Menyelesaikan Konflik Menurut Yoga Patanjali Oleh Dr. Subhash Chandra Dash


Dr. Subhash Chandra Dash: Yoga dari Patanjali telah memberikan kontribusi besar terhadap keselarasan antara pikiran, tubuh dan jiwa. Keselarasan antara pikiran, tubuh dan jiwa adalah sebuah pencapaian kemurnian diri. Dan kemurnian diri adalah fondasi dari kedamaian yang selanjutnya membuat hidup selaras dengan orang lain.

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Disamping 24 workshop tentang berbagai latihan meditasi diadakan beberapa panel diskusi tentang global harmoni. Dr. Subhash Chandra Dash menyampaikan topik “Global Peace and Harmony through Patanjali Yoga Darsana” dalam salah satu diskusi panel tersebut.

Dr. Subhash Chandra Dash adalah Direktur Bali Sanksrit Institute dari Universitas Mahendradatta Bali. Beliau adalah penulis banyak buku khususnya mengenai Sansekerta dan Filosofi Yoga.

 

Dr. Subhash Chandra Dash mengomentari penjelasan yoga dari pembicara sebelumnya yaitu Ida Pedanda Gede Putra Telabah. Bahwa yoga memang amat luas, tetapi tujuannya untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Selama ini manusia menyatukan dirinya dengan pikiran-pikiran manusia yang liar sehingga ia menjadi liar. Dengan latihan-latihan dia bisa mengendalikan pikirannya sehingga tindakannya menjadi lebih murni, tidak terpengaruh pikiran dan tercapailan kedamaian di dalam diri. Yoga dari Patanjali telah memberikan kontribusi besar terhadap keselarasan antara pikiran, tubuh dan jiwa. Keselarasan antara pikiran, tubuh dan jiwa adalah sebuah pencapaian kemurnian diri. Dan kemurnian diri adalah fondasi dari kedamaian yang selanjutnya membuat hidup selaras dengan orang lain. Dr. Shubash Chandra Dash menjelaskan garis besar teknis Yoga Darsana menurut Patanjali.

 

Dalam buku “Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2009, Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga. Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tentu saja, ini menjadi lapisan pertama kesadaran manusia. Lapisan ini berhubungan dengan bagian otak neo-cortex, sedangkan tiga lapisan pertama berhubungan dengan bagian otak yang mengatur anggota tubuh. Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan.

 

Dalam buku “Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari”, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999, Bapak Anand Krishna menyampaikan……. Apa yang dimaksudkan dengan pengendalian pikiran? Anda hanya dapat mengendalikan sesuatu, apabila Anda lebih kuat dari apa yang hendak dikendalikan. Apa yang terjadi selama ini? Kita dikendalikan oleh pikiran. Amarah kita, kecemasan kita, kekhawatiran kita, rasa takut kita – semuanya muncul karena pikiran. Itu sebabnya pada awal mula, seorang praktisi yoga harus belajar rileksasi dulu – cara memperoleh ketenangan. Begitu mencapai ketenangan, apa yang kita sebut mind mulai lumer, mulai mencair. Akumulasi  thoughts telah menyebabkan terciptakannya mind dan sekarang mind mulai mencair kembali menjadi thoughts. Kita seperti anak kecil kembali, polos, tulus……..

 

……..Istilah-istilah yang digunakan oleh Patanjali sarat dengan makna. Penggunaan kata “shudhi” misalnya untuk – membersihkan, menjernihlan. Jadi latihan-latihan yoga bukan untuk membuat anda menjadi Superman, dimana ketika orang berdiri di atas kaki, Anda berdiri di atas kepala. Selama ini apa yang Anda anggap yoga, hanya latihan-latihan akrobat, Anda bisa menjadi pemain sirkus yang hebat, tetapi tidak terjadi penjernihan diri. Yoga seharusnya menjernihkan pandangan kita……..

……..Bagaimana Anda bisa mengendalikan diri, apabila tidak mawas diri? Bagaimana Anda bisa mawas diri, apabila tidak dalam keadaan nyaman? Ambil saja contoh kenyamanan tubuh. Apabila Anda kegerahan, tubuh menjadi begitu tidak nyaman, sehingga Anda tidak dapat melakukan pekerjaan Anda dengan baik. Anda ingin marah-marah saja. Dan bagaimana memperoleh kenyamanan jiwa, apabila pikiran tidak terkendalikan? Bagaimana pikiran bisa terkendalikan, apabila Anda masih liar? Dan keliaran itu harus diatasi lewat konsentrasi dan meditasi, sehingga keseimbangan diri tercapai…….

…….Pengendalian Diri berarti Menghindari Kekerasan, Memahami Kebenaran, Membebaskan Diri dari Keserakahan, Menghindari Ekstremitas dan Melepaskan Keterikatan. Mereka yang hanya menyentuh kulit sutra ini, biasanya menerjemahkan kekerasan hanya sebagai pembunuhan. Jangan membunuh – demikian kata mereka. … Seseorang yang sedang merokok di tempat umum tengah melakukan kekerasan. … Seorang pengusaha yang menyebabkan pembakaran hutan, telah melakukan kekerasan. … Seorang pejabat yang tidak acuh terhadap aspirasi masyarakat merupakan perwujudan kekerasan. … Menyakiti hati seseorang, merampas, hak orang, menjarah, memperkosa, menghasut – semuanya itu merupakan kekerasan……..

 

Alam bawah sadar kita masih terpengaruh naluri hewani. Itu sebabnya kita tidak segan-segan mencelakakan orang lain, demi kepentingan diri. Kita harus melanjutkan perjalanan kita. Berada pada tingkat ini pun, sebenarnya kita belum manusiawi. Berbadan manusia, tetapi belum cukup manusiawi. Bukan hanya kenyamanan diri, kita juga harus bisa memikirkan kenyamanan orang lain. Untuk itu kita harus meningkatkan kesadaran kita sedikit lagi.

 

……Mawas Diri berarti: Menjaga Kebersihan Diri, Merasa Puas dengan apa adanya, Memelihara Kesederhanaan, Mempelajari Diri, dan Menyerahkan segalanya kepada Ia yang Maha Esa. Setelah mengalami peningkatan kesadaran, tugas kita justru semakin berat. Mempertahankan kesadaran itu membutuhkan nyali dari baja. Tidak hanya menjaga diri, tetapi juga menghindari lingkungan yang bisa menarik Anda ke bawah lagi. Pergaulan Anda, persahabatan Anda – semuanya menjadi sangat penting…….

 

Perjuangan Bapak Anand Krishna untuk mempersatukan bangsa dengan mengapresiasi semua agama, memberikan latihan meditasi agar setiap orang menjadi sadar dan tidak melakukan kekerasan, seakan-akan menampar kegiatan kelompok yang melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda pendapat dengan kelompok tersebut. Beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia melalui rekayasa pelecehan seksual untuk membungkam suara Beliau. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

 

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

Kegetiran Hati Anand Krishna Sang Pencinta Bangsa dan Kebekuan Rasa Oknum Hukum Raja Tega

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/12/kegetiran-hati-anand-krishna-sang-pencinta-bangsa-dan-kebekuan-rasa-oknum-hukum-raja-tega/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: