Kebebasan Kesetaraan dan Toleransi Menuju Bangsa yang Beradab Menurut Lemhanas


Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, inklusif, meliputi semua golongan. Tiga kata kunci agar tercapai sebuah Bangsa yang Beradab adalah Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi. Demikian pandangan Prof. Dr. Irwan Abdullah mewakili Lemhanas sebagai keynote speaker dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012 ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Sebelum keynote speaker dari Lemhanas tersebut, Ketua Yayasan Anand Ashram, dr. Sayoga menyampaikan bahwa tanggal 1 September 2005 dicanangkan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) saat itu, Prof. Juwono Sudarsono, Ph.D sebagai Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Pada waktu itu di Aula Dwi Warna, Gedung Lemhanas, Jakarta digelar Simposium kebangsaan Bagimu Ibu Pertiwi. Hadir pula Gubernur Lemhanas saat itu, Bapak Muladi; Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Sutiyoso; dan almarhum Gus Dur.

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah adalah Guru Besar di Center for Religious and Cultural Studies (CRCS) UGM, Doktor alumnus Fakultas Antropologi Sosial, Universitas Amsterdam. Beliau mengapresiasi Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi yang dirayakan dengan simposium Road to Global Interfaith Harmony. “Ini memang menjadi isu sentral bagi Lemhanas. Sehingga lewat acara ini kita dapat memberi masukan kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia. Yakni demi membangun ketahanan nasional.” Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau dan 512 bahasa lebih. Kita pun memiliki beragam agama, keyakinan, dan kepercayaan. Kebudayaan kita dari Sabang sampai Merauke juga beragam. “Sehingga apa yang hari ini bersifat lokal harus ditempatkan dalam konteks global harmoni. Inilah potensi, kekuatan kultural Indonesia. Jadi kultur itu harus didamaikan dengan struktur negara, sosial, ekonomi, dan seterusnya, sehingga bisa hidup di satu lingkungan yang harmoni.”

 

Masyarakat sudah mempraktekkannya. Ada petuah Melayu untuk mendamaikan kultur dan struktur. Terutama dalam hal kepemimpinan (leadership). Pemimpin ialah orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dan dimuliakan sekuku. Artinya pemimpin harus dekat dengan kita. Revitalisasi budaya lokal, kearifan leluhur menjadi penting. Di Jawa sendiri, ada falsafah kepemimpinan. Dari Tamansiswa, dulu Ki Hadjar Dewantara sudah mengingatkan pada Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

 

Untuk membangun Indonesia yang berkeadaban ada 3 syarat. Pertama, freedom (kebebasan). Bahkan masyarakat di pulau terpencil pun harus memiliki kebebasan Hak Asasi Manusia (HAM). Kedua, kesetaraan. Etnisitas jangan dibedakan. Kesetaraan warga dan bangsa harus sama. Tanpa memandang etnis, agama, dan seterusnya. Ini yang menjamin kesesuian dan keserasian. Ketiga, toleransi. Tanpa toleransi kehidupan yang harmoni tidak bisa diwujudkan…….. Kita perlu merenungkan 3 syarat menurut Prof Irwan Abdullah: Kebebasan, kesetaraan dan toleransi. Betulkah golongan minoritas memperoleh Kebebasan. Apakah mereka mendapatkan Kesetaraan? Dan apakah ada Toleransi terhadap mereka yang berbeda?

 

Di akhir sambutan, beliau menandaskan dibutuhkan perjuangan dan komitmen bersama untuk mewujudkanya. Global harmony memang harus dimulai dari Inner Peace. Dari hati para pribadi demi membangun keserasian sosial. Lemhanas sangat berterimakasih atas acara ini, dan akan mensosialisasikan hasilnya ke seluruh Indonesia. Semoga simposium ini dapat melahirkan pikiran yang matang dan berguna, untuk Indonesia yang berkeadaban serta berkontribusi dalam global harmoni.

 

Sejalan dengan pandangan Lemhanas mengenai  general dan kultural yang dapat mempersatukan bangsa, Bapak Anand Krishna juga memikirkan apa yang bisa menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam buku “Indonesia Jaya, Segemilang Apapun Masa Lalu-Mu, Masa Depan-Mu Lebih Cemerlang”,  Anand Krishna, One Earth Media, 2005 beliau menyampaikan……….. Adakah agama-agama kita yang beragam itu dapat dijadikan perekat? Ternyata tidak. Konflik antar agama, walau diberi nama apa, tetaplah konflik “antar agama”. Walau dicarikan alasan apa, konflik itu jelas-jelas menggunakan agama sebagai dasar untuk berkonflik. Agama-agama pun masih membutuhkan perekat. Ya, agama-agama pun masih membutuhkan perekat. Bahkan, dalam satu agama yang sama pun, kita masih membutuhkan perekat. Dialog, pertemuan, konferensi, persatuan, asosiasi, federasi… kita sudah mencoba semuanya. Konflik tetap … tak terhindari…….

Bila kita masih ingin hidup “utuh” sebagai Orang Indonesia, kita harus menerima “keutuhan” bangsa serta budaya kita. Kita harus kembali pada  mitos-mitos yang telah menjadi “akar budaya” kita  budaya Nusantara yang “mengutuhkan”! Budaya Nusantara yang masih mampu mempersatukan kita dan menyuntiki kita dengan semangat baru untuk menghadapi dan memecahkan setiap persoalan bangsa.

Bersatu Kita Utuh, Bercerai Kita Runtuh! “United We Stand, Divided We Fall!”  Entah sudah berapa kali kita mendengar pepatah itu. Entah sudah berapa kali pula kita memperoleh bukti nyata keutuhan dan keruntuhan bangsa dari sejarah kita sendiri… namun kita tetap juga tidak mau belajar. Tidak mau insyaf. Tidak mau sadar. Ketaksadaran kita ini sangat berbahaya. Berbahaya bagi bangsa dan negara. Sebab itu, siapa saja yang merasa cukup sadar, secuil apapun kesadaran serta kepeduliannya terhadap negara dan bangsa, harus berbicara.

Saya pernah dengar kata-kata bijak seorang pujangga: “Ketaksadaran, Kebatilan akan merajalela bila mereka yang sadar dan baik memilih tidak berbicara. “Saatnya, kita tidak hanya berbicara, tetapi melawan ketaksadaran. Dengan cara apa? Dengan “menghadirkan kesadaran”. Bagaimana melawan kegelapan? Dengan menghadirkan cahaya, sebuah pelita pun sudah cukup. Bagaimana melawan ketaksadaran. Dengan menjadi sadar dan menyebarluaskan kesadaran.

Kita perlu memperhatikan lubang-lubang dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

…….. Lubang Pertama dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah bahwa kita telah kehilangan perekat untuk mempertahankan kesatuan serta persatuan kita.. Perekat ini adalah “semangat berbangsa“. Tidak cukup mengucapkan “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”, kita harus menemukan alasan yang cukup kuat untuk itu. Dan, Allhamdulillah kita telah menemukan alasan itu. Ibu kita, ibu yang mengandung dan melahirkan kita. lbu Pertiwi – Budaya Asal Nusantara. Itulah alasan terkuat bagiku untuk merasa bangga sebagai Orang Indonesia. Budaya yang “memberi kita peluang” untuk berkembang terus mengikuti perkembangan jaman dan kemajuan dunia. Budaya Asal berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang tidak pernah usang karena jaman. Budaya kita bukanlah budaya yang berdasarkan tradisi-tradisi, ungkapan-ungkapan atau perilaku seseorang atau beberapa orang saja, yang barangkali sangat relevan di jaman-jaman tertentu, tetapi tidak relevan lagi di jaman kita. Budaya kita tidak berdasarkan pada sesuatu yang sudah mati, tetapi berdasarkan kehidupan itu sendiri. Budaya adalah Energi. Jiwa dan semangat di balik kita bernegara dan berbangsa. Selama ini bila kita menggunakan ungkapan “kembali pada Budaya Asal” yang dimaksud tentunya bukanlah hidup di masa lalu. Kita tidak bisa melakukan hal itu. Kembali pada Budaya Asal hanya berarti kita tidak melupakan Ibu Pertiwi, tidak melupakan Budaya Asal kita. Maksudnya: Boleh merantau jauh untuk mencari nafkah, tetapi tidak lupa dengan kampung halaman.

………. Lubang Kedua dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah upaya-upaya “penjajahan” yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam berbagai bidang – sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain. Jangan terbawa oleh isu-isu, oleh cerita-cerita yang sengaja disebarkan untuk memecah-belah kita seperti apa yang dulu dilakukan oleh Belanda dengan menciptakan mitos-mitos seputar cerita Ajisaka. Penyalahgunaan cerita-cerita rakyat dan pemutarbalikan fakta seperti ini tidak hanya dilakukan oleh Belanda, sebelumnya pun pernah terjadi. Ketika tokoh-tokoh dalam cerita wayang ditampilkan “seolah sudah meninggalkan agama lama” dan menerima agama lain. Padahal, apa yang disebut “agama lama” itu bukanlah agama, tetapi budaya asal kita. Kita sengaja dipisahkan dari akar budaya, supaya dapat dibabat habis. Tanpa akar budaya itu, tanpa jati diri itu, kehilangan ke-“khas”-an kita. Kita tidak lagi memiliki ciri khas. Sekali lagi, kita boleh beragama apa saja – tidak menjadi soal. Budaya kita satu, sama, dan Kesatuan itu yang harus kita junjung bersama. Dalam setiap kesempatan ingatkan setiap anak bangsa, diingatkan akan Budaya Asalnya yang sangat tinggi dan indah. Biarlah Budaya Asal itu menjadi perekat.

………… Lubang Ketiga dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah Fanatisme Agama. Agama harus disikapi sebagai kebutuhan batin untuk menumbuh kembangkan sifat-sifat lahir yang “penuh kasih” dan “suka damai”. Ajaran agama harus dicerna dan dilihat relevansinya dengan keadaan kita saat ini. Semoga kita tidak lupa peringatan Nabi bahwa agama diturunkan untuk memfasilitasi hidup manusia, bukan untuk mempersulitnya. Selama berabad-abad kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara kita yang beragama lain, berkepercayaan lain, kemudian segelintir orang menghasut dan kita pun terhasut. Segelintir orang datang untuk mengacaukan kita supaya dapat dijajah kita tidak cukup sadar untuk memahami agenda mereka.

………. Lubang keempat dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah ketergantungan kita pada kekuatan-kekuatan di luar. Tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar, sehingga kita tidak terjebak dalam skenario politik buatan mereka. Tidak setiap negara yang memberi bantuan kepada kita setulus apa yang terlihat di muka. Banyak di antara mereka memiliki agenda-agenda terselubung yang hanya menunggu realisasinya dengan menggunakan kaki tangan mereka di dalam negeri, para putra-putri bangsa yang rela menggadaikan kehormatan Ibu Pertiwi demi kepingan emas, kekuasaan atau janji surga.

 

Demikian pandangan Bapak Anand Krishna dalam buku tersebut yang membuat gerah para oknum yang tidak suka Indonesia bersatu. Oleh karena itu beliau menerima kezaliman peradilan di Indonesia.

 

Berikut ini pandangan tokoh-tokoh nasional tentang kasus Anand Krishna.

Pasal 290 dan Pasal 294 KUHP yang didakwakan kepada Anand Krishna tidak cukup kuat. Pengertian dan dakwaan tidak nyambung. Perkara ini rekayasa. Kasus pelecehan seksual yang menimpa tokoh spiritual lintas agama Indonesia, Anand Krishna, merupakan rekayasa pihak-pihak tertentu dan hanya gosip belaka.# Prof. Eddy Hiariej, Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada.

Ada sesuatu yang terlalu dipaksakan dimana jaksa memunculkan empat orang yang mengaku sebagai saksi. Padahal ,menurut hukum, seorang saksi harus menyaksikan sendiri, mengalami dan mendengar sendiri. Keempat orang saksi tersebut tidak ada seorangpun yang menyaksikan sendiri Tara mengalami pelecehan seksual. # Profesor Dwidja Priyatno, Ahli Pidana dan Rektor Universitas Suryakancana, Cianjur.

Hasil hipnosis tidak bisa dipakai di dalam persidangan karena subjektif dan tidak ada standar yang baku. Dan terapi sampai 50 kali seperti yang dialami Tara (pelapor), jelas-jelas bertujuan untuk memasukkan memori baru bukan untuk terapi. Dalam hal ini, trauma pelecehan bisa ditanggulangi dalam satu hingga maksimal empat sesi. Dan itu pun kalau sudah termasuk pemerkosaan segala. # Adi W Gunawan, Leading  Expert in Mind Technologi

Seorang yang mengalami pelecehan seksual tidak bisa tersenyum-senyum atau ketawa-ketawa lucu saat muncul beberapa kali di beberapa media televisi nasional. Apalagi sampai  dengan mudah menceritakan bahwa dirinya adalah seorang korban yang sudah lama mengalami pelecehan seksual. Kesan yang timbul yang saya perhatikan sang pelapor seperti ingin mencari popularitas saja . Dan 45 kali sesi terapi hipnoterapi dalam waktu 90 hari yang dilakukan oleh ahli hipnoterapi terhadap pelapor bisa-bisa inilah yang  disebut brainwashing atau cuci otak. # Profesor Luh Ketut Suryani, Pendiri CASA (Committee Against Sexual Abuse).

Saya yakin kita akan tetap berdiri tegak dan tengadah betapapun berat tantangan perjuangan yg kita hadapi. Saya tetap di samping anda Anand Krishna. # Djohan Effendi, Menteri Sekertaris Negara Kabinet Persatuan

Sudah 50 tahun saya bergelut di bidang hukum. Baru kali ini saya ketemu yang seperti ini, ada hakim yang menempatkan orang dalam posisi bersalah sebelum menjatuhkan putusan resmi pengadilan. # Adnan Buyung Nasution, Pejuang HAM dan Keadilan

Dengan dukung petisi untuk pembebasan Beliau, kita juga sedang memperjuangakan penghormatan dan perlindungan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan perjuangan dari Pak Anand dan Gus Dur. Saya mengajak semua pihak untuk mendukung upaya pembebasan Anand Krishna dari proses peradilan saat ini dari tuduhan yang semena-mena dan tidak adil. # Muhammad AS Hikam dari President University

Nampak sekali orang-orang yang membela kebhinnekaan tidak mendapatkan tempat di bumi Indonesia. Ini berbahaya. Ini akan memanaskan keadaan dan bisa jadi memicu terjadinya gerakan revolusi yang sesungguhnya. # Gus Nuril, Ketua Umum Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama

Saya mendengar di dalam sidang, Pengadilan lebih banyak disesuaikan ajaran tulisan Anand Krishna. Itu sebuah kekurangajaran yang luar biasa, apa yang dipikir dan ditulis seseorang bukan untuk diadili. # Frans Magnis Suseno, Rohaniwan

Saya harapkan persidangan akan memberikan keadilan bagi Pak Anand. Dan masalahnya harus fokus, jangan dibelokkan ke masalah lain. # Poppy Dharsono, Anggota DPD RI dari Jawa Tengah

Seseorang tidak mungkin bertahan mogok makan hampir 50 hari jika tidak yakin bahwa yang diperjuangkannya benar. Saya minta Mahkamah Agung mengawasi jalannya sidang dengan sungguh-sungguh. # Ifdal Kasim, Aktifis HAM

Saya melihat ada pelanggaran Hak Asasi Manusia di sini. Dimana Pak Anand begitu koperatif dalam menjalani persidangan selama 9 bulan, walaupun terkadang tetap datang dalam kondisi sakit. # Ayu Diah Pasha, Artis, Pekerja Seni

Mengenai masalah Anand Krisna ini, bukan lagi masalah pribadi. Ini adalah pengadilan terhadap pemikiran. Dan menurut saya dan ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), setiap pengadilan terhadap pemikiran seseorang, kepada siapa pun tidak boleh terjadi. # Romo Haryanto.

Anand Krishna merupakan seseorang yang paling penting di Indonesia saat ini karena Beliau rela mati untuk visi (Satu Bumi, Satu Langit, Satu Kemanusiaan) yang Beliau yakini. Dan visi Beliau juga adalah visi Anda semua. Masyarakat Internasional sedang menyaksikan kasus yang sangat penting ini. # Saccha Stone, Humanitad Foundation Representing The International NGO Community

 

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

Satu Tanggapan

  1. […] Trend kepemimpinan Masyarakat…sebuah Catatan dari Hasil Pilkada DKI JakartaKebebasan Kesetaraan dan Toleransi Menuju Bangsa yang Beradab Menurut Lemhanas […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: