Isu Agama Di Indonesia Menurut Pandangan Alisa Wahid Putri Gus Dur


Dalam simposium Road to Global Harmony di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012, Alisa Wahid memberikan pandangan tentang Isu Agama yang pantas kita simak. Mungkin kita paham bahwa Gus Dur nampaknya mempunyai beberapa kelemahan sebagai presiden, akan tetapi para penggantinya pun nampaknya juga tidak membuat reformasi semakin berjaya. Bagaimana pun Gus Dur adalah Bapak Bangsa. Keberaniannya mengungkapkan kebenaran tidak bisa ditandingi pejabat negara mana pun juga. Gus Dur orang yang lugas bukan orang munafik, bukan orang yang tahu kebenaran tapi untuk mengungkapkannya melihat situasi dan kondisi demi menjaga pencitraan atau demi kepentingan diri. Kelebihannya dan sekaligus kekurangannya adalah bahwa Gus Dur melihat semua orang baik, sehingga beliau nampaknya bisa diperdaya oleh musuh maupun teman beliau. Sang Putri, Alisa Wahid ternyata mempunyai pandangan yang sangat jernih mewarisi pemikiran sang ayahanda. Alisa Wahid juga dipercaya sebagai Koordinator Jaringan Gusdurian dan Dewan Pembina The Wahid Institute

Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Berikut pandangan Alisa Wahid seperti yang ditulis oleh notulis simposium yang juga sudah diposting oleh Sahabat Nugroho Persada….. Pada intinya pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan untuk satu golongan saja. Banyak ayat-ayat Al Quran yang mendukung kebersamaan seperti yang diungkapkan Sri Sultan HB X sebelumnya, “Kami telah menciptakan kamu semua dari satu pria dan satu wanita, dan menjadikan kamu pelbagai bangsa dan suku, agar supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa.” Siapakah yang berhak menilai ketakwaan seseorang? Dalam salah satu Hadis Nabi juga disebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Panduannya sudah ada. Bahkan pesan tersebut bukan hanya ditujukan bagi orang Muslim saja tapi bagi semua orang. Putri Gus Dur ini mengibaratkan dunia saat ini seperti desa yang besar, global village. Bila dulu kita hanya kenal orang sedesa, kita sekarang menemukan orang Jawa di Kutub Utara, Orang berkulit hitam di China dan orang India di ruangan ini.

Memang pada simposium ini peserta datang berbagai kalangan, dari berbagai agama, berbagai suku dan bukan hanya orang Indonesia. Di tengah masyarakat yang heterogen ini kita harus bijak, tidak bisa mau menang sendiri.

Alisa Wahid menyampaikan bahwa dunia kini semakin mengecil, keterikatan semakin erat. Kita tidak bisa hidup sendiri, satu kelompok dan merasa yang paling benar. Yang demikian itu orang zaman dahulu yang belum bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Kami kutip perkataan Alisa Wahid, “Bahkan dengan free trade, semua orang bisa bekerja di mana saja. Misalnya di New York, sopir taksinya dari Pakistan, suster-suster nya dari Filipina, dan insinyur di sana dari India. Ke depannya, di Indonesia, guru-guru di sini bisa jadi orang Kanada, Afrika Selatan, atau India.”

Putri Gus Dur ini menggarisbawahi bahwa kita sangat perlu global interfaith harmony. Bila kita sengaja tidak menuju ke sana, dan menganggap kelompok kita paling benar, maka kerusakan akan melanda negeri kita. Bagi umat muslim ini mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dan bukan satu golongan saja. Tujuannya adalah akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur dan bukan untuk kekuasaan semata.

Kami kutip juga pernyataan putri Gus Dur, “Nabi sendiri memberi contoh untuk hidup dalam harmoni. Lewat piagam Madinah, beliau mengatur kehidupan demi kemaslahatan umat dan kesejahteraan bersama. Kita tinggal mengambil apa yang sudah diterapkan sesuai konteks saat ini.”(Piagam Madinah dapat dilihat dengan search di Google lewat internet,red.).

Alisa Wahid mengutip pendapat Kyai besar NU, KH. Achmad Shiddiq, Kyai besar NU yang mengingatkan bahwa kita bersaudara dengan sesama muslim, sesama bangsa dan negara, dan seluruh umat manusia. (ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah, red.). Tujuannya demi keadilan, kesetaraan, dan persaudaaran yang hakiki.

Di akhir sambutan Alisa Wahid mengatakan, “Kita perlu mempertahankan yang baik dari tradisi dan mengambil yang baik dari hal-hal baru. Inilah bekal bagi seorang Muslim untuk menjalani road to global interfaith harmony. Gus Dur pun pernah berpesan bahwa “makin beda makin mudah kita menemukan titik-titik pertemuan. Jadi yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-samakan.”

Bapak Anand Krishna pernah bertemu Gus Dur dan menulis pengalamannya dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999. Di bawah ini adalah kutipan dari Pak Anand tentang Gus Dur……….

Jiwa sufi menuntut kejujuran dan pengakuan kelemahan diri. Tuntutan ini pun beliau penuhi: Saya sendiri orang Islam – tetapi Islam pun banyak kekurangannya. Seperti yang diketahui, Islam itu terbagi dua: Satu yang legalistik/formalistik, satunya lagi yang spiritual. Saya pribadi lebih cenderung kepada yang spiritual. Yang legal suka menghantam yang spiritual. Dalam setiap agama, ada bagian-bagian yang bersifat universal, ada pula yang bersifat kontekstual. Yang kontekstual ini mungkin sangat relevan pada masanya, tetapi sudah tidak relevan dengan masa kini. Kita tidak perlu mengkritiknya. Yang diperlukan adalah kearifan kita untuk memisahkan bagian-bagian yang sudah tidak relevan lagi……..

Dalam buku tersebut juga diungkapkan……. “Kebersamaan Sufi” berbeda dari apa yang kita sebut “Demokrasi”. Demokrasi akan selalu memisahkan masyarakat dalam dua kelompok – kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Demokrasi akan menuntut pemungutan suara. Demokrasi akan mementingkan hak-hak mereka yang didukung oleh suara “terbanyak” dan “terkeras”. Demokrasi tidak akan segan-segan menindas hak-hak mereka yang tidak memiliki suara banyak. Kelompok minoritas akan selalu ditindas oleh kelompok mayoritas. Demokrasi sangat tidak bersifat spiritual. Seseorang yang mengaku dirinya “demokrat” sebenarnya juga mengakui bahwa dia “belum” spiritual. Kalau suara terbanyak dan terkeras menghendaki Yesus disalibkan, demokrasi akan merestui penyaliban itu. Apabila suara terkeras menolak Socrates, demokrasi tidak akan berpikir dua kali sebelum meracuninya. Demokrasi akan melindungi kursi kepresidenan seorang Clinton. Apabila 51 orang mengatakan bahwa ia tidak bersalah,suara 49 orang lainnya tidak akan diperhitungkan lagi. Demokrasi sangat-kejam, jelek – dan bukanlah harapan bagi dunia yang damai. Gus Dur bukanlah seorang demokrat. la meyakini sesuatu yang lain. Yang ia yakini adalah “kebersamaan”.

Karena pandangan Pak Anand seperti itu maka segelintir oknum tidak suka. Kami yakin bila Gus Dur masih “sugeng” dia akan mendukung Pak Anand. Pemikiran seseorang tak bisa diadili. Oleh karena pandangan Pak Anand Krishna tentang kebhinekaan, beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia. Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: