youtube. Kita dapat mencoba search lewat Google…….. “video untuk membongkar kasus rekayasa anand krishna”…..  dan kita bisa menyaksikan Rekaman audio sidang tertutup saat sidang pengadilan dipimpin Hari sasangka dan juga rekaman audio setelah sidang diganti oleh Majelis Hakim yang dipimpin oleh Albertina Ho. Kita juga bisa melihat kita bisa melihat rekaman video saat Hakim Albertina Ho datang ke TKP (Tempat kejadian Perkara). Kita ingat penjelasan dedengkot hukum Prof. Dr. Satjpto Rahardjo, SH mengenai hakim progresif yang tidak hanya melihat di atas kertas tetapi meninjau sendiri ke lapangan.

 

Kita akan melihat banyak sekali rekaman persidangan yang tidak dapat dibohongi. Contoh nyata adalah Tara Pradipta Laksmi yang mengaku dilecehkan Bapak Anand Krishna yang ternyata sesuai visum Dr. Mun’im Idris dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan. Bapak Anand Krishna mempunyai penyakit diabetes dan tidak mungkin beliau melakukan perbuatan tersebut. Kita bahkan dapat membaca transkrip rekaman dengan suara asli dengan melakukan search………… petikan dari documentary membongkar kasus rekayasa anand krishna…….. dimana rekaman tersebut dilengkapi dengan transkripnya.

 

Kita awam dalam bidang hukum dan tidak tahu apakah bukti-bukti tersebut secara hukum formal diakui atau tidak. Akan tetapi jelas bagi orang yang jernih pikirannya, bahwa sidang kasus Anand Krishna adalah rekayasa.

 

Pertama saat di BAP pertama di Kepolisian bulan Februari 2010, Tara mengaku dilecehkan hanya di pegang, peluk, cium, dan di raba-raba. Waktu kejadian dinyatakan sekitar bulan Feb – Juni 2009. Dan hanya ada  1 saksi mata Maya Safira. Perlu di ketahui Maya sudah membantah seluruh keterangan Tara dalam persidangan.

 

Saat BAP ke 2 di Kepolisian sekitar bulan Maret 2010, Tara menambah pengakuan dengan menyatakan bahwa dia di masturbasi dan juga di suruh oral.  Waktu kejadian masih dipertahankan sesuai BAP sebelumnya . Mengaku juga bahwa yang melihat hanya Maya. Dan, lagi-lagi Maya membantahnya….

 

Setelah dicheck oleh Hakim Albertina Ho di lapangan, kondisi yang dikatakan tempat kejadian itu tidak memungkinkan, bahkan yang namanya masturbasi oral itu apa, yang bersangkutan tidak tahu. Dan, itu semua ada dalam rekaman baik audio di Sidang Pengadilan maupun Video di TKP. Bila Tara betul-betul dilecehkan, maka di tempat perkara dia pasti menangis ingat kejadian yang traumatis. Kenapa dia masih senyam-senyum dan bahkan nampak lokasi TKP pun dia nggak tahu. Semua jelas hanya rekayasa. Sebuah kasus tanpa saksi dan tanpa visum kok bisa dibawa ke Sidang Pengadilan. Setelah terbukti visum masih perawan pun sidang tetap dilanjutkan…….

 

Psikiater terkenal Prof Ni Luh Suryani di depan sidang mengungkapkan……. Seorang yang mengalami pelecehan seksual tidak bisa tersenyum-senyum atau ketawa-ketawa lucu saat muncul beberapa kali di beberapa media televisi nasional. Apalagi sampai  dengan mudah menceritakan bahwa dirinya adalah seorang korban yang sudah lama mengalami pelecehan seksual. Kesan yang timbul yang saya perhatikan sang pelapor seperti ingin mencari popularitas saja . Dan 45 kali sesi terapi hipnoterapi dalam waktu 90 hari yang dilakukan oleh ahli hipnoterapi terhadap pelapor bisa-bisa inilah yang  disebut brainwashing atau cuci otak.

 

Sejalan dengan ungkapan Prof. Ni Luh Suryani, Ahli Hypnoterapi Adi W Gunawan juga mengungkapkan di sidang bahwa……. Hasil hipnosis tidak bisa dipakai di dalam persidangan karena subjektif dan tidak ada standar yang baku. Dan terapi sampai 45 kali seperti yang dialami Tara (pelapor), jelas-jelas bertujuan untuk memasukkan memori baru bukan untuk terapi. Dalam hal ini, trauma pelecehan bisa ditanggulangi dalam satu hingga maksimal empat sesi. Dan itu pun kalau sudah termasuk pemerkosaan segala.

 

Putra Bapak Anand Krishna bahkan membuka Posko Informasi dengan menunjukkan nomor hp dan situsnya. Cara di zaman modern ini juga gampang…… hanya buka komputer serch di google…. “posko informasi free anand krishna Prashant Gangtani”. Kita bisa menyaksikan rekaman dan konsultasi kepada yang bersangkutan. Atau hanya lihat #http://#freeanandkrishna.com#/img/#posko_freeak.jpg#

 

Humphrey R Djemat, kuasa hukum terdakwa Anand Krishna, berpendapat hanya sekitar sepuluh persen pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak kepolisian, kejaksaan maupun majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang terkait pasal 290 KUHP tentang pelecehan seksual. Sejak muncul tuduhan pelecehan seksual, 25 Agustus 2010, Anand Krishna lebih banyak dihadapkan pada pertanyaan yang terkait kegiatan ceramah, pemikiran dan isi buku‐bukunya yang dijual bebas di berbagai toko. Anand Krishna sudah 297 hari bergelut dalam kasus ini. Kasus dinilai lebih banyak mengarah ke upaya penghakiman dan kriminalisasi terhadap pemikiran seseorang dari pada pembuktian terjadinya pelecehan seksual.

 

Akhirnya pada suatu ketika terungkap bahwa Ketua Majelis Hakim Drs. Hari Sasangka, SH.,M.Hum mempunyai hubungan gelap dengan salah seorang saksi yang memberatkan. Hakim Hari Sasangka telah di laporkan di Komisi Yudisial (KY) karena menemui saksi korban wanita dalam kasus pencabulan dengan terlapor Anand Krishna, Shinta Kencana Kheng beberapa kali di tempat berbeda di dalam mobil Shinta pada waktu malam hari. Hari Sasangka akhirnya dijatuhi hukuman berupa hakim non-palu selama 6 bulan dengan dikurangi tunjangan remunerasi selama 6 bulan sebesar 90 persen tiap bulannya. Akibat perbuatan tercela tersebut Hakim Hari Sasangka langsung diganti oleh Hakim Albertina Ho, sebagai Ketua Majelis perkara Anand Krishna. Drama kisah ini berakhir pada 22 November 2011 saat Albertina Ho memutus Anand Krishna bebas dengan menyatakan Anand Krishna tidak terbukti bersalah.

Dalam Replik Memori Kasasi Jaksa Penuntut Umum Martha P Berliana memasukan kasus lain ditahun lain untuk memperkuat kasasinya. Hanya karena ingin memenangkan kasus ini bagaimana pun caranya. Akan tetapi kasasi yang jauh dari hati nurani dan sangat “serampangan” pun dikabulkan oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung  yang diketuai Zaharuddin Utama.

 

Jaksa Agung di depan Rapat Kerja Komisi III DPR berkata: “Saya telah instruksikan ke depan, terhadap putusan bebas sesuai pasal 67 Jo pasal 224 KUHAP (Kitab Undang Undang Hukuam Acara Pidana) tidak dapat diajukan kasasi, kecuali perkara yang merugikan keuangan negara,” demikian ucapan beliau yang dimuat poskota online pada tanggal 18 Juli 2011. Jaksa Agung Basrief Arief menjanjikan institusinya tidak akan mengajukan kasasi terhadap perkara-perkara rakyat kecil, yang diputus bebas kecuali terhadap perkara yang merugikan keuangan negara, teroris dan narkoba. Akan tetapi Jaksa Penuntut Umum melecehkan instruksi Jaksa Agung dan diterima dan dikabulkan oleh oknum-oknum Hakim Agung.

 

Tidakkah kita berpikir setiap perbuatan kita telah direkam oleh CCTV Ilahi. Pada saat diputarkan rekaman sejarah perbuatan kita lewat CCTV tersebut, mulut kita dikunci dan kita akan melihat ulang segala perbuatan kita. Rekaman ilahi tidak dapat dihapus selamanya. Orang yang merekayasa akan merasakan penderitaan orang yang telah direkayasa olehnya. Orang yang telah berbuat zalim akan merasakan kezalimannya sendiri………

 

Zaman telah memasuki Zaman Kebenaran (Satya Yuga). Zaman Kegelapan (Kali Yuga) segera berlalu. Masyarakat sudah jenuh dengan segala rekayasa, termasuk rekayasa pemilihan Kepala Daerah, Wakil Rakyat maupun Kepala Negara. Masyarakat sudah jenuh dengan orang-orang yang hanya bicara berdasar data-data rekayasa. Yang akan menang dalam Perang Kurukshetra ini adalah orang-orang yang jujur, merakyat, sederhana dan tidak merekayasa. Boleh saja Para Raksasa berkumpul dalam Koalisi Korawa akan tetapi Kebenaran Pandawa yang didukung pikiran jernih Sri Krishna akan memenangkan pertarungan. Masyarakat bisa memilih diam dan takut sehingga  ikut koalisi para Korawa atau berani bergerak dan menyuarakan kebenaran ikuti Pandawa. Maju terus para Arjuna Bangsa……..

4 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: