Cinta Kasih dalam Agama Menurut Prof. Dr. Muhammad AS Hikam


“Kini kalau menuntut semua harus sama, itu pandangan jadul. Menciptakan insan kebangsaan, brotherly love, communal love, konkretisasinya ada di Indonesia Raya (NKRI). Yang tak setuju, silakan pindah saja ke tempat lain seperti di Saudi Arabia, London, Washington, ataupun kota di negara lain.” Demikian salah satu petikan dari sambutan Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Beliau adalah seorang Mantan Menteri yang “berani” dalam mengungkapkan kebenaran tanpa tedeng aling-aling. Walaupun demikian sebagai seorang Profesor pandangan beliau sangat jernih dan selalu berpegang kepada undang-undang dan peraturan negara, dan bukan kepada partai/kelompok tertentu. Di sela-sela simposium kami mendengar sendiri kala beliau diminta pendapatnya oleh seorang wartawan via hp. Sang wartawan bertanya apa pendapat beliau tentang seorang ketua DPR yang menyatakan bahwa masyarakat harus memilih pemimpin yang seiman. “Mau pilih yang bercanda atau serius mas? Kalau yang bercanda yang muslim memilih Jokowi dan yang non-muslim memilih Ahok…….. Bila yang serius, Tidak ada ketentuan di Undang-Undang Dasar atau peraturan perundangan lainnya untuk memilih pemimpin yang seiman. Bila seseorang digaji dan mendapat fasilitas dari suatu kelompok maka wajar dia mengungkapkan pendapat kelompok tersebut. Tapi bila dia seorang pejabat pemerintah yang digaji dan nmendapat fasilitas dari rakyat, maka dia harus berbicara sesuai undang-undang. Memang saat ini jarang pejabat yang mempunyai karakter kenegarawanan”……. akan tetapi beliau juga menentang seorang presiden dijatuhkan dengan cara-cara pemaksaan. “Kita mempunyai preseden yang nggak baik tentang penggantian presiden. Nyatanya pengganti Gus Dur juga tidak membawa reformasi semakin jaya.”…… Pria kelahiran Tuban pendukung Gus Dur ini memang berani seperti Gus Dur, akan tetapi beliau mengaku ada hal yang tidak bisa ditirunya dari seorang Gus Dur, yaitu melihat bahwa semua orang itu baik. Kebaikan hati seorang Gus Dur itulah yang membuat Gus Dur nampak kadang diperdaya oleh musuh-musuh maupun teman-teman Gus Dur sendiri.

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dengan rendah hati mengawali sambutannya,  “Karena sekarang menjadi dosen, dan pernah sekolah mungkin itulah saya diminta berbicara tentang Communal Love dari sudut pandang pendidikan. Tapi saya tidak berani mengklaim diri sebagai seorang pakar, apalagi di Taman Siswa, pusatnya pendidikan.”……… Beliau mengutip Jalaluddin Rumi, seorang Sufi berkebangsaan Iran yang selalu mengungkapkan tentang cinta dan kasih sayang, “Tugas manusia bukan untuk mencari atau memburu cinta, tugas manusia ialah berusaha menyingkirkan apa yang menghalangi tumbuhnya cinta.” Beliau juga menyitir pendapat Pendeta Kristen, Marthin Luther King Jr. Pejuang HAM anti kekerasan dan persamaan hak politik anti diskriminasi ras, “Kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan. Kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan hanya cinta yang bisa menghilangkan kebencian.” Menurut Pak Hikam, tulisan itu terpahat di pagar Monumen Marthin Luther King Jr di Washington DC yang diresmikan pada tahun 2011. Kedua tokoh, Rumi dan Luther King Jr, menurut Pak Hikam, sangat concern seperti Pak Anand Krishna terhadap Communal Love dan persaudaraan antar iman.

Menristek pada era Gus Dur ini mengungkapkan bahwa ibarat komputer, manusia sudah punya software bawaan. Tapi oleh manusia embedded program itu malah digonta-ganti. Kasih sayang ditutupinya sendiri. Kemudian sibuk mencari di mana-mana. Virus-virus yang menutupi Love tersebut harus dihilangkan. Dalam Al Quran dikatakan juga kalau manusia itu diciptakan dalam bayangan Tuhan itu sendiri. Embedded program, sifat ketuhanan ialah cinta. Kalau manusia mencari-cari cinta, maka itu sangat salah. Akibatnya terjadi kekerasan, diskriminasi rasial, di Solo, di Sampang, semoga itu tidak terjadi di Jogja…….”

Menurut Prof. Hikam brotherly love sangat penting, caranya lewat proses pendidikan. Dalam pengertiannya yang sangat luas baik formal, sekolah, pesantren, dan lain sebagainya maupun informal dan juga nonformal. Intinya bagaimana mendidik anak sejak dari kecil sampai dewasa terus-menerus. Untuk menghilangkan virus-virus tersebut. Beliau mengingatkan, “Kita perlu mencintai antar anak bangsa. Salah satu problem utama di negara ini, dalam demokrasi dianggap apa-apa boleh, termasuk membenci sesama anak bangsa. Padahal tanpa ada kasih sayang, ajaran bisa ditafsirkan secara keliru.” Beliau juga mengutip pendapat Gus Dur bahwa Indonesia butuh Islam yang ramah bukan Islam yang marah. Karena penafsiran lain juga punya status epistemilogis yang sama……… Selama kita masih di dunia, kita tidak akan memiliki kebenaran dengan huruf K besar.” Prof. Hikam berpendapat bahwa the only solution is Love, itulah pesan utama Rumi, Luther King Jr, dan Pak Anand.

Pendidikan multikultur di Indonesia tak boleh sekadar konsep, tapi harus dipraktekkan. Intinya ada 3 hal:

  1. 1.       Merayakan perbedaan.
  2. 2.       Perbedaan bukan masalah.
  3. 3.       Perbedaan itu esensial dalam kehidupan kita.

Bapak Anand Krishna akan sependapat dengan pandangan Prof. Hikam yang menyitir Rumi dan Martin Luther King Jr mengenai landasan cinta dan kasih sayang dalam mengungkapkan kebenaran. Bapak Anand Krishna telah menulis pandangan Rumi dalam 5 buah buku yang menjadi best seller di Indonesia. Pak Anand mengungkapkan bahwa tanpa kasih sayang manusia akan berjiwa kering. Justru sifat feminin dari kasih tersebut melembutkan manusia. Dalam buku “Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,2001 Pak Anand menyampaikan……. Untuk apa menyirami padang pasir? Percuma. Begitu pula dengan manusia yang berjiwa kering, keras, kaku-siraman kasih seberapa pun tidak akan membantu. Seorang pria berjiwa kering ibarat padang pasir yang gersang. Sebelum disirami air, dia membutuhkan penanganan khusus. Dan hanya keberadaan yang dapat menangani manusia yang berjiwa kering. Lain perkara jika keberadaan memilih “sesuatu” atau “seseorang” sebagai alat dan menggunakannya untuk menangani kasus-kasus seperti itu……… Wanita tidak lemah, tetapi lembut. Seperti kelembutan bunga. Bagaimana anda menangani sekuntum bunga? Dengan cara yang sama pula anda harus menangaani seorang wanita. Sesungguhnya, dia memberi anda kesempatan untuk menjadi “lebih” lembut. Hubungan anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan anda, ibu anda, saudara anda, kekasih anda atau siapapun dia, merupakan Rakhmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang “melembutkan” jiwa anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita disekitar anda, Allah sedang mengguyuri jiwa anda, menyirami jiwa anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran anda………

Rumi mengajak kita semua untuk menjadi “pencinta” Ilahi yang penuh kasih sayang. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……… Anda pikir anda “bisa” menyumbang, “bisa” beramal-saleh, “bisa” berderma? Tidak, anda tidak “bisa” melakukan semua itu, jika tidak “diberi” kesempatan oleh, Tuhan. Sementara ini, anda belum “memperoleh” kesempatan untuk berderma, untuk beramal” saleh, untuk menyumbang. Jangan kaget, jangan tersinggung-lakukan introspeksi diri. Anda berderma untuk apa? Menyumbang untuk apa? Beramal-saleh untuk apa? Jika untuk “menagih” surga, anda hanyalah seorang penagih hutang. Jika untuk “memperoleh” ganjaran dan pahala, maka hubungan anda dengan Allah, dengan “Apa” pun sebutan anda bagi “Dia”-hanyalah hubungan antara “peminjam” dan “penagih”. Anda tidak lebih baik daripada para penagih hutang yang mendatangi Shaykh dan’ mendesak dia untuk melunasi pinjamannya. Pikirkan! Jika anda menyumbang, berderma, dan beramal-saleh “bukan karena kewajiban”, “bukan pula untuk mendapatkan (menagih) imbalan ; ketahuilah bahwa Allah telah “memberikan”‘ kesempatan itu kepada anda! Berbahagialah bahwa di antara sekian banyak penagih hutang, pemberi pinjaman dan rentenir, anda dipilih untuk menjadi “pencinta”! Para penagih hutang mendapatkan kembali hutang mereka. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Demikian pula keadaan anda, jika anda berdagang dengan Allah. Apa yang anda berikan “dengan nama” Dia akan diberikan kembali kepada anda. Tidak lebih, tidak kurang. Terserah anda-apa mau anda? Hubungan seperti apa yang anda inginkan dengan Tuhan? Hubungan antara kekasih dan yang dikasihi, atau hubungan antara peminjam dan penagih?……..

Bapak Anand Krishna juga mengambil teladan Dr. Martin Luther King Jr yang penuh kasih tanpa kekerasan dalam memperjuangkan kebenaran. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan……… Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi. “Senjata kita hanya satu, senjata kasih!” Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian…….. Dalam bahasa Gandhi, “Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk tidak membalas itulah ahimsa”……..

Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, Bali, 2008 Pak Anand menyampaikan……… Inilah yang menyebabkan saya mengagumi Martin King Luther. Walaupun dia mengagumi Gandhi. Luther King akan turun ke jalan dan menyampaikan pendapatnya secara jelas. Dia akan membiarkan dirinya dipenjarakan. Namun dia tidak akan melawan balik atau membalas dendam. Itulah cara yang menurut saya baik. Kita menyampaikan pendapat kita dengan jelas, berfokus kepada kesadaran  dan kita membuat masyarakat mengerti  mengapa kita melakukan hal-hal tersebut. Inilah yang saya coba lakukan… berusaha menggabungkan dua manusia besar tersebut. Gandhi dan Martin Luther King. Inilah yang diperlukan oleh Indonesia dalam misi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar. Dahulu kala kita mengekspor rempah-rempah ke Madagaskar dan Afrika dengan menggunakan armada kapal sendiri. Menghilang ke manakah keagungan tersebut? Keagungan tersebut masihlah ada dalam diri kita. Mengapa kita harus mengadopsi suatu hal yang tidak sesuai dengan negara ini? Saat ini saya melihat sebagian orang Indonesia mengadopsi nilai-nilai barat, yang sebenarnya cukup baik juga . Saya tidak ada masalah dengan perihal tersebut. Namun, mungkin tidak semua budaya barat sesuai dengan negara ini. Di lain pihak, sebagian dari masyarakat Indonesia mengadaptasi cara hidup Arab. Hal ini akan menciptakan dua masyarakat dalam satu negara yang tidak baik karena akan mengundang konflik, pertengkaran, dan perang di negara kita……

Boleh jadi pandangan Pak Anand Krishna tentang kasih dan anti kekerasan tersebut mengusik beberapa gelintir oknum, sehingga beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia. Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Sebagai penutup kami sampaikan pandangan Pak Anand tentang mengalahkan rasa takut. Dalam buku “The Gospel Of Michael Jackson”, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009 disampaikan…….. Rasa takut kita warisi dari proses evolusi yang panjang. Rasa takut ini juga yang kita bagi dengan binatang lain. Rasa takut menurunkan kita menjadi binatang sosial. Dengan demikian, rasa takut adalah penghambat kemajuan dan evolusi lanjutan. Untuk menyadari takdir kita sebagai manusia, kita harus setidaknya berusaha meniadakan rasa takut. Begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, kita mulai bisa memproyeksikan, mewujudkan sifat ilahi dalam diri. Mekanisme “flight or fight” atau “lari atau berkelahi” lahir dari rasa takut. Karenanya kita menjadi reaktif. Begitu kita diserang, kalau tidak balik melawan, ya kita lari. Kita tidak bereaksi dengan cara lain. Namun, begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, saat itulah kita berhenti menjadi reaktif. Sebaliknya kita menjadi responsive, saat diserang, kita tidak langsung balik melawan atau mengambil langkah seribu. Dalam usahanya melawan penjajahan dan para penjajah, Buddha, Gandhi, Yesus dan Martin Luther King Jr. tidak bereaksi. Sebaliknya mereka merespons tanpa kekerasan. Seseorang yang penuh ketakutan itu hampir selalu penuh kekerasan. Hanya manusia pemberanilah yang dapat merespons  tanpa kekerasan………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: