Menyelesaikan Konflik Antar Umat Dengan Meditasi oleh Sayadaw Nanda Siddhi


Sayadaw Nanda Siddhi: Segala sesuatu dimulai dari pikiran. Segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan. Membatasi ruang gerak pikiran itulah yang disebut Konsentrasi. Pikiran perlu dikendalikan dan dibatasi ruang geraknya agar hidup kita bahagia. Dengan pikiran yang benar, pikiran yang terkendali kita dapat melakukan ucapan, perbuatan dan mata pencaharian yang benar.

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Disamping 24 workshop tentang berbagai latihan meditasi diadakan beberapa panel diskusi tentang global harmoni. Sayadaw Nanda Siddhi menyampaikan makalah dengan judul “Searching the Truth of Life based on Vipasana Meditation”.

 

Sayadaw Nanda Siddhi, berlatih meditasi Vipassana di bawah bimbingan Sayadaw U Panditabhivamsa dari Panditarama Meditation Centre di Yagoon. Pada tahun 1981 beliau mendapat gelar B.Sc ilmu Fisika di Rangon Arts & Science Univ. Pada tahun 1987 beliau mendapat gelar R.L sebagai ahli hukum terdaftar. Pada tahun 1988, Sayadaw di-upasampada sebagai seorang Bhikkhu di Wezayandar Monastry, di kota kelahirannya Moulmein. Beliau melanjutkan kuliahnya untuk menjadi seorang Dhammacariya dan lulus ujian Buddhist Scriptures Tipitaka pada tahun 1977. Beliau adalah salah seorang pengajar Meditasi Vipassana di Yasati (Yayasan Satipatthana Indonesia), Bakom, Puncak, Jawa Barat.

 

Sayadaw Nanda Siddhi membuka diskusi dengan pernyataan bahwa semua manusia bersaudara dan mendukung motto Anand Ashram, One Earth One Sky One Humankind. Dunia ini terdiri dari makhluk yang berbeda, yang lahir dari rahim karma yang berbeda, namun dari satu samudra yang sama. Kita dikatakan hidup bersaudara walaupun lahir dengan warna kulit , suku , ras dan bangsa yang berbeda dan sedang berenang di lautan samsara.

 

Sayadaw Nanda Siddhi menyampaikan bahwa hanya ada 3 hal yang perlu dikerjakan: Panna, Samadhi dan Sila. Kebijaksanaan, Panna: Pengertian Benar, Pikiran Benar. Segala sesuatu dimulai dari pikiran. Segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan. Selanjutnya Konsentrasi, Samadhi: Daya-upaya Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar; Membatasi ruang gerak pikiran itulah yang disebut Konsentrasi. Pikiran perlu dikendalikan dan dibatasi ruang geraknya agar hidup kita bahagia. Kemudian Kemoralan, Sīla: Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Pencaharian Benar. Dengan pikiran yang benar, pikiran yang terkendali kita dapat melakukan ucapan, perbuatan dan mata pencaharian yang benar. Vipasana adalah teknik meditasi praktis untuk memurnikan pikiran.

 

Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Segala sesuatu dalam dunia ini, mulainya dari pikiran. Tindakan terjadi setelah beberapa saat kemudian. Apabila kita selalu mengawasi pikiran kita, maka tidak akan terjadi penyelewengan pada tingkat itu. Demikian, tindakan tercela pun dapat dihindari. Jadi bukan tindakan yang harus diawasi, tetapi pikiran. Apabila kita selalu mengawasi tindakan saja, kita tidak dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Kenapa? Karena, pikiran kita sudah terlanjur tercemar. Bisa saja, pada suatu kesempatan, kita dapat mengendalikan tindakan kita. Tetapi; tidak untuk selamanya. Karena itu, pikiran yang harus diolah. Ujung-ujungnya kita kembali ke kata kunci kita: Kesadaran. Ia yang sadar, pikirannya pun tidak akan macam-macam. Pikiran hanya dapat dikendalikan oleh kesadaran…….

 

Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan………Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia……

……. Yesus mengatakan hal tersebut sebagai kita “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”. Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”). Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”………

 

…….. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka. Kendaraan baru kita ditabrak, berubah bentuk menjadi rongsokan, kita kecewa dan berduka. Rumah mewah kita terbakar, berubah bentuk menjadi abu dan puing-puing, kita kecewa dan berduka. Orang yang kita sayangi meninggal, badan berubah bentuk menjadi jasad, jasad menjadi abu, atau kembali ke tanah, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka……..

 

……… Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – tathagata. Ya, ada kemungkinan. Jika kita bisa menjadi “seperti seoarang anak kecil”. Analogi Yesus sungguh sangat indah, dan mudah untuk dipahami. Awam yang sedang mendengar wejangan-Nya tidak perlu memutar otak tujuh keliling untuk memahami maksud-Nya. Ketika seorang anak kecil kehilangan mainannya, apakah ia menangis hingga berhari-hari? Menangis sebentar, setelah itu ia “lupa”. Ya, sudah. Hilang, ya hilang. Tapi, apa yang terjadi ketika kita kehilangan sesuatu, ketika kita kehilangan seorang yang kita cintai? “Ah, jangan membandingkan orang dengan mainan!” kata kawanku. Tidak, kawan. Tidak, sobat. Perbandingan itu sesungguhnya tidak penting, yang penting adalah “rasa kehilangan”. Seorang anak kecil “kehilangan” sesuatu, dan kita pun “kehilangan” sesuatu, bagaimana sikap dia dan bagaimana sikap kita? Seorang anak balita yang kehilangan ibunya juga tidak akan merasakan seperti apa yang kita rasakan jika kehilangan seorang yang kita cintai. Kehilangan tetaplah kehilangan.  Lalu, apa yang membedakan seorang anak kecil yang kehilangan dan kita yang kehilangan? Adakah yang membedakan kita, yang sudah dewasa, dari anak kecil yang jelas masih kecil? Adalah “keterikatan” yang membedakan. Seorang anak kecil masih belum “terlalu” terikat. Orang dewasa, sudah “terlanjur” sangat terikat…….

 

……….Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek. la tidak indifferent. la tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha!…….

 

Pada tanggal 1 September 2012 Bapak Anand Krishna juga mengadakan simposium nasional “A Road to Global Interfaith Harmony” di Yogyakarta dan meluncurkan “Charter for Global Harmony”. Menggunakan piagam ini sebagai alat, rakyat dari semua negara diajak untuk melakukan meditasi setidaknya 20 menit setiap hari, menggunakan teknik apapun yang mereka kenal, atau yang sejalan dengan tradisi/sistem kepercayaan mereka. Karena hanya melalui inward looking dan meditasi, Inner Peace dapat dicapai. Paralel dengan praktek ini, semua orang juga diserukan untuk melakukan pelayanan sosial tanpa pamrih selama minimal 2 jam setiap minggu atau 8 jam setiap bulan. Pelayanan sosial tidak harus diarahkan kepada anggota satu komunitas saja. Akan jauh lebih bermanfaat, jika pelayanan tersebut diberikan kepada masyarakat dari komunitas yang berbeda, afiliasi politik, sosial dan agama……….

 

Perjuangan Bapak Anand Krishna untuk mempersatukan bangsa dengan mengapresiasi semua agama, dan ajakan melakukan meditasi dan pelayanan kepada komunitas yang berbeda, seakan-akan menampar kegiatan kelompok yang melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda pendapat kelompok tersebut. Beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia melalui rekayasa pelecehan seksual untuk membungkam suara Beliau. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

 

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/12/kegetiran-hati-anand-krishna-sang-pencinta-bangsa-dan-kebekuan-rasa-oknum-hukum-raja-tega/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: