Beginikah Cara Mafia Peradilan Bekerja Di Indonesia?


Membaca uraian dari Aktivis ICW, Tama Satrya Langkun tentang Cara Mafia Peradilan Bekerja, kira-kira demikianlah gambaran singkatnya. Modus mafia peradilan sudah bekerja sejak pendaftaran perkara. Panitera harus diberi uang pelicin, agar perkara cepat ditangani. Pada waktu persidangan, mafia akan menawarkan majelis hakim favorit. Pengacara sowan langsung ke Pengambil Keputusan di Pengadilan Negeri untuk menentukan majelis hakim. Saat pengambilan putusan, mafia juga akan memainkan peran sebagai negosiator putusan. Sehingga vonis dapat diatur melalui jaksa dalam sistem paket, atau langsung ke hakim. Bila uang pelicin kurang, Hakim menunda putusan sebagai isyarat agar hakim dihubungi. Hakim menyiapkan rekayasa seluruh proses persidangan. Di tingkat Mahkamah Agung, oknum MA akan menghubungi atau dihubungi pengacara untuk mengatur perkara.

Termenung lama, sedih, geram, demikianlah yang dihadapi bangsa Indonesia masa kini. Bahkan KPK yang masih bisa diharapkan masyarakat pun selalu mengalami penggerogotan kemampuan…….. Dan tiba-tiba terkuaklah dalam benak kami Rekayasa Pelecehan Seksual terhadap Anand Krishna berdasar pola, modus operandi Mafia Peradilan tersebut.

Mulai dari awal munculnya kasus dimana seorang terapis Dewi Yoga Pratama mengaku sudah memberikan terapi kepada Tara lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa Tara mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa Tara baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi? Salah-salah, yang terjadi justru bukan membangkitkan memori yang terkubur, tapi justru malah membuat memori yang ada menjadi bias atau distorsi sehingga yang muncul justru persepsi yang salah terhadap suatu peristiwa apalagi dari pengakuan terapis sampai dilakukan puluhan kali…… Akhirnya informasi yang disampaikan pun menjadi berubah-ubah seperti yang terjadi di persidangan.

Terbayang dalam benak kami,  mengapa Jaksa Penuntut Umum Martha Berliana Tobing yang tanpa saksi mata dan visum RS (yang kemudian visum dr. Mun’im Idris dari RS Cipto Mangunkusumo ternyata korban masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan) tetap menuntut perkara pelecehan seksual terhadap Anand Krishna.

Fakta yang terjadi adalah pembombardiran berita di media massa tentang kesalahan Anand Krishna, tanpa didukung fakta yang benar. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”…….. Belum ada keputusan hukum, pihak Anand Krishna sudah di hakimi bersalah oleh masyarakat. Padahal proses hukum masih berjalan, dan belum ada keputusan yang resmi. Sepertinya, istilah “asas praduga tak bersalah” itu hanya slogan kosong belaka. Dalam kasus ini jelas bukan Anand Krishna yang diserang, tapi kebhinekaan, pluralisme, multikulturalisme………

Anand Krishna kemudian melakukan aksi mogok makan dan pada hari ke 12 beliau membuat testimoni…… “Saya merasa dizalimi oleh ketetapan Hakim untuk menahan saya. Padahal selama ini, kita koperatif, dan yang paling utama adalah tidak ada satu pun bukti yang membuktikan telah terjadi pelanggaran hukum. Bahkan kesaksian pihak saksi pelapor selalu berubah-ubah, dan fakta persidangan tidak sesuai dengan BAP. Di Kejati pun karena itu dan karena kesehatan, saya tidak di tahan. Di kepolisian dulu saya pernah jatuh dan collapse, dan sejak itu menderita gangguan jantung permanen sehingga kemana-mana mesti mengantongi obat jantung. Sebagai protes terhadap ketetapan yang saya anggap tidak manusiawi ini, dan bahkan tidak memikirkan kesehatan saya, di mana diet saya mesti ketat sekali karena diabetes dan tekanan darah tinggi. Maka, sebagai protes dan penolakan  terhadap kezaliman ini, saya memutuskan untuk puasa makan hingga ketetapan yang tidak manusiawi ini dicabut kembali. Semoga majelis hakim dan jaksa diberi pencerahan dan pikiran jernih oleh Yang Maha Esa. Saya juga mohon jika kondisi kesehatan saya terganggu, mohon tidak akan ada  pemaksaan makan terhadap saya.  Biarkan saya mati kalau memang itu yang dikehendaki oleh pihak-pihak yang memunculkan dan membiayai kasus ini untuk membungkam suara kebangsaan, misi keharmonisan, dan kebhinekaan saya. Saya mohon kepada rekan semisi dan sevisi untuk melanjutikan perjuangan kita, dan tidak menyerah pada kekuaan-kekuatan yg sedang menghadang kita. Salam Kasih!”

Anand Krishna melakukan mogok makan sampai 49 hari dan berhenti setelah ada titik terang bahwa Hakim yang menyidangnya mempunyai hubungan gelap dengan salah seorang saksi yang memberatkannya.

Mungkinkah Mafia Peradilan menetapkan Hakim Hari Sasangka sebagai Ketua Sidang Pengadilan dalam kasus ini? Kasus yang sarat dengan rekaya dimana dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Hari Sasangka hampir 90% berisi tentang gugatan terhadap pandangan dan buku-buku tulisan Anand Krishna dan sedikit sekali menyinggung pelecehan seksual terhadap saksi korban yang menurut visum Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan.

Di pertengahan kasus sempat terjadi pergantian Hakim Ketua Hari Sasangka karena terlibat affair dengan saksi korban, sehingga Hakim Ketua di non-jobkan dan dipindahkan ke luar Jawa. Persidanganpun diulang dengan dipimpin oleh hakim Albertina Ho dan dua hakim anggota baru yang memanggil semua saksi dan mendatangi lokasi kejadian. Dan kemudian ternyata tak ada bukti secuil pun yang mendukung tututan jaksa. Dalam pemeriksaan ulang ini, banyak terungkap inkonsistensi dalam kesaksian yang sudah berbeda dengan kesaksian sebelumnya yang pernah dilontarkan, baik oleh saksi pelapor, maupun saksi-saksi lainnya yang mengaku pernah dilecehkan. Selanjutnya Hakim Albertina Ho memberi vonis bebas. Setelah hampir sepuluh bulan dan masyarakat mulai melupakan kasus tersebut, tiba-tiba tiga oknum Mahkamah Agung, menerima kasasi jaksa dan mengabaikan seluruh fakta-fakta dalam sidang yang dipimpin Albertina Ho.

Jaksa Martha Berliana yang tidak puas atas putusan bebas terhadap Anand Krishna oleh Albertina Ho kemudian mengajukan kasasi ke MA. Menyimak instruksi Jaksa Agung bahwa terhadap putusan bebas sesuai pasal 67 Jo pasal 224 KUHAP (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana) tidak dapat diajukan kasasi, kecuali perkara yang merugikan keuangan negara, maka sang anak buah telah melecehkan instruksi Jaksa Agung. Jaksa Agung di depan Rapat Kerja Komisi III DPR berkata: “Saya telah instruksikan ke depan, terhadap putusan bebas sesuai pasal 67 Jo pasal 224 KUHAP (Kitab Undang Undang Hukuam Acara Pidana) tidak dapat diajukan kasasi, kecuali perkara yang merugikan keuangan negara,” demikian ucapan beliau yang dimuat poskota online pada tanggal 18 Juli 2011. Jaksa Agung Basrief Arief menjanjikan institusinya tidak akan mengajukan kasasi terhadap perkara-perkara rakyat kecil, yang diputus bebas kecuali terhadap perkara yang merugikan keuangan negara, teroris dan narkoba. Menurut Jaksa Agung, dalam penanganan perkara seperti Prita Mulyasari, ke depan nantinya, penegakan hukum berorientasi keadilan harus dikedepankan hati nurani.

Mungkinkah Mafia Peradilan juga berperan dalam menghubungi Hakim Agung Zaharuddin Utama,yang terlibat dalam Kasus Prita Mulyasari, Kasus Rasminah yang melawan nurani?; Achmad Yamenie, yang terlibat pembatalan vonis hukuman mati pemilik pabrik ekstasi Henky Gunawan menjadi 15 tahun penjara melalui upaya PK); dan Sofyan Sitompul? Tiga oknum Hakim Agung mengabaikan fakta persidangan yang dipimpin Albertina Ho yang memberi vonis bebas terhadap AK. Tiga oknum Hakim Agung tersebut hanya memutuskan dari b elakang meja berdasar BAP yang tak terbukti di persidangan.

Semoga masyarakat semakin sadar, mari kita bangkit untuk membersihkan negara kita dari para mafia peradilan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: