Antara Personal Dan Transpersonal, Pamrih Pribadi dan Kerelawanan, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 2

Dalam diri manusia terdapat “basic instinct” yaitu instink untuk makan, minum, tidur dan seks. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena hal-hal demikian merupakan pemenuhan kebutuhan fisik agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Akan tetapi apabila manusia hanya hidupnya hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan tersebut, maka manusia tersebut masih mempunyai kesamaan dengan hewan, bedanya hanya hewan mengkonsumsi makanan mentah sedangkan manusia mengkonsumsi makanan yang telah dimasak, hewan tidur di liang atau pohon sedangkan manusia tidur di rumah, hewan berhubungan seks dengan lawan jenisnya siapa saja di mana saja sedangkan manusia berhubungan seks yang memenuhi etika dan norma masyarakat.

 

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

 

Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 Bapak Anand Krishna memberi pesan……….. Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja. Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya……..

 

Pesan Bapak Anand Krishna tersebut terasa sangat nyata. Problem muncul saat manusia berlebihan dalam memenuhi “basic instinct”-nya. Bila manusia tidak dapat mengendalikan “kama” atau nafsunya dalam memenuhi “basic instinct” maka dia akan dihadapkan pada banyak permasalahan. Ketika nafsunya selalu terpenuhi bisa muncul “muda” atau keangkuhan. Kemudian bila sudah terbiasa dengan pemenuhan tersebut bisa timbul “moha” atau keterikatan. Dan, setelah itu bisa meningkat menjadi “lobha” atau keserakahan, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin menambah porsi pemenuhannya. Di pihak lain, apabila “kama” atau nafsunya tidak terpenuhi maka manusia dapat mengalami “krodha” frustrasi dan marah. Kemudian ketika melihat orang lain terpenuhi keinginannya sedang dirinya tidak maka muncullah “matsarya” atau sirik atau iri. Ini semua adalah perjalanan dari ego dari manusia.

 

Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 Bapak Anand Krishna memberi penjelasan tentang kesadaran transpersonal…….. Transpersonal berarti tidak terjebak dalam urusan personal, atau pribadi saja……… Transpersonal tidak mengekang kebutuhan dan keinginan diri akan kesehatan, kedamaian, dan kebahagiaan. Silakan mengurusi kesehatan diri. Silakan berdamai dengan diri, keluarga, dan tetangga. Silakan hidup bahagia. Sehingga Anda dapat berbagi kesehatan, kedamaian dan kebahagiaan dengan orang lain……. Transpersonal adalah pesan untuk melampaui napsu hewani yang hanya mementingkan diri, atau hanya berbaik hati dengan mereka yang baik dengan kita. Transpersonal adalah pesan untuk menggapai kesadaran ilahi yang senantiasa memberi, dan tidak menuntut imbalan………

 

Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dengan memberikan tiga tokoh wayang yang pantas diteladani: Raden Sumantri, Adipati Karna dan Kumbakarna. Raden Sumantri mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu dan berperang melawan Rahwana yang jauh lebih kuat. Ego Raden Sumantri sudah meluas, dia tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi dan bahkan hidupnya, demi kebenaran dan negaranya dia rela mati. Seseorang yang sudah mengabdi dengan tulus kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati nuraninya, maka dia hanya akan mendengarkan dhawuh, perintah hati nuraninya (“biarlah Kehendak-Mu yang terjadi”) dan dia tidak memikir lagi tindakannya membawa hasil atau tidak. Dalam dirinya sudah tidak ada pamrih, sudah tidak ada pertentangan batin antara hati nurani dengan egonya.

 

Tokoh kedua yang pantas diteladani menurut Sri Mangkunegara IV adalah Adipati Karna. Karna sadar bahwa pihak Kurawa yang dipilihnya berada di pihak yang salah. Akan tetapi, pada saat negeri Hastina berperang, dia memperoleh kesempatan untuk mempersembahkan jiwa dan raga sebagai balas budinya. Karna berperang dengan seluruh jiwa raganya demi negara yang selama ini memberikan kehidupan dan kehormatan kepadanya. Mati pun dia rela, menang atau kalah dalam peperangan tidak dipikirkannya. Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan untuk berbakti terhadap negara, dan peran itu diambilnya dengan penuh kebanggaan.

 

Tokoh ketiga dalam Serat Tripama karya Sri Mangkunegara IV adalah Kumbakarna. Kumbakarna juga sadar bahwa kakaknya, Rahwana bersalah, dan sejak awal dia selalu memberi nasehat kepada kakaknya untuk mengembalikan Dewi Sinta, yang merupakan haknya Sri Rama. Akan tetapi, pasukan Sri Rama akan menghancurkan negara Alengka, negara yang telah menghidupi semua leluhurnya. Oleh karenanya dia berperang bukan membela kakaknya yang zalim, tetapi membela tanah tumpah darahnya. Bahkan ketika anak panah Sri Rama mengenai jantungnya dan dia sadar akan mati, dia memilih menjatuhkan diri kearah prajurit Rama dan ratusan pasukan kera mati tertindih tubuhnya. Ego pribadi Kumbakarna sudah sirna, “Aku mengikuti perintah hati nuraniku untuk melawan mereka yang menyerang negaraku. Dunia ini hanya bersifat sementara, hanya Dia yang bersemayam dalam diriku dan di luar diriku yang abadi. Aku hanya menuruti dhawuh, perintah-Nya, walau akan berakhir dengan kematian”.

 

Sri Mangkunegara IV memberi nasehat “Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe”. Seseorang yang telah melakukan hal tersebut dalam istilah sekarang telah mencapai kesadaran “transpersonal”, dia telah melampaui “pamrih” egonya dan “gawe”, berkarya demi kemanusiaan. Pamrih adalah keinginan egoistis yang merupakan motif yang melandasi setiap pemikiran, ucapan dan tindakan manusia sehari-hari, betapa haluspun itu adanya. Manusia membangun rumah kehidupan berlandaskan pamrih. Boleh jadi seseorang nampak melakukan sesuatu bagi orang banyak bukan demi imbalan tertentu, namun kalau semua itu dilakukan demi membentuk citra-diri di mata masyarakat, agar dianggap sebagai orang yang baik-hati, berhati mulia atau taat kepada  nasehat-nasehat leluhur dan kitab-kitab suci, maka manusia tersebut tetap mempunyai pamrih. Dan pamrih tetap saja dijiwai dengan iktikad jual-beli, perdagangan. “Sepi ing pamrih” benar-benar sepi dari keinginan egoistis sekecil dan sehalus apapun. “Rame ing gawe” berarti tak perlu diketahui orang, dikenal orang. Semua dilakukan semata-mata sebagai kewajiban yang dipertanggungjawabkan ke dalam diri. Ego seorang transpersonal telah meluas, seorang pemimpin bangsa mendahulukan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi, bahkan akhirnya sampai pada kepentingan lingkungan, kepentingan alam, kepentingan kebenaran. Inilah perjalanan dari ego pribadi, menuju nasionalisme ke internasionalme dan akhirnya menjadi mitra bagi alam semesta…….. muncul kesadaran bahwa kita hidup di atas satu bumi, di bawah satu langit, dan kita semua adalah satu umat manusia. One Earth One Sky One Humankind……..

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: