Mengendalikan Keserakahan

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 12

Keserakahan tidak pernah dapat dipuaskan. Tidak pernah hilang. Dengan melayani keserakahan itu, kau menjadi semakin serakah. Kau mengejar kekuasaan. Renungkan, setelah kau memperoleh begitu banyak, apa yang kau rasakan saat ini? Puaskah dirimu dengan apa yang telah kau miliki? Puaskah dirimu dengan keberhasilanmu? Kupikir, tidak. Sebab itu, kau masih mencari, masih mengejar, masih ingin menaklukkan yang lain…….. Keserakahan kita menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta; tidak dapat diobati dengan memperluas wilayah kekuasaan; tidak dapat diobati dengan menaklukkan orang lain. Belajarlah untuk menaklukkan dirimu sendiri; untuk menaklukkan keserakahan yang bersarang di dalam dirimu. Itulah raksasa yang harus kau usir dari batinmu. Demikian nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

 

Para psikolog menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut “basic instincts”. Akan tetapi sebenarnya bukan kebutuhan dasar manusia, melainkan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan, bukan hanya manusia tetapi merupakan kebutuhan dasar fisik makhluk hidup. Manusia memang memiliki “naluri hewan” the basic instincts. Ketika masih bayi, ia masih dipandu oleh nalurinya. Untung otot-ototnya masih belum kuat, tulang-tulangnya masih rapuh dan ia tidak bisa berbuat banyak. Jika ia bisa langsung jalan sendiri setelah lahir seperti anak anjing dan anak monyet, ia pun akan bertindak seperti binatang. Kalau lapar, la akan merebut makanan dari siapa pun juga. Kalau butuh seks, ia akan melakukannya kapan saja. Manusia mewarisi naluri hewani, animalistic instinct, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. Memberikan “nota sakti”, korupsi, suap, aksi teror, intimidasi ideologi, ingin menang sendiri, semua berasal dari naluri hewani. Baca lebih lanjut

Iklan

Hipnotis Massal Dalam Kehidupan Sehari-hari

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 11

Seorang bayi memiliki karakter bawaan dari kedua orangtuanya. Kemudian diprogram oleh  orang tua, oleh pendidikan dan oleh lingkungan. Kebenaran baginya adalah Kebenaran dalam kerangka program yang diberikan. Lain orang tua, lain pendidikan dan lingkungan, pandangan tentang Kebenaran akan berbeda. Kenyataan  itu memungkinkan terjadinya indoktrinasi pandangan seseorang sejak kecil. Seseorang merasa beriman dan merasa bertindak benar dengan melakukan kekerasan. Padahal dia hanya melakukannya atas dasar pikiran bawah sadar yang telah diprogram, yang dilakukan berulang-ulang secara repetitive intensive, secara sistematis ditanamkan kepada pikiran bawah sadarnya. Ini yang dilakukan oleh “para pencetak teroris”. Seorang anak yang sejak kecil sudah diprogram untuk membenci temannya yang berbeda Sara (Suku, Ras dan Agama), akan membawa program tersebut hingga dewasa. Melihat kecenderungan ini, maka bila kita tidak segera melakukan tindakan drastis, di masa mendatang akan  semakin banyak terjadi kekerasan berdasar Sara. Kita bisa melihat hasilnya dari negara-negara yang sudah memprogram kebencian terhadap umat lain sejak kecil.

 

Pakar hypnotherapy  Bapak Adi W Gunawan dalam salah satu talkshow bersama Bapak Anand Krishna menyatakan bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan “delta” yang sangat reseptif sehingga apa pun yang diakatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan “alpha”, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya.

 

Sejalan dengan pandangan tersebut Bapak Anand Krishna dalam buku “Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon), Gramedia Pustaka Utama, 2010 juga menyampaikan tentang fungsi bagian otak Lymbic dan bagian Neo-Cortex…….. Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Lymbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”. Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……. Baca lebih lanjut

Penjajahan Lewat Perobohan Nilai Budaya Bangsa, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 10

Upaya-upaya Devide et Impera Modern terhadap kesatuan bangsa adalah dengan memasukkan virus untuk merusak seluruh program DNA manusia Indonesia. Hard disk di DNA kita disusupi virus-virus dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun peradaban yang adiluhung seperti yang terjadi di masa silam “terancam hilang” karena terkorup virus ketidakhormatan terhadap Budaya dan Jatidiri Bangsa. Dengan menjunjung budaya asing sebenarnya kita bangsa kita telah mulai terjajah. Demikian awal sebuah bangsa terjajah.

 

Bapak Anand Krishna dalam artikel Negara Merdeka Vs Negara Terjajah dalam situs http://www.aumkar.org/ind/ mengingatkan bangsa Indonesia terhadap Sir Thomas Babington Macaulay (1800-1859), anggota dewan pemerintahan dari Perusahaan India Timur pada tahun 1834-1838, dikutip dari pidatonya yang diberikan pada tanggal 2 Februari 1835…….. “Saya telah berpergian keliling India dan tak pernah melihat satupun pengemis atau pencuri. Kekayaan semacam itu saya saksikan di seantero negara ini. Nilai moral, orang sekaliber tersebut, saya tak pernah berpikir bahwa kami dapat menjajah negara ini, kalau kami tidak mematahkan tulang punggung bangsa ini, yakni warisan spiritual dan budayanya. Oleh sebab itu, saya mengusulkan bahwa kami musti mengganti sistem pendidikan lama dan budaya mereka. Karena jika orang India berpikir bahwa budaya asing dan Inggris lebih baik dan lebih hebat dari budaya mereka sendiri, maka mereka akan kehilangan harga diri dan budaya lokal yang asli. Mereka pasti menjadi apa yang kita inginkan, bangsa yang sungguh terjajah.” ……..

 

Membaca kata-kata itu hampir dua abad silam,Bapak Anand Krishna menyadari bahwa Sir Macaulay belum mati. Oleh karena itu, Beliau memakai istilah “sekarang” dan bukan “dulu”. Idenya tetap hidup. Dia masih mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia. Berapa dari kita di Indonesia menyadari bahwa hal yang sama tengah terjadi pada kita di zaman modern ini? Kita tak hanya dikepung oleh satu atau dua, tapi begitu banyak Macaulay. Satu perbedaannya: Macaulay yang kondang atau terkenal tersebut berkebangsaan Inggris, putih, sehingga begitu mudah dikenali. Sekarang, genre Macaulay datang dalam pelbagai warna dan bentuk, putih, coklat, merah dan bahkan hitam. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut. Salah satu dari mereka, telah secara intensif menyusupi masyarakat dan sistem sosial kita, sampai-sampai saat ini kita bingung dan tak bisa membedakan mana nilai spiritualitas agama dan mana yang radikalisme agama. Beberapa tokoh di-“pakai” sebagai agen mereka untuk menghancurkan kita dari dalam. Mereka begitu panik dan tak akan meninggalkan satu batu pun tetap pada tempatnya untuk memastikan bahwa mereka telah mendominasi negara seperti kita. Baca lebih lanjut

Jangan Mencari Kambing Hitam, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 9

Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Kebiasaan melempar tanggung jawab mengikis rasa percaya diri, demikian pesan Swami Vivekananda pemikir besar idola Bung Karno. Dalam kehidupan berbangsa pun kita sering melempar tanggung jawab. Padahal secara langsung atau pun tidak langsung kita telah memilih para pemimpin dan para wakil rakyat. Bahkan mereka yang berkoalisi dalam memimpin pemerintahan pun menyalahkan koleganya atau pemimpin yang didukung koalisinya. Padahal dia menjadi pemimpin karena adanya dukungan kelompok mereka juga. Munafik, tidak konsisten adalah kata yang tepat untuk kelompok yang tidak bertanggungjawab atas tindakan dukungan mereka. Bila tahu sang pemimpin tidak sesuai dengan platform kelompoknya ya jangan didukung. Tetapi mereka tetap mendukung karena memperoleh kemudahan dan mahar karena memilih pemimpin tertentu. Apakah itu tidak sama dengan ingin memperoleh segala sesuatu dengan menghalalkan segala cara, golek penake dhewe? Beruntung kita punya Jokowi dan Ahok, akan tetapi mereka yang dulu menentangnya dengan cara yang tidak elegan tidak merasa bersalah. Tidakkah mereka merasa bertanggungjawab atas ucapan dan tindakan mereka. Padahal disebutkan akan ada suatu hari dimana mulut dikunci dan seluruh anggota tubuh diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Beriman hanya di bibir dan tindakanya sudah tidak yakin dengan apa yang diimaninya.

 

Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Bapak Anand Krishna dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 menyampaikan………. Kurangnya “percaya diri” muncul karena kebiasaan kita mencari kambing hitam. Setiap kali ada yang tidak beres, kita menyalahkan orang lain atau keadaan yang kita anggap kurang bersahabat. Kemudian, ada juga yang akan menyalahkan “nasib”. Masih ada lagi yang beranggapan bahwa ia sedang di-“coba” oleh Tuhan. Mereka yang menyalahkan orang lain, keadaan, nasib atau yang beranggapan bahwa Tuhan sedang men-“coba” dirinya, sebenarnya sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Mereka sedang mencari pembenaran. Mereka kurang PD – kurang percaya diri. Baca lebih lanjut

Tangan Yang Melayani Lebih Suci Dari Bibir Yang Berdoa Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 8

Bapak Anand Krishna pernah mengunggah sebuah video dari Youtube yang dilengkapi teks bahasa Inggris di status FBnya. Terjemahan bebas dari nyanyian tersebut sangat menyentuh hati………

…Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?…………….

…Aku pergi ke sebuah pengajian untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?……….

…Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?……….

 

Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi…….. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya. Baca lebih lanjut

Pilih Yang Baik Atau Yang Nikmat, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 7

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: melakukannya, tidak melakukannya, atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya. Pada umumnya, orang akan mengulangi apa yang menyenangkannya, menghindari apa yang tidak disenanginya dan cuek atau tidak peduli terhadap sesuatu yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi berdasarkan intelegensianya, seseorang berani meninggalkan hal yang disenanginya, meninggalkan kebiasaan dalam mengikuti kesenangannya, demi kebaikan dirinya. Itulah sebabnya, para pelajar memilih belajar daripada nonton tivi. Orang memilih makanan tahu tempe sayur meninggalkan makanan lezat berkolesterol tinggi. Orang yang sadar akan menolak memperoleh uang dengan kejahatan, karena percaya pada hukum alam bahwa setiap benih kejahatan akan menghasilkan buah kejahatan kepadanya, saat tanaman kejahatan telah berbuah.

Bapak Anand Krishna dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” memberikan pandangan……… Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani……… Baca lebih lanjut

Peraturan Tidak Bisa Membentuk Kejujuran, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 6

“Kejujuran” adalah sebuah pedoman. Dan, kejujuran tidak dapat dijadikan peraturan. Kita dapat membuat peraturan untuk mengatur tindakan yang tidak jujur. Kita dapat melarang penipuan dan penyelewengan. Dengan cara itu kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia. Demikian nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

 

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga bagi Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

 

Pesan Bapak Anand Krishna tentang pedoman dan peraturan tersebut sangat relevan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di tengah-tengah bangsa. Masyarakat geram dan sekaligus hampir  frustasi melihat para pemimpin bangsa hanya “debat kusir” tentang kebenaran legal/formal dan menyangkal realita yang telah terjadi. Dari masalah pembebasan hukuman mati bandar narkoba oleh Mahkamah Agung, testimoni napi yang edarkan narkoba dari LP mencari uang Rp 3 M agar hukuman mati diperingan, pemerasan BUMN, permainan anggaran, dan lain-lain yang berderet-deret, masyarakat melihat fenomena tentang ketidakjujuran yang bersimaharajalela di tengah bangsa. Baca lebih lanjut