“Fisik” dan “Ruh” Pembangunan Sekala dan Niskala menurut Emerald Starr


Emerald Starr menyatakan bahwa dalam pembangunan ada istilah Bali Sekala (fisik yang dapat dilihat dan ada Niskala (yang tidak dapat dilihat tetapi bisa dirasakan). Starr mengkritik pembangunan yang hanya berdasarkan fisik semata dan melupakan “ruh bangunan”. Kini sebagian masyarakat yang tidak paham menganggap Bung Karno adalah musyrik karena pada tahun 1963 beliau membangun satu kamar yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul di Samudera Beach Sanur dan satu kamar juga di Samudera Beach Pelabuhan Ratu. Padahal Bung Karno mengajari masyarakat untuk membuat Hotel yang megah kala itu di tepi Pantai Laut Selatan, tetapi rakyat harus menghargai Laut Selatan. Hotel tersebut didirikan bagi masyarakat untuk mengagumi Laut Selatan, tanpa eksisnya Laut Selatan hotel tersebut tidak mungkin dibangun di sana. Nyai Roro Kidul adalah Ikon Feminin masyarakat zaman dahulu, dan Bung Karno mengajak kita belajar sejarah.

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Emerald Starr mewakili Humanitad menyampaikan sambutan dalam acara Pembukaan Monumen Global Harmony dan Ashram Ubud.

 

Emerald Starr aktivis lingkungan selama lebih dari 25 tahun. Dia merancang sebuah pusat retret yang ramah lingkungan di Maui di Hawaii yang disebut Hale Akua Shangri-La di awal 1980-an sebelum pindah ke Bali pada tahun 1989. Starr adalah sarjana di bidang psikologi, agama dan mitologi timur, dan juga seorang arsitek serta desainer lanskap. Starr ditunjuk dan dilatih oleh AS Mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, untuk membawa pesan Pemanasan Global kepada dunia berdasarkan buku dan film dokumenter, An Inconvenient Truth. Starr untuk mengekspos mitos dan kesalahpahaman seputar isu kontroversial pemanasan global dan mendukung masyarakat Bali untuk bekerja sama menghentikan bencana akibat pemanasan global. Pada tahun 1987, Starr diundang dalam program pertukaran budaya bersama Profesor Amerika Pennell dan Profesor Sutan Takdir Alisjabana, pendiri Universitas Nasional di Jakarta dan Bapak Bahasa Indonesia.

 

Emerald Starr menyatakan bahwa dalam pembangunan ada istilah Bali Sekala (fisik yang dapat dilihat dan ada Niskala (yang tidak dapat dilihat tetapi bisa dirasakan). Starr mengkritik pembangunan yang hanya berdasarkan fisik semata dan melupakan “ruh bangunan”. Kini akibat persepsi yang salah, sebagian masyarakat menganggap Bung Karno adalah musyrik karena pada tahun 1963 beliau membangun satu kamar yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul di Samudera Beach Sanur dan satu kamar juga di Samudera Beach Pelabuhan Ratu. Padahal Bung Karno mengajari masyarakat untuk membuat Hotel yang megah kala itu di tepi Pantai Laut Selatan, tetapi rakyat harus menghargai Laut Selatan. Hotel tersebut didirikan bagi masyarakat untuk mengagumi Laut Selatan, tanpa Laut Selatan hotel itu tidak akan dibangun di sana.

 

Nyai Roro Kidul adalah Ikon Feminin masyarakat zaman dahulu, dan Bung Karno mengajak kita belajar sejarah. Membaca artikel di internet “Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java“, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak kita masing-masing: seperti yang berkaitan dengan hal mistis; pencarian jalan pintas dalam mendapatkan kekayaan; tumbal manusia secara berkala untuk dijadikan pekerja Istana Dasar Laut Kidul;

Silakan baca:

http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/26/nyai-lara-kidul-laut-selatan-candi-kalasan-indonesia-dan-dewi-tara-tibet/

 

Dewi Tara mempunyai asosiasi dengan Dewi Durga yang merupakan Adishakti  dan juga dengan dewi kepercayaan masyarakat setempat seperti Nyai Lara kidul. Bila di Candi Kalasan terdapat patung Dewi Tara, maka dalam jarak kurang dari 2 km ada Candi Prambanan dengan patung Dewi Durga. Melihat kondisi geografis, nampaknya sungai Opak yang memisahkan Candi Prambanan dengan Candi Kalasan menjadi batas antara kekuasaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Candi-candi di jawa Tengah seperti Kalasan, Plaosan dan Prambanan, Sambisari dibangun oleh masyarakat campuran antara Shiwa dan Buddha pada abad ke 8. Bagi mereka Dewi Durga, Dewi Tara, Nyai lara Kidul adalah ikon seorang ibu alam semesta yang perlu dipuja.

 

Bung Karno memahami adanya keyakinan di masyarakat bahwa ada Tuhan dalam aspek Nirguna, abstrak, gaib dan paham juga sebagian masyarakat mempunyai keyakinan Tuhan dalam aspek Saguna, bermanifestasi, dunia ini adalah manifestasi dari Tuhan, karena yang ada hanyalah Tuhan. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspek Nirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Memang, sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya. Para resi menganjurkan ada beberapa sarana Saguna yang bisa dijadikan objek pemujaan, untuk kemudian menyadari kehadiran Tuhan di mana-mana (Tuhan Nirguna). Diantaranya adalah Rupa (bisa gambar, patung, tulisan/kaligrafi atau wujud seorang suci), Altar (bisa suatu tempat di rumah, tempat ibadah di luar rumah, atau tempat-tempat suci lainnya). Api/Pelita/Lilin, Cahaya, Sumber Cahaya/Matahari, dan Air/Sungai/Samudera dan lain-lain.

 

Bapak Anand Krishna pernah menulis di Radar Bali pada tahun 2009 tentang Sekala dan Niskala, material dan immaterial sebagai berikut…….. yang pernah kami upload dalam blog kami….. https://triwidodo.wordpress.com/2009/10/14/material-dan-immaterial-bagian-1/

Kurang dari 50 tahun setelah kematian Rudyard Kipling, saya baru menyadari bahwa Timur tetaplah Timur, dan Barat tetaplah Barat. Tapi kembaran tersebut dapat bertemu. Kemungkinan perjumpaan sangat mungkin di sana. Kita dapat bersua di atas landasan yang sama. Hari ini, pertemuan itu tak hanya mendesak, tapi juga imperatif. Saya melihat Timur sebagai tempat penyimpan kebijaksanaan luhur, yang masih begitu relevan; dan Barat sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Seorang Timur yang bijaksana tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi modern akan menjadi tumpul dan tak berdaya. Ia tak memiliki dinamisme, tak ada semangat hidup. Di sisi lain, seorang ilmuwan Barat tanpa kebijaksanaan menjadi serakah dan arogan, Ia kehilangan kemanusiaan dan moralitasnya. Timur dan Barat harus bertemu. Mereka harus.

 

Sekala/Niskala, kendati demikian, memiliki beberapa makna yang lebih dalam. Pertama, ini bukan konsep sekedar filosofis, tapi lebih merupakan sebuah pedoman untuk hidup. Secara literal, sekala ialah “di dalam waktu” dan niskala ialah “melampaui waktu.” Niskala itu abadi, nilai universal kemanusiaan – keberlanjutan. Sekala ialah modernitas, perkembangan, pertumbuhan dan kemajuan – perubahan. Sekala ialah layar yang tetap di mana gambar-gambar yang bergerak niskala diproyeksikan. Ini bisa jadi salah, sayangnya banyak yang melakukannya, sekedar membatasi sekala sebagai pasar dunia, dan niskala ialah tempat ibadah. Kesalahan yang lebih fatal ialah mengasosiasikan ritual-ritual agama dan bentuk luaran ibadah saja dengan niskala, dan semua kegiatan “dunia” lainnya dengan sekala.

 

Ironisnya, ini kasus yang terjadi hari ini. Kita telah, sesungguhnya, telah bergerak setapak lebih jauh dengan mempertimbangkan tindakan ibadah “niskala” atau ritual agama itu memiliki kemampuan untuk menghapuskan semua kesalahan “sekala”. Dalam ketidaktahuan kita, sekarang kita mempercayai bahwa kita dapat melakukan kejahatan – membohongi, melukai, melukai, menciderai atau bahkan membunuh – dan selalu ada sebuah ritual untuk menyelamatkan kita dari hukuman di sini dan kelak. Ini benar-benar salah, dan persepsi yang sangat berbahaya. Cara pandang ini harus dikoreksi. Banyak pendatang dari luar negri yang tetap terkagum-kagum dengan kecantikan Bali. Mereka tak bisa berkata-kata. Ya, Bali tetaplah cantik. Tapi keperawanannya telah lenyap. Kesederhanaannya, kewarasannya, kemurniannya dan kepolosannya telah sirna. Itu menjadi milik Bali sebelum tahun 1970. Telah dikatakan bahwa, saya harus menambahkan bahwa tak semuanya lenyap. Bali belum kehilangan segalanya. Dia telah kehilangan jiwanya. Ini harus diselamatkan. Karena kalau Bali kehilangan jiwanya, ia kehilangan segalanya. Kemudian bali menjadi tak hidup lagi. Sekala dan Niskala, keduanya sama-sama penting. Sebuah tubuh tanpa jiwa tidaklah berharga. Dan jiwa tanpa badan tak bisa mengungkapkan dirinya. Jadi pengrusakan terhadap tubuh ialah juga pengrusakan terhadap jiwa, pada potensinya untuk mengungkapkan dirinya. Saya merasa sangat sangat sulit membayangkan Bali penuh dengan mal-mal, bangunan apartemen dan bangunan bertingkat tinggi lainnya. Apa kita membutuhkannya? kita telah memiliki banyak bangunan seperti itu di pulau lain di kepulauan ini. Dapatkan kita mempunyai Bali dengan kecantikan alamnya, dan tanpa kosmetik?

 

Perjuangan Bapak Anand Krishna untuk mempersatukan bangsa dengan mengapresiasi semua agama, seakan-akan menampar kegiatan kelompok yang melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda pendapat dengan kelompok tersebut. Beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia melalui rekayasa pelecehan seksual untuk membungkam suara Beliau. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

 

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/12/kegetiran-hati-anand-krishna-sang-pencinta-bangsa-dan-kebekuan-rasa-oknum-hukum-raja-tega/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: