Isu Agama di Indonesia Menurut Wakil Umat Hindu


Drs. I Nyoman Warta, M.Hum mewakili Umat Hindu dalam simposium Road to Global Harmony. Dosen Sekolah Tinggi Hindu Dharma Jawa Tengah dan UGM Yogyakarta ini menyampaikan bahwa dalam Hindu ada istilah Tat Tvam Asi (kamu adalah aku – aku adalah kamu) , Wasudewa Kutumbakan (kita semua bersaudara), dan Tri Hita Karana (keselarasan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan alam).

 

Semua orang, setiap helai daun tidak ada yang sama persis karena masing-masing mempunyai pengalaman hidup yang berbeda. Akan tetapi bila kita duduk diam sejenak dan bertanya pada diri kita sendiri, “Siapakah aku ini?” Tidak lama kemudian, batin kita akan menjawab. Pakaianku bukan aku, aku bukan pakaian; rumahku bukan aku, aku bukan rumah; badanku bukan aku, aku bukan badan; pikiranku bukan aku, aku bukan pikiran…….. Kita akan sadar bahwa badan kasar ini hanya ibarat pakaian yang kita pakai. Kita juga bukan pikiran. Pikiran adalah sekadar alat yang kita perlukan untuk kegiatan sehari-hari di alam fisik ini. Aku beragama ini, aku berasal dari suku ini hanyalah olah pikiran. Kita bukan badan kasar; bukan juga pikiran; dan bukan intelek. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!……… Pengenalan diri dan kemarahan tidak dapat berada bersama, sebagaimana gelap dan terang tidak dapat bereksistensi bersama……….

 

Sri Sultan HB X memberikan ilustrasi keyakinan yang berbeda-beda seperti cahaya putih yang jatuh di atas prisma pengalaman manusia. Cahaya putih menyebar ke dalam tradisi, ajaran dan agama yang tak terhitung alirannya yang membawa karakteristik khas sesuai akar budayanya masing-masing.

 

Alissa Wahid menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dunia saat ini seperti desa yang besar, global village, semakin mengecil, dan keterikatan semakin erat. Kita tidak bisa hidup sendiri, hidup dalam satu kelompok dan merasa yang paling benar. Yang demikian itu orang zaman dahulu yang belum bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

 

Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin. Dari agama yang berbeda, dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa. Yaitu rasa kebebasan, kemahardikaan.

 

Romo Aloysius Budi Purnomo mengungkapkan bahwa dalam kehidupan antarumat beragama diperlukan toleransi. Tidak sekedar pemaknaan lisan, tapi lebih pada laku. Janganlah merasa paling benar. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

 

YP Sukiyanto dari Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mengetengahkan bahwa ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga?

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Lemhanas menyampaikan bahwa Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau, lebih dari 512 bahasa, beragam agama, keyakinan, kepercayaan. Untuk itu harus ditegakkan kebebasan (Hak Asasi Manusia), kesetaraan warga dan bangsa tanpa memandang etnis, agama, dan lain-lain, serta toleransi, agar kehidupan yang harmoni bisa diwujudkan.

 

Wenshe Adjie Chandra mengibaratkan bahwa jari-jari tangan kita memang berbeda-beda agar jari-jari tersebut bisa bekerja sama. Bila semua sama, bahkan kerjasama akan kurang maksimal.

 

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam menggarisbawahi bahwa kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan, kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan yang bisa menghilangkan kebencian adalah cinta kasih.

 

Drs. I Nyoman Warta, M.Hum menegaskan bahwa walaupun fisik setiap orang tidak ada yang sama, pikiran setiap orang berbeda, akan tetapi kita bukan fisik; bukan juga pikiran. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!

 

Bapak Anand Krishna menyampaikan dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002……..  jalan manapun yang kau tempuh akan mencapai pada-Ku. Bahkan di Rigveda jauh sebelum Bhagavad Gita muncul dinyatakan bahwa Kebenaran itu satu, dan para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.

 

Bapak Anand Krishna juga menyampaikan bahwa pemahaman istilah “Hindu” dalam konteks budaya/peradaban kuno, prasejarah, dan antrapologi tidaklah terkait dengan agama, tapi dengan suatu wilayah geografis dari pegunungan Hindu Kush, sekarang di Pakistan dan Afghanistan, hingga perbatasan kepulauan Nusantara, termasuk sebagian Filipina. Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 beliau menyampaikan……… Manusia Indonesia tidaklah jahiliyah. Sebelum terpengaruh oleh agama-agama besar dunia, kita sudah berbudaya. Sudah beradab. Kita berada dalam satu wilayah peradaban yang sangat besar. Peradaban, yang oleh para sejarawan Cina disebut Shintu distorsi dari Sindhu. Distorsi dari kata Sindhu, Sungai Berbadan Lebar seperti Laut atau Sindhu. Sungai ini masih dikenal dengan sebutan yang sama, dan berada dalam wilayah Pakistan dan India. Sejarawan Arab mendistorsinya lebih lanjut, sehingga Shintu menjadi Hindu. Dalam bahasa latin, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, ia menjadi Indies, Indische, India, Indo…..… kita sendiri, di zaman pejajahan masih menyebut diri Hindia, Hindia Belanda. Dutch-Indies, Hindia yang waktu itu berada dalam “cengkeraman” Belanda untuk membedakan dari British-Indies, yaitu India atau Hindia daratan yang berada dalam “cengkeraman” Inggris. Agama-agama, budaya dan peradaban di dalam wilayah luas yang dikelilingi oleh Samudera Hindia ini tidak pernah mengenal keseragaman. Tidak ada upaya dari siapa dari siapa pun di dalam wilayah ini untuk menyeragamkannya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan kearifan lokal kita. Istilah Hindu dimulai dikaitkan dengan agama “tertentu” di jaman Mogul kurang lebih limaratus tahun yang lalu. Dinasti Islam ini pernah menguasai sebagian besar wilayah India, termasuk apa yang sekarang menjadi negara Pakistan dan Bangladesh. Bahkan, Dinasti Mogul yang beragama Islam itu pula yang menyebut wilayahnya Hindustan, Tanah Hindu! Jelas, saat itu Hindu belum dikaitkan dengan agama tertentu. Ya, dikaitkan dengan wilayah peradaban tertentu. Dengan budaya tertentu. Dvipantara atau Kepulauan Nusantara sebagian besar Indo-Cina Thailand, Cambodia, Vietnam berada dalam wilayah tersebut……..

 

Dalam buku “Tsunami, Membaca Ayat Ayat Allah dari Tragedi Tsunami”, Anand Krishna dan teman-teman, One Earth Media, 2006 Bapak Anand Krishna menyampaikan………. Ketika Rasulullah, Nabi Muhammad masih ada, ada satu kelompok di Sindh, di Pakistan yang mengirimkan seseorang bernama Baba Ratan untuk belajar dari Nabi. Dan ajaran Nabi itu dibawa ke Sindh, sekarang salah satu wilayah di Pakistan, pada saat Nabi masih hidup. Maka, umumnya orang-orang Sindhi pun sering menerjemahkan hadis yang sangat populer tentang menuntut ilmu hingga Shin, sebagai pengakuan Sang Nabi terhadap kebesaran Peradaban Mohen Jo Daro yang ada di Sindh dan wilayah sekitarnya. Yang dimaksudnya dengan Shin, kata mereka, bukanlah Cina, tapi Sindh……… Pikir-pikir, menuntut ilmu hingga negeri Cina tidak masuk akal juga, karena saat Nabi masih ada di tengah kita, orang-orang Cina justru sibuk perang. Jadi, barangkali Shin itu bukan Cina, tetapi negeri di seberang sungai Sindhu, karena sudah terjalinnya hubungan antara Nabi dan Sindh lewat Baba Ratan………

 

Berikut ini pandangan Bapak Anand Krishna tentang Hindu yang kami ambil dari blog kami……. https://triwidodo.wordpress.com/2012/09/10/bangkitlah-bali-demi-keutuhan-nkri/

……….Kita tidak mengimpor budaya itu dari India. Kita memiliki budaya yang mirip dan sama. Budaya itu adalah dari wilayah peradaban yang luas sekali dari Gandhahar hingga ke Australia seluruh wilayah peradaban ini memiliki budaya yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda kalau saya tidak bisa menghormati agama-agama lain maka saya belum beragama Hindu, belum orang Hindu. Budaya ini yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia.

 

Menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bangsa ini harus mulai darimana dan apa yang harus kita lakukan untuk memotivasi kebangkitan bangsa, Pak Anand menjawab………. Mulai dari mana? kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berfikir kalau kita mempunyai kekuasaan baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhamad, Nabi Isa, Swami Vivekananda tidak mempunyai kekuasaan. Semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan setelah itu baru orang mendengar mereka. Bekal yang kita butuhkan adalah rasa bangga terhadap kebudayaan kita sendiri. Untuk itu penting sekali kita mempelajari sejarah. Pemda setempat perlu membiayai orang-orang tertentu untuk menulis ulang lembaran-lembaran sejarah kita. Karena banyak lembaran-lembaran sejarah kita yang hilang atau bahkan sengaja dihilangkan. Misalnya kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Majapahit dan Sriwijaya. Itu baru 400 tahun yang lalu. Saya kira tidak ada di seluruh dunia ini, dimana sejarah 500 tahun tidak utuh, tidak ada, bahkan peninggalannya tidak ada dan Trowulan itu juga berandai-andai. Saya rasa ada konspirasi yang sangat teratur untuk membuat kita lupa akan sejarah kita dan karena kita lupa akan sejarah, kita seakan dipisahkan dari akar kita. Seperti kembang dalam pot ini kita akan mengalami disintegrasi dan layu…….

 

…….. Dalam buku-buku sejarah kita dituliskan, masa Hindu, masa Buddha dan masa apa, seolah-olah masa itu masa yang tidak berbudaya. Barangkali pemerintah harus dengan serius menangani kata “peninggalan masa Hindu”. Apakah tidak ada lagi orang Hindu di negara ini? Kenapa harus mengatakan peninggalan? Di india tidak ada istilah peninggalan Hindu, peninggalan Islam. Taj Mahal adalah peninggalan Dinasty Mogul saya kira cara berpikir kita harus lebih dewasa, harus lebih matang. Leluhur saya mungkin mempunyai kepercayaan lain dengan saya tetapi kita tidak bisa menafikan leluhur kita. Dengan penafian seperti itu, keterpurukan yang terjadi di Indonesia terjadi karena kita melupakan leluhur kita, sejarah bangsa kita dan kita harus mulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga kita…….

 

Pemikiran seseorang tak bisa diadili. Oleh karena pandangan Pak Anand Krishna tentang kebhinekaan, beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia……… Komplek Rumah Kebhinnekaan satu per satu sudah terbakar dan api sudah merembet semakin dekat, mungkinkah kita hanya duduk diam dan berpangku tangan? Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya. Tidak semua rumah-rumah tersebut sesuai selera dengan kita, akan tetapi rumah-rumah tersebut berdiri di atas Hak Milik NKRI dengan Ijin Mendirikan Bangunan sesuai UUD’45. Di lain pihak nampaknya kekerasan demi kekerasan dibiarkan terjadi tanpa tindak lanjut…. Bersuaralah!!!

 

Silakan membaca artikel Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Menyaksikan Tayang Ulang Kezaliman Peradilan Terhadap Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/17/menyaksikan-tayang-ulang-kezaliman-peradilan-terhadap-anand-krishna/

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: