Rekayasa Saksi/Alat Pembuktian Dimentahkan Albertina Ho Tapi Diamini Hakim Kasasi MA


Prof. Dr. Edward Omar Syarif Hiariej S.H., M.Hum: Menurut pasal 185 ayat (2) KUHAP, keterangan seorang saksi belum dapat dianggap sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa, unus testis nullus testis, satu saksi bukan saksi. Ini berarti jika alat bukti yang dikemukakan oleh penuntut umum hanya terdiri dari seorang saksi saja tanpa ditambah keterangan saksi lain atau alat bukti yang lain maka saksi tersebut bukan saksi. Hal ini terungkap sebagai salah satu kejanggalan memori kasasi JPU Martha Berliana Tobing yang dikabulkan oleh MA dalam kasus Anand Krishna.

 

Keterangan saksi yang satu tidak didukung oleh alat bukti atau keterangan saksi lain, setiap saksi mengatakan hal yang berbeda dalam kurun waktu yang berbeda pula, tapi 3 Hakim Agung: Zaharuddin Utama (yang menyatakan Prita Mulyasari bersalah dan menghukum 6 bulan penjara, serta  menghukum Rasminah dalam kasus pencurian 6 piring dengan hukuman 130 hari penjara); Achmad Yamanie (yang terlibat pembatalan vonis hukuman mati pemilik pabrik ekstasi Henky Gunawan menjadi 15 tahun penjara melalui upaya PK dan yang membebaskan bandar narkotika jenis sabu-sabu Naga Sariawan Cipto Rimba alias Liong-liong dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas); dan Sofyan Sitompul mengabulkan kasasi Jaksa Penuntut Umum tersebut. 3 oknum Hakim Agung mengabaikan seluruh fakta persidangan yang dipimpin Albertina Ho yang memberi vonis bebas terhadap Anand Krishna.

 

Dalam rangka Seminar dan Eksaminasi Publik terhadap Kasus Anand Krishna yang dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2012 di University Club UGM Yogyakarta, Prof. Dr. Nyoman Serikat Putra Jaya, S.H., M.H. dari Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Edward Omar Syarif Hiariej S.H., M.Hum. (Prof Eddy) dari UGM dan Ketua Cabang Peradi Yogyakarta Nur Ismanto S.H., M.Si menjadi narasumber. Eksaminasi adalah suatu penilaian dan pengujian masyarakat terhadap putusan hukum yang telah menjadi milik publik, baik terhadap putusan Hakim PN maupun Hakim Agung di MA. Dalam hal ini eksaminasi publik atas kasus kontroversi Anand Krishna. Tulisan ini adalah serial kedua tentang alat pembuktian yang direkayasa dalam kasus perusakan nama baik dengan modus pelecehan seksual Anand Krishna.

 

Buku Satgas Pemberantasan Mafia Hukum disampaikan bahwa untuk pembuatan kasus rekayasa, maka pengarahan kasus sudah diarahkan di tingkat kepolisian……… Kasus diarahkan dalam menentukan pihak yang dijadikan target dalam perkara pidana. Petugas kepolisian membalik logika proses hukum, yang seharusnya berawal dari tindak pidana, tetapi dalam hal ini dimulai dari orang yang ditargetkan kemudian dicari-cari tindak pidana apa yang dapat dikenakan. Karena mendapat “pesanan” maka petugas kepolisian mencari-cari kesalahan orang tersebut. Kemudian ketika ditemukan kesalahan meskipun kesalahan ringan, ujung-ujungnya kesalahan tersebut dibuat sedemikian rupa agar dapat dikualifikasi sebagai tindak pidana.

 

Alat bukti yang sah adalah sebagaimana yang termaktub dalam KUHAP Pasal 184 ayat (1) adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Apabila alat bukti tidak mencapai sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dalam KUHAP, maka pelanggaran itu dengan sendirinya menyampingkan standar pedoman penerapan standar terbukti yang sah dan meyakinkan dan pemidanaan yang dijatuhkan dapat dianggap sewenang-wenang. Sesuai prinsip minimum pembuktian dalam Pasal 183 KUHAP, keterangan saksi dapat dianggap cukup membuktikan kesalahan seorang terdakwa harus dipenuhi paling sedikit atau sekurang-kurangnya dengan dua alat bukti. Persyaratan yang dikehendaki oleh Pasal 185 ayat (2) KUHAP adalah: Membuktikan kesalahan terdakwa paling sedikit harus didukung oleh “dua orang saksi”, atau kalau saksi yang ada hanya terdiri dari seorang saja maka kesaksian tunggal itu harus “dicukupi” atau “ditambah” dengan salah satu alat bukti yang lain.

 

Jaksa Penuntut Umum Martha Berliana Tobing tanpa saksi mata (Korban Tara tanpa saksi yang menyaksikan perbuatan yang dituduhkan) dan visum RS (yang kemudian visum dr. Mun’im Idris dari RS Cipto Mangunkusumo ternyata korban masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan) tetap menuntut perkara pelecehan seksual terhadap Anand Krishna. Bersamaan dengan tuntutan jaksa, media massa dibombardir untuk membuat opini tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh  Anand Krishna, tanpa didukung fakta yang benar. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”…….. Belum ada keputusan hukum, pihak Anand Krishna sudah dihakimi bersalah oleh masyarakat. Agung Mattauch mengatakan punya bukti video di media massa yang ternyata hanya video penjelasan latihan meditasi.

 

Jaksa mengupayakan banyak saksi agar dikatakan bukan hanya 1 saksi, akan tetapi hal tersebut tidak terbukti dan rentang waktu yang dilakukan sangat jauh (6-8 tahun sebelumnya). Akan tetapi Hakim Hari Sasangka tetap memproses sidang pelecehan seksual tersebut. Hanya 10 % pertanyaan yang ditanya tentang Pasal 290 KUHP. Sisa 90%nya ditanya terkait kegiatan, program, pemikiran dan buku-buku Aanand Krishna yang dijual bebas di toko-toko buku.

 

Sejak pengadilan digelar Agustus 2010, tak ada satupun saksi yang menyaksikan terjadinya pelanggaran Pasal 290 KUHP. Kesaksian pelapor dan para saksi yang memberatkan selalu berubah-berubah dan berbeda antara yang tertera di BAP dan keterangan pelapor dan saksi di dalam ruang sidang.

 

Pelapor Tara mengaku dalam ruang sidang bahwa tanggal 21 Maret 2009 adalah hari pertama terjadinya dugaan pelecehan seksual yang terjadi di Ciawi. Pada hari yang dimaksud, AK berada di Sunter – Jakarta, karena memberikan ceramah di acara open house yang diadakan 2 minggu sekali. Bahkan ada buku tamu yang bisa dijadikan bukti, dan puluhan orang menjadi alibi bahwa AK berada di Sunter pada hari yang dimaksud. (Menurut Catatan Transkrip Persidangan, Saksi Pelapor dilecehkan oleh Terdakwa sejak 21 Maret 2009 dimana pada saat itu Saksi berada di padepokan Ciawi dan itu terjadi pada malam hari. Pada saat itu Saksi hanya bersama dengan Maya Shafira setelah…..) Catatan : Maya Safira Muchtar, satu-satunya saksi, menyatakan bahwa tidak pernah melihat/menyaksikan saksi pelapor mengalami pelecehan dari terdakwa.

 

Saksi Farahdiba Agustin dan Saksi Dian Mayasari mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari terdakwa tahun 2002 – 2004, tapi mereka berdua menulis dan menerbitkan buku di tahun 2006 dimana dalam buku itu ada catatan dari mereka sebagai penulis mengungkapkan rasa terima kasih dan kekaguman kepada terdakwa. Bila mengalami pelecehan seksual sebelumnya, kenapa bisa mengungkapkan rasa apresiasi dan kekaguman pada terdakwa lewat tulisan? Saksi Shinta Kencana Kheng mengaku pernah dilecehkan pada tahun 2004-2006, tapi tak terbukti di sidang pengadilan, bahkan tertangkap kamera oleh beberapa saksi mata, berduaan di dalam mobil, pada malam hari, selama beberapa kali, di tempat sepi dengan Ketua Majelis Hakim, Drs Hari Sasangka SH. M.Hum.

 

Saksi Chandra suami Sumidah dalam persidangan menyampaikan bahwa setelah kasus ini dilaporkan ke kepolisian, masih terjadi pertemuan-pertemuan antara pelapor Tara Laksmi Pradipta dan para saksi lainnya yang sepertinya telah dipersiapkan baik-baik oleh Muhammad Djumaat Abrory Djabbar untuk memaksakan kasus ini masuk ke Pengadilan.Hal ini diperkuat pengakuan Tara Pradipta Laksmi di persidangan bahwa telah terjadi pertemuan sebelumnya antara dirinya dengan suami-isteri Farahdiba Agustin dan Wandy Nicodemus Tuturoong sebelum mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di rumah Abrory Djabar. Kuasa Hukum Otto Hasibuan yang juga Ketua Peradi menambahkan bahwa kasus ini terindikasi telah dipersiapkan dan direncanakan sebelumnya oleh pelapor dan para saksi sebelum dilaporkan ke kepolisian lewat pertemuan-pertemuan berkala. Kesaksian Chandra tentang tissue sperma di keranjang sampah juga dimentahkan oleh Hakim Albertina Ho.

 

Tanpa bukti-bukti yang terungkap selama persidangan, Ketua Majlis Hakim Hari Sasangka malah memerintahkan penahanan. Anand Krishna terus melakukan perlawanan dari balik jeruji besi.  “Saya berhak atas badan saya, walau tak ada penegakan hukum sama sekali di negeri ini,” ujarnya. Selama 49 hari mogok makan, ia hanya minum air putih. Hari Sasangka akhirnya terungkap menjalin affair dengan Shinta Kencana Kheng, saksi yang memberatkan di dalam mobil pada beberapa malam. Foto-foto dan rekamannya sudah diserahkan ke KY dan MA. Alhasil, pada Juni 2011 MA mengeluarkan putusan mengganti semua majelis hakim.

 

Pada bulan September 2011, Majelis Hakim yang dipimpin Hari Sasangka diganti oleh Albertina Ho. Setelah itu Anand Krishna menghentikan aksi mogok makan. Pada bulan November 2011 Hakim Albertina Ho menyatakan Anand Krishna bebas dan tidak terbukti bersalah. Setelah itu Albertina Ho dipindahkan ke Pengadilan Negeri Bangka di Pulau Bangka Belitung.

 

Setelah hampir 8 bulan dan masyarakat mulai melupakan kasus tersebut, tiba-tiba tiga oknum Mahkamah Agung pada tanggal 24 Juli 2012, menerima kasasi jaksa dan mengabaikan seluruh fakta-fakta dalam sidang yang dipimpin Albertina Ho. 3 oknum Hakim Agung tersebut adalah: Zaharuddin Utama (yang menyatakan Prita Mulyasari bersalah dan menghukum 6 bulan penjara serta  menghukum Rasminah dalam kasus pencurian 6 piring dengan hukuman 130 hari penjara); Achmad Yamanie (yang terlibat pembatalan vonis hukuman mati pemilik pabrik ekstasi Henky Gunawan menjadi 15 tahun penjara dan membebaskan bandar narkotika Liong-liong, dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas); dan Sofyan Sitompul.

 

Ketua Cabang Peradi Yogyakarta, menyampaikan bahwa langkah yang ditempuh Anand Krishna yang mogok makan selama 49 hari adalah langkah kreatif untuk memprotes kezaliman peradilan yang dilakukan terhadapnya. Langkah kreatif yang tidak menyalahi hukum, walau tentu saja mempunyai resiko kehilangan nyawa. Hanya orang yang benar yang berani melakukan hal tersebut.

 

Sanggupkah Jaksa Penuntut Umum Martha Berliana dan 3 Oknum Jaksa Agung Zaharuddin Utama, Achmad Yamanie serta Sofyan Sitompul, bila hati nurani mereka menyatakan bahwa tindakan mereka benar mau melakukan mogok makan seperti yang dilakukan Anand Krishna……..

2 Tanggapan

  1. DIADILI TANPA BARANG BUKTI

    Diadili Tanpa Barang Bukti
    DIVONIS 10 TAHUN
    EDIH MENCARI KEADILAN

    Edih Kusnadi,warga serpong Tangerang yang dituduh menjadi bandar narkoba,disiksa polisi,dipaksa mengaku lalu dijebloskan kepenjara.
    Semua itu dilakukan penegak hukum tanpa ada barang bukti dari tersangka Edih. Sialnya lagi fakta-fakta hukum yang diajukan Edih tak digubris dan hakim memberinya vonis 10 tahun penjara. Memang lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 13 tahun,tapi Edih tetap tidak terima karena merasa tidak bersalah. Dia mengajukan banding dan kini mendekam di Rutan Cipinang menunggu sidang bandingnya. Ditemui di Rutan Edih yang sangat menderita itu menyampaikan kronologi kasusnya. Dia menganggap kasusnya itu direkayasa oleh polisi “SAYA MOHON BANTUAN AHLI-AHLI HUKUM UNTUK MEMBANTU MEMBONGKAR REKAYASA KASUS INI” katanya. Sedihmya lagi, dan Edih tidak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis 10 tahun atas keterangan satu orang saksi. Padahal dia dituduh mau terima narkoba,ditangkap tanpa barang bukti. Saksi tersebut adalah iswadi yang ditangkap tangan membawa narkoba.
    Kasus ini bermula ketika Edih ditangkap di jalan Gajah Mada jakarta pusat,pada 14 mei 2011 “saya dituduh mau terima narkoba dari iswadi,tapi saya ketemu iswadi dipolda. Tidak ada barang bukti narkoba disaya maupun dikendaraan saya tetapi dibawa kepolda” kata Edih.
    Sebelumnya polisi sudah menangkap dua orang Iswadi Chandra alias kiting dan Kurniawan alias buluk. Ditemukan barang bukti sabu 54 gram yang sudah dicampur tawas, dia mendapatkannya dari pulo gadung. Saya hanya mengenal Iswadi dan tidak kenal dengan Kurniawan katanya. Edih menduga dia ditangkap lantaran dijebak oleh Iswadi. Saat polisi menangkap Iswadi dan Kurniawan kebetulan Edih menghubungi Iswadi,tapi tidak diangkat beberapa jam kemudian bari Iswadi yang menghubungi saya terus untuk ketemu,karena mau kekota saya janjian saja ketemu sekalian untuk membicarakan pekerjaan asuransi. Saya bekerja diperusahaan asuransi, ujar dia.
    “pada saat setelah penangkapan,sebelum dites urine, saya dikasih makan dan minum kopi 2 kali bersama kurniawan. Hasilnya positif tapi samar samar. Saya menduga itu direkayasa polisi memasukan amphetamine kedalam minuman saya. mereka kesal karena dinilai saya tidak kooferatif. Kata Edih.
    Edih mengatakan ia mempunyai hasil rontgen dan surat dokter dari poliklinik Bhayangkara yang menyatakan bahwa lengannya patah.
    Seluruh isi vonis hakim pengadilan Negeri Jakarta Timur itu dianggapnya tak masuk akal. AMAR PUTUSAN “MENYATAKAN TERDAKWA EDIH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH TANPA HAK ATAU MELAWAN HUKUM MENERIMA NARKOTIKA SEBANYAK LEBIH DARI 5 GRAM MELALUI PEMUFAKATAN JAHAT” Ini aneh sekali, saya menyentuh barang itu saja tidak,apalagi menerimanya. Barang bukti dari saya sebuah ponsel, tidak ada sms atau pembicaraan tentang narkoba didalamnya. Ini sungguh tidak adil, kata Edih.
    Sementara dalam pertimbangannya majelis menyatakan: MENIMBANG BAHWA WALAUPUN PADA SAAT TERDAKWA DITANGKAP,TERDAKWA BELUM MENERIMA SABU YANG DIPESANNYA TERSEBUT, MENURUT HEMAT MAJELIS HAL ITU DIKARENAKAN TERDAKWA KEBURU DITANGKAP OLEH PETUGAS. DAN WALAUPUN TERDAKWA MEMBANTAH BAHWA DIRINYA TIDAK PERNAH MEMESAN SABU PADA ISWADI MAUPUN RIKI,NAMUN BERDASARKAN BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN URINE NO B/131/V/2011/DOKPOL YANG DIBUAT DAN DITANDATANGANI OLEH dr. BAYU DWI SISWANTO TERNYATA URINE TERDAKWA POSITIF MENGANDUNG AMPHETAMINE”. Sedangkan terdakwa tidak pernah mengajukan dari pihak yang berkompeten.
    Saya dites urine 22 jam setelah ditangkap, sempat dikasih makan dan minum kopi 2 kali, saya menduga mereka mencampurkan amphetamine kedalam kopi saya. Bagi saya tidak masuk akal ada benda itu dalam urine saya karena saya tidak menkomsumsi narkoba. Kata Edih lagi. Dia cuma berharap para hakim dipengadilan tinggi mendengarkankeluhannya dan membebaskannya. “karena seratus persen saya tidak bersalah”

  2. DIADILI TANPA BARANG BUKTI

    Diadili Tanpa Barang Bukti
    DIVONIS 10 TAHUN
    EDIH MENCARI KEADILAN

    Edih Kusnadi,warga serpong Tangerang yang dituduh menjadi bandar narkoba,disiksa polisi,dipaksa mengaku lalu dijebloskan kepenjara.
    Semua itu dilakukan penegak hukum tanpa ada barang bukti dari tersangka Edih. Sialnya lagi fakta-fakta hukum yang diajukan Edih tak digubris dan hakim memberinya vonis 10 tahun penjara. Memang lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 13 tahun,tapi Edih tetap tidak terima karena merasa tidak bersalah. Dia mengajukan banding namun dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi DKI mengajukan kasasi namun ditolak, Ia mendekam di Rutan Cipinang. Ditemui di Rutan Edih yang sangat menderita itu menyampaikan kronologi kasusnya. Dia menganggap kasusnya itu direkayasa oleh polisi “SAYA MOHON BANTUAN AHLI-AHLI HUKUM UNTUK MEMBANTU MEMBONGKAR REKAYASA KASUS INI” katanya. Sedihmya lagi, dan Edih tidak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis 10 tahun atas keterangan satu orang saksi. Padahal dia dituduh mau terima narkoba,ditangkap tanpa barang bukti. Saksi tersebut adalah iswadi yang ditangkap tangan membawa narkoba.
    Kasus ini bermula ketika Edih ditangkap di jalan Gajah Mada jakarta pusat,pada 14 mei 2011 “saya dituduh mau terima narkoba dari iswadi,tapi saya ketemu iswadi dipolda. Tidak ada barang bukti narkoba disaya maupun dikendaraan saya tetapi dibawa kepolda” kata Edih.
    Sebelumnya polisi sudah menangkap dua orang Iswadi Chandra alias kiting dan Kurniawan alias buluk. Ditemukan barang bukti sabu 54 gram yang sudah dicampur tawas, dia mendapatkannya dari pulo gadung. Saya hanya mengenal Iswadi dan tidak kenal dengan Kurniawan katanya. Edih menduga dia ditangkap lantaran dijebak oleh Iswadi. Saat polisi menangkap Iswadi dan Kurniawan kebetulan Edih menghubungi Iswadi,tapi tidak diangkat beberapa jam kemudian bari Iswadi yang menghubungi saya terus untuk ketemu,karena mau kekota saya janjian saja ketemu sekalian untuk membicarakan pekerjaan asuransi. Saya bekerja diperusahaan asuransi, ujar dia.
    “pada saat setelah penangkapan,sebelum dites urine, saya dikasih makan dan minum kopi 2 kali bersama kurniawan. Hasilnya positif tapi samar samar. Saya menduga itu direkayasa polisi memasukan amphetamine kedalam minuman saya. mereka kesal karena dinilai saya tidak kooferatif. Kata Edih.
    Edih mengatakan ia mempunyai hasil rontgen dan surat dokter dari poliklinik Bhayangkara yang menyatakan bahwa lengannya patah.
    Seluruh isi vonis hakim pengadilan Negeri Jakarta Timur itu dianggapnya tak masuk akal. AMAR PUTUSAN “MENYATAKAN TERDAKWA EDIH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH TANPA HAK ATAU MELAWAN HUKUM MENERIMA NARKOTIKA SEBANYAK LEBIH DARI 5 GRAM MELALUI PEMUFAKATAN JAHAT” Ini aneh sekali, saya menyentuh barang itu saja tidak,apalagi menerimanya. Barang bukti dari saya sebuah ponsel, tidak ada sms atau pembicaraan tentang narkoba didalamnya. Ini sungguh tidak adil, kata Edih.
    Sementara dalam pertimbangannya majelis menyatakan: MENIMBANG BAHWA WALAUPUN PADA SAAT TERDAKWA DITANGKAP,TERDAKWA BELUM MENERIMA SABU YANG DIPESANNYA TERSEBUT, MENURUT HEMAT MAJELIS HAL ITU DIKARENAKAN TERDAKWA KEBURU DITANGKAP OLEH PETUGAS. DAN WALAUPUN TERDAKWA MEMBANTAH BAHWA DIRINYA TIDAK PERNAH MEMESAN SABU PADA ISWADI MAUPUN RIKI,NAMUN BERDASARKAN BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN URINE NO B/131/V/2011/DOKPOL YANG DIBUAT DAN DITANDATANGANI OLEH dr. BAYU DWI SISWANTO TERNYATA URINE TERDAKWA POSITIF MENGANDUNG AMPHETAMINE”. Sedangkan terdakwa tidak pernah mengajukan dari pihak yang berkompeten.
    Saya dites urine 22 jam setelah ditangkap, sempat dikasih makan dan minum kopi 2 kali, saya menduga mereka mencampurkan amphetamine kedalam kopi saya. Bagi saya tidak masuk akal ada benda itu dalam urine saya karena saya tidak menkomsumsi narkoba. Kata Edih lagi. Dia cuma berharap para hakim bertindak adil dan mendengarkan keluhannya dan membebaskannya. “karena seratus persen saya tidak bersalah” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: