Isu Agama di Indonesia Menurut Romo Aloysius Budi Purnomo


Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr mewakili Umat Katholik memberikan pandangan tentang kerukunan beragama dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012 ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr adalah Alumnus Magister Teologi Wedhabhakti Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, lahir di Wonogiri tahun 1968 itu, dan dikenal piawai memainkan saksofon. Alat musik tiup itu menjadi sarana untuk menjalankan tugas perutusannya dalam berbagai kegiatan yang mengusung visi-misi kemanusiaan dan kebangsaan. Dalam simposium Romo Budi menunjukkan beberapa foto kerja nyata beliau dalam berhubungan dengan umat lainnya. Foto-foto tersebut sudah menunjukkan bahwa beliau sangat menghormati dan selalu bekerjasama dengan umat lain. Dalam surat-surat kabar yang terbit di Semarang, kita sering membaca kegiatan beliau.

 

Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (KAS), beliau dikenal sebagai budayawan interreligius ini merasa punya tanggungjawab moral untuk sebuah komitmen terhadap perbedaan iman, agama, keyakinan, dan budaya, yang bisa saling memperkaya. Dia juga berharap bisa merangkul dan berdialog dengan semua kalangan, termasuk kelompok-kelompok yang seringkali dicap radikal oleh masyarakat.

 

Romo Budi bergerak melalui jalur budaya dan kesenian. Beliau pernah bekerjasama dengan Emha Ainun Najib (Cak Nun) dengan gamelan Kyai Kanjeng-nya untuk membuat sebuah pertunjukkan bersama dengan Gereja Isa Almasih Pringgading, bersinergi dengan Masjid Baiturahman Semarang. Beliau juga meminta mahasiswa praktik berkunjung ke masjid atau klenteng. Komunikasinya dengan para tokoh-tokoh agama tersebut masih berlanjut sampai sekarang. Selama tiga tahun terakhir beliau terus mengadakan kaderisasi orang muda Katolik untuk gerakan dialog dan persaudaraan sejati. Mereka diajak bersilaturahmi ke Ponpes Kyai Pandanaran di Yogyakarta. Beliau juga pernah mengajak muda-mudi Katholik live in di Pondok Pesantren sehingga mereka bisa saling belajar.

 

Romo Budi juga pernah membuat acara week end lintas Agama di Kerep, Ambarawa pada tahun 2010 bersama Alisa Wahid, putri Gus Dur. Pemuda-pemuda berbeda keyakinan ditempatkan dalam kamar tidur yang sama, demikian juga dengan pemudi-pemudinya. Para pemuda dengan berbagai iman bukannya bersitegang, malahan cair bercanda sepanjang malam dan malah kentut bersahut-sahutan. Begitu akrabnya mereka.

 

Selain Romo YB Mangunwijaya atau Romo Mangun, tokoh lintas iman seperti Gus Dur memang menjadi salah satu yang dikagumi beliau. Bersama Jaringan Kaum Muda Lintas Agama pernah menggelar refleksi satu tahun meninggalnya Gus Dur di kawasan Tugu Muda Semarang. Sosok Gus Dur serupa cahaya bagi keagamaan dan keberagaman masyarakat Indonesia. Romo Budi juga menjadi salah satu deklarator Gerakan Pluralisme dan Humanisme Gus Dur.

 

Dalam kehidupan antarumat beragama, beliau mengingatkan pentingnya arti toleransi. Tidak sekedar pemaknaan lisan, tapi lebih pada laku. Di negara ini, lanjutnya, semua agama impor. Begitu pula dengan kelenteng. Justru yang beridentitas Indonesia hanyalah kejawen. Karena itu, janganlah merasa paling benar. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Orang boleh fanatik, tapi jangan berlebihan. Jangan fanatik untuk menghantam agama lain.

 

 

Demikian pula Bapak Anand Krishna yang membuat model prototipe masyarakat Indonesia yang bisa bekerjasama dengan mengapresiasi semua agama. Seorang Bhikku Internasional, Bhikku Sanghasena dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”,  saat melihat kebersamaan di Anand Ashram di mana banyak orang, dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia…… Di Anand Ashram semua kalangan dari berbagai suku, berbagai agama berbagai profesi dapat bekerjasama. Dan itulah impian beliau mengenai Indonesia. Dari pengalaman beliau mengikuti kegiatan Inter Religious Dialogue, yang berskala internasional pun yang namanya dialog hanya diskusi dan duduk bersama. Akan tetapi di Anand Ashram, semua orang dari berbagai agama dan berbagai suku benar-benar bekerjasama melakukan pelayanan, seperti Pelayanan Medical Camp dan Pelayanan Pusat Pemulihan Stress dan Trauma Keliling (PPSTK), Pesta Rakyat, Club Tawa Ceria dan lain-lain. Justru kerja beliau seperti itulah yang tidak bisa diterima oleh segelintir oknum yang merekayasa kasus sehingga beliau mengalami kezaliman peradilan.

 

Berbicara masalah kedamaian dunia. Mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”. Itulah yang dilakukan di Anand Ashram.

 

Bapak Anand Krishna juga menerjemahkan makna “baik terhadap tetangga” dalam Bible. Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 beliau menyampaikan……… Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31).  Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai…….

 

Pemikiran seseorang tak bisa diadili. Oleh karena pandangan Pak Anand Krishna tentang kebhinekaan, beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia. Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

 

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: