Devide et Impera Gaya Baru Terhadap Kesatuan Bangsa dan DNA Manusia Indonesia Pandangan Dr. Sudi Martana


Upaya-upaya Devide et Impera Modern terhadap kesatuan bangsa adalah dengan memasukkan virus untuk merusak seluruh program DNA manusia Indonesia. Hard disk di DNA kita disusupi virus-virus dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun perdaban yang adiluhung seperti yang terjadi di masa silam “terancam hilang” karena terkorup virus fanatisme agama.

 

Di sela-sela mengikuti 9 panel diskusi dalam acara International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) serta Pembukaan Monumen Global Harmony dan Ashram Ubud yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB), kami sempat berbincang-bincang dengan dr. Sudi Martana, Koordinator Anand Krishna Center Singaraja Bali. Pandangan dokter Sudi Martana tentang DNA manusia Indonesia terhadap virus fanatisme agama pantas kita simak.

 

Dr. Sudi Martana menyampaikan……. Ketika kita melakukan sesuatu, panca indera kita terstimuli. Stimuli panca indera akan mengaktifkan area-area tertentu di otak. Aktivasi area-area otak akan membangkitkan kesan-kesan mental-emosional, Maanas. Pengulangan-pengulangan secara intensif yang kita sebut “ritus” akan membuat suatu pintasan (synapsis-synapsis neuron). Kelak, hanya dengan menggunakan mental-emosional, membayangkan atau merasakan saja, maka area-area otak yang sama terstimuli dan panca indera juga terstimuli, kemudian anggota fisik pun mulai bergerak sesuai stimuli-stimuli tersebut. Demikian terus-menerus stimuli bolak-balik, lama-kelamaan akan membentuk suatu pola vibrasi, getaran energi pada frekuensi tertentu. Vibrasi ini lama-lama akan mencetak suatu pola kimiawi-fisika pada seluruh inti sel tubuh, kemudian sampai pada tingkat Gen dan DNA. Termasuk DNA sel sprema dan sel ovum. Keyakinan termasuk ritus-ritus yang dilakukan leluhur kita sudah menjadi bagian dari DNA sel sperma dan sel telur/ovum yang membuat raga kita sejak dalam kandungan. Leluhur kita sudah memiliki Keyakinan, Cara, Teknik mereka sendiri dalam menghormati Alam Semesta besrta Hyang Tunggal, jauh sebelum agama-agama, termasuk yang ada di Indonesia ada/dikenal. Jika kita begitu saja mengabaikan fakta ini, maka akan terjadi disharmonisasi yang luar biasa mulai tingkat DNA, sel, otak, energi, mental-emosional, anggota gerak fisik. Lantas apa kita harus melepas agama yang kita anut? Tidak! Bukan! Akan tetapi cernalah ajaran agamamu dan sesuaikan dengan kebijaksanaan asal leluhur kita yang sesungguhnya selaras dengan inti semua agama: Peace, Love and Harmony. Jika kita menjalankan ajaran agama kita yang sudah disekaraskan dengan Kebijakan Asli Leluhur kita, maka akan terjadi sinergi yang luar biasa. Global Harmony setidaknya di tingkat Indonesia, pasti terjadi. Tidak ada lagi keributan apalagi perusakan dan pembunuhan atas nama agama. Please, jangan membuat Leluhur kita malu dengan mempertengkarkan hal yang tidak sepatutnya…..

 

Penulis sependapat dengan dr. Sudi Martana dan menyampaikan bahwa…… Memang dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri……

 

Dr. Sudi Martana sepakat dan menambahkan…….. Mapping Kromozom telah berhasil. Usaha-usaha US dan UK sejak saya SMP berhasil di tahun 2000-an. Dan diumumkan langsung oleh Bil Clinton dan Tony Blair. Kita memasuski Era Emas…jika tidak, maka pilihannya hanya hancur, karena sedemikian pesatnya kemajuan Iptek saat ini: Hancur atau digunakan untuk pertumbuhan Spirit kita, Jiwa kita…Sayangnya, dan harus segera dihentikan, sebagian dari anak bangsa kita justru sangat fanatis dan tidak tahu serta tidak mau tahu tentang perkembangan-perkembangan ini. Mapping Kromozom dan kemungkinan-kemungkinan koreksi DNA . Jangan sampai kita disebut bangsa pesakitan karena ada yang disharmonis di tataran sel kita. Betul sekali, bahkan jauh sejak leluhur kita di Sangiran, Solo, kita mewarisi semua kemampuan tersebut, terekam secara kimiawi-fisika di gen, DNA kita. Jika kita mau dan bisa mengaksesnya, seluruh kemampuan agung leluhur kita akan kembali! Upaya-upaya Devide et Impera tadi adalah Virus yang dimasukkan untuk merusak seluruh program DNA bangsa kita. Hard Disk di DNA kita disusupi virus-virus ini dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun peradaban yang adiluhung seperti di masa silam “terancam hilang” karena terkorup virus fanatisme agama. Hentikan sebelum terlambat! Rekaman Kemampuan Membangun Peradaban yang Adiluhung, Membangun Surga diBumi, Create Heaven On The Earth, dimiliki leluhur kita dan diwariskan dalam kode-kode genetik kita. Jangan sampai Virus Devide et Impera yang berkedok dan menggunakan sentimen agama mengkorup data-data di DNA kita ini. Seharusnya agama justru membuat DNA kita semakin harmonis dan memorynya bertambah dengan wawasan yang adiluhung juga……

 

Penulis mengingatkan bahwa dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan…….. Seekor kuda, bila diberi sambal, akan mengamuk. Ia akan lepas kendali karena kepedasan. Ia tidak doyan sambal. Tapi, apa yang terjadi bila kuda yang tidak doyan sambal, menjadi doyan? Kebiasaan baru itu pasti mengubah sifat dasarnya. Ia menjadi tukang ngamuk ia akan lepas kendali, sulit diatur. Ini yang terjadi pada diri kita. Kita bukanlah bangsa yang percaya pada kekerasan. Pada dasarnya kita selalu mencari solusi damai,walau akhirnya kata “damai” itu sendiri sering disalahgunakan. Kena tilang, polisi menawari “solusi damai”. Kita “diajak damai” dan kita pun mau asal biaya damainya tidak terlalu mahal daripada kerepotan yang akan muncul akibat tilang itu. Terlepas dari ekses yang terjadi, kita adalah bangsa yang cinta damai. Kita bukanlah bangsa yang doyan makan “sambal kekerasan”. Tapi belakangan ini, kita gemar sambal kekerasan. Kita melupakan kodrat kita sebagai manusia Indonesia yang mencintai kedamaian. Kita melupakan Mpu Tantular yang senantiasa mencari solusi damai. Bangsa yang melupakan budaya asalnya dan mencontek budaya lain ditakdirkan untuk hancur lebur dan menjadi jongos di negeri sendiri. Takdir ini menimpa sekian banyak bangsa di masa lalu … sekarang mereka menjadi jongos di negeri sendiri………

 

“Kesadaran” untuk memperbaiki perilaku itu menjadi modal utama. Potensi kekerasan boleh jadi masih ada dalam genetik suatu bangsa, akan tetapi kita mempunyai pilihan untuk mengembangkan potensi kekerasan tersebut atau tidak mengembangkannya. Nampaknya kesadaran kolektif bangsa kita belum meningkat. Insting hewani tersisa dalam DNA, seperti mau menang sendiri, memuaskan keserakahan pribadi tanpa kerja keras, seperti terwujud dalam berbagai kasus mafia rekayasa, penggunaan kekerasan, politik uang dalam pemilihan pejabat, rezim keluarga dalam pilkada dan sebagainya masih terjadi seluruh negeri…….Sewaktu penulis menyampaikan……. Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah  satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Konsep kebijakan pembangunan Kota Solo saat ini bahwa “Solo Masa Depan adalah Solo Tempo Dulu”, yang maknanya adalah pengembangan kota Solo modern tanpa meninggalkan kekhasan kota Solo sendiri yang memiliki tradisi dan budaya adiluhung, sudah sejalan dengan pemetaan DNA. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa…..

 

Dr. Sudi Martana sependapat dan menyampaikan…….. Bahkan kalaupun kita tetap “berupaya” menggunakan istilah agama untuk peninggalan leluhur kita: Itu pun sangat memaksa dan tidak tepat! Sejak kapan istilah agama kita kenal? Setahu saya baru beberapa tahun terakhir, tentu sejak Islam masuk Nusantara. Bahkan di Zaman Majapahit yang belum terlalu lama (500 tahun lalu) belum ada istilah agama. Yang ada keyakinan Buddha, Shiva dan lain-lain. Jadi kalau menggunakan istilah agama untuk peninggalan-peninggalan dimaksud dimana istilah agama sendiri belum ada/dikenal, apa bukan hanya tidak tepat tetapi memaksakan. Memang ada oknum yang dengan sengaja menggunakan sentimen agama tersebut untuk peninggalanan-peninggalan yang seharusnya memang tidak memakai istilah agama tetapi lebih tepat memakai istilah “ siapa yang rule the country saat itu”, untuk membuat mereka-mereka menjadi alergi dengan warisan leluhur mereka sendiri. Coba saja jika saya beragama Islam dan tidak memahami hal ini lantas diajari bahwa Borobudur adalah peninggalan agama Buddha, bukannya peninggalan leluhur saya dari Kerajaan Sriwijaya khususnya Wangsa Syailendra, maka saya langsung menarik diri dan tidak menghargai Borobudur. Sungguh suatu cara yang sangat “keji” untuk membuat kita dan anak-anak cucu kita menjadi fanatis terhadap agama yang tertulis di KTP kita dan justru tidak menghargai peninggalan adiluhung leluhur hanya karenadiberi label ….. zaman agama…… Hentikan pembodohan ini. Borobudur adalah peninggalan Kerajaan/Imperium Sriwijaya yang gilang gemilang, bukan peninggalan agama Buddha. Masjid Demak adalah warisan Kerajaan Demak. Titik! Politik Devide et Impera jangan lagi membuat kita sebagai Satu  Bangsa pecah karena urusan apa pun, apalagi AGAMA. Karena agama sesungguhnya mengutuhkan, menyatukan, membawa kedamaian. Indonesia pernah sangat Jaya! Dan pasti Jaya lagi!

 

Boleh jadi pandangan Bapak Anand Krishna tentang kebhinnekaan, spiritualitas dan DNA manusia Indonesia mengusik beberapa gelintir oknum, sehingga beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: