Maraknya Diskon Hukuman Bandar Narkoba oleh MA dan Debat Politis Kebijakan Grasi Presiden


Masalah politis kebijakan Grasi Presiden bisa menjadi bahan perdebatan yang panjang dan berlarut-larut, karena itu adalah ranah opini. Akan tetapi masyarakat perlu memantau dengan cermat masalah teknis Diskon Hukuman Bandar Narkoba oleh para Hakim Agung. Baik masyarakat yang pro Grasi Presiden maupun yang kontra harus memantau 3 Hakim Agung: Imron Anwari, Achmad Yamanie dan Nyak Pha yang membatalkan hukuman mati terhadap bandar narkotika Hengky Gunawan dengan dalih hukuman mati melanggar HAM. Masyarakat juga harus memantau Imron Anwari, Achmad Yamanie dan Timur Manurung yang membebaskan bandar narkotika jenis sabu-sabu Naga Sariawan Cipto Rimba alias Liong-liong, dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas.

Juru bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menyatakan pemberian grasi oleh Presiden SBY atas hukuman pidana seumur hidup dua gembong narkoba, Deni Setia Maharwan Merika Pranola itu adalah sesuatu yang masih berada dalam kadar atau toleransi yang bisa diterima. Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin, menyatakan tak ada grasi untuk gembong narkoba. Yang diberi grasi hanya kurir narkoba yang miskin.

Sedangkan Pak Jusuf Kalla menilai pemberian kebijakan grasi walau konstitusional akan membuat gembong-gembong narkoba lainnya semakin berani menyebarkan narkoba di Indonesia. Malaysia dan Singapura memberlakukan hukuman mati untuk gembong narkoba, ini karena narkoba benar-benar merusak masyarakat. Mengedarkan narkoba masuk dalam kategori kejahatan luar biasa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengkritik keras bahwa dalam menetapkan hukum, di samping mempertimbangan hak terpidana (termasuk pertimbangan kemanusiaan), tetap saja harus menjaga sisi keadilan korban dan sisi keadilan masyarakat. Muhammad A S Hikam mengungkapkan bahwa publik tidak akan percaya bahwa keringanan hukuman itu adil jika dibanding dengan bencana yang sudah dan akan ditimbulkan. Argumen Menkumhan juga mudah terpatahkan, Bandar Narkoba memang selalu menggunakan kurir orang yang tidak punya. Walaupun perlu dikasihani, akan tetapi justru karena para kurir itu akibatnya dalam setahun 15.000 orang mati karena narkoba dimana 90% korban adalah anak remaja.

Debat tidak akan ada habisnya, yang penting masyarakat perlu memantau ketat pemeriksaan terhadap  Imron Anwari, Achmad Yamanie  dan teman-temannya. Mengapa oknum-oknum hakim tersebut memberi diskon hukuman mati menjadi 15 tahun dan hukuman penjara 17 tahun menjadi bebas. Ini bukan masalah kebijakan politis, ini adalah masalah murni teknis yang perlu audit dan pantauan masyarakat. Jangan sampai para oknum hakim agung berlindung pada kewenangan hakim yang tanpa akuntabilitas. Silakan baca

http://hukum.kompasiana.com/2012/10/16/maraknya-diskon-hukuman-mati-bandar-narkoba-dan-kewenangan-tanpa-akuntabilitas/

http://hukum.kompasiana.com/2012/10/15/vonis-sumbang-bandar-narkoba-nyanyian-duet-hakim-agung-ma/

http://hukum.kompasiana.com/2012/10/12/akrobat-ma-batalkan-hukuman-mati-produsen-narkoba-tapi-batalkan-putusan-bebas-pencuri-6-piring/

Dalam pekan ini pada tanggal 15 Oktober, Bea Cukai dan BNN Jateng menangkap kurir wanita di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani Semarang yang membawa paket narkoba jenis sabu dan heroin sebanyak 7,74 kg seharga Rp.16 M. Kurir tersebut membawa paket dari Malaysia dengan upah 20 juta dan mengaku pernah dari Malaysia lewat Bandara Adisumarmo Solo selamat dari pemeriksaan. Pada hari yang sama Polisi juga menangkap Bandar Narkoba di Medan. Narkotika jenis sabu diselundupkan menggunakan kapal dari Pelabuhan Port Klang Malaysia menuju Pelabuhan Tanjung Balai, Asahan. Mereka menyelundupkan sabu seberat 5 kilogram bernilai Rp 7 M.

Kondisi negeri kita sudah gawat darurat bagi peredaran narkoba. Para kurir dan bandar berani memasukan narkoba lebih dari 5 kg. Padahal menurut Pasal 113 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 membawa lebih dari 5 gram, sudah dapat diancam hukuman mati. Berikut bunyi ayat 2 Pasal 113 UU no 35 tentang Narkotika…… Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun  dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Adalah Adami Wilson, narapidana Nusakambangan, warga negara Nigeria terpidana mati kasus narkoba 10 tahun lalu yang masih nekat menjalani bisnis haram dengan memanfaatkan kurir untuk mendistribusikan narkoba. Adami Wilson pada bulan Oktober 2012 berdalih bahwa tindakannya untuk mencari uang, setelah punya Rp.3 Milyar hukuman mati bisa diskon menjadi 20 tahun. Kalau hanya Rp 1 Milyar hanya berubah dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Adami Wilson tak mungkin hanya “asbun”. Dengan mengungkapkan hal tersebut Kasasi, PK maupun grasi sudah akan tertutup baginya. Tetapi dengan keberanian dia, masyarakat mulai mempertanyakan tentang putusan kasasi yang sesat. Tekanan media masa membawa perbaikan bagi bangsa. Dan ini perlu dukungan dan pantauan ketat dari masyarakat.

Kita perlu mendengarkan para korban narkoba: Mulai dari resiko ketularan HIV Aids bagi pengguna narkoba jarum suntik; Hepatitis B dan C yang ditularkan lewat darah dari saling tukar jarum suntik; Kemampuan kognitif menurun; Gangguan pada liver dan ginjal karena proses penetralan dan pengeluaran racun dari dalam tubuh menjadi terganggu, sehingga hati dan ginjal harus bekerja lebih keras; Gangguan paru-paru dan pernapasan karena umumnya barang yang dijual di pasaran merupakan hasil oplosan, dan seringkali ditemukan zat tertentu yang sebenarnya tidak boleh masuk atau terhirup ke dalam tubuh sehingga dapat mengganggu paru-paru serta pernapasan; Infeksi menular seksual yang rentan bagi pengguna narkoba akibat sering bergonta ganti pasangan; Gangguan jiwa karena dalam jangka panjang zat-zat kimia narkoba membuat sistem saraf rusak dan merangsang kelainan perilaku seperti berhalusinasi, ilusi dan gangguan cara berpikir yang memicu gangguan kejiwaan. Kecanduan narkoba membuat narkoba sebagai prioritas utama, pusat kehidupannya dan bisa dikatakan narkoba menggantikan posisi Tuhan dalam hidupnya. Adiksi terhadap narkoba membuat penggunaan narkoba menjadi jauh lebih penting daripada keselamatannya sendiri. Begitu besarnya resiko narkoba.

Kita perlu mempelajari Buku Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dalam memantau kasus 3 Hakim Agung: Imron Anwari, Achmad Yamanie dan Nyak Pha membatalkan hukuman mati terhadap bandar narkotika Hengky Gunawan dengan dalih hukuman mati melanggar HAM. Masyarakat juga harus memantau kasus 3 Hakim Agung Imron Anwari, Achmad Yamanie dan Timur Manurung yang membebaskan bandar narkotika jenis sabu-sabu Naga Sariawan Cipto Rimba alias Liong-liong, dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas. Dalam buku tersebut disampaikan….. bahwa proses urutan registrasi perkara bisa diatur sedemikian rupa, agar jatuh ke majelis-majelis tertentu, baik melalui pengkondisian usulan distribusi, agar perkara seolah-olah secara tidak sengaja jatuh ke Tim/majelis tertentu. Mengapa perkara Produsen Narkoba Hengky Gunawan secara kebetulan dapat jatuh ke duet Hakim Agung Imron Anwari dan Achmad Yamanie? Dimana duet tersebut pernah membebaskan Bandar Narkotika Liong-liong bebas dari putusan 17 tahun penjara?

Kami masih ingat kasus Anand Krishna…… Anand Krishna disidang dengan tuntutan pelecehan seksual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hakim Ketua Sidang, Hari Sasangka hanya melontarkan pertanyaan sekitar 10% pertanyaan yang terkait pasal 290 KUHP tentang pelecehan seksual. Sejak muncul tuduhan pelecehan seksual, 25 Agustus 2010, selama lebih dari 1 tahun persidangan yang berlarut-larut Anand Krishna lebih banyak dihadapkan pada pertanyaan yang terkait kegiatan ceramah, pemikiran dan isi buku‐bukunya yang dijual bebas di berbagai toko. Kasus dinilai lebih banyak mengarah ke upaya penghakiman dan kriminalisasi terhadap pemikiran seseorang dari pada pembuktian terjadinya pelecehan seksual. Akhirnya Hakim Hari Sasangka tertangkap basah terlibat affair dengan saksi korban,Shinta Kencana Kheng sehingga Hakim Ketua di non-jobkan dan dipindahkan ke luar Jawa. Persidanganpun diulang dengan dipimpin oleh hakim Albertina Ho dan dua hakim anggota baru yang memanggil semua saksi dan mendatangi lokasi kejadian. Dan kemudian ternyata tak ada bukti secuil pun yang mendukung tututan jaksa dan oleh Albertina Ho diputus bebas.

Entah bagaimana caranya Jaksa Penuntut Umum Martha Berliana mengajukan kasasi dan kasasi jatuh kepada majelis Kasasi: Zaharuddin Utama (yang menyatakan Prita Mulyasari bersalah dan menghukum 6 bulan penjara serta  menghukum Rasminah dalam kasus pencurian 6 piring dengan hukuman 130 hari penjara); Achmad Yamanie (yang terlibat pembatalan vonis hukuman mati pemilik pabrik ekstasi Henky Gunawan menjadi 15 tahun penjara dan membebaskan bandar narkotika Liong-liong, dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas); dan Sofyan Sitompul.

3 oknum Hakim Agung mengabulkan kasasi Jaksa Penuntut Umum, mengabaikan seluruh fakta persidangan yang dipimpin Albertina Ho yang memberi vonis bebas terhadap Anand Krishna. 3 oknum Hakim Agung tersebut hanya memutuskan dari belakang meja berdasar BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang tak terbukti di persidangan.

Kali ini Anand Krishna juga tidak akan mau tunduk pada kezaliman eksekusi tentang perbuatan yang tidak dilakukannya. Aparat tidak akan bisa membawanya keluar Ubud dalam keadaan bernyawa. Kami ulang nasehat Ahmad Yulden Erwin – Aktivis Anti Korupsi…….Kita bisa saja berfilsafat dan menuliskan kata indah tentang keadilan, namun betuk wajah keadilan negeri ini hanya diketahui oleh mereka yang berjuang mencari keadilan. Keadilan tidak akan pernah ada sampai kita sendiri yang memperjuangkannya menjadi ada. Tanyalah pada aktivis anti korupsi, tanyalah pada mereka yang dimajukan kepengadilan karena terkena fitnah, tanyalah… tidak akan pernah ada keadilan itu sampai kita memperjuangkannya menjadi ada. Satu langkah kecil adalah satu langkah besar saat dilakukan oleh seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, atau sejuta orang. Karena KEADILAN tak akan pernah ada, sampai DIPERJUANGKAN untuk menjadi ADA!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: