Hubungan Antar Umat Beragama yang Harmonis Menurut Romo Magnis Suseno


Romo Magnis Suseno: Konsili Vatikan II atas prakarsa Paus Yohanes XXIII dapat memahami dan menerima upaya mencapai kebenaran mutlak Tuhan oleh agama lain, dengan tidak mengurangi kebenaran yang sudah di capai keimanan Kristiani. Islam juga sudah menetapkan agama yang benar disisi Allah SWT adalah Islam. Namun tidak berarti negara tidak boleh memberikan perlakuan yang sama kepada semua agama. Keutuhan negara akan tercapai kalau negara memberikan perlakuan yang sama di muka hukum.

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Disamping 24 workshop tentang berbagai latihan meditasi diadakan beberapa panel diskusi tentang global harmoni. Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ adalah salah seorang pembicara pada salah satu panel diskusi.

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ lahir di Eckersdorf, Silesia, Jerman-Nazi (kini Bożków, Nowa Ruda, Polandia) pada tanggal 26 Mei 1936. Beliau adalah seorang tokoh Katolik dan budayawan Indonesia. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Magnis-Suseno juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sebagai seorang pastur Magnis-Suseno memiliki panggilan akrab Romo Magnis. Magnis-Suseno datang ke Indonesia pada tahun 1961 pada usia 25 tahun untuk belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta. Tiba di Indonesia, dia langsung mempelajari bahasa Jawa untuk membantunya berkomunikasi dengan warga setempat. Setelah ditahbiskan menjadi Pastor, ia ditugaskan untuk belajar filsafat di Jerman sampai memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dengan disertasi mengenai Karl Marx. Sebelum menjadi warganegara Indonesia pada tahun 1977, Magnis-Suseno adalah seorang warga Jerman yang bernama Franz Graf von Magnis. Saat berganti kewarganegaraan, dia menambahkan ‘Suseno’ di belakang namanya. Pria berusia 76 tahun ini masih bisa naik gunung tanpa ditemani orang lain dengan berbekal senter di malam hari.

 

Mengenai meditasi beliau mengatakan bahwa semasih muda beliau sulit untuk melakukan meditasi dengan tenang. Bagaimana orang muda duduk tenang dengan semangat yang meluap-luap. Yang beliau lakukan adalah meyakini bahwa dalam tindakan apa pun dan dimana pun selalu ada Sosok yang memperhatikannya dan Sosok itu selalu baik dan penuh kasih.

 

Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan………. Apabila Yesus menggunakan istilah “la yang mengenal Allah” maksud Beliau adalah ia yang menyadari kehadiran Allah pada setiap saat dan di semua tempat. Orang seperti inilah yang bisa disebut seorang spiritual. Mereka yang tidak menyadari Kehadiran-Nya secara demikian, mereka yang tidak kenal Allah pun bisa memiliki nilai-nilai moral yang amat tinggi. Tetapi, moralitas yang berdiri sendiri, tidak akan pernah langgeng. Bahkan sebenarnya, nilai-nilai moral itu berubah dari jaman ke jaman. Dalam satu jaman saja, kadang-kadang apa yang dianggap moral oleh satu kelompok, bisa dianggap amoral oleh kelompok lain. Sebaliknya, apabila Anda menyadari Kehadiran Allah di mana-mana, dengan sendirinya Anda akan jadi bermoral. Moralitas tidak perlu dipaksakan kepada Anda. Dengan sendirinya Anda akan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur……..

 

Romo Magnis berpandangan bahwa Persamaan Teologis antara dua agama tidak akan mungkin ada – kalau diartikan sebagai hak merumuskan kebenaran mutlak Tuhan. Namun persamaan kedudukan di muka hukum dapat ditegakkan selama ada yang memberikan perlakuan sama. Kita seharusnya memahami dengan kearifan. Dan kearifan seperti ini tidak dapat di haramkan dan ‘dimurtadkan’. Karena di dalamnya esensi klaim agama akan kebenaran masih terjaga sepenuhnya. Kita semua harus mampu mengapresiasi perbedaan yang ada dan untuk itu diperlukan kerendahan hati dan kesadaran, perbedaan itu hanya dapat terjadi pada diri mereka yang berkeras hati. Dan untuk mengubah kondisi yang ada sekarang kita harus memulainya dari diri kita sendiri dengan belajar mengapresiasi perbedaan tanpa kekerasan. (Ini adalah kesadaran untuk memperoleh Inner Peace di dalam diri, red.).

 

Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan………. Allah tidak pandang bulu. Hujan turun untuk semua orang. Bumi dan langit ini untuk semua orang. Kita yang angkuh, dan menganggap diri kita lebih bijak dari Tuhan, ingin mengurus dunia ini. Hasilnya malah kekacauan. Dengan pandangan serta wawasan yang begitu sempit, kita memvonis seseorang sebagai orang jahat. Kita memuji orang lain sebagai orang baik. Siapa kita ini, sehingga berani-beraninya menentukan hal-hal demikian? Biarkan la yang menentukan. Menjadi sempurna sebagaimana Allah ada-Nya, berarti tidak pilih kasih, tidak pandang bulu. Menyebarkan Kasih tanpa syarat, tanpa kepentingan, kepentingan pribadi atau kelompok……..

 

Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 Bapak Anand Krishna menyampaikan……… Perbedaan yang terlihat antara Taurat, Injil dan Al-Quran, tidak akan terlihat lagi, apabila Anda menemukan esensinya. Selama Anda masih bergulat pada tingkat syariat, pada tingkat “peraturan” agama, kulit agama, ya, Anda hanya melihat perbedaan saja. Tetapi begitu Anda memasuki esensi agama, begitu Anda menemukan nilai spiritual yang terkandung dalam agama itu, perbedaaan akan lenyap seketika.

 

Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……… Dalam AI-Qur’an tertulis: “Kuciptakan kalian sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa”. Entah berapa kali telah kita baca Firman Allah itu, namun sepertinya tidak pernah kita hayati. Bolak-balik yang kita permasalahkan adalah bentuk luar agama, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Esensi agama tidak bisa dipermasalahkan. Esensi agama adalah “taqwa” kepada Allah. Dan siapa yang bisa menentukan ke-“taqwa” -an seseorang, kecuali Allah?

 

Agama harus dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua agama mengajarkan hal yang sama. Krishna mengatakan bahwa “Apa pun jalan yang kau tempuh, nantinya kau akan bertemu denganKu.” Seorang Muhammad mengatakan bahwa “Jika tetanggamu tidur dalam perut kosong, sedangkan kau tidur dalam keadaan kenyang, maka kau belumlah seorang muslim.” Isa mengatakan bahwa “Cintailah tetanggamu sebagaimana kau mencintai dirimu.” Selama ini kita lupa bahwa cinta kasih adalah dasar. Ada seorang pemikir yang mengatakan bahwa perbedaan antara agama Islam dan agama Kristen adalah kalau agama Kristen berbicara Kasih melulu dan Islam berbicara tentang Salam/Damai. Bapak Anand Krishna tidak sependapat dengan pemikir tersebut. Dalam akhir kitab Injil disebutkan bahwa The Greatest is Love, yang tertinggi adalah Kasih. Sedangkan pada awal kitab Al-Qur’an ayat pertama berbunyi “Bismillah Ar Rahman Ar Rahim”, dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak ada perbedaan……..

 

Sayang, pandangan Bapak Anand Krishna yang mempersatukan bangsa yang dibuktikan dengan model di Anand Ashram bahwa peserta dari berbagai usia, berbagai profesi, berbagai etnis, berbagai suku, dan berbagai agama dapat bekerja sama melakukan pelayanan kepada masyarakat, tidak disukai oleh oknum yang ingin memecah-belah bangsa demi kepentingan politiknya. Beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia melalui rekayasa pelecehan seksual. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

 

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/12/kegetiran-hati-anand-krishna-sang-pencinta-bangsa-dan-kebekuan-rasa-oknum-hukum-raja-tega/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: