Fokus Otak Atau Hati, Pikiran Atau Rasa, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 1

Anand Krishna: Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang “Head-Oriented”, ada yang “Heart-Oriented”. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair dan penulis. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata.

 

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

 

Pada dekade tahun 1930-an terjadi polemik budaya antara dua seniman besar, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan Sanusi Pane. Sampai tahun 1960-an polemik tersebut masih terbaca di media masa. Bagi STA hidup adalah perjuangan dan manusia harus bekerja keras. Tanpa perjuangan , orang tidak akan maju dan menjadi manusia modern. Di lain pihak, Sanusi Pane lebih mengutamakan kedamaian dan ketenangan, orang bekerja guna mendapatkan mendapatkan ketenangan dan kedamaian bagi dirinya. STA menganggap semboyan tenang dan damai membelenggu orang dan mengakibatkan tidak adanya kemajuan.

 

Sebenarnya Sanusia Pane berupaya melakukan sintesis antara Barat dan Timur, antara otak dan hati. Barat, dengan kacamata zaman itu dipandang mengutamakan jasmani, sehingga mengabaikan adanya jiwa. Akal digunakan untuk menaklukkan alam. Di pihak lain, Timur lebih mementingkan rohani, sehingga mengabaikan kebutuhan jasmani. Akal digunakan untuk mempersatukan diri dengan alam.

 

STA juga mempunyai alasan, beliau melihat pada saat itu, banyak kader bangsa yang mencari kedamaian dengan mengabaikan otak. Sampai sekarang pun masih ada kader bangsa yang nampak sangat egois, hanya mencari kedamaian diri tanpa mempedulikan kekacauan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebuah kedamaian yang semu, kedamaian yang berupa pelarian diri dari kenyataan hidup.

Bapak Anand Krishna menggambarkan mereka yang mencari kebahagiaan dengan mengabaikan lingkungan masyarakat seperti seseorang yang sedang menaiki “gunung kesadaran”. Mereka hanya terfokus pada puncak gunung kesadaran dan mengabaikan keadaan sekitar. Kalau banyak orang mengikuti seorang “Resi” yang sedang bergerak naik ke puncak, maka kedamaian yang diikuti para pengikut resi tersebut masih berupa kedamaiaan semu. Kedamaian semu itu akan dimanfaatkan oleh mereka yang memperoleh keuntungan dari ketidakpedulian mereka. bapak Anand Krishna secara halus mengkritik mereka yang berfokus pada kesadaran diri dan mengabaikan kekacauan di lingkungan mereka. Mungkin bahkan saat mereka belum mencapai puncak kesadaran, Indonesia sudah terpecah-belah.

 

Akan tetapi masyarakat juga menjadi saksi, berapa banyak para pemimpin muda yang langsung berjuang demi masyarakat tanpa dibekali kesadaran yang tinggi, dan setelah menggenggam kekuasaan mereka lupa kepada rakyatnya. Mengapa hal demikian begitu sering terjadi? Karena mereka terburu-buru turun gunung sebelum mereka sadar. Menurut kami, Bapak Anand Krishna mempersembahkan buku-bukunya bagi mereka yang sudah tak sabar melihat kekacauan di masyarakat, dengan memberi bekal kesadaran lebih dahulu. Buku-buku Bapak Anand Krishna juga dipersembahkan kepada mereka yang terfokus pada peningkatan kesadaran, agar mereka sadar bahwa kesadaran mereka harus dipraktekkan di kehidupan nyata dengan menegakkan kebenaran.

 

Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. demikian pesan oleh Bapak Anand Krishna dalam buku “The Gospel of Michael Jackson”.

 

Dalam beberapa nasehatnya Bapak Anand Krishna menganjurkan masyarakat agar mengikuti para “Resi” yang sudah mencapai puncak “gunung kesadaran”, dimana mereka mampu melihat keadaan yang terjadi di bawah dengan lebih jelas dan mereka turun gunung ke tengan masyarakat. Mereka telah mampu melihat ketidakadilan dan ketidakbenaran dengan jelas. Mereka oleh leluhur kita disebut Bhagawan. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah contoh Resi yang sudah mencapai puncak gunung kesadaran dan turun ke dunia. Mereka adalah nasionalis sejati, walau sangat jelas bahwa mereka adalah spiritualis. Sri Krishna juga tidak duduk manis melihat keangkaraan Kaum Korawa. Beliau terjun ke tengan masyarakat membimbing Arjuna dan Pandawa untuk menegakkan keadilan. Sidharta Gautama perlu meninggalkan istana untuk mencapai puncak “gunung kesadaran” dan setelah itu baru membabar dharma di tengah masyarakat. Para Resi yang turun gunung itu memulai perubahan dunia hanya berbekal keyakinan yang mereka punyai. Dengan bekal keyakinan tersebut, beberapa murid, beberapa sahabat tergerak menyebarkan “berita baik” dan akhirnya dapat mengubah masyarakat ke arah kebaikan.

 

Dalam buku “Vedaanta, Harapan bagi Masa Depan”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 Bapak Anand Krishna memberi nasehat………. Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang “Head-Oriented”, ada yang “Heart-Oriented”. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair dan penulis. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart-oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head-oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata…………

 

Kita dapat melihat kebenaran dari apa yang disampaikan Bapak Anand Krishna, kesimpang siuran antara otak dan hati membuat sebagian pemimpin nampak lembek, mereka mentolerir tindakan yang membahayakan persatuan bangsa. Mereka membebaskan bandar narkoba yang membahayakan masyarakat demi belas kasih dan atas nama hak asasi manusia. Ada satu keranjang apel yang baik dan mereka tidak tega membuang beberapa biji di antaranya yang sudah nampak busuk. Penggunaan hati yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya satu keranjang apel. Sudah tahu keseluruhan tubuh sehat, dan ada tumor yang ganas, maka seorang pemimpin harus tega mengangkatnya, walau pun daging tersebut adalah saudara, bagian dari tubuh sendiri. Angkatan Bersenjata, Polisi, Jaksa dan Hakim harus tegas demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Dalam buku “Vedaanta, Harapan bagi Masa Depan” tersebut Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Saya mengakui dan menerima kedua orientasi tersebut. Dua-duanya penting. Kendati demikian, saya juga memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang Neo-Man. Dalam visi saya, Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian “The Total Man”. Dirinya “Lengkap”. Manusia Baru tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah Pembantu hati atau otak, ia adalah Majikan yang mengendalikan keduanya. Manusia Baru dalam visi saya adalah Manusia-Ilahi semacam Krishna……la berada di tengah Medan Perang Kurukshetra – Medan Laga Kehidupan ini. la tidak hanya berfilsafat tentang kehidupan, ia sedang melakoninya. la sedang menyanyikan Nyanyian Ilahi – Bhagavad Gita………

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: