Antara Malas dan Pasrah, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 3

Janganlah kau berduduk diam. Apa yang kau anggap “pasrah” sesungguhnya bukan pasrah. Kau tidak pasrah. Kau malas, kau pengecut. Pasrah berarti kau sudah bekerja sekuat tenaga, dan mensyukuri hasil apa yang kau terima. Tidak menuntut, tidak berharap, tetapi mensyukuri apa saja yang diberikan padamu. Itu baru pasrah!  Demikian pesan Anand Krishna dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia”, Anand Krishna, One Earth Media, 2005.

 

Untuk bertindak baik perlu kesadaran, sehingga orang selalu berpikir dinamis. Akan tetapi nampaknya masyarakat kita telah malas  menggunakan akal pikiran. Masyarakat nampak berbudaya instan, budaya siap saji, budaya gampangan. masyarakat senang bila tokoh atau lembaga tertentu yang menetapkan haram-halal bagi dirinya. Kadang-kadang seseorang sadar bahwa dia melakukan kesalahan, tetapi karena masyarakat mendiamkannya maka dia membiarkan dirinya melakukan kesalahan terus. Seringnya bertindak demikian, membuat hati nurani semakin tertutup dan dia hanya menggantungkan diri pada pandangan orang luar. Akalnya yang cerdik selalu membenarkan tindakannya, dan hati nuraninya semakin tersudutkan ke dalam. Mereka yang ingin melakukan tindakan yang berasal dari pikiran yang jernih, justru tersudutkan. Hampir semua orang menipu diri sendiri. Tidak salah ungkapan dalam Jangka Jayabaya: Banyak ulah-tabiat ganjil; Orang yang baik justru tersisih; Banyak orang malu untuk bertindak baik; Lebih mengutamakan menipu.

 

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

 

Dalam keadaan malas, dan ingin menyenangkan diri tanpa resiko, memang paling enak menggantungkan diri pada pandangan luar, apalagi kalau lembaga pemberi keputusan di luar tersebut dapat membenarkan tindakannya. Akan tetapi lembaga di luar hanya berkaitan dengan pandangan luar, syariat, fisik, hukum yang nampak, sulit untuk menyentuh hati nurani yang dalam. Ingin nyaman bagi diri sendiri, melupakan hati nurani, menyebabkan seseorang terbelenggu dalam comfort zone, wilayah kenyamanan, dimana otak tidak perlu berpikir keras, dan hati nurani terpinggirkan. Mempertahankan diri dalam wilayah kenyamanan dapat berarti manusia menipu dirinya sendiri. Seseorang yang tahu sekelompok orang berbuat salah dan membiarkannya, dan berpendapat  “Emangnya gue pikirin?”, akan datang suatu saat bahwa dia akan diperlakukan tidak adil dan orang lain gantian akan membiarkannya.

 

Seseorang yang malas dan hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang juga malas dan diam dalam melihat ketidakbenaran tidak akan mengubah masyarakat ke arah kebaikan. Dia kurang peka, ibaratnya dia telah melihat luka di tubuh, akan tetapi hal tersebut dibiarkan saja menunggu sampai bernanah. Walaupun di antara mereka ada yang peka tetapi bila malas, mereka juga tahu bahwa lukanya bisa bernanah, tetapi dia bungkam. Nanti kan sembuh sendiri. Dengan cara tersebut seseorang menciptakan comfort zone dan bumpers demi kenyamanan diri. Barangkali dia dapat menyamankan raga tetapi bagaimana dengan jiwa? Sang jiwa adalah saksi yang tidak pernah tertipu. Seseorang adalah bagian dari masyarakat, dan dia harus mulai berbuat benar untuk hal yang menimpa dirinya dan tindakan ini akan diikuti orang sekelilingnya. Mereka yang menunggu datangnya zaman baru, ratu adil, tetapi masih saja hidup dalam comfort zone seperti hidup di alam khayal. Kita harus memulai hidup baru tanpa menunggu datangnya zaman baru dan orang sekeliling kita akan meneladani dan mengikuti kita, sehingga tercipta zaman baru dan ratu adil muncul.

 

Lebih lanjut Bapak Anand Krishna mengkaitkan kepasrahan dengan bhakti, “devosi penuh kasih” dan “seva”, pelayanan tanpa pamrih. Dalam  buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 Beliau menyampaikan…….. Bhakti berarti, “devosi penuh kasih” atau panembahan. Ia bukanlah kepasrahan yang dipaksakan, atau keikhlasan tanpa hati. Bhakti adalah dedikasi total – dengan segenap raga, hati dan jiwa – terhadap suatu karya besar. Bhakti menuntut jiwa altruisme dan kesukarelaan yang tinggi. Dan, seva berarti “pelayanan”. Seva adalah ungkapan atau ekspresi dari Bhakti. Seva adalah jiwa altruisme dalam laku. Ia adalah kesukarelaan berdarah dan berdaging. Seva adalah pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu imbalan. Pelayanan yang diadakan dengan semangat devosi penuh kasih atau panembahan, itulah seva…….

 

Selanjutnya beliau menjelaskan ciri-ciri seorang “devotee”, seorang  yang melakukan bhakti dan seva yang disebut seorang “bhakta”, seorang panembah dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 dimana beliau menyampaikan…..  Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu.  Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup…..  la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; ikhlas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya. Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi  Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah! Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya………

 

Benar sekali pesan Bapak Anand Krishna, dalam pewayangan kita melihat Sri Krishna mengajak Arjuna berperang di Kurukshetra. Krishna tidak menyuruh Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di bawah jembatan, berjapa, berdzikir dan melakukan lagu-lagu pujian. Sri Krishna mengharapkan Arjuna mewujudkan bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishna memberi semangat kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi. Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!

 

Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” tersebut Beliau menyampaikan…… Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini…….

 

Demikian nasehat Bapak Anand Krishna, untuk bertemu dengan seorang bhakta agar kita mencari di tengah medan perang Kurukshetra. Dia tidak akan ditemukan di dalam kuil, dia berada di tengah keramaian pasar, di tengah kegaduhan dunia. Ucapan-ucapan seperti aku sudah pasrah, aku sudah berserah diri sepenuhnya” hanya menunjukkan kenaifan diri kita. Di balik ucapan-ucapan seperti itu, masih ada keinginan kita yang terselubung untuk menonjolkan diri. Kepasrahan kita masih membutuhkan pengakuan orang lain. Ego kita masih tetap sempit. Dan selama ego belum meluas, tidak ada cinta, tidak akan ada kasih……..

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: