Isu Agama di Indonesia Menurut Pandangan Bhiku Sasana Bodhi Thera


Bhiku Sasana Bodhi Tera, mewakili Umat Buddhist menyampaikan pandangannya tentang agama dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium tersebut digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Sebagaimana kita pahami, Buddha selalu berbicara tentang “esensi” yang satu, bukan masalah “kulit luar” yang beraneka-ragam. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

Visi Anand Ashram adalah Satu Bumi, Satu Langit, Satu Kemanusiaan. Sedangkan Misi Anand Ashram adalah Menciptakan Masyarakat Berkesadaran Berdasarkan Nilai-Nilai Universal, yaitu Damai, Cinta dan Kerukunan. Seseorang harus mempunyai Inner Peace (damai di dalam dirinya), Communal Love (bermasyarakat penuh kasih) untuk menuju Global Harmony (keselarasan dunia). Bhiku Sasana Bodhi Thera mewakili kelompok Inner Peace dalam diskusi Road to Global Harmony.

 

Bhiku Sasana Bodhi Thera adalah alumnus S2 Filsafat UGM dan lulusan Sekolah Tinggi Agama Buddha. Beliau adalah Dosen mata kuliah Pluralitas Agama kelahiran Temanggung, Jawa Tengah. Beliau juga mengakui almarhum Bhiku Sukhong adalah terhitung kakek gurunya. Bhiku Sukhong adalah Bhiku yang menghormati semua agama. Di viharanya di Cipanas ada simbol-simbol semua agama bahkan ada gambar Sai Baba. Karena pandangannya beliau disudutkan para politikus Buddhist, tetapi mereka yang menyudutkan itu pada saat ini sudah tersudut juga. Hukum karma berjalan begitu rapi.

 

Berikut pandangan Bhiku Sasana Bodhi Thera yang intinya adalah sebagai berikut:

Beliau mengutip metaphor dari Sidharta Gautama, “Apapun nama sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin.” Tidak ada rasa spesial di Laut Selatan, baik rasa air Kali Progo, rasa air Kali Opak, rasa Kali Oyo tak akan ditemukan di sana. Dari agama yang berbeda, dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa. Yaitu rasa kebebasan, kemahardikaan. Beliau mengatakan, “Kebebasan ini terancam dan terasa hilang karena terkelabui oleh rasa “melik nggendong lali”. Ketika keinginan memiliki terlalu besar, kita menjadi lalai, lupa “eling lan waspada”, “kesadaran.”

 

Di sela-sela simposium Bhiku Sasana Bodhi Thera menyampaikan bahwa penyebab utama penderitaan adalah kepemilikan. Kita itu hanya diberikan “Hak Guna Bangunan” akan tetapi merasa punya “Hak Milik”, sehingga kita marah atau kecewa saat “Hak Milik” itu diambil Sang Empunya untuk dipindahtangankan ke orang lain. Nasehat leluhur, “bandha kuwi silihan, anak kuwi gegaduhan, nyawa kuwi titipan” yang intinya harta, anak-keluarga, jabatan, bahkan nyawa pun hanya dipinjamkan kepada kita. Janganlah kita terikat kepada mereka. Demikian pandangan beliau tentang “keterikatan”.

 

Mengenai “keberagaman” beliau mempunyai tamsil, ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Mengapa harus mengatakan bahwa teh merek tertentu paling baik, dan teh merek lain, apalagi minuman lain adalah jelek dan harus dimusuhi? Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga? Dan setiap orang masing-masing punya selera tersendiri. Pada simposium tersebut Bhiku Sasana Bodhi Thera yang “Njawani” tersebut menyampaikan bahwa orang yang sudah memahami kebenaran, maka apa pun agamanya, di mana saja dia, kapan saja, dengan siapa saja, dia akan memberikan rasa ayom, ayem, tentrem. Kita perlu merenung sejenak……. Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa ayom, ayem, tentrem? Membuat ayom, ayem tentrem adalah bahasa lain dari rahmatan lil alamin…….

 

Sejalan dengan pandangan Bhiku, Bapak Anand Krishna pun berpandangan segala sesuatu berjalan dan tidak berhenti. Dalam buku “Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan bahwa…… Segala sesuatu yang “ada” memiliki awal dan akhir. Saat ini ada, sesaat lagi tidak ada. Yang berawal, akan berakhir. Yang lahir, akan mati. Hukum dan peraturan pun demikian. Relevan untuk masa lalu, tidak berarti relevan sepanjang masa. Berlaku untuk masa kini, tidak berarti harus berlaku untuk selama-lamanya. Setiap peraturan, hukum, perundang-undangan harus diperbaiki, disempurnakan dari waktu ke waktu. Tidak ada yang langgeng, yang abadi. Bahkan yang berlaku bagi suatu kelompok, tidak berlaku bagi kelompok lain. Yang berlaku untuk suatu saat, tidak berlaku untuk saat lain. Kita menggunakan diapers atau popok untuk bayi. Berarti apa? Berarti, kita membenarkan “aksi ngompol” para bayi. Es Dhammo Sanantano demikianlah kebenaran, demikianlah hukum, demikianlah peraturan bagi para bayi. Akankah anda menghukum seorang bayi karena ia mengompol? Jelas tidak. Percuma, karena dia belum tahu apa-apa. Tetapi jika bayi yang sama sudah berusia tiga-empat tahun dan masih juga mengompol, apa yang akan anda lakukan? Tetap memberikan diapers? Tidak, anda akan mengajari dia. Bahkan jika perlu memberi hukuman ringan, tanpa harus menyakiti dirinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang berusia 3-4 tahun.

 

 

Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain. Dharma seorang pria lain, Dharma saya lain. Kesalahpahaman terjadi, ketidakpuasan muncul, jika dalam ketidaksadaran anda berupaya untuk memberlakukan satu dharma bagi setiap orang untuk selama-lamanya. Karena tidak sadar akan sifat dharma yang harus berubah dari waktu ke waktu, karena belum memahami sifat hukum yang perlu penyempurnaan dan perbaikan dari masa ke masa, kita selalu bertindak tidak arif, kurang bijaksana.

 

Bapak Anand Krishna menentang orang yang memaksakan kehendak dengan menggunakan dalih agama. Dalam buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 menyatakan…….. Mereka yang hendak memaksakan kehendak dengan menggunakan dalih agama, dan mereka yang membiarkan atau malah setuju dan mendukungnya sama-sama bersalah atas musibah yang menimpa negeri kita. Mereka telah berdosa terhadap rakyat Indonesia. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua yang tidak bersuara.… karena, pada suatu ketika setiap anggota tubuh kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala apa yang dibuatnya atau dibiarkannya terjadi. Mereka yang hendak mengganti landasan kita bernegara jelas-jelas tidak bangga dengan budaya sendiri. Mereka malah membanggakan budaya asing. Aneh! lalu, untuk apa masih bertahan hidup di negara ini? Dulu, para pelaku makar masih takut-takut dipenjara, takut mati. Mereka lari ke luar negeri. Sekarang, mereka berkeliaran bebas, lebih ganas dan lebih berani, karena ada yang mendukung mereka. Dibalik mereka ada kekuatan-kekuatan asing dengan agenda tunggal, yaitu menjajah negeri ini, menjarah seluruh kekayaan dan sumber alam kita yang masih tersisa. Untuk itu mereka menggunakan dalih agama. Mereka berupaya untuk menghancurkan benteng pertahanan kita yang terakhir, yaitu benteng budaya. Tanpa benteng budaya, tanpa rasa bangga terhadap budaya asal, tanpa jati diri, kita dapat dijajah dengan mudah oleh siapa saja……….

 

Pandangan Bapak Anand Krishna tersebut membuat gerah segelintir oknum dan mereka membuat rekayasa untuk menjatuhkan Bapak Anand Krishna. Silakan baca:

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

“Saya merasa dizalimi oleh ketetapan Hakim untuk menahan saya. Padahal selama ini, kita koperatif, dan yang paling utama adalah tidak ada satu pun bukti yang membuktikan telah terjadi pelanggaran hukum. Bahkan kesaksian pihak saksi pelapor selalu berubah-ubah, dan fakta persidangan tidak sesuai dengan BAP. Di Kejati pun karena itu dan karena kesehatan, saya tidak di tahan. Di kepolisian dulu saya pernah jatuh dan collapse, dan sejak itu menderita gangguan jantung permanen sehingga kemana-mana mesti mengantongi obat jantung. Sebagai protes terhadap ketetapan yang saya anggap tidak manusiawi ini, dan bahkan tidak memikirkan kesehatan saya, di mana diet saya mesti ketat sekali karena diabetes dan tekanan darah tinggi. Maka, sebagai protes dan penolakan  terhadap kezaliman ini, saya memutuskan untuk puasa makan hingga ketetapan yang tidak manusiawi ini dicabut kembali. Semoga majelis hakim dan jaksa diberi pencerahan dan pikiran jernih oleh Yang Maha Esa. Saya juga mohon jika kondisi kesehatan saya terganggu, mohon tidak akan ada  pemaksaan makan terhadap saya.  Biarkan saya mati kalau memang itu yang dikehendaki oleh pihak-pihak yang memunculkan dan membiayai kasus ini untuk membungkam suara kebangsaan, misi keharmonisan, dan kebhinekaan saya. Saya mohon kepada rekan semisi dan sevisi untuk melanjutikan perjuangan kita, dan tidak menyerah pada kekuaan-kekuatan yg sedang menghadang kita. Salam Kasih”

 

Dan juga silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/

Humphrey R Djemat, kuasa hukum terdakwa Anand Krishna, berpendapat hanya sekitar sepuluh persen pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak kepolisian, kejaksaan maupun majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang terkait pasal 290 KUHP tentang pelecehan seksual. Sejak muncul tuduhan pelecehan seksual, 25 Agustus 2010, Anand Krishna lebih banyak dihadapkan pada pertanyaan yang terkait kegiatan ceramah, pemikiran dan isi buku‐bukunya yang dijual bebas di berbagai toko. Anand Krishna sudah 297 hari bergelut dalam kasus ini. Kasus dinilai lebih banyak mengarah ke upaya penghakiman dan kriminalisasi terhadap pemikiran seseorang dari pada pembuktian terjadinya pelecehan seksual.

 

Akhirnya pada suatu ketika terungkap bahwa Ketua Majelis Hakim Drs. Hari Sasangka, SH.,M.Hum mempunyai hubungan gelap dengan salah seorang saksi yang memberatkan. Hakim Hari Sasangka telah di laporkan di Komisi Yudisial (KY) karena menemui saksi korban wanita dalam kasus pencabulan dengan terlapor Anand Krishna, Shinta Kencana Kheng beberapa kali di tempat berbeda di dalam mobil Shinta pada waktu malam hari. Hari Sasangka akhirnya dijatuhi hukuman berupa hakim non-palu selama 6 bulan dengan dikurangi tunjangan remunerasi selama 6 bulan sebesar 90 persen tiap bulannya. Akibat perbuatan tercela tersebut Hakim Hari Sasangka langsung diganti oleh Hakim Albertina Ho, sebagai Ketua Majelis perkara Anand Krishna. Drama kisah ini berakhir pada 22 November 2011 saat Albertina Ho memutus Anand Krishna bebas dengan menyatakan Anand Krishna tidak terbukti bersalah.

 

Dalam Replik Memori Kasasi Jaksa Penuntut Umum Martha P Berliana memasukan kasus lain ditahun lain untuk memperkuat kasasinya. Hanya karena ingin memenangkan kasus ini bagaimana pun caranya. Akan tetapi kasasi yang jauh dari hati nurani dan sangat “serampangan” pun dikabulkan oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung  yang diketuai Zaharuddin Utama.

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri. Melihat kezaliman kita harus bergerak……. Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. demikian ditulis oleh Bapak Anand Krishna dalam buku “The Gospel of Michael Jackson”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: