Isu Agama Di Indonesia Menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa


YP Sukiyanto mewakili Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

YP Sukiyanto Pendiri Paguyuban Kekadang Liman Seto Pusat Blora, Ketua Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, mengungkapkan dengan sebuah gambar ilustrasi yang menunjukkan sumber keresahan manusia. Diantaranya adalah egois, merasa lebih dari yang lain, tergesa-gesa, tidak sabaran, tidak tahan penderitaan, terlalu yakin, menganggap sepele, tak mengerti, tidak menguasai masalah, berontak dan sikap lemah. Beliau juga menyatakan bahwa sumber ketenteraman hati adalah hakikat diam, bakti, kasih dan damai di dalam hati. Beliau datang dari Blora dengan rombongan yang berpakaian seragam rapi, celana hitam, baju putih dan jas hitam.

Dalam hati kami merenung dalam-dalam….. Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa, benar-benar nyata ada di Indonesia, akan tetapi menyaksikan berita dari dunia maya status keberadaannya memprihatinkan. Kami ingat nasehat seorang sahabat yang meng-quote Uskup Desmon Tutu, pemimpin agama yang bersama Nelson Mandela bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Afrika Selatan. Terjemahan bebasnya adalah……. Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda sudah memihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor seekor tikus dan Anda mengatakan netral, maka sang tikus tidak akan memperoleh keadilan. Atas dasar itulah tulisan ini dibuat……

Kami ingat tulisan Romo Sindhunata…….. Di mana-mana politik memang tak bisa terpisahkan dari kebohongan. Kebenaran sulit menjadi kriteria politik karena politik memang tidak berkenaan dengan kebenaran, tetapi dengan naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Politik bergerak sedemikian rupa sehingga mendepak kebenaran. Politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung jadi permainan. Hakikatnya adalah “Who get What, When, How”. Machiavelli lebih realistis lagi, menurut dia seorang penguasa boleh mengingkari janjinya apabila janji itu ternyata merugikannya dan apabila tiada lagi alasan untuk tetap berpegang teguh pada janjinya…….

 

Mau tidak mau kebenaran selalu bersinggungan dengan politik yang sulit menerapkan kebenaran. Kebenaran pandangan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa yang mendasarkan pada nurani secara generik tanpa terperangkap pada formulasi agama tertentu justru sering tersudutkan. Romo Budi pernah mengingatkan bahwa sebenarnya di negara ini, semua agama adalah impor. Begitu pula dengan kelenteng. Justru yang beridentitas Indonesia hanyalah kejawen. Karena itu, janganlah kita merasa paling benar…….. Benar juga pandangan Romo Budi, ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga? Mungkin “pelepas dahaga” itulah nama Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Benar juga pandangan Romo Budi, mari kita melihat sejarah, pada tahun berapa agama resmi masuk Nusantara. Bahkan dibandingkan dengan umur agama resmi pun budaya asal Nusantara jauh lebih tua. Dalam DNA manusia Indonesia masih terwaris budaya asal tersebut, sehingga Islamnya warga Indonesia adalah Islam model Indonesia, Kristen/Katholik cara Indonesia, Buddha/Hindu ala Indonesia……… ada tradisi “mudik”, “nyekar”, “sungkem”, “mutih”, “mengheningkan cipta”, “slametan”, “nyewu”(seribu hari), “haul” (kol-kolan), “padusan”, “grebek”, “ngabuburit”, salat yang sering bolong dan sebagainya…..

 

Sejarah panjang perjalanan bangsa justru mengugkapkan bahwa “agama asli” bersikap sangat ramah, inklusif, dan toleran terhadap agama-agama pendatang. Lalu mengapa yang menjadi “tolok ukur” justru agama-agama pendatang, dan bukan pada keyakinan tradisional yang memang jarang mendefinisikan atau membuat pembakuan keyakinan? Dalam lintas sejarah terungkap bahwa agama-agama pendatang selalu disambut dengan ramah, bukan dianggap sebagai musuh dan ancaman, sebaliknya dihargai, diadaptasi dan diterima untuk menghiasai mozaik keyakinan asli yang menyangga dan mendasarinya. Sejarah membuktikan justru ekstrimisme yang membahayakan persatuan nasional sering tumbuh subur dalam agama-agama resmi, bukan kepercayaan tradisional.

 

Kami mendasarkan tulisan ini pada artikel Eksistensi “Agama Asli Indonesia” Dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa, tulisan dari K.P. Sena Adiningrat yang sumbernya kami ambil dari blog kami…….

https://triwidodo.wordpress.com/2010/03/29/eksistensi-%E2%80%9Cagama-asli-indonesia%E2%80%9D-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa/

 

Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan/ Penodaan Agama − bertujuan untuk menjaga dan melindungi keluhuran nilai-nilai agama – akan tetapi pada kenyataannya justru mengandung diskriminasi terhadap agama-agama yang tidak resmi, khususnya penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Penjelasan Undang-undang ini jelas-jelas merendahkan eksistensi aliran kepercayaan karena berbunyi: Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkan kearah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa……. Jadi mereka dianggap pandangannya tidak sehat. Apakah moral dan kelakuan mereka jauh lebih jelek daripada umat yang beragama resmi? Permasalahannya adalah tindakan para Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mudah dianggap sebagai delik penodaan agama. Siapakah yang harus menentukan standarisasi tafsir agama, atau siapakah yang berhak menentukan salah atau benar suatu keyakinan? Masalahnya kriteria penodaan agama dalam undang-undang ini didominasi oleh agama-agama yang diakui pemerintah.

 

Kami kutip tulisan K.P. Sena Adiningrat…….  “Religion”. Kata religi berasal dari bahasa Latin religio yang akar katanya religare yang berarti “mengikat”. Jadi, arti “religio” disini adalah way of life lengkap dengan peraturan-peraturannya tentang kebaktian dan kewajibannya, sebagai alat untuk mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam relasinya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta. Sedangkan dalam bahasa-bahasa Semitik di Timur Tengah, “agama” disebut dalam bahasa Arab “Dîn”, yang sering dimaknai sebagai lembaga ilahi yang memimpin manusia untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Kata Arab dîn ternyata cognate dengan bahasa-bahasa semitik: danu (Akkadia), den (Ibrani), dîn/dîna (Aramaik/Suryani) yang berarti “religion”, “cult”. Jadi istilah agama adalah sesuatu yang netral, yang membawa umatnya kepada Tuhan. Apakah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa tidak membawa umatnya kepada Tuhan?

 

Prof. Dr. Purbatjaraka mencatat bahwa jauh sebelum kedatangan Hindu/Buddha Nusantara sudah mempunyai keyakinan mengenai Tuhan Yang Maha Esa, dan menyembah-Nya menurut tatacaranya sendiri. Kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran holistic spirituality ini hilang pada masa Demak dan Pajang, ketika prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Bukti bahwa prinsip “Negara agama” yang intoleran dan rawan memecah belah Nusantara itu, antara lain ditunjukkan dengan “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal sebuah (aliran) agama. Kasus hukuman mati atas Syekh Siti Jenar pada zaman kerajaan Demak bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan iman yang berbeda-beda……… Mataram mulai menyadari kegagalan ideologi agama, dan mencoba mengembalikan “spirit Majapahit”, namun gagal dan kalah cepat dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme Barat. Salah satu indikator kebebasan beragama yang mulai dirintis dan dikembalikan oleh Mataram adalah diampuninya Haji Mutamakin yang mengajarkan ajaran Manunggaling Kawula-Gusti berdasarkan “Serat Dewa Ruci”. Sinuhun Paku Buwana II tampaknya tidak suka kepada para ulama yang berusaha mengadili keyakinan Mutamakin, sehingga Mutamakin dibebaskan dari tuduhan mengajarkan ajaran sesat. Paham yang berbeda tersebut akhirnya boleh berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa negara secara bijak mengambil jarak dari soal-soal yang termasuk dalam ”ruang privat” warganegara.

 

K.P. Sena Adiningrat mengakhiri artikelnya dengan kalimat……. Bercermin dari “kaca benggala” sejarah di atas, patut dipertanyakan apakah beberapa kasus pengadilan atas keyakinan seseorang atau sekelompok orang a la Syeh Siti Jenar ini akan terus berlangsung, gara-gara negara terlalu turut campur dalam menentukan sesat tidaknya sebuah aliran agama, seperti tersirat dan tersurat dari Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1965? Kita perlu merenungkan artikel K.P. Adiningrat untuk introspeksi diri agar kita tidak terlalu jauh dalam menganggap benar pendapat kita pribadi………

 

Dalam simposium tersebut juga dicanangkan Piagam Keselarasan Global (Charter for Global Harmony).Para Pencinta Perdamaian dari berbagai bangsa di dunia secara bersama-sama membidani kelahiran Piagam tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang akademis dan profesi, dan memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, serta memiliki ideologi, pandangan dan aspirasi politik yang beragam pula. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menggagas piagam ini serta bergotongroyong demi terwujudnya Keselarasan Global (Global Harmony).

Piagam ini merupakan Pedoman (road map) untuk mencapai dan mewujudkan Keselarasan Global (Global Harmony). Patut diakui bahwa semua agama, sistem kepercayaan, keyakinan (termasuk ateisme), tradisi-tradisi spiritual dan filsafat tanpa kecuali mengedepankan keselarasan sebagai jiwa dari semua sistem sosial.

Hukum dan peraturan apa pun tidak akan pernah mampu membantu manusia mewujudkan hal ini, kecuali terlebih dahulu ada kedamaian dalam hati setiap insan. Jadi, pertama dan utama setiap individu harus berdamai, mengalami dan merasakan kedamaian dengan dirinya sendiri. Kedamaian Batin setiap individu (Inner Peace) niscaya otomatis mewujud sebagai Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan (Communal Love), baik sebagai satu komunitas bangsa maupun dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pada gilirannya Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan (Communal Love) ini yang mengantar kita mencapai Keselarasan Global (Global Harmony). Piagam ini, kami menyerukan kepada masyarakat dunia untuk menyisihkan waktu sekurangkurangya 20 menit setiap hari untuk bermeditasi, menggunakan teknik yang cocok atau sesuai dengan tradisi/sistem kepercayaan masing-masing. Sebab, hanya dengan menoleh ke dalam diri dan meditasi manusia dapat mencecap Kedamaian Batin (InnerPeace). Berbarengan dengan latihan pemberdayaan diri lewat meditasi, piagam tersebut juga mengajak semua manusia untuk melakukan pelayanan sosial tanpa pamrih minimal 2 jam dalam seminggu atau 8 jam setiap bulan. Layanan sosial tersebut hendaknya tidak ditujukan kepada sebuah kelompok tertentu. Sumber http://www.charterforglobalharmony.org.

 

Boleh jadi pandangan Pak Anand Krishna tentang charter for global harmony tersebut mengusik beberapa gelintir oknum, sehingga beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia. Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

 

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

2 Tanggapan

  1. […] FF ONKEY : When…A Sociologist’s Adventures in Social Media LandYayasan Konservasi Alam Yogyakarta: Oasis Satwa Langka di Kota …Menjaga Kesetiaan Dalam HubunganSebuah kesetiaan dan mampukah kita mencintai tanpa syarat…..Hasrat Mencintai dan Kesetiaan Wanitakesetiaan wanita & pria …72 HARIAnugerah Purwakalagŗha dan Museum IdealIsu Agama Di Indonesia Menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa […]

  2. […] Isu Agama Di Indonesia Menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: