Menyelesaikan Konflik Antar Umat Ala Gandhi oleh Dr. Ravindra Kumar bersama Dr. Kiran Lata Dangwal


Filosofi Gandhi diperlukan untuk memahami realitas konflik dan perselisihan yang tak terelakkan di hampir semua tingkatan dan di semua lapisan masyarakat. Bahkan, karena persaingan dan kecemburuan – dua kecenderungan negatif manusia, untuk memuaskan nafsu egois yang berkembang dalam dirinya. Untuk memuaskan hawa nafsunya manusia melahirkan konflik dan perselisihan pada semua tingkat, baik di bidang sosial, politik dan ekonomi pada khususnya. Cara Gandhi mengharapkan resolusi dengan kerjasama, yang merupakan satu-satunya metode yang mampu dan sehat dalam suasana Ahimsa.

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Disamping 24 workshop tentang berbagai latihan meditasi diadakan beberapa panel diskusi tentang global harmoni. Dr. Ravindra dan Dr. Kiran Lata Dangwal menyampaikan makalah dengan judul “The Gandhian Philosophy in the Modern World”.

 

Dr. Ravindra Kumar, lahir tahun 1959 adalah seorang ilmuwan politik, pekerja perdamaian, pendidik dan pernah menjadi Wakil Rektor dari Universitas Meerut, India. Saat ini beliau adalah editor kepala dari “Global Peace International Journal”, dan menulis lebih dari seratus buku dan empat ratus artikel /ceramah tentang Mahatma Gandhi, dan berbagai isu sosial, agama, politik, pendidikan dan budaya. Sedangkan Dr. Kiran Lata Dangwal, lahir 1974 adalah pengajar dari Departemen Pendidikan, Universitas Lucknow, Lucknow, India. Mereka berdua menulis banyak paper tentang Gandhian Philosophy yang dengan mudah di-browsing di internet.

 

Bagian terpenting dari filsofi Gandhi secara keseluruhan dapat dipahami dari pernyataan Mahatma Gandhi sendiri: “Seluruh kegiatan manusia … merupakan suatu kegiatan holistik tak terpisahkan. Anda tidak dapat membagi kehidupan, sosial, ekonomi, politik dan agama secara murni, ke kompartemen yang tidak terpengaruh bagian yang lain.” Mahatma Gandhi dipengaruhi oleh ajaran Vedanta bahwa “semua kehidupan adalah satu”, dalam kesatuan holistik kehidupan manusia, kesatuan ini tidak dapat dibagi dalam bidang-bidang seperti sosial, agama, politik, moral atau etika jugatidak dapat dibedakan dalam tingkat individu atau kolektif. Apa yang tampaknya segmen terpisah, pada kenyataannya mereka terkait satu sama lain dan mempengaruhi satu sama lain. Pembagian aktivitas kehidupan manusia ke dalam kompartemen yang berbeda adalah buatan dan jauh dari kenyataan.

 

Filosofi Gandhi diperlukan untuk memahami realitas konflik dan perselisihan yang tak terelakkan di hampir semua tingkatan dan di semua lapisan masyarakat. Bahkan, karena persaingan dan kecemburuan – dua kecenderungan negatif manusia, untuk memuaskan nafsu egois yang berkembang dalam dirinya. Untuk memuaskan hawa nafsunya manusia melahirkan konflik dan perselisihan pada semua tingkat, baik di bidang sosial, politik dan ekonomi pada khususnya. Cara Gandhi mengharapkan resolusi dengan kerjasama, yang merupakan satu-satunya metode yang mampu dan sehat dalam suasana Ahimsa. Itu sebabnya, sejak munculnya manusia di atas bumi, atau planet-planet dari alam semesta, manusia dengan karunia Tuhan dapat menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan, untuk menciptakan kondisi kerjasama dan yang pembangunan berkelanjutan. Mahatma Gandhi mengadopsi metode non-kooperasi dalam bidang politik di seluruh sejarah manusia dengan kerjasama sebangsa, yang juga diisi dengan pendekatan konstruktif, untuk menjamin kebebasan dan keadilan dengan cara Ahimsa.

 

“Kepresidenan Obama” adalah sebuah bangunan di atas pondasi yang disusun Martin Luther King, Jr. King telah berkelana ke India untuk mempelajari lebih dalam mengenai Gandhi dan “kisah suksesnya” dalam meraih kemerdekaan India melalui perjuangan tanpa kekerasan. Dalam buku “The Gospel Of Obama”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna Bekerjasama dengaYayasan Anand Ashram, 2009 disampaikan………. Mahatma Gandhi sering mengatakan, “Mata dibalas mata hanya akan membutakan dunia.” Dan, kata-kata dari beliau inilah yang menggema dalam benak aktivitas hak sipil Afrika-Amerika, Bayard Rustin (1912-1987), yang pada waktu itu menasehati Martin Luther King, Jr. (1929-1968) untuk mendedikasikan diri pada prinsip-prinsip anti kekerasan. Kepresidenan Obama hanyalah akibat; sebabnya adalah “perjuangan hak sipil tanpa kekerasan oleh Martin Luther King.” “Kepresidenan Obama” adalah sebuah bangunan di atas pondasi yang disusun King. Disokong oleh para kawannya, King telah berkelana ke India untuk mempelajari lebih dalam mengenai Gandhi dan “kisah suksesnya” dalam meraih kemerdekaan India melalui perjuangan tanpa kekerasan. Dan pada penyampaiannya di sebuah radio saat malam terakhir beliau di sana, King berujar: “Sejak berada di India, saya semakin yakin bahwa cara-cara tanpa kekerasan….. adalah senjata paling  ampuh bagi orang-orang yang tertindas dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan dan martabat sebagai manusia. Dalam contoh yang nyata, Mahatma Gandhi memeluk prinsip-prinsip universal tertentu yang secara intrinsik hadir dalam struktur moral seluruh semesta, dan prinsip-prinsip ini tidak dapat dielakkan seperti halnya hukum gravitasi.” Walaupun tersirat, Presiden Obama mengingatkan negara-negara Arab bahwa mereka selama ini menggunakan isu konflik Arab-Israel untuk mengalihkan rakyat Arab dari permasalahan lain. Inilah yang menjadi isu riilnya……

 

Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan……. Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi. “Senjata kita hanya satu, senjata kasih!” Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian. Pasal pertama abhaya tidak dimilikinya. Dalam bahasa Gandhi, “Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk tidak membalas itulah ahimsa”……..

 

Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 disampaikan…….. Saat Ahimsa muncul di dalam diri manusia, ia terbebaskan dari naluri hewani yang diwarisinya dari evolusi panjang sebagai hewan. Saat itu, ia betul-betul menjadi manusia. la menemukan kemanusiaan di dalam dirinya. Ahimsa juga tidak berarti menjadi pengecut. “Tidak,” kata Mahatma, “jika kau memilih Ahimsa karena takut sama musuh, maka kau seorang pengecut. Kau harus memiliki kekuatan untuk membalas musuhmu, tetapi memilih tidak membalasnya – itu baru Ahimsa.” Ahimsa adalah sifat seorang pemberani, seorang pahlawan, seorang yang memiliki kekuatan. Ahimsa tidak bisa dilakoni oleh seorang pengecut.

 

Di bawah ini adalah beberapa “quotation” dari buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008.

……. Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa……

…… Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara……..

…… Jangan memenjarakan jiwa mereka dalam kotak-kotak baru “ penafsiran agama yang sempit”, yang selama itu sudah menjadi sumber dari sekian banyak konflik dan persoalan. Bebaskan nilai-nilai luhur keagamaan dari pemahaman kita yang sangat jauh dari keluhuran. Banyak penafsir agama di antara kita justru membenarkan aksi balas dendam. Mereka tidak menginginkan kita melupakan kejadian-kejadian penuh kekerasan yang terjadi pada masa lalu. Banyak penafsir agama tidak menginginkan kita melupakan sejarah suram yang sudah tidak relevan dan tidak konstektual lagi dengan zaman kita…….

……. Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas. Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta……

…….. Idealisme Gandhi inilah yang mesti dicontohi. Jadilah seorang aktifis spiritual, bukan aktifis agamawi, karena akidah, dogma dan doktrin agama membutuhkan interpretasi dari para ahli. Celakanya, di antara para ahli pun jarang sekali ada kesepakatan. Jadilah aktifis spiritual karena spirit, jiwa, semangat adalah milik kita sendiri. Anda tahu persis apa yang anda miliki. Tidak perlu seorang ahli untuk mengetahuinya. Untuk menjadi seorang aktifis spiritual kita tidak perlu bergantung pada teks dan interpretasi. Untuk menjadi aktifis spiritual, kita perlu bergantung pada kemampuan diri……..

 

Perjuangan Bapak Anand Krishna untuk mempersatukan bangsa dengan tanpa kekerasan seakan-akan menampar kegiatan kelompok yang melakukan tindakan kekerasan dengan kelompok yang berbeda pendapat kelompok tersebut. Beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia melalui rekayasa pelecehan seksual untuk membungkam suara Beliau. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

 

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/12/kegetiran-hati-anand-krishna-sang-pencinta-bangsa-dan-kebekuan-rasa-oknum-hukum-raja-tega/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: